Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - PELARIAN DI ATAS RERUNTUHAN CAHAYA
Suara gemuruh dari inti bumi terdengar seperti raungan naga purba yang terbangun dari tidur ribuan tahun. Dengan belati hitam yang tertancap di pusat kristal Nadi Bumi, Kaelan telah memicu reaksi berantai yang tidak bisa dihentikan. Cahaya perak yang tadinya murni kini berubah menjadi merah darah, menandakan energi nadi yang stabil telah berubah menjadi bom waktu yang siap melenyapkan seluruh puncak Kota Takhta Langit.
"Kau menghancurkan segalanya!" Aristhos meraung di tengah badai energi yang mulai menghisap udara di ruangan itu. "Kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari sini, Kaelan!"
Kaelan tidak membalas. Pandangannya mulai kabur, setiap inci tubuhnya terasa seperti sedang ditarik oleh ribuan kait besi. Ia mendekap ibunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menarik Benang Perajut Jiwa yang masih terikat di langit-langit runtuh. Penatua Wu yang masih tak sadarkan diri di punggungnya terasa semakin berat.
"Sekarang!" Kaelan menghentakkan kakinya.
Teknik Terlarang: Orbit Bulan Jatuh.
Bukannya melompat secara manual, Kaelan membiarkan ledakan energi dari bawah kakinya melontarkannya ke atas seperti anak panah. Ia menggunakan tekanan ledakan sebagai momentum. Di saat yang sama, ia menciptakan kubah es hitam yang sangat padat di sekeliling mereka untuk menahan panasnya gesekan udara dan serpihan kristal yang beterbangan.
BOOOMMMM!
Lantai Istana Rembulan Abadi di atas mereka meledak hebat. Kaelan melesat keluar dari lubang kawah yang tercipta di tengah aula perjamuan. Para tamu bangsawan dan prajurit Aliansi berhamburan dalam kepanikan saat melihat sosok berambut putih transparan terbang keluar dari perut bumi, diselimuti aura kematian yang pekat.
"Tembak dia! Jangan biarkan 'Wadah' itu lolos!" perintah seorang jenderal Aliansi dari kejauhan.
Ratusan panah energi dan tembakan meriam kimia melesat ke arah Kaelan yang sedang melayang di udara. Dalam kondisinya yang hampir habis, Kaelan tidak bisa lagi bertarung secara aktif. Ia memejamkan mata, memanggil sisa-sisa terakhir Qi dari sumsum tulangnya.
"Sutra Rembulan: Perisai Seribu Cermin."
Serpihan kristal yang ikut terlontar dari bawah tanah ia susun menggunakan benang-benangnya menjadi perisai putar di sekeliling mereka. Serangan Aliansi menghantam perisai itu, menciptakan percikan api dan es yang menerangi langit malam Kota Takhta Langit seperti pesta kembang api yang mengerikan.
Kaelan melihat ke arah jembatan gantung di pinggir kota. Di sana, ia mendeteksi getaran yang sangat ia kenal: Elara dan Rian. Mereka telah menyiapkan kereta kuda cepat dengan mesin uap tambahan.
"Kaelan! Di sini!" teriak Rian, suaranya parau karena cemas.
Kaelan mengubah lintasannya. Ia meluncur turun dengan kecepatan vertikal yang gila. Namun, Aristhos belum menyerah. Sang Raja Aliansi muncul dari balik kepulan asap di reruntuhan istana, berdiri di atas seekor burung mekanis raksasa. Ia melepaskan tombak cahaya yang mengincar jantung Kaelan.
Srat!
Tombak itu menyerempet pinggang Kaelan, merobek jubah dan kulitnya. Namun, luka itu tidak mengeluarkan darah merah; hanya uap perak yang keluar. Kaelan menggertakkan gigi, menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia melemparkan tubuh ibunya dan Penatua Wu terlebih dahulu ke arah kereta kuda yang sedang melaju.
Elara dengan sigap menangkap mereka dengan bantuan tombaknya. "Aku dapat mereka! Kaelan, ayo!"
Kaelan mendarat di ujung jembatan gantung. Ia berdiri sendirian menghadap ke arah kota yang mulai runtuh. Ia tahu, jika ia segera ikut naik, Aristhos akan mengejar mereka dalam hitungan detik.
"Pergilah!" teriak Kaelan pada Rian.
"Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu!" Rian mencoba melompat turun, namun Elara menahannya.
Kaelan menoleh sedikit, memberikan tatapan terakhir yang penuh arti pada Rian. Lalu, ia membalikkan tubuh menghadap jembatan. Ia meletakkan tangannya di tali pancang utama jembatan yang terbuat dari baja purba.
"Teknik Bulan Dingin: Pemutusan Jembatan Jiwa."
Kaelan menyuntikkan seluruh sisa energinya ke dalam jembatan tersebut. Bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk membekukannya hingga ke inti atom, membuatnya menjadi sangat rapuh. Saat burung mekanis Aristhos mendarat di jembatan, struktur baja yang membeku itu hancur berkeping-keping.
Jembatan gantung itu runtuh ke jurang tak berdasar, memisahkan Kaelan dan para pengejarnya dari kereta kuda yang membawa teman-temannya.
Kaelan terjatuh bersama reruntuhan jembatan. Di tengah gravitasi yang menariknya ke dalam kegelapan jurang, ia melihat kereta kuda itu berhasil menyeberang ke sisi hutan yang aman. Ia melihat ibunya yang menangis di jendela kereta.
"Setidaknya... mereka selamat," bisik Kaelan sebelum matanya tertutup sepenuhnya.
Tubuh Sang Bayang Rembulan menghilang di telan kabut jurang, sementara di atas sana, Kota Takhta Langit mulai tenggelam dalam lautan es hitam akibat ledakan Nadi Bumi yang tak terkendali.