Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
“All, Lo dipanggil Bu Indi di depan gudang.” ujar Nayla menghampiri Alleta yang hendak melangkah ke luar kelas.
“Sekarang?”
“Iya, udah ditungguin kayaknya.” kata Nayla lagi.
Alleta mengangguk, kemudian menoleh ke arah Tristan yang menunggunya, “Duluan aja, tunggu gue di parkiran.”
“Yaudah, jangan lama-lama.” balasnya, lalu melangkah mendahului ke parkiran.
Alleta tersenyum kecil kepada Nayla, Nayla juga membalas tersenyum.
“Yaudah, gue duluan ya.” ujar Nayla sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas.
“Iya, hati-hati.” sahut Alleta lalu juga melangkah keluar kelas.
Koridor sekolah terlihat lengang.
Langkah Alleta menggema pelan menyusuri lorong menuju area belakang sekolah—tempat gudang olahraga berada.
Disana, ia melihat sekeliling–tidak ada Bu Indi.
“Bu..” panggil Alleta pelan.
Tidak ada jawaban.
“Bu Indi..” ulangnya lagi.
Masih hening yang menyahut.
Alleta berdiri tepat di depan pintu gudang olahraga. Cat hijau tuanya mulai mengelupas, gagang pintunya berkarat, dan area di sekitarnya nyaris tak pernah dilewati siswa kecuali saat jam pelajaran olahraga.
Ia menghembuskan napas pelan. “Mungkin Bu Indi ke toilet,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun detik demi detik berlalu, dan tak satu pun langkah kaki terdengar.
Bosan, Alleta menatap pintu gudang yang terbuka sedikit itu beberapa detik. Hatinya berdebar tidak wajar.
Perlahan tangannya memutar gagang pintu yang berkarat. Namun begitu pintu terbuka, sepasang tangan dari belakang tiba-tiba mendorongnya masuk.
Brakk....
Pintu gudang mendadak ditutup keras dari luar.Alleta tersentak.
“Eh—!”
Ia berbalik cepat dan langsung meraih gagang pintu.
“Bu?! Bu Indi?!” Ia menarik pintu itu.
Tidak bergerak.
Ia menarik lebih keras.
Tetap terkunc.
“Tolong! Ada siapa di luar?!” teriaknya, suara Alleta mulai bergetar.
Tidak ada jawaban.
Hanya sunyi yang menekan telinganya. Napas Alleta mulai tidak teratur. Gudang itu pengap, gelap, hanya sedikit cahaya masuk dari celah atap yang bocor. Bau lembap bercampur debu membuat dadanya sesak.
Ia menggedor pintu.
“Buka… tolong buka pintunya!”
Gedorannya menggema di ruangan sempit itu, namun tidak ada yang menyahut.
Di sisi lain.
Sagara terlihat duduk bersandar di atas kap mobilnya. Ia tak henti melirik ke arah motor sport milik Tristan yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
Entah apa yang dia tunggu. Tak lama berselang, seorang gadis menghampirinya.
“Sa, gue pulang sama Lo ya.” ujar Nayla, tersenyum manis.
Sagara menatap gadis itu sebentar, “Gak.” balasnya datar.
“Tapi gue gak ada yang jemput..” pinta Nayla lagi, suaranya dibuat lembut.
“Pesen taxi aja.” ulang Sagara, nada suaranya dingin tanpa sedikit pun empati.
Senyum Nayla mengeras.
Ia menggenggam tali tasnya lebih kuat.“Sa… gue cuma mau bareng. Lagian kita kan satu arah,” ujarnya berusaha santai.
“Gue gak mau bareng lo.”
“Lo masih marah ya, gara-gara kejadian kemarin??” tanya Nayla, menautkan sikap Sagara hari ini dan kejadian di pesta ulang tahunnya kemarin.
Sagara tidak menjawab, dia kemudian menunduk untuk mengetik sesuatu pada ponselnya.
“Kan gue udah minta maaf sama Alleta, gue gak sengaja. Lagian kenapa Lo peduli banget sih sama dia..??” lanjut Nayla, nada suaranya mulai meninggi, tipis tapi tajam.
Jari Sagara berhenti di layar ponselnya. Ia mengangkat kepala perlahan.Tatapan itu—dingin, datar, tapi penuh peringatan.
“Karena gue suka sama Alleta,” jawabnya singkat.
Deg..
Jantung Nayla seperti mencelos, mendengar pengakuan dari Sagara.
Beruntung saat itu suasana parkiran sangat sepi, hanya tersisa beberapa motor dan mobil Sagara yang masih terparkir.
Wajah Nayla memucat sesaat. Senyum di bibirnya menghilang begitu saja, tergantikan tatapan kosong yang sulit dibaca.
“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar.
Sagara tak mengulang. Ia hanya kembali menatap layar ponselnya, mengetik cepat.
“Jahat Lo, Sa.” Suara Nayla bergetar, matanya mulai memerah. “Selama ini gue berusaha nunjukin perasaan gue sama Lo?”
Sagara akhirnya berdiri tegak dari kap mobil. Ia menatap Nayla tanpa emosi berlebih, tapi jelas tidak lagi menyisakan ruang untuk basa-basi.
“Dan gue gak pernah ngasih lo harapan,” jawabnya datar.
Nayla menelan ludah, ia kemudian mengusap setetes air mata yang perlahan menetes. Hatinya seperti tergores, gadis itu langsung berbalik meninggalkan Sagara.
Tepat disaat itu. Tristan memasuki area parkir, ia berpapasan dengan Nayla. Matanya salfok, melihat wajah gadis itu yang memerah, sementara Sagara terlihat menghela napas.
Tapi ia tak ingin ikut campur, Tristan melangkah tenang ke arah motornya. Pemuda itu kemudian duduk diatasnya, menunggu Alleta.
Sagara menoleh ke arah Tristan, alisnya sedikit terangkat. "Seharusnya Alleta sama Tristan kan?” batinnya berpikir.
Namun ia tak langsung bertanya, Sagara kembali mengetik sesuatu pada ponselnya, tetapi setiap pesan yang dia kirim tak kunjung mendapat jawaban.
Beberapa menit berlalu.
Tristan masih duduk di atas motornya, helm sudah terpasang, namun mesin belum dinyalakan. Tatapannya berulang kali mengarah ke lorong kelas.
Alleta belum muncul.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya.Lima belas menit…
Tristan merogoh ponselnya.
Tristan:
All, lo di mana?
Pesan terkirim.
Tak dibalas.
Ia mencoba menelepon.
Berdering…
lalu berhenti.
Alis Tristan mengerut. Perasaan tidak enak semakin kuat.
Sagara yang berdiri tak jauh dari mobilnya ikut melirik jam. Ia kembali menatap layar ponselnya—semua pesannya pada Alleta juga tak mendapat jawaban.
Sagara menoleh ke arah Tristan.
“Tris.”
Tristan mengangkat kepala.
“Bukannya Alleta tadi bareng lo?” tanya Sagara.
“Enggak. Dia bilang dipanggil Bu Indi ke gudang,” jawab Tristan cepat.
Sagara langsung menegakkan badan.“Bu Indi gak ada hari ini.”
Kalimat itu seperti menghantam dada Tristan.
“Maksud lo…?”
“Gue liat dia pulang lebih dulu abis jam ketiga.”
Tristan langsung turun dari motornya. Wajahnya berubah tegang.
“Sa… ada yang gak beres.” Tristan tak membuang waktu. Ia langsung berjalan cepat menuju arah belakang sekolah, Sagara mengikutinya tanpa banyak kata.
Di dalam gudang.
Suara Alleta mulai serak. Telapak tangannya memerah karena terlalu sering memukul pintu. Dadanya terasa sesak, pandangannya sedikit berkunang-kunang.
“Gue harus gimana?…” gumamnya pada diri sendiri sambil menyeka air mata.
Ia duduk bersandar di dinding, memeluk lututnya. Tangannya menggenggam ponsel erat—layarnya menunjukkan logo baterai yang merah.
Gudang itu sunyi, terlalu sunyi.
Suara-suara dari balik matras terdengar grasak-grusuk, Alleta kembali berdiri, wajahnya terlihat panik.
Beberapa tikus keluar dari balik matras, membuat Alleta seketika berteriak kaget.Teriakannya menggema di dalam gudang sempit itu.
Beberapa tikus berlarian di lantai berdebu, membuat napas Alleta makin tersengal. Ia memunggungi dinding, tubuhnya gemetar, tangan menutup mulut menahan isak yang mulai pecah.
“Siapapun tolong gue…” bisiknya, lututnya terasa lemas.
Wajah gadis itu semakin pucat, aroma lembab dan karat besi semakin membuat sesak.
Sudah hampir tiga puluh menit tidak ada yang menolongnya, di luar suasana benar-benar sepi, hampir seluruh siswa sudah meninggalkan sekolah.
Beberapa tikus terus berlarian di sekitar Alleta, gadis itu menjerit lemas. Ia naik ke sebuah balok, menghindari tikus-tikus itu.
Beberapa menit kembali berlalu. Tubuh Alleta yang lelah perlahan semakin lemas, ketakutan yang menyelubungi dirinya semakin memperparah keadaan.
Detik-detik berikutnya, pandangan Alleta mulai buram. Dengan sekuat tenaga ia mempertahankan kesadarannya, namun tubuhnya tak lagi mampu menuruti keinginannya.
Tangannya yang mencengkeram ponsel perlahan melemah.
Napasnya terdengar berat, pendek-pendek, seolah udara di ruangan itu semakin menipis.
“All… jangan pingsan… jangan pingsan…” bisiknya berulang kali, memaksa matanya tetap terbuka.
Kepalanya terasa ringan, telinganya berdenging. Ia menekan punggungnya ke dinding dingin, berusaha menahan diri agar tidak terjatuh dari balok. Air matanya mengalir tanpa suara.
Sementara itu, di luar.
Langkah Tristan dan Sagara semakin cepat di lorong belakang sekolah. Suasana semakin sunyi, hanya suara sepatu mereka yang bergema.
Tristan melihat bangunan gudang tua di ujung halaman.
“Itu…” katanya tercekat.
Mereka berhenti di depan pintu gudang.Tristan langsung mencoba gagangnya.
“Terkunci.”
Ia menggedor keras.
“All! All! Denger suara gue?!”
Tak ada jawaban.
“Ehh..., kalian ngapain disini?” Suara seorang yang datang dengan langkah tergesa, membuat keduanya menoleh bersamaan.
Seorang satpam sekolah berdiri beberapa langkah dari mereka, napasnya sedikit terengah, dia tentu sedikit panik karena biasanya di tempat ini memang dijadikan tempat berkelahi karena sepi.
“Pak, temen kami kayaknya ada di dalam gudang ini,” kata Tristan cepat. “Tolong buka pintunya, Pak.”
Satpam itu mendekat, dia mengecek pintu yang berkarat. Detik berikutnya pak satpam menggeleng.
“Gudang ini?” gumamnya. “Gak mungkin ada orang di dalam, Nak.”
Tristan dan Sagara saling menatap.
“Maksudnya?” tanya Sagara.
Satpam menghela napas. “Kunci gudang ini hilang sejak kemarin. Sejak itu gak ada satu pun guru yang bisa buka. Saya juga sudah lapor ke TU. Jadi… gak mungkin ada orang di dalam.”
Tristan nampak ragu.
“Sudah sore. Sekolah juga hampir tutup. Kalian pulang aja. Jangan keluyuran di area belakang begini.” kata Satpam itu tegas.
“Tapi pak–"
“Udah.. Pulang sana.”Satpam itu memotong ucapan Sagara. “Temen kalian mungkin udah pulang, kalau ada masalah, kalian lapor ke guru BK atau wakasek aja.”
Satpam itu berdiri di antara mereka dan pintu gudang, jelas memberi isyarat agar mereka menjauh.
Sagara kembali menatap pintu gudang itu, hatinya terasa tidak tenang, tapi tidak punya bukti untuk membantah.
Tristan menoleh ke arah Sagara, mata mereka sama-sama dipenuhi kegelisahan. Dengan langkah berat, keduanya akhirnya berbalik meninggalkan gudang.
...Bersambung......
...–Dunia diciptakan bukan hanya untukmu. Maka terbiasalah, dengan hal-hal yang jarang berpihak kepadamu–...