para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Minggu adalah hari kesukaan dedi. Dedi yang ku kenal workholik ternyata berubah banyak setelah kami sudah serumah. Hubunganku dengan dedi dan keluarganya tidak bisa di katakana membaik karena aku masih sering menjaga jarak dengan mereka.
Jika terbilang dari sekarang, mungkin aku sudah menetap lebih dari enam bulan lamanya di kediaman Brawija namun kebiasaan dan gaya hidupku masih sama dan tidak ingin ku ubah sampai kapan pun.
Egoiskah aku?, I Don’t Care!!.
Mentari sedang terik-teriknya saat aku baru keluar dari kamar dedi yang berada di lantai dua. Jangan tanyakan kenapa?, karena pagi-pagi sekali dia menggajakku bertarung di ranjang, jadilah setelah bertarung aku tertidur kembali dan baru terbangun.
Saat aku mendekati meja makan, kulihat nyonya cheristi sedang menyajikan makanan di hadapan tuan bram, sedangkan suamiku alias dedi sedang sibuk memainkan gadegetnya.
Tanpa kata aku memilih duduk di samping dedi, jika nyonya cheristi yang menyajikan makanan untuk tuan bram, di pernikahanku malah dedi yang melakukan itu untukku.
Dedi sudah memindahkan makanan ke piring lalu di berikan padaku, setelah itu dia kembali sibuk dengan gadgetnya sembari sesekali menyeduh kopi yang ada di hadapannya.
“kamu kenapa tidak makan?” tanyaku hanya sekedar berbasa-basi sebenarnya karena jenggah di tatapi orangtua dedi.
“Pertarungan kita mengguras semua tenagaku jadi setibanya di dapur, aku langsung makan setelah menidurimu” balasnya acuh.
“huk huk hukk”
“cucu kita sepertinya bukan angan-angan lagi” kata tuan bram dengan senyum miring di bibirnya.
“mami sudah rindu sekali mendengar tangisan bayi, sayang sekali mami cuman bisa melahirkan dedi seandainya..” kata nyonya cheristi, belum selesai ucapannya seketika tuam bram berkata
“sudah sayang, sekarang melahirkan keturunan Brawijaya tugas dewi”
“anda butuh menantu atau pabrik pencetak cucu tuan dan nyonya” balasku sarkis setelah meredakan batukku.
“sama saja saya rasa. Kau sudah tidak tahu menanggani suami, menghadapi dapur lebih-lebih, jadi apa susahnya mengangkang dan melahirkan keturunan Briwijaya?” ujarnya menghinaku dan sayangnya itu benar.
“…” aku hanya bisa mendengus pasrah mendengar kalimat itu.
“….” Tak ada yang membuka suara antara kami tapi ku lihat nyonya cheristi dan dedi sedikit tersenyum mendengar perdebatan antara aku dan tuan bram.
Setelah makan siang itu, kami lalu beranjak dari meja makan. Dedi dan tuan bram memilih masuk ke ruang kerja mereka masing-masing, sedangkan aku dan nyonya cheristi memilih ke taman belakang rumah untuk bersantai.
Di tengah kesibukannya memperhatikan majalah perhiasan tiba-tiba nyonya cheristi berkata
“Dewi” panggil nyonya cheristi padaku
“Ya” kataku acuh.
“Bagaimana hubunganmu dengan anakku?” tanyanya padaku sembari menatapku intens. Aku sempat menoleh sesaat untuk menatapnya dan berakata
“Masih ada tanda-tanda perang tentunya” balasku kembali sibuk dengan kegiatanku.
“Kamu belum memaafkan kami?”
“Memaafkan mudah, melpakan yang tidak bisa ku lupakan”
“Apa luka itu masih belum kering?” tanyanya hati-hati
“Anda pasti lebih menggerti filosopi luka. Biarpun tak berdarah lagi tapi akan meninggalkan bekas kan? Seperti itu saya karena keluarga kalian?”
“Ya kau benar” balasnya singkat sembari menghembuskan nafas kuat. “tapi apa yang membuatmu mencoba berdamai dengan dedi”
“Tidak damai, saya hanya menuntut tanggung jawabnya”
“Tanggung jawab seperti apa yang kau cari”
“Banyak, kompensasi contohnya, perceraian dan karma yang biasanya lebih kejam, setelah itu mungkin saya akan puas”
“Dewi” panggil nyonya cheristi dengan intonasi yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
“…” aku memilih diam.
“Kamu belum jadi ibu jadi kamu tidak menggerti yang saya rasakan saat melihat dedi sekarat, bernafas pun susah apa lagi menjelaskan kepadamu saat itu”
“Sudah tau anaknya penyakitan, kenapa di nikahkan ke saya?” balasku masih santai.
“PLAK”
Tanpa ku sangka-sangka, sebuah tamparan sudah melayang dan menghantam pipiku. Aku tidak sempat menghindar atau pun membalas kala di kulihat seorang wanita terpaku di tempatnya.
Sialnya tamparan itu sempat membuat telingga ku berdengung bahkan sudut bibirku sobek dan menggeluarkan darah segar.
“…” aku tidak bersuara begitu pun nyonya cheristi. Kejadian itu serasa sangat cepat terjadi, saking cepatnya, nyonya cheristi sepertinya tidak menyangka bisa melayangakan tamparan padaku.
“Nyo, nyonya” panggil salah satu asisten yang memecahkan keheningan antara kami.
“Di di di depan ada nona Rianti” lapornya dengan wajah menunduk.
“Biarkan dia masuk” jawabnya masih dengan wajah syok dan matanya tidak lepas dari pipiku yang dia tampar.
Setelah ART itu pergi, tidak lama setelahnya dia kembali bersama salah satu wanita. Dihadapan kami, kini berdiri seorang wanita berparas sangat cantik, mata bulatnya mampu menghipnotis orang lain untuk menggaguminya bahkan gelar tak nampak yang ada di belakang namanya membuat banyak orang menghormatinya .
Senyumannya begitu indah, dengan tubuh yang begitu propesional sangat menunjang karirnya sebagai model. lekukan pada tubuhnya sangat menonjol sukses menggundang birahi kaum lelaki, pakaian ketat pada tubuhnya juga semakin menyempurnakan penampilannya.
Aku mengenalnya ia dia Rianti Willson wajahnya seringkali jadi sampul pada majalah fashion manca negara dan sering kali membintangi beberapa film yang hits beberapa tahun ini anak pemilik Angkasa Compeny salah satu colega dedi.
"Rianti kapan kau kembali sayang" Ucap mertuaku dengan wajah sedikit canggung lalu menatapku seakan meminta untuk agar aku memaklumi situasi ini.
"Oyah kenalkan Rianti ini Dewi istrinya Dedi" ujar mertuaku namun kami hanya saling memandang jangan harapkan aku akan menyulurkan tanggan dan menyalaminya terlebih dahulu karena wanita cantik ini begitu terang - terangan menunjukkan ketidak sukaannya padaku hingga ucapannya membuat kepalan tangan dedi mengeras.
"Aku rianti, aku yang seharusnya menjadi istri dedi"
“sayangnya itu hanya angan-angan anda nyonya” koreksi santai.
“kau” dia tidak menjawab kali ini, dia sudah ingin melayangkan tanparan padaku tapi untungnya di cegat oleh nyonya cheristi
Kecanggungan kembali memenuhi kami.
Ibu mertuaku mecoba menenggahi keadaan kedatangan Rianti yang menyempurnakan keteganggan di rumah ini. Aku memilih meninggalkan mereka lalu menuju kamar tidur dedi.
setelah di dalam ruangan itu, kulihat dedi sedang menatap layar leptop yang ada di pangkuannya dengan serius.
“kapan penawaran ini masuk?” tanya dedi seketika saat melihatku memasuki kamar
“maksudnya?” tanyaku mendekat padanya.
“Ajakan kerja sama dengan perusahaan angkasa compeny” jawabnya singkat tidak lupa menatapku dengan wajah datarnya.
“Ooo… jujurnya tawaran itu sudah ada jauh sebelum resepsi kita” balasku santai.
“Kenapa kau tidak menyampaikan ke saya” tuntutnya dengan mimik tidak suka. Kini dia sudah bertindak seperti seorang boss adi mau tidak mau aku juga menggimbanginya.
