menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perselingkuhan
"Hari itu… kamu nggak ada meeting sama klien, kan? Kamu c h e c k - i n di hotel mewah ini. Dengan siapa?"
Reno mencoba meraih tangannya, tapi Alin mundur selangkah. "Sayang, aku bisa jelasin. Aku, ..."
**
#7
Reno menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. "Besok kita jalan-jalan, ya? Aku ambil cuti satu hari. Sudah lama kita nggak quality time."
Alin terdiam. Reno selalu seperti ini—ketika ia merasa ada yang salah, ia akan mencoba menutupinya dengan perhatian mendadak.
Dulu, Alin mungkin akan tersent u h. Dulu, mungkin ia akan percaya.
Sekarang?
"Aku ada kerjaan besok," jawabnya datar.
Ekspresi Reno berubah, tapi ia cepat menguasai dirinya. "Oh, oke. Kalau gitu, nanti kita makan malam aja, ya?"
Alin tidak menjawab. Ia hanya berbaring, membelakangi Reno, menatap kosong ke arah dinding.
Pikirannya kembali ke Arka.
Ke tawaran yang menggo d a itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam pernikahannya, ia bertanya-tanya... Apakah ia masih ingin bertahan?
Alin menghela napas panjang sebelum akhirnya menoleh ke arah Reno. Matanya yang semula dingin kini penuh dengan kemarahan yang sudah terlalu lama ia pendam.
"Jalan-jalan?" katanya dengan nada mengej e k. "Bukannya kamu lebih suka jalan sama Citra?"
Reno tersentak. Mata lelaki itu melebar, seolah tak percaya Alin baru saja menyebut nama itu.
"Alin, dengerin aku dulu—"
"Tidak ada yang perlu aku dengar, Reno," potong Alin cepat. Ia bangkit dari tempat tidur, menatap suaminya dengan sorot penuh luka. "Aku tahu semuanya. Aku lihat chat kalian, aku tahu kamu reservasi hotel, aku tahu kamu lebih memilih dia daripada aku."
Reno mengus a p wajahnya dengan k a sar, lalu bangkit, mencoba mendekat. "Alin, itu cuma... itu nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku... aku cuma lagi bosan kemarin."
Alin tertawa pahit. Bosan? Itu alasan yang paling menyakitkan yang pernah ia dengar.
"Kamu pikir aku ini apa, Ren?" suaranya bergetar. "Tempat singgah sementara sampai kamu bosan dengan seli n g k uhanmu?"
"Bukan begitu, Lin!" Reno buru-buru meraih tangannya, tetapi Alin men e p isnya.
"Sudah, aku muak."
Reno menghela napas berat. Ia mengus a p tengkuknya, tampak frusta s i. "Oke, oke, aku salah. Aku akui semuanya. Aku nggak akan mengelak lagi," katanya lirih.
Alin tetap diam, menunggu kelanjutan ucapannya.
"Aku akan lepasin Citra," lanjut Reno akhirnya. "Aku nggak akan ketemu dia lagi, nggak akan kontak dia lagi. Aku sadar... aku salah. Aku b o doh. Aku terlalu nyaman sampai nggak sadar aku menyakiti kamu."
Air mata menggenang di mata Alin, tetapi ia menahannya.
"Kamu bilang kamu sadar?" gumamnya. "Kalau aku nggak tahu soal ini, kamu akan terus bers e ling k u h, kan?"
Reno terdiam.
Keheningan itu sudah cukup bagi Alin untuk mengerti jawabannya.
Hatinya hancur.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa permintaan maaf Reno datang bukan karena lelaki itu benar-benar menyesal, tetapi karena ia ketahuan.
Dan itu... lebih menyakitkan daripada apa pun.
Alin menatap Reno dengan ekspresi dingin. Jika beberapa bulan lalu Reno memohon seperti ini, mungkin hatinya masih bisa luluh. Tapi sekarang? Ia sudah terlalu lelah. Terlalu sakit.
