NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di sudut ruangan, sepasang matanya yang tajam tidak sedetik pun bergeser dari sosok Zivara yang sedang melakukan rangkaian tendangan ap chagi dengan napas yang teratur.

Melihat Zivara bersimbah keringat dengan sorot mata yang begitu fokus, hati Kaizar justru terasa seperti diremas. Gadis yang dulu hanya tahu cara memegang kuas lukis di DKV, kini harus mengeraskan buku jarinya untuk melindungi diri. Rasa bersalah itu datang lagi, lebih menyesakkan dari biasanya. Kaizar sadar, setiap tetes keringat Zivara adalah bukti kegagalannya sebagai seorang pria yang seharusnya menjadi tameng, bukan sumber luka.

Latihan akhirnya usai. Zivara menyeka lehernya dengan handuk kecil, gerakannya kini jauh lebih tegas dan efisien, kehilangan sisa-sisa sifat pemalu yang dulu selalu membuat Kaizar merasa bisa mendominasinya.

Tepat saat Zivara hendak melangkah menuju loker, seorang pria bertubuh atletis dengan sabuk hitam melangkah mendekat. Namanya Elian—atlet populer di klub tersebut yang dikenal memiliki karisma tenang.

"Latihan yang bagus, Zivara. Tendanganmu jauh lebih bertenaga hari ini," ujar Elian sambil memberikan sebotol air mineral dingin. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang tulus dan tidak menuntut.

Zivara berhenti, menatap botol itu sejenak sebelum menerimanya. "Terima kasih, Elian. Masih banyak yang harus aku perbaiki."

"Bagaimana kalau kita bahas sambil jalan ke parkiran? Kebetulan aku membawa catatan teknik yang mungkin bisa membantumu," tawar Elian santai. Tangan pria itu sempat menyentuh bahu Zivara secara sekilas—sebuah gestur akrab yang membuat darah di sekujur tubuh Kaizar mendidih seketika.

Dari balik pilar, rahang Kaizar mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Kecemburuan itu datang seperti api yang melahap logika, tapi ia tidak punya hak untuk melangkah maju. Ia teringat bagaimana di kehidupan sebelumnya ia sering membiarkan Zivara menunggu berjam-jam demi mengejar Luna, sementara sekarang, ia hanya bisa menjadi penonton saat pria lain memberikan perhatian yang dulu disia-siakannya.

Kaizar merasakan penderitaan yang nyata. Penyesalannya bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan rasa sakit fisik yang menghujam jantungnya saat melihat Zivara tertawa kecil menanggapi ucapan Elian. Zivara tidak lagi menoleh ke arah pilar tempat ia biasa berdiri. Gadis itu benar-benar mulai memilih dirinya sendiri, meninggalkan Kaizar di belakang dalam kabut penyesalan yang pekat.

Obsesi Kaizar mulai terbuka lebar. Ia ingin merengkuh Zivara, mengusir pria itu, dan memohon agar Zivara hanya menatapnya. Akan tetapi, ia tahu, luka batin Zivara terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan sebuah permintaan maaf. Ia harus membiarkan Zivara menyembuhkan dirinya sendiri, meski itu berarti ia harus terbakar oleh api cemburunya sendiri setiap hari.

**

Langit Bandung telah sepenuhnya menggelap saat sedan mewah Kaizar berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Arthea. Lampu jalan yang remang membiaskan bayangan pohon pinus ke kap mobil, menciptakan suasana dingin yang kian membeku di antara mereka berdua. Tanpa menunggu mesin mati sempurna, Zivara sudah melepaskan sabuk pengamannya.

"Terima kasih untuk tumpangannya," ucap Zivara datar, tangannya sudah berada di gagang pintu. Ia menoleh sekilas ke arah Kaizar, matanya tidak lagi memancarkan binar pemujaan seperti dulu. "Besok-besok, Kak Kai tidak perlu menjemput atau mengantarku lagi. Aku bisa berangkat sendiri."

Kaizar mencengkeram kemudi, rahangnya mengeras. "Aku tidak menerima permintaan itu, Vara. Mengantar dan menjagamu sudah menjadi tugasku. Aku sudah berjanji pada Om Ridwan untuk memastikan kamu aman."

Zivara menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran. "Janji itu terasa sangat terlambat, bukan? Aku akan bicara pada Ayah agar tidak perlu merepotkanmu lagi."

Tanpa menunggu jawaban, Zivara melangkah keluar dari mobil. Punggungnya yang tegak melambangkan harga diri yang sedang ia bangun kembali, meninggalkan Kaizar yang terpaku dalam kesunyian kabin mobil yang menyesakkan. Pria itu hanya bisa menatap sosok Zivara yang menghilang di balik pintu rumah, merasa seolah-olah wanita itu sedang berjalan menjauh ke dunia yang tidak lagi bisa ia jangkau.

Getaran ponsel di saku jasnya memecah lamunan pahit itu. Sebuah panggilan dari orang kepercayaannya.

"Tuan, saya menemukan sesuatu di lokasi gudang tempo hari," suara di seberang sana terdengar mendesak.

Kaizar membetulkan posisi duduknya, suaranya berubah menjadi sangat dingin. "Katakan."

"Gudang itu tidak hanya dikunci dari luar. Tim forensik swasta kita menemukan sisa-sisa zat iritan di sekitar ventilasi. Seseorang sengaja menyemprotkan bahan kimia yang bisa memicu sesak napas dalam waktu singkat. Ini bukan sekadar jebakan untuk menakut-nakuti, Tuan. Ini adalah percobaan pembunuhan berencana."

Jantung Kaizar berdegup kencang, amarah mulai merayap di balik dadanya yang sesak.

"Ada bukti fisik?"

"Kami menemukan botol kecil yang dibuang di celah ventilasi. Baunya sangat spesifik. Setelah diperiksa, itu adalah parfum edisi terbatas dari rumah mode di Paris. Hanya ada sepuluh orang di Indonesia yang memiliki koleksi itu, dan salah satunya adalah... Luna."

Kaizar memejamkan mata, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Bayangan Luna yang selama ini ia anggap sebagai cinta pertama yang murni kini hancur berkeping-keping, berganti dengan sosok monster yang nyaris melenyapkan nyawa Zivara. Luna tidak hanya licik; dia keji.

"Siapkan semuanya," perintah Kaizar dengan nada rendah yang mengancam. "Pesta festival fakultas minggu depan akan menjadi panggung terakhirnya. Jika dia ingin bermain dengan jebakan, aku akan memastikan dia sendiri yang masuk ke dalam lubang yang dia gali. Pantau juga pergerakan Adrian. Aku tidak ingin satu pun dari mereka lolos."

Kaizar mematikan sambungan telepon, matanya menatap tajam ke arah jendela lantai dua rumah Zivara yang lampunya baru saja menyala.

**

Kaizar melangkah masuk ke dalam kediaman keluarga Ravindra. Pria itu berjalan dengan bahu yang tampak sedikit miring ke satu sisi. Ada rasa berdenyut yang kian tajam di bahu kanannya, sebuah rasa sakit yang sebenarnya sudah mulai terasa sejak beberapa hari terakhir, tetapi selalu ia abaikan demi memantau keselamatan Zivara. Kali ini, rasa sakit itu tak lagi bisa diajak kompromi; rasanya seperti ada ribuan jarum yang menghujam dagingnya.

Bunda Dila yang sedang merapikan vas bunga di ruang tengah segera menoleh saat mendengar langkah kaki putranya. Ia mengernyitkan dahi melihat ekspresi Kaizar yang tampak menahan sesuatu.

"Kai? Kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu meringis seperti sedang menahan sakit," tegur Bunda Dila dengan nada cemas yang kental.

Kaizar mencoba mengatur napasnya, memaksakan senyum tipis yang tampak kaku. "Tidak apa-apa, Bun. Mungkin hanya kelelahan karena urusan kampus dan kantor belakangan ini".

Bunda Dila tidak sepenuhnya percaya, tapi ia hanya bisa menghela napas panjang. "Cepatlah bersihkan diri. Setelah ini kita makan malam bersama, ya? Ayahmu sudah menunggu".

Kaizar mengangguk pelan lalu bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Di dalam kamar mandi, ia memutar keran air hangat, berharap uap panas bisa sedikit mengendurkan otot-ototnya yang tegang. Saat ia melepaskan pakaian dan berdiri di depan cermin besar, matanya terpaku pada pantulan bahu kanannya.

Warna kebiruan yang kontras terlihat jelas di atas kulit putihnya, membentuk lebam yang cukup luas. Ingatannya mendadak berputar kembali ke sore itu di gudang kampus. Ia ingat betul bagaimana ia menghantamkan seluruh berat tubuhnya ke pintu kayu yang tebal itu berulang kali untuk menyelamatkan Zivara yang terjebak di dalam. Saat itu, adrenalin membuatnya tidak merasakan apa-apa, tapi sekarang, luka itu mulai menagih haknya.

Selesai mandi, Kaizar turun ke ruang makan dengan kaos longgar untuk menyembunyikan lebamnya. Ayah Kevin dan Bunda Dila sudah duduk tenang menantinya. Suasana makan malam yang biasanya elegan dan hening itu mendadak berubah saat Kaizar mencoba meraih sendok untuk mengambil hidangan di depannya.

Prang!

Logam sendok itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam piring porselen dengan suara yang nyaring. Kaizar terdiam, tangannya bergetar hebat.

"Kai, ada apa?" Ayah Kevin bertanya dengan suara berat, meletakkan alat makannya.

"Tidak ada apa-apa, Yah. Hanya licin," jawab Kaizar cepat.

Bunda Dila bangkit dari kursinya, rasa curiga seorang ibu tidak bisa dibohongi. Tanpa permisi, ia mendekati Kaizar dan sedikit menarik kerah kaos putranya ke bawah. Matanya membelalak saat melihat pemandangan di bahu Kaizar yang kini sudah mulai menghitam.

"Astaga, Kaizar! Kenapa bahumu sampai seperti ini?" seru Bunda Dila, suaranya bergetar karena kaget. "Kita harus ke rumah sakit sekarang".

"Tidak perlu, Bun. Ini hanya memar biasa," tolak Kaizar keras kepala.

Ayah Kevin berdiri, tatapannya tidak terbantahkan. "Jangan membantah. Kita berangkat sekarang juga".

Di rumah sakit, setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter menunjukkan hasil rontgen yang menjelaskan kondisi bahu Kaizar. Ada cedera otot serius dan retakan halus pada tulang selangkanya akibat hantaman benda tumpul yang dipaksakan. Lebam hitam itu adalah simbol dari pengorbanan fisiknya yang ia lakukan demi Zivara, tanpa pernah sekalipun ia ceritakan pada gadis itu.

***

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!