Arshaka Beyazid Aksara, pemuda taat agama yang harus merelakan hatinya melepas Ning Nadheera Adzillatul Ilma, cinta pertamanya, calon istrinya, putri pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Mengikhlaskan hati untuk menerima takdir yang digariskan olehNya. Berkali-kali merestock kesabaran yang luar biasa untuk mendidik Sandra, istri nakalnya tersebut yang kerap kali meminta cerai.
Prinsipnya yang berdiri tegak bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, sekeras Sandra meminta cerai, sekeras dia mempertahankan pernikahannya.
Namun bagaimana jika Sandra sengaja menyeleweng dengan lelaki lain hanya untuk bercerai dengan Arshaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Flou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
“Bang! Kamu kenapa?!” Kenneth, berteriak panik dari sambungan telepon yang terhubung dengan Arshaka.
“Tolong cepat, Kenneth!”
Suara Arshaka terdengar semakin lemah bahkan nyaris hilang sepenuhnya. Akibat ia memaksa masuk ke bar untuk membawa Sandra pulang di tengah tubuhnya yang tidak fit, pernapasan Arshaka semakin terganggu.
Asmanya kambuh. Dadanya sesak payah, ia mencari inhaler asma yang baru pagi tadi, tetapi benda penolong itu tertinggal di kediaman kedua orang tuanya, ada inhaler flu di saku kemeja tetapi itu tidak membantu sama sekali. Sementara Arshaka belum membeli stock yang baru sehingga ia meminta bantuan Kenneth yang bisa dihubungi untuk tandang ke apartemen.
“I-iya, Bang. Iya sebentar. Jangan kamu matikan panggilannya biar kalau ada apa-apa kamu tinggal bilang!”
Arshaka tidak mampu lagi menimpali, ia duduk di lantai, bersandar pada meja makan dengan wajahnya yang semakin lama semakin pucat. Sembari itu Arshaka terus melakukan pernapasan diafragma berharap sesak dalam dadanya berkurang dengan tarikan napasnya terdengar berat pun mengerikan.
Minimnya oksigen yang masuk ke paru-paru membuat kinerja otak Arshaka melemah. Ia mulai blank, di beberapa titik tubuhnya mulai membiru, pandangannya semakin mengabur.
Tak ada seorang pun yang bisa menolongnya saat ini, Arshaka pun tidak mampu berdiri, apalagi melangkah untuk meminta bantuan kamar sebelah. Andaikata dia kembali pada Tuhan detik itu juga, takkan ada yang tahu.
Sandra pergi meninggalkan apartemen menggunakan mobil Arshaka dengan membawa beberapa barang miliknya. Tak mempedulikan suaminya sama sekali walau sebelum ia berlalu, Sandra sempat melihat Arshaka yang kian kesakitan dan cukup kesulitan bernapas.
Laksana air susu dibalas air tuba, kebaikan Arshaka sama sekali tidak ada artinya dalam pandangan Sandra.
Semakin lama kesadaran Arshaka semakin terenggut, ia tersenyum tipis, sangat tipis. Doa dipanjatkan dalam hati, memohon ampunan pada Tuhan sebab lagi dan lagi gagal mengingatkan sang istri. Berat beban di pundaknya ia pikul, tanggung jawab suami yang harus dijalankan untuk menjauhkan istrinya dari api neraka. Namun sang istri justru bermain api dengan sendirinya.
“Maha Suci Allah,” gumam Arshaka lalu terbatuk-batuk pelan dan menarik napas yang terdengar berat sampai dadanya terangkat tinggi.
“Bang! Kamu masih sadar?” tanya Kenneth dari telepon.
“Bang! Bang! Jawablah!”
Sudah panik bukan kepalang, Kenneth mengendarai ducati dengan kecepatan tinggi dari apotik. Waktu sepuluh menit Kenneth tempuh hanya dengan empat menit. Berlarian tergesa-gesa dari basement sampai nyaris menabrak petugas kebersihan. Cara cepat dia ambil. Didobrak kuat pintu apartemen Arshaka sampai tetangga kamar sepupunya itu mengumpati dirinya.
“Assalamualaikum ... setan anjir sialan!”