“Lihat saja, penawaranya sangat ganjil jadi ku sisihkan”
“Kenapa?” tanya lagi.
“Keutungan yang di janjikan sangat menguntukan bagi perusahaan kita sedangkan sedikit untuk perusahaan mereka, setelah ku selidiki ternyata mereka menjadikan perusahaan lain untuk menanam modal di perusahaannya”
“jelaskan lebih detail” katanya dengan tatapan semakin tajam saja padaku.
“Perusahaan angaksa compeny memiliki penghianat di dalamnya. Perusahaan mereka sedang kolap namun tidak ada yang berani membantu, bahkan beberapa dari pemegang saham meggundurkan diri”
“alasannya”
“ada hasutan dari perusahaan adipati, tuan dimas berencana menggakusisi perusahaan itu”
“ada masalah apa angkasa compeny dan adipati?” katanya dengan kerutan di kening semakin jelas saja.
“perusahaan angkasa memenangkan tender dengan cara curang, dan itu di ketahui tuan dimas dan istrinya”
“jadi siapa sebenarnya yang mengharapakan perusahaan itu bangkrut”
“maksudnya?”
“caca atau dimas?”
“tuan dimas”
“…” seketika dedi memilih menutup bibirnya rapat-rapat.
“selain factor itu, nona bersinggungan dengan anaknya tuan dimas”
“…” Dedi tetap diam tapi menaikkan sebelah alisnya.
“sebentar” kataku meraih gadget Dedi lalu membuka kunci yang jelas tanggal ulang tahunku, setelah browsing dan mencari nama danisa yang sebagai model yang naik daun, kini nampaklah wajah Danisa.
“siapa dia?” tanya dedi semakin tidak menggerti saja dengan pembahasan kami.
“ini adalah anak kedua sekaligus satu-satunya anak gadis dari tuan Dimas. Dia baru-baru memasuki agensi yang sama dengan nona Rianti dan dapat respeck yang baik dari banyak pihak di luar dari embel-embel orangtuanya”
“Kau yakin?” decih dedi seakan tidak percaya dengan kemampuan wanita bernama Danisa.
“Sangat, nyonya Mahaldica sangat melindungi biografi semua anak-anaknya sangat ketat”
“Lalu dari mana kau tahu dia anak dimas dan caca?” katanya sembari memijat keningnya beberapa kali
“Dari pertemuan pribadi saya dengan nyonya mahaldica baru-baru ini” jawabku formal masih layaknya boss dan bawahannya
“…” dia diam tapi tatapannya tidak pernah lepas dariku barang sedetik pun.
“nyonya mahaldica terang-terangan meluapkan kemarahanya saat saya menyinggung masalah keluarganya dengan angkasa compeny jadi saya tahu semua itu tidak lepas dari peran nyonya mahaldica” jawabku yakin.
“okey, kita akan lupakan ini dan pura-pura tidak tahu masalahnya” jawab dedi pada akhirnya lalu menyingkirkan proposal kerja sama yang dari tadi di pegang dan di bacanya.
“sayangnya tidak seperti itu pak.” Kataku lagi.
“maksudmu?”
“di bawah ada nona rianti bersama mami anda, saya yakin kedatangannya membahas menggenai pinjaman sekaligus bantuan lain untuk perusahaan ayahnya”
“kapan dia datang?”
“baru saja”
“di mana dia?”
“terakhir bersama nyonya taman belakang” kataku lagi masih dengan sikap layaknya bahawan bukan istrinya.
“…” terdiam lalu memijit keningnya beberapa kali.
“masih ada hal yang lain pak?” tanyaku tidak suka melihatnya seperti itu.
“tidak ada” jawabnya mulai menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“saya permisi pak” kataku berlalu begitu saja.
Aku memilih keluar dari kamar lalu menuju dapur. Kala aku melewati ruang keluarga, ku lihat, dan ku dengar dua orang wanita tertawa bahagia entah karena apa.
Tawa dan rancauan mereka memenuhi ruang keluarga, apa lagi kala tuan bram ikut terjun dengan pembahasan mereka, maka semakin terbahaklah mereka.
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??