Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga dan Kumbang
Lyodra menyusut air matanya.
Tiap kali teringat ibunya yang banting tulang untuk menghidupi dan menyekolahkannya, Lyodra jadi sedih. Ibu tak pernah mengeluh menggarap lahan pertanian yang tidak seberapa itu. Menanam sayur mayur untuk dijual ke pasar dan sisanya untuk dimakan bersama Lyodra.
Dengan penghasilan yang tidak seberapa itu, ibu bahkan masih bisa menabung untuk bekal Lyodra berangkat kuliah di kota.
Untunglah otak Lyodra encer hingga mendapat beasiswa penuh dan biaya hidup selama kuliah di kota.
Dengan bermodal ilmu farmasi yang dipelajarinya semasa kuliah dan tekad yang kuat, Lyodra pulang ke desa untuk mengganti jenis tanaman yang ditanam di lahan pertanian warisan neneknya.
Tanaman herbal langka khas dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tanaman yang berdaya jual tinggi. Diolah menjadi obat dan bubuk campuran susu, teh dan kopi. Diekspor keluar negri. Dolar pun mengalir deras.
Namun sayang ibu telah berpulang sebelum Lyodra sempat menunjukkan kesuksesannya.
Keuntungan yang didapat Lyodra, ia dipakai untuk merenovasi rumah kenangannya bersama ibu. Sisanya ia tabung untuk masa depannya.
Terdengar bunyi dengkuran lembut dari arah belakang Lyodra. Rupanya Edward sudah tertidur.
Lyodra melihat bungkus obat demam yang sudah diminum masih tergeletak di nakas samping tempat tidur Edward. Efek samping obat demam adalah mengantuk. Pantas saja Edward langsung tertidur begitu menyentuh bantal.
"Hari yang berat. Jatuh ke sungai, terluka parah, dikeroyok warga, bersih-bersih rumah hingga demamnya naik. Akhirnya kecapekan dan tertidur pulas. Good night, Kak. Sweet dream."
Lyodra menarik selimut dan menyelimuti Edward. Lalu ia naik ke kasur dan ikut memejamkan mata.
Matahari belum menampakkan diri di ufuk timur, namun Lyodra sudah membuka matanya. Tubuhnya terasa segar setelah tidur di kasur yang harganya puluhan juta. Bersama dengan saudara kembarnya.
Lyodra melirik Edward yang masih pulas. Lalu mengambil pulpen dan kertas yang ada di nakas samping tempat tidur.
Lyodra menulis sebuah pesan.
'Pamit pulang dulu, Kak. Mau mandi dan bersiap ke kota besar. Aku akan menjemput Kakak naik mobil pickup yang biasa mengangkut hasil panen ibu. Jangan lupa sarapan dan minum obat.'
Lyodra meninggalkan pesannya di nakas dekat Edward. Lalu berjalan perlahan ke arah pintu kamar. Takut Edward terbangun. Setelah keluar dari kamar, Lyodra berjalan lebih cepat menuju pintu pagar.
Udara yang segar berhembus mengantar perjalanan Lyodra kembali ke rumahnya.
Kehidupan di desa dimulai dari sebelum matahari terbit. Jalanan nampak lebih ramai di pagi hari daripada saat bulan menyembul di langit.
Warga desa beramai-ramai jalan kaki menuju ke lahan pertaniannya. Ada pula yang mencari rumput untuk pakan ternak mereka. Anak-anak sekolah juga berangkat ke sekolah. Truk-truk yang mengangkut sayur mayur dan buah-buahan tak mau ketinggalan ikut meramaikan suasana.
Saat Lyodra sedang berjalan, ia berpapasan lagi dengan rombongan emak-emak tukang gosip dan bapak-bapak suka nyolot.
"Tak disangka mereka berdua adalah saudara kembar yang terpisah. Satu diasuh ayahnya di luar negri. Yang satu diasuh ibunya di desa. Kasihan bener Lyodra. Diasuh oleh ibunya yang miskin." Mbok Gosip mulai bergosip.
Bu Rempong menimpali, "Ayahnya yang kaya raya sudah meninggal, eh ... dia tidak dapat harta warisan. Masih saja miskin seperti dahulu. Kasihan, kasihan, kasihan."
"Saat di lumbung desa, mereka tidak tahu kalau mereka adalah saudara kembar. Mereka sudah berhubungan inses. Amit-amit, amit-amit, semoga keturunannya tidak sampai lahir cacat," tambah Mbok Rumor.
"Kasihan bener, udah gak perawan, eh gak tahunya, yang gituin saudara kembarnya sendiri." Bu Rempong sengaja bikin telinga Lyodra memanas.
Lyodra menggigit bibirnya dengan keras agar tidak membalas ucapan mereka. Sebelum tes DNA keluar, biarkan saja warga desa mau menggosip seperti apa.
Yang penting, dirinya dan Edward tidak pernah berbuat mesum, tidak pernah berhubungan inses. Jadi hal-hal negatif yang mereka katakan tidak akan terjadi padanya.
Dan tanpa harta warisan dari ayahnya pun, Lyodra sekarang mampu menghidupi dirinya sendiri. Dia tidak pernah berhutang bahan pokok ke warung atau berhutang uang ke tetangga. Apalagi terlibat pinjaman online. Jadi kenapa dia harus dikasihani warga desa? Dasar aneh!
Lyodra mempercepat langkahnya dan menulikan pendengarannya.
"Aish! Pura-pura gak denger dia." Mbok Rumor mengeraskan suaranya.
"Paling juga malu, makanya melarikan diri." Bu Rempong tidak mau kalah.
Terdengar gelak tawa menertawakan nasib Lyodra yang menurut mereka memalukan.
Akhirnya, Lyodra sampai ke rumah. Ia segera bersiap untuk ke kota. Mandi lalu memasukkan baju ke dalam ranselnya.
Ia juga sarapan rebusan ubi dan jagung. Lalu membawa sisanya untuk bekal di perjalanan.
Tak berapa lama, pickup pengangkut sayur datang. Mang Carry membunyikan klakson tiga kali. Lyodra langsung cepat-cepat mengunci pintu rumahnya.
"Met pagi, Bunga Desaku Yang Cantik," sapa Mang Carry ceria.
"Met pagi, Mang. Makasih udah mau antar Lyodra ke kota."
"Sama-sama. Duduk sini aja ya." Mang Carry sudah menyiapkan tempat khusus untuk Lyodra. Duduk di kursi penumpang tepat di samping pengemudi.
Lyodra masuk ke mobil dan duduk di samping Mang Carry.
"Makasih, Mang. Oiya, Mang. Lyodra ajak kawan nih. Jemput kawan Lyodra di rumah tuan tanah bisa kan, Mang?" tanya Lyodra.
"Bisa pake banget, Bunga Desaku Yang Cantik. Apa sih yang gak bisa buat bunga desa secantik kamu? Lagian kita nanti kan lewat rumah tuan tanah kalau mau ke kota. Sekalian aja mampir jemput temanmu." Mang Carry tersenyum malu.
"Sip. Tancap gas deh sekarang." Lyodra langsung bersemangat.
"Siap, Bunga Desaku Yang Cantik." Pickup segera berangkat menuju rumah Edward.
Edward sudah berdiri di depan rumah megahnya saat pickup datang menjemput.
"Itu teman yang mau ikut ke kota?" tanya Mang Carry kaget melihat pria berparas rupawan dan tingginya hampir dua meter melambaikan tangan pada Lyodra.
"Tepat sekali. Kenapa emangnya, Mang?" tanya Lyodra sambil membuka pintu mobil.
"Maaf, tapi sepertinya teman Bunga Desa Yang Cantik harus duduk di bak belakang bersama sayur. Kabin depan cuma muat buat kita berdua saja. Teman Bunga Desa Yang Cantik terlalu tinggi, kakinya bisa pegal kalau duduk di kabin yang sempit ini." jawab Mang Carry.
Lyodra tertawa kecil. Ucapan Mang Carry memang benar. Kaki Edward yang panjang harus ditekuk sampai berjam-jam pasti akan kesemutan.
Duduk di bak belakang jauh lebih nyaman, walaupun harus berdesakan dengan sayuran.
Udara gunung yang segar dan sinar matahari yang tidak terlalu terik, membuat perjalanan jadi lebih santai dan mengasyikkan.
"Saya juga akan duduk di belakang, Mang. Biar Mang Carry lebih fokus nyetir mobilnya. Gak ngliatin saya melulu," canda Lyodra.
Mang Carry mengerucutkan mulutnya. Kecewa berat.
"Yah, si bunga yang cantik akhirnya ketemu kumbang yang ganteng. Mang Carry gak dianggap deh."
Sayang, Lyodra tidak mendengarnya.