Bola mata Kenneth membulat terkejut seakan ingin terlepas dari tempatnya melihat kondisi ruang santai apartemen Arshaka yang sangat kacau hingga ia mengucapkan salam disusul umpatan. Ia bahkan sampai terlonjak.
“Bang! Kamu di mana?!”
“Kenneth.”
Kenneth menghentikan langkah saat dia akan naik ke lantai dua. Memutar tubuh, mencari-cari keberadaan Arshaka dan semakin melotot lagi matanya. Melihat kakak sepupunya seperti orang sedang sekarat, jantung Kenneth berdetak dengan sangat kencang.
“Yassalam, Bang! Jangan mati lebih dulu kamu sebelum tanda tangan warisan!”
Tatkala Kenneth sudah berada di samping Arshaka, ia memiringkan sedikit kepala pemuda itu ke belakang sembari menyuruh sepupunya mengatur napas lebih dulu, barulah ia membantu Arshaka menarik napas panjang menggunakan oxycan oksigen portabel.
“Kamu jangan seperti ini! Aku tidak punya Abang sebaik kamu. Kalau kamu mati siapa yang mengingatkan kami buat menjaga salat walau maksiat jalan, ha?!”
Lingkar mata Kenneth memerah. Gemetar bukan main tubuhnya saat ini karena ketakutan yang menyelimuti jiwanya, melihat Arshaka yang berada di ambang batas kesadarannya.
“Di mana mobilmu? Ke rumah sakit saja sekarang—Allahu Akbar, Bang Al!”
Kenneth berteriak semakin panik tatkala kelopak mata Arshaka terpejam. Jatuh pingsan di dadanya dengan oksigen portable yang masih menempel di sana.
Kenneth lemparkan benda itu ke samping, menepuk-nepuk pipi Arshaka dengan tangan gemetar payah. “Bang, bangun, Bang!” katanya nyaris menangis.
Arshaka semakin pucat dengan bibir membiru. Membuat tangan Kenneth bertambah gemetar, pikirannya kacau. Oksigen portable yang ia berikan hanya membantu sedikit, tetapi napas Arshaka tetap tersengal hingga jatuh pingsan.
Tanpa berpikir panjang, Kenneth melesat ke luar apartemen, mengetuk keras pintu kamar sebelah. “Permisi! Tolong! Ada yang bisa bantu?!” teriaknya.
Tak ada jawaban. Ia menekan bel berkali-kali, tetapi tetap sunyi. Kenneth mengumpat pelan. Dengan panik, ia meraih gagang pintu dan mencoba memutarnya. Terkunci!
“Berengsek! Tidak ada orang!” Ia menghantam pintu dengan kepalan tangan, frustasi. Matanya liar mencari siapa saja yang bisa membantu.
Pandangannya jatuh pada unit lain di seberang. Dengan napas memburu, Kenneth berlari ke sana, mengetuk dengan lebih keras.
“Siapa?!” Suara seorang pria terdengar dari dalam.
“Bang! Tolong bantu aku! Sepupu gue sekarat!” Kenneth hampir berteriak.
Pintu terbuka sedikit, seorang pria setengah baya muncul dengan alis mengernyit. “Apa?”
“Bang, bantu saya! Bang Aka, sepupu saya asma parah, dia sudah tidak sadarkan diri!”
Wajah pria itu berubah serius. “Tunggu, saya panggil satpam!”
Tanpa menunggu lebih lama, pria itu buru-buru mengambil ponsel, sementara Kenneth kembali ke apartemen, jantungnya berdetak liar. Di dalam, Arshaka masih tergeletak, nyaris tak bergerak.
“Bang! Tahan sebentar lagi! Tidak lucu banget kalau kamu mati muda, Bang! Matinya tidak estetik, kena asma, badan biru-biru. Minimal lagi murojaah, kek, biar husnul khatimah!” Kenneth menceracau tak jelas saking paniknya, menggertakkan gigi menahan kepanikan.
Beberapa detik kemudian, suara langkah tergesa mendekat. Pintu apartemen terbuka lebar, memperlihatkan Rahmat—satpam gedung, bersama seorang petugas kebersihan.
“Mana orangnya?” Rahmat bertanya cepat.
“Di sini! Cepat bantu saya angkat dia ke mobil!” Kenneth berseru.
