Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ki Bagaskara menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang seolah membuang beban penyamaran selama dua belas tahun. Bahunya yang semula membungkuk layaknya petani tua, kini tegak perkasa. Aura yang tadinya redup mendadak berkobar, dingin dan mematikan.
"Ketajaman matamu memang pantas untuk pangkat Penyelidik Agung, Senopati," ucap Ki Bagaskara, suaranya kini terdengar berat dan berwibawa, jauh dari kesan ramah seorang warga desa.
Ia menyentak kain hitam yang membungkus tongkat jati tuanya. Saat kain itu terlepas, bukan kayu biasa yang terlihat, melainkan sepasang Pedang Kembar Anggrek Hitam yang bilahnya berwarna hitam legam dengan guratan perak tipis di tengahnya.
Nyai Lodra pun tak lagi diam. Ia melepas kain pengikat rambutnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai, lalu menarik seutas rantai tipis dari balik kembennya yang ternyata tersambung pada belati kecil berbentuk taring kelabang.
"Maafkan kami jika harus mengotori halaman balai desa ini dengan teknik yang kau sebut teknik jagal itu, Senopati," sahut Nyai Lodra dengan tatapan mata yang kini setajam belati di tangannya. "Tapi kau benar. Eyang Jagad Ireng, tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan kembali 'jantung' klan ini. Dan jantung itu ada pada darah Gandraka."
Tepat saat itu, sosok-sosok hitam tanpa wajah yang mengepung mereka mulai melompat serentak. Mereka bukan lagi sekadar bayangan, melainkan perwujudan dendam para pengikut Klan Anggrek Hitam yang dulu tewas di tangan Bagaskara dan Lodra.
"Jaga Gandraka!" teriak Ki Bagaskara.
Dengan satu gerakan yang hampir tak tertangkap mata, Ki Bagaskara melesat maju. Dua pedang kembarnya menari di udara, menciptakan kilatan cahaya hitam yang memutus leher-leher bayangan itu dalam sekali tebas. Setiap gerakan adalah maut. tanpa ampun, tanpa ragu.
Nyai Lodra bergerak layaknya bayangan di antara bayangan. Rantainya melesat maju, membelit raga-raga hitam itu dan menghancurkannya menjadi debu sebelum mereka sempat menyentuh tangga balai desa.
Jayantaka terpana. Ia pernah melihat banyak pendekar di Trowulan, tapi kecepatan dan kekejaman teknik Anggrek Hitam ini berada di level yang berbeda. Ini bukan silat untuk perlombaan; ini adalah tarian kematian yang dirancang untuk membantai pasukan.
Namun, di tengah pertempuran itu, suara tawa Eyang Jagad Ireng kembali menggema dari langit, membuat matahari merah di atas mereka berdenyut kencang.
"Anak dan menantuku yang durhaka..." suara itu berat, seolah berasal dari perut bumi. "Kalian membunuh saudaramu demi seorang anak yang membawa kutukanku? Lihatlah... pasak pertama mulai retak!"
Di tengah lingkaran, tubuh Nadi mulai gemetar hebat. Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya. Gandraka, yang sukmanya sedang bertarung di dalam pikiran Nadi, mulai berkeringat dingin.
"Dia menyerang dari dalam!" teriak Jayantaka sembari menebas satu bayangan yang mencoba merayap ke arah Gandraka. "Bagaskara! Iblis tua itu masuk ke dalam pikiran anak itu!"
Ki Bagaskara mengertakkan gigi, pedangnya bersimbah cairan hitam pekat milik para bayangan. "Lodra! Gunakan Segoro Getih! Kita harus membersihkan halaman ini dalam sekejap atau Gandraka akan hancur sebelum pasak pertama lepas!"
Nyai Lodra mengangguk tajam. Ia melompat ke udara, memutar rantai belatinya hingga membentuk lingkaran perak yang menderu. "Mundur, Senopati!" teriaknya.
Jayantaka segera melompat mundur ke dekat tubuh Gandraka. Ia menyaksikan Nyai Lodra menggigit ibu jarinya, lalu mengusapkan darahnya pada sepanjang rantai tipis itu.
"Segoro Getih!"
Dalam sekejap, rantai itu memerah membara. Saat Nyai Lodra menghentakkannya ke tanah, gelombang energi berwarna merah darah menyapu seluruh halaman balai desa. Ledakan energi itu menghancurkan lusinan bayangan hitam hingga menjadi abu dalam satu kedipan mata. Halaman yang tadinya sesak oleh makhluk mengerikan, kini bersih seketika, menyisakan bau anyir dan tanah yang menghitam.
Namun, kemenangan itu hanya sesaat. Di tengah lingkaran, Nadi memekik tanpa membuka mata. Tubuhnya melengkung kaku, tulang-tulangnya berderak seolah ada sesuatu yang besar sedang mencoba keluar dari dalam dadanya.
"Gandraka!" teriak Nyai Lodra cemas.
Di alam bawah sadar Nadi, Gandraka sedang berdiri di tengah padang ilusi yang dipenuhi ribuan kelabang raksasa. Di depannya, sosok Nadi kecil sedang meringkuk ketakutan, sementara bayangan raksasa Eyang Jagad Ireng menaunginya dengan tangan-tangan hitam yang siap mencengkeram.
"Lepaskan dia, Kekek," suara Gandraka menggema tenang di alam ilusi itu.
"Kau menyebutku kakek setelah kedua orang tuamu membantai keluargaku?" tawa Eyang Jagad Ireng menggetarkan langit-langit pikiran Nadi. "Bocah kecil... kau adalah mahakarya yang gagal. Berikan anak ini padaku, dan aku akan membiarkan penduduk desa ini mati dengan cepat."
"Nadi bukan milikmu," jawab Gandraka. Ia melangkah maju, tangannya yang mungil bercahaya keemasan—sebuah anomali di tengah kegelapan itu. "Dan aku bukan mahakaryamu. Aku adalah akhir dari kutukanmu."
Gandraka menghantamkan telapak tangannya ke tanah ilusi. Cahaya emas meledak, menghancurkan bayangan Eyang Jagad Ireng di dalam pikiran Nadi.
"LEPAS!"
Di balai desa, tubuh Nadi mendadak lemas dan jatuh kembali ke lantai. Napasnya yang tadi tersengal kini mulai teratur, meski sangat lemah. Uap hitam yang menghubungkan dadanya ke matahari di langit terputus dan lenyap.
Bersamaan dengan itu, matahari merah di atas mereka bergetar hebat. Suhu panas yang menyengat sedikit menurun, meski langit masih tetap membara.
"Pasak pertama... berhasil diputus," bisik Jayantaka dengan sisa tenaganya. Ia melihat Gandraka perlahan membuka mata. Mata bocah itu nampak kelelahan, ada gurat hitam di bawah kelopaknya.
Gandraka terbatuk pelan, darah segar menetes dari bibirnya. "Satu... sudah bebas. Tapi Eyang marah besar. Dia tidak akan mengirim bayangan lagi."
Ki Bagaskara mendekat, menyarungkan salah satu pedang hitamnya. "Lalu apa yang akan dia kirim?"
Gandraka menatap lurus ke arah hutan yang berbatasan dengan desa. Dari sana, terdengar suara gemuruh langkah kaki yang berat dan teratur. Bukan satu, bukan dua, tapi ratusan.
"Dia mengirim penduduk desa yang sudah ia jadikan Wadhag (wadah kosong)," ucap Gandraka pedih. "Warga yang tadi merayap di jalan... mereka sudah bukan manusia lagi. Eyang menggerakkan raga mereka untuk membunuh kita."
Jayantaka mengepalkan tangan pada hulu kerisnya. Ini adalah situasi tersulit. Bertarung melawan iblis adalah satu hal, tapi bertarung melawan warga desa yang tak berdosa adalah mimpi buruk bagi seorang Senopati.
"Bagaskara, Lodra," Jayantaka menoleh pada kedua jagal itu. "Kita tidak bisa membunuh mereka. Cari cara untuk melumpuhkan tanpa mencabut nyawa. Aku akan menjaga garis depan balai desa ini."
Satu pasak telah lepas, namun enam lainnya masih mengunci desa Mojorejo dalam neraka ilusi. Dan di ujung jalan, warga desa yang telah berubah menjadi mayat hidup mulai muncul dengan mata putih bersih, siap mencabik-cabik siapa pun yang menghalangi kehendak sang Eyang.