Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Kultivasi Tanpa Batas
Udara pagi di hutan Desa Sura terasa sejuk, tetapi suasana di dalam rumah kayu milik Ling justru dipenuhi tekanan yang membuat dada terasa sesak. Aroma kayu tua, teh panas, dan besi yang sudah lama diasah bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang asing bagi Cang Li. Rumah itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa jauh lebih menakutkan daripada aula latihan mana pun yang pernah ia masuki.
Cang Li duduk bersila di atas lantai kayu bersama Su Yan, tepat di hadapan Ling yang duduk dengan tenang sambil memegang cangkir teh. Meski pria itu tidak mengeluarkan aura apa pun secara terang-terangan, kehadirannya saja sudah cukup membuat ruangan terasa berat.
Tatapan Ling jatuh lurus ke arah Cang Li. Tatapan itu tajam, tenang, dan dalam, seolah-olah ia tidak sedang melihat wajah seorang pemuda, melainkan menelusuri seluruh isi tubuhnya—dari tulang, darah, hingga aliran energi spiritual yang mengalir di dalam tubuhnya.
Su Yan, yang duduk di samping Cang Li, melirik sekilas ke arah gurunya sebelum akhirnya membuka suara.
“Guru, ini Cang Li,” katanya dengan nada yang lebih sopan dibanding saat mereka bertemu di atas atap tadi. “Dia datang dari Desa Jianxin. Katanya dia mencari Guru atas petunjuk bibinya.”
Ling tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu di atas meja kecil di depannya.
“Cang Li...” gumamnya pelan, seakan sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. “Kalau begitu, kau memang keponakan Ye Chen.”
Mendengar nama itu disebut, tubuh Cang Li sedikit menegang. Sejak kecil, nama Ye Chen selalu menjadi sesuatu yang rumit baginya. Di satu sisi, pria itu adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Namun di sisi lain, ia juga sosok yang selalu datang dan pergi seperti bayangan, meninggalkan terlalu banyak pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab.
Cang Li segera menundukkan kepala dengan hormat.
“Benar, Senior... eh, Guru Ling,” ucapnya hati-hati. “Bibi saya, Ye Ruoxi, mengatakan bahwa Guru adalah rekan lama Paman Ye Chen. Saya datang ke sini karena saya ingin menjadi lebih kuat. Turnamen Antar Sepuluh Dinasti akan segera dimulai, dan saya tidak ingin terus menjadi orang yang tertinggal.”
Ling menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang. Tatapannya tetap tidak berubah, datar dan tajam.
“Tidak ingin tertinggal?” ulangnya pelan. “Ucapan seperti itu terdengar bagus, tapi kata-kata tidak pernah berarti banyak di dunia ini.”
Cang Li terdiam.
Ling melanjutkan, “Turnamen itu tinggal dua bulan lagi. Dua bulan adalah waktu yang sangat singkat. Bahkan untuk seorang jenius, dua bulan hanya cukup untuk mengasah apa yang sudah dimiliki. Sementara kau...” matanya menyapu tubuh Cang Li dari atas ke bawah, “...masih terlalu mentah.”
Ucapan itu menusuk, tetapi Cang Li tidak membantah. Karena di dalam hati, ia tahu itu benar.
Ia kalah dari pria berjubah hitam di bukit.
Ia terus hidup dalam bayang-bayang tragedi Sword Academy.
Dan selama ini, meski ia terus berlatih, hasilnya tidak pernah benar-benar cukup untuk membuatnya melampaui orang-orang seperti Zuo Cangtian.
Su Yan menyilangkan tangan di sampingnya lalu tersenyum kecil.
“Guru tidak salah,” katanya santai. “Kalau kau ingin bertahan di bawah latihan beliau, kau harus siap menderita. Dulu aku juga hampir kabur di hari pertama.”
Cang Li menoleh padanya sekilas. Ia sempat mengira gadis itu hanya lincah dan cerewet, tetapi melihat bagaimana ia berbicara tentang Ling dengan nada campuran hormat dan trauma, Cang Li mulai merasa firasat buruknya mungkin benar.
Ling mengabaikan candaan murid perempuannya dan kembali menatap Cang Li.
“Kalau kau ingin aku melatihmu, maka dengarkan baik-baik,” ucapnya tegas. “Latihanku terbagi menjadi tiga tahap. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada perlakuan khusus. Dan kalau tubuhmu hancur di tengah jalan, itu murni tanggung jawabmu sendiri.”
Jantung Cang Li berdegup sedikit lebih cepat, tetapi ia tetap mengangguk.
“Saya mengerti.”
Ling mengangkat satu jari.
“Tahap pertama adalah mengendalikan energi spiritualmu dengan benar.”
Ia berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah jendela samping dan menunjuk ke halaman belakang rumah.
“Di belakang rumah ini ada Bambu Hitam Jiwa. Kau harus membelahnya.”
Cang Li sempat mengernyit.
“Hanya... membelah bambu?”
Su Yan langsung menoleh padanya dengan ekspresi aneh, seolah ia baru saja mendengar lelucon yang sangat bodoh.
“Hanya?” ulangnya sambil menahan tawa. “Kau akan menarik kembali ucapan itu beberapa menit lagi.”
Ling tidak ikut tertawa.
“Itu bukan bambu biasa,” jelasnya. “Bambu Hitam Jiwa tumbuh di tempat yang menyerap energi spiritual bumi selama puluhan tahun. Permukaannya sekeras baja, tetapi bagian dalamnya menyimpan lapisan resonansi energi. Kalau kau hanya menyerangnya dengan tenaga kasar, kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain tangan yang mati rasa.”
Cang Li menelan ludah.
Ling mengangkat jari kedua.
“Tahap kedua, kau akan berlatih bertarung tanpa mengandalkan penglihatan. Aku akan melepasmu ke dalam hutan dengan mata tertutup, lalu kau harus bertahan dari serangan monster tingkat rendah.”
“Apa?” Cang Li refleks menatapnya.
“Kalau kau tidak bisa merasakan gerakan lawan tanpa melihat, maka kau akan mati lebih cepat daripada yang kau kira,” jawab Ling tenang. “Mata manusia bisa ditipu. Insting tidak.”
Lalu Ling mengangkat jari ketiga.
“Tahap terakhir adalah menahan tubuhmu di bawah air terjun puncak gunung saat badai petir datang.”
Cang Li langsung menatapnya seolah sedang mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“Di bawah... badai petir?”
“Ya,” jawab Ling datar. “Tubuhmu membawa elemen petir. Tapi elemen itu masih liar, masih kasar, dan belum benar-benar menyatu dengan tubuhmu. Kalau kau ingin menjadi lebih kuat, maka tubuhmu harus terbiasa menahan tekanan petir dari alam itu sendiri. Kulitmu harus menjadi lebih keras. Ototmu harus lebih tahan. Meridianmu harus mampu menerima arus energi yang jauh lebih besar daripada sekarang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada dingin,
“Kalau berhasil, tubuhmu akan naik ke tingkat yang berbeda. Tapi kalau gagal... setidaknya kau akan tahu seberapa rapuh dirimu sebenarnya.”
Ruangan mendadak hening.
Cang Li bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya. Baru beberapa menit berada di rumah ini, ia sudah mulai sadar bahwa dua bulan ke depan mungkin akan menjadi masa paling menyakitkan dalam hidupnya.
Namun justru karena itulah, ia tidak boleh mundur.
Ia teringat hinaan Zuo Cangtian.
Ia teringat tatapan kecewa orang-orang setelah tragedi Sword Academy.
Ia teringat kalung Yel Feng yang direnggut darinya begitu saja.
Dan yang paling membakar dadanya, ia teringat bahwa sampai hari ini, ia masih terlalu lemah untuk melindungi apa pun.
Cang Li menarik napas panjang, lalu menatap Ling dengan sorot mata yang lebih mantap.
“Saya akan menjalani semuanya, Guru.”
Ling menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk tipis.
“Bagus. Setidaknya tekadmu belum sepenuhnya kosong.”
Su Yan menyeringai.
“Kalau begitu, selamat datang di neraka, Cang Li.”
Tak lama kemudian, Cang Li sudah berdiri di halaman belakang rumah itu.
Begitu melangkah keluar, ia langsung mengerti kenapa Su Yan tadi bereaksi seperti itu.
Di tengah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi, berdiri beberapa batang bambu berwarna hitam pekat. Permukaannya tidak terlihat seperti tumbuhan, melainkan seperti logam gelap yang memantulkan cahaya matahari dengan kilap dingin. Bahkan dari jarak beberapa langkah saja, Cang Li bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dari benda itu—seolah-olah batang bambu itu memiliki denyut energi sendiri.
Ling berdiri di beranda bersama Su Yan, mengawasinya dari kejauhan.
“Pilih satu,” ujar Ling singkat.
Cang Li melangkah mendekat ke salah satu batang bambu. Ia mengangkat tangan dan menyentuh permukaannya pelan.
Keras.
Sangat keras.
Permukaannya dingin, padat, dan tidak terasa seperti kulit tumbuhan sama sekali. Bahkan saat ujung kukunya digesekkan pelan, tidak ada goresan sedikit pun yang tertinggal.
Dalam hati, Cang Li mulai paham bahwa ini jelas bukan latihan biasa.
Ia menarik pedang kayunya dari punggung, lalu mengambil posisi kuda-kuda.
“Mulai!” teriak Su Yan dari belakang, terdengar terlalu bersemangat untuk seseorang yang hanya menonton penderitaan orang lain.
Cang Li menghela napas, lalu mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
TOK!
Benturan keras langsung menjalar sampai ke bahunya. Pedang kayu itu memantul seolah baru saja menghantam lempengan baja. Tangan kanan Cang Li bergetar hebat, sementara batang bambu di depannya bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Su Yan langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
“Aku sudah bilang,” katanya sambil menoleh ke arah Ling. “Dia benar-benar mengira itu cuma bambu.”
Cang Li mengabaikan komentar itu, meski wajahnya sedikit memanas karena malu.
Ia kembali menatap batang bambu di depannya dengan lebih serius.
Kalau serangan biasa tidak mempan, berarti ia memang harus menggunakan energi spiritual seperti yang dikatakan Ling.
Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam, lalu mulai mengalirkan energi ke seluruh lengan kanannya. Perlahan, percikan petir ungu mulai muncul di sekitar bilah pedangnya.
Zzzzt...
Kilatan-kilatan kecil menari di sepanjang kayu pedang, memercik halus ke udara. Cahaya ungu itu langsung menarik perhatian Su Yan.
Mata gadis itu sedikit melebar.
“Petir ungu...” gumamnya pelan. “Jadi ini ...”
End Chapter 23