Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa bersalah
Di salah satu sudut ruangan, seorang gadis duduk memeluk lututnya. Rambutnya terurai acak-acakan, sebagian menutupi wajahnya yang pucat. Pandangannya kosong, menatap satu titik di lantai, seolah pikirannya terperangkap jauh di tempat yang bahkan tak mampu ia jelaskan sendiri.
Tubuhnya meringkuk. Bahunya naik turun, bukan karena menangis keras, melainkan karena ia menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dikeluarkan. Jari-jarinya mencengkeram kain baju pasien hingga buku-bukunya memutih.
Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak terdengar, namun lirihannya menggema menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Gue nggak bersalah…"
"Gue nggak ngelakuin itu…"
"Gue nggak salah…"
Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang sedikit berisi. Kadang ia mengusapnya dengan kasar, kadang membiarkannya jatuh tanpa perlawanan. Namun, dalam hitungan detik, suasana berubah drastis.
Tiba-tiba gadis itu tertawa.
Tertawa keras, nyaring, tanpa alasan.
"Hahaha… gue lulus! Gue lulus!"
"Yeay! Gue sarjana! Mama, papa… lihat, Qila lulus!"
Ia berdiri , berlari kecil mengelilingi ruangan. Tangannya bertepuk tangan, tubuhnya melompat-lompat seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah ulang tahun.
Di ambang pintu ruangan itu, Reyhan berdiri terpaku. Tubuhnya tinggi, rapi dalam balutan kemeja sederhana, matanya merah, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya.
Dari belakang, ia memandang Shaqila...gadis yang dulu duduk rapi di hadapannya dengan map skripsi tebal dengan kegigihannya walau ditolak beberapa kali.
Dadanya terasa diremas kuat.
Air mata jatuh tanpa izin.
Laki-laki itu mengingat semuanya.
Ia mengingat bagaimana Shaqila selalu datang dengan tatapan gelisahnya setiap jadwal bimbingan, menunggu dengan sabar meski sering kali hanya mendapat sepuluh menit. Mengingat bagaimana ia bersikap dingin, profesional yang berlebihan, menolak revisi demi revisi tanpa melihat betapa lelahnya gadis itu.
Ia ingat tatapan Shaqila setiap kali keluar dari ruangannya...mata sembab, langkah gontai, namun keesokan harinya kembali datang dengan senyum tipis dan tekad yang sama.
Ia ingat ide bodoh itu.
Pernikahan kontrak.
Keputusan yang ia kira akan menyelesaikan semuanya.
Tawa lepas gadis itu di pantai masih terpatri jelas di ingatan Reyhan. Bagaimana gadis itu berlari menyusuri pasir, tertawa saat ombak menyentuh kakinya.
Ekspresi bahagia dan mata berbinar, saat gadis itu mengetahui skripsinya akhirnya lulus. Hal yang ia tunggu-tunggu.
Kini, gadis yang sama berada di salah satu rumah sakit jiwa.
Entah mengapa hati laki-laki itu hancur.
Ia mengusap wajahnya kasar, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melangkah masuk. Setiap langkah terasa seperti menapaki serpihan kaca. Ia mendekat perlahan, takut suara sepatunya saja bisa memicu amukan Shaqila.
"Shaqila…" panggilnya lembut.
Gadis itu tidak langsung menoleh.
"Shaqila, kamu makan ya," ucapnya dengan suara bergetar. "Saya bawa makanan kesukaan kamu."
Shaqila menoleh.
Tatapan itu… dingin, kosong. Seperti menatap orang asing.
Beberapa detik hening berlalu, lalu wajah Shaqila berubah cerah secara tiba-tiba.
"Makanan?"
"Makanan?"
"Yeay makanan!"
Ia bangkit, berlari kecil mengitari Reyhan.
"Horeee!"
"Makan… makan… makan… yeay!"
Ia melompat-lompat, bertepuk tangan dengan wajah penuh kegembiraan yang terasa menyakitkan untuk dilihat. Reyhan memalingkan wajah, air matanya kembali jatuh. Tangannya gemetar hebat.
"Shaqila… sini," ucapnya lirih. "Kamu duduk dulu ya. Saya suapin."