"Aku nggak peduli," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar tenang, tapi penuh ketegasan.
Reno menatapnya dengan panik. "Alin, kamu nggak bisa ngomong gitu! Aku serius, aku akan ninggalin Citra. Aku cuma mau sama kamu."
Alin terkekeh pahit. "Kamu cuma mau sama aku?" ulangnya. "Setelah kamu tid u r sama perempuan lain, setelah kamu bohong berbulan-bulan, setelah aku tahu semua fakta tentang kalian? Lalu sekarang, setelah aku tahu semuanya, kamu baru bilang mau berubah?"
Reno terdiam.
"Ren," lanjut Alin, suaranya sedikit bergetar, "aku nggak butuh janji manis lagi. Aku nggak butuh kata-kata penyesalan yang terlambat."
"Kamu mau apa?" suara Reno melemah, seolah ketakutan dengan jawaban yang akan keluar dari bibir istrinya.
Alin menarik napas panjang. Ia belum siap mengatakan kata itu—belum siap untuk benar-benar melepaskan sesuatu yang sudah ia pertahankan selama lima tahun. Tapi ia juga tahu, jika terus seperti ini, dirinya yang akan hancur.
"Aku mau sendiri dulu," ucapnya akhirnya.
Reno menggeleng cepat. "Nggak! Alin, kita bisa selesaikan ini sama-sama! Aku janji aku nggak akan—"
"Sudah terlambat," potong Alin tegas. "Aku mau sendiri. Jangan ganggu aku, jangan cari aku, biarkan aku berpikir."
Mata Reno semakin membulat. "Alin, kamu mau ninggalin aku?"
Alin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lelaki itu, mencari sesuatu di matanya—sesuatu yang bisa meyakinkan hatinya bahwa Reno memang layak dimaafkan. Tapi ia tidak menemukan apa pun selain rasa bersalah dan ketakutan kehilangan.
Ketakutan yang mungkin lebih karena ego Reno sendiri, bukan karena benar-benar mencintainya.
"Aku nggak tahu, Ren," ucapnya jujur. "Aku cuma butuh waktu."
Reno mendekat, ingin meraih tangannya lagi, tetapi Alin mundur.
"Lepas aku, Ren!" tegas Alin.
Dan untuk pertama kalinya, Reno kehabisan kata-kata.
**
Alin menatap bayangannya di cermin, memastikan dirinya terlihat segar meskipun hatinya masih penuh luka. Ia memilih mengenakan dress putih simpel dengan potongan elegan, memoles wajahnya dengan riasan natural, dan menyematkan senyum tipis sebelum keluar kamar.
Malam ini, ia akan bertemu dengan teman-teman lamanya di sebuah restoran mewah di pusat kota. Setelah semua yang terjadi, ia butuh udara segar, butuh sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari Reno dan pers el ingk uhannya.
Saat sampai di restoran, Alin langsung disambut h a ngat oleh sahabat-sahabatnya.
"Alin! Akhirnya kamu datang juga!" sorak Dara, sahabatnya sejak SMA.
"Kita kira kamu batal lagi kayak minggu lalu," tambah Nadine sambil tersenyum.
Alin terkekeh kecil. "Aku nggak akan batal lagi. Aku butuh ini."
Mereka semua duduk, memesan makanan, dan mulai mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari pekerjaan, keluarga, sampai gosip-gosip ringan yang membuat mereka tertawa.
Tapi di tengah canda tawa itu, ada seseorang yang memperhatikannya lebih dalam.
"Lin, kamu baik-baik aja?" tanya Dara tiba-tiba.
Alin tertegun. "Maksudnya?"
"Kamu kelihatan beda. Bukan cuma karena kamu makin cantik, tapi... aku bisa lihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
Alin terdiam sejenak, jari-jarinya menggenggam gelas wine di depannya.
"Aku cuma... capek," ujarnya akhirnya.
Nadine mencondongkan t u buhnya, menatapnya penuh perhatian. "Ini tentang Reno, ya?"
Alin mende s a h. "Aku nggak mau bahas itu malam ini. Aku cuma mau menikm a ti waktuku sama kalian."
Dara dan Nadine saling berpandangan, tetapi akhirnya mereka tidak mendesaknya lebih jauh.
"Baiklah, tapi ingat, Lin," kata Nadine sambil tersenyum lembut, "kita di sini kalau kamu butuh seseorang buat dengerin."
Alin tersenyum tipis. "Terima kasih."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, Alin tertawa lepas. Ia menikm a t i kebersamaannya dengan teman-temannya, membiarkan dirinya sejenak melupakan luka.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa setelah ini, ia tetap harus menghadapi kenyataan.
Dan ia masih belum tahu keputusan apa yang harus ia ambil.
Malam itu, setelah makan malam bersama teman-temannya, Alin memutuskan untuk pulang lebih dulu. Namun, di tengah perjalanan, matanya menang k a p sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Di restoran mahal yang berada di seberang jalan, di balik jendela kaca besar, ia melihat sosok yang sangat familiar.
Reno.
Dan di depannya, duduk seorang wanita yang juga sangat dikenalnya—Citra.
Mereka berdua terlihat begitu mesra. Reno menyen t u h tangan Citra di atas meja, lalu tertawa kecil sambil menatapnya dengan tatapan yang dulu hanya menjadi milik Alin.
D a r # h Alin berd e s ir.
Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi kebohongan yang bisa menutupinya.
Tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk ke dalam restoran, langsung menuju meja mereka. Suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai membuat beberapa orang menoleh, tetapi Alin tidak peduli.
Begitu ia berdiri di depan mereka, Reno dan Citra tampak terkejut. Reno langsung men a rik tangannya dari genggaman Citra, wajahnya berubah pucat.
"Alin…" Reno berusaha tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi Alin tidak akan tert i p u lagi.
"Dinner romantis, ya?" suaranya terdengar tenang, tapi matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Citra tampak sedikit geli s a h, tetapi kemudian tersenyum tipis, seakan menantang. "Mbak Alin, kok di sini juga?"
Alin tersenyum sinis. "Harusnya aku yang tanya. Ini suamiku, bukan?"
Reno meneguk ludah, tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi Alin mengangkat tangannya, menghentikannya.
"Jangan bilang ini meeting kerja. Jangan bilang ini kebetulan. Aku sudah cukup dengar kebohonganmu," suaranya bergetar karena emosi yang ditahannya.
Beberapa pengunjung restoran mulai memperhatikan mereka, tapi Alin tidak peduli.
Ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya—kwitansi reservasi hotel yang dulu ditemukannya di antara pakaian Reno. Lalu, ia meletakkannya di meja.
"Ini juga cuma kerjaan, Reno?" tanyanya taja m.
Reno membeku, sementara Citra menatap kertas itu dengan ekspresi terkejut.
"Hari itu… kamu nggak ada meeting sama klien, kan? Kamu ch3ck-i n di hotel mewah ini. Dengan siapa?"
Reno mencoba meraih tangannya, tapi Alin mundur selangkah. "Sayang, aku bisa jelasin—"
"Jelaskan apa lagi?" Alin menatapnya taja m. "Bahwa aku istrimu, tapi kamu lebih memilih perempuan ini?"
Citra tertawa kecil, lalu bersandar ke kursinya. "Kalau Mbak Alin sudah tahu, kenapa masih pura-pura?"
Alin menghela napas panjang. Ia ingin marah, ingin menumpahkan semuanya di sini. Tapi ia tahu, ia sudah cukup membuang waktu untuk pria yang tidak menghargai pernikahan mereka.
Dengan satu tarikan napas, ia menatap Reno dalam-dalam.
"Aku muak dengan semua ini," katanya pelan.
Ia melepas cincin kawinnya dari jarinya, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Reno.
"Kita selesai, Reno!"
💔🩶