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga segera mengangkat Arshaka yang semakin terkulai lemas. Berkali-kali Kenneth memastikan nadi sepupunya masih berdenyut dan helaan napasnya terdengar lega, Arshaka masih bersamanya meski tampak begitu lemah kini.
Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan tinggi, mobil yang dikemudikan Kenneth akhirnya berhenti di depan instalasi gawat darurat RS Wijaya. Tanpa menunggu, pintu belakang langsung dibuka oleh perawat yang sigap melihat kondisi pasien.
“Pasien tidak sadarkan diri, kemungkinan mengalami hipoksia!” seru salah satu perawat setelah melihat bibir Arshaka yang membiru.
Tim medis segera mengangkat tubuh Arshaka ke atas brankar dan membawanya masuk ke ruang resusitasi. Kenneth berusaha mengikuti, tetapi seorang perawat menahannya di depan pintu.
“Kami akan menanganinya dulu. Mohon tunggu di luar,” ujar perawat itu sebelum masuk dan menutup pintu.
Kenneth mengepalkan tangan, menahan rasa cemas yang semakin menyesakkan dada. Pikirannya kacau, jantungnya berdegup tak karuan. Namun, beberapa detik kemudian ia tersadar. Segera tangannya merogoh sak celana, mengambil ponsel dan menghubungi Narestha.
“Halo, Uncle!” sapanya cepat-cepat. “Uncle masih meeting sama Daddy?”
“Baru selesai, sedang makan sekarang. Ada apa?” balas Narestha.
“Tolong ke rumah sakit sekarang. Tadi Bang Aka menghubungi Uncle, tapi sepertinya Uncle masih sibuk. Asmanya kambuh, sepertinya makin parah, dia pingsan setelah sempat aku memberinya oksigen portable. Sekarang Bang Aka ada di rumah sakit kota.”
“Uncle ke sana sekarang!”
Kenneth terduduk lemas di atas kursi tunggu setelah panggilan terputus. Tak lama kemudian, Narestha tiba dengan langkah tergesa. “Di mana Aka?” tanyanya. “Bagaimana kondisinya?”
“Masih di dalam, Uncle. Asmanya kambuh, beberapa titik di badannya sampai biru.” Suara Kenneth bergetar.
Narestha tak berkata apa-apa, hanya menatap pintu ruang resusitasi dengan ekspresi sulit ditebak.
Sekitar tiga puluh menit berlalu sebelum akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan. “Keluarga pasien?”
Narestha dan Kenneth langsung menghampiri. “Saya ayahnya,” ujar paruh baya itu tenang.
Dokter menghela napas, lalu mulai menjelaskan. “Pasien mengalami serangan asma akut yang diperparah dengan hipoksia, kekurangan oksigen dalam darah. Saat tiba di rumah sakit, kondisinya sudah kritis. Saturasi oksigen hanya 78%, jauh di bawah normal yang seharusnya di atas 95%. Itu sebabnya dia tidak sadarkan diri.”
Kenneth menahan napas, sementara Narestha tetap tenang meski wajahnya sarat akan kecemasan.
“Kami segera memberinya oksigen dengan aliran tinggi dan menyuntikkan bronkodilator untuk membuka saluran pernapasannya,” lanjut dokter. “Kami juga memberikan kortikosteroid untuk mengurangi peradangan di paru-parunya. Perlahan, saturasi oksigen mulai meningkat, dan sekarang sudah mencapai 92%.”
“Puteraku masih belum sadar?” tanya Narestha.
“Ya, tapi kondisinya lebih stabil. Jika tidak ada komplikasi lain, pasien akan sadar dalam beberapa jam ke depan.”
Narestha dan Kenneth mengembuskan napas panjang. Setidaknya ada harapan. Setelah mendapatkan izin dari dokter, paruh baya itu melangkah masuk ke dalam.
Menemukan Arshaka yang terbaring di ranjang dengan selang oksigen menempel di hidungnya, membuat hati Narestha mencelos meski bukan pertama kalinya dia melihat Arshaka seperti ini. Ia membungkuk, melabuhkan kecupan dalam lagi hangat di kening puteranya.
“Lekas sadar, Boy,” bisiknya.
Ini novel pertama saya, semoga kalian suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, Sayangku🥰