Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kacamata baru
***
Beberapa hari berlalu.
Hari perlombaan seni akhirnya tiba.
Ibu kota Valenbourg ramai sejak pagi. Spanduk warna-warni tergantung di sepanjang jalan. Para peserta berdatangan membawa karya terbaik mereka.
Elara berdiri di depan aula pameran.
Tangannya sedikit gemetar saat memegang lukisannya.
“Kau pasti bisa,” kata Eryn sambil tersenyum.
“Aku tahu lukisanmu selalu punya cerita.”
Elara mengangguk.
“Aku hanya… ingin melakukan yang terbaik.”
Elara masuk.
Di dalam, puluhan lukisan terpajang. Indah. Megah. Penuh teknik tinggi.
Namun lukisan Elara berbeda.
Tidak mencolok.
Tidak terlalu rumit.
Namun penuh perasaan.
Di kanvas itu, tergambar seorang gadis kecil berdiri di tengah hujan, memeluk lentera kecil. Di sekelilingnya gelap, namun cahaya kecil itu tetap menyala.
Setiap garisnya lembut.
Setiap warnanya hidup.
Seolah menceritakan perjuangan.
Kesepian.
Harapan.
Bertahan.
Para juri berhenti cukup lama di depan lukisan itu.
Mereka saling berpandangan.
“Ini… sangat jujur,” ucap salah satu juri.
“Seperti lukisan yang bernapas.”
Pengumuman pemenang pun tiba.
“Elara Wyhther, juara pertama lomba seni tahun ini.”
Elara terpaku.
“Apa…?” bisiknya.
Eryn langsung melompat kecil.
“Kau menang! Elara, kau menang!”
Tepuk tangan menggema.
Elara menutup mulutnya. Air mata bahagia jatuh. Elara berjalan ke depan dengan langkah gemetar.
Menerima piala dan hadiah uang dan untuk pertama kalinya sejak lama…Elara merasa berhasil.
***
Sore itu, mereka pergi ke toko kacamata.
Elara berdiri lama di depan etalase.
“Yang ini bagus,” kata Eryn menunjuk bingkai tipis berwarna perak.
Elara mencobanya. “Aku… suka sekali.”
Gadis itu tersenyum lebar. Mimpi kecilnya akhirnya tercapai. Namun saat ia sedang bercermin…
bel pintu toko berbunyi.
Ting.
Masuklah dua orang. Marquis dan Lady Seraphina.
Marquis berhenti melangkah.Matanya langsung tertuju pada Elara. Begitu pula Elara. Senyumnya memudar. Udara seakan membeku.
Hanya suara jam dinding.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Elara menunduk lebih dulu. Dadanya terasa aneh. Bersalah, canggung.
Teringat ucapannya waktu itu.
Tolong menjauh dariku.
Marquis memalingkan wajah.
"Kacamata itu cocok untukmu Elara." Puji Lady Seraphina yang membuka pembicaraan.
“Terima kasih, Lady.” jawab Elara lirih.
Seraphina akhirnya tersenyum tipis.
“Ayo, Marquis. Ibu pasti menunggu.”
Marquis mengangguk.
Mereka segera berjalan untuk memilih kacamata, yang akan mereka beli untuk hadiah ibu Seraphina.
Setelah membayar, Elara menerima kotak kecil berisi kacamata barunya.
Seharusnya Elara merasa bahagia. Namun dadanya justru terasa berat. Gadis itu melirik sekilas ke arah Marquis.
Pria itu sedang berdiri di dekat rak, membantu Seraphina memilih bingkai.
Elara menarik napas dalam. Perlahan, Elara melangkah mendekat. Berhenti beberapa langkah dari mereka.Lalu, menunduk dalam.
“Permisi, Tuan Marquis… Lady,” ucapnya lirih.
“Aku pamit pulang.”
Marquis terdiam. Tidak menoleh. Tidak menjawab.
Seraphina melirik Marquis sekilas. Lalu menoleh pada Elara.Senyumnya mengembang. Lembut, anggun.
“Ah, sudah mau pulang?” katanya ramah.
“Hati-hati di jalan, Elara.”
“Iya, Lady. Terima kasih.” bisiknya nyaris tak terdengar.
Lalu Elara berbalik. Melangkah pergi bersama Eryn. Tanpa menoleh lagi.
Begitu mereka keluar dari toko, udara sore langsung menyambut.Angin sejuk berembus pelan.
Namun langkah Elara terasa lebih cepat dari biasanya.
Gadis berjalan tanpa bicara lagi. Tanpa senyum. Tanpa menoleh ke belakang.
Eryn memperhatikannya diam-diam.
Alisnya sedikit berkerut.
“Elara…” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Elara hanya menggenggam kotak.
“Elara,” Eryn memanggil lagi, kali ini lebih jelas.
Gadis itu akhirnya berhenti. Namun ia tidak langsung menoleh.
Beberapa detik berlalu sebelum Elara menghadap Eryn.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
“Kau kenapa? Kau beda sejak di toko tadi.”
Elara menggeleng cepat.
“Tidak apa-apa.” Jawaban klasik.
Eryn menghela napas kecil. Pria itu melangkah mendekat.
“Elara… aku bukan orang lain.”