Entah mengapa, kali ini Shaqila menurut.
Ia duduk di dekat Reyhan, menyilangkan kaki seperti anak kecil. Namun sepanjang waktu, ia masih bersorak, bertepuk tangan di sela-sela suapan.
"Enak!"
"Eh lo tau nggak, gue lulus loh. Gue akhirnya jadi sarjana yeay..." ucap Shaqila dengan antusias seraya bertepuk tangan.
Sementara Reyhan menyuapi dengan tangan yang nyaris tak mampu ia kendalikan. Setiap suapan terasa seperti menjejalkan rasa bersalah ke tenggorokannya sendiri.
Maaf…
Maafkan saya…
Namun kata itu tak pernah keluar.
Di balik pintu ruangan tersebut seseorang berdiri memperhatikan dengan senyum miring di bibirnya.
Matanya menyipit, menikmati setiap detik pemandangan di depannya. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka kamera, dan mengarahkan lensa ke arah Shaqila yang tertawa-tawa polos.
"Kerja kerasku ternyata tidak sia-sia," gumamnya sambil tertawa pelan.
"Lihatlah dirimu sekarang, Shaqila. Ini belum seberapa sebenarnya."
Ia melangkah pergi tanpa rasa bersalah, meninggalkan ruangan itu dengan hati puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, kamu kenal Shaqila kan?" tanya Tasya.
"Iya kenal, yang adik tingkat ku itukan?" tanya balik Arga.
"Iya, aku nggak nyangka banget deh. Saking ngebetnya mau lulus, dia rela tidur sama dospemnya. Mana sampai hamil lagi. Terus dengar-dengar dia di DO. Terus frustasi dan akhirnya gila." ucap Tasya dengan nada yang sok iba.
"Aku dengar sih, tapi gak nyangka banget sih dia kek gitu. Padahal kalau dilihat-lihat dia orangnya polos loh," ucap Arga.
Tasya menghentakkan kakinya sebentar seakan kesal dengan pernyataan Arga. "Ihhh, sayang. Polos diluar itu belum tentu dalamnya polos."
Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering. Tubuhnya menjadi tegang saat melihat siapa yang menelponnya.
"Eh, mama aku nelpon. Tunggu bentar ya sayang," ucap Tasya seraya melangkah menjauh.
'Aneh, biasanya kalau mamanya nelpon dia tidak pernah ambil jarak sejauh itu.'. batin Arga.
Sementara Tasya mengangkat panggilan itu dengan sangat hati-hati.
"Halo?" bisik Tasya.
"Halo sayang, kamu dimana? aku sepertinya ketagihan dengan tubuh indahmu itu. Bagaimana kalau kita main lagi?"
"Tidak bisa om, badan saya masih remuk karena tempuran om yang tidak kenal kata lelah itu," jawab Tasya dengan grogi.
Seseorang disana pun tertawa renyah. "Kamu tidak lupa kan sama perjanjian kita sayang. Aku turutin permintaanmu untuk menyuruh pihak kampus keluarkan Shaqila dan sebagai gantinya tubuh indahmu itu menjadi milikku. Dan tubuhmu selalu siap kapan pun aku memintanya."
"Ta-tapi jangan sekarang. Aku sekarang sedang bersama putramu," ucap Tasya dengan nada panik.
"Arga? bukankah dia sedang menemani mamanya di rumah sakit,"
"Dia minta bertemu sebentar. Katanya rindu denganku."
"Tapi sayang, punyaku juga sedang merindukan sarangnya. Dalam sepuluh menit kau harus datang ke hotel Nagaswara. Kalau tidak, aku akan memosting video kamu tanpa busana sedang mendesah ke enakan di bawah kukunganku."
Tangan gadis itu mengepal. "Dasar bodoh, kalau kau posting reputasi mu juga ikut hancur."
"Tasya sayang ternyata pikiranmu pendek juga. Aku tentu menutupi wajahku."
Panggilan pun diputuskan sepihak oleh penelpon tersebut.
'Dasar tua bangka. Istrinya sakit bukannya khawatir malah ngajak orang main,' batin Tasya.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih