NovelToon NovelToon
Maya Dan Cangkulnya

Maya Dan Cangkulnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romansa pedesaan
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: R.Fahlefi

Sebuah karya yang menceritakan perjuangan ibu muda.
Namanya Maya, istri cantik yang anti mainstream

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.Fahlefi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kok nggak ngomong?

Pagi hari, setelah membereskan pekerjaan rumah yang nggak ada habisnya, Maya ikut sarapan dengan Gilang.

"Bang, Sari dari semalam merajuk." Kata Maya sambil menyendok nasi gorang ke piring Gilang.

"Merajuk?"

"Iya bang, semalam dia kayak trenggiling, diemm, diemm, kalau ditanya jawabnya cuma satu, iya.. iya.. habis itu masuk kamar."

Gilang tersenyum tipis.

"Kok senyum kau bang? Aku lagi serius loh."

"Eh gak kok, abang cuma mikir, ternyata kau sama aja kayak Sari kalau merajuk."

Maya menautkan kedua alisnya, "Apaan sih bang, aku nggak kayak gitu."

Gilang tertawa kecil, "udah nggak usah dipikirin. Sari masih kecil, nanti juga dia lupa."

Maya mendesah, "Terus, soal kepala desa gimana?"

"Gimana apanya?"

Maya menghela nafas dalam, ternyata semalam Gilang tertidur dan nggak mendengarnya sama sekali. Laki-laki itu tak mendengar keluh-kesah sang istri.

Maya pun dengan semangat 45 menjelaskan semuanya dari awal lagi.

Gilang mendengar sambil makan nasi goreng.

"Jadi gimana bang?"

"Masalah seperti itu tidak usah terlalu dipikirin dek, pemilihan kepala desa masih 1 tahun lagi, tepat saat Asparagus panen pertama seperti prediksi. Masih banyak hal yang bisa terjadi. Percayalah, politik itu dinamis, kadang yang kita kira tidak mungkin bisa terjadi." Jawab Gilang.

Maya mengangguk, mungkin Gilang ada benarnya. Persoalan seperti ini Gilang memang lebih bijak. Ia punya wawasan yang cukup luas.

Maya sedikit lebih lega, dan seperti biasa saat sesisi rumah sudah rapi kembali ia pergi ke ladang, memeriksa tanaman dan berkeliling melihat tanaman para petani.

Tanaman Asparagus hijau memang harus dirawat betul di awal. Ia bisa dipanen pertama saat usianya 8 sampai 12 bulan. Setelah dua tahun, barulah Asparagus menghasilkan penen yang baik dan bisa menghasilkan hingga 15 tahun.

Ibaratnya, petani harus bersusah-susah di awal untuk mendapatkan hasil yang baik dikemudian hari.

Pulang dari ladang, Maya mendapati Sari yang duduk di sudut ruangan dengan mata sembab.

Maya yang baru masuk pun sampai merasa kasihan. Sari, anak itu bisa seperti ini kalau keinginannya tidak tercapai.

"Nak, kenapa?"

Dari diam, matanya merah dan berkaca-kaca.

"Sari masih ingin ke Jepang?"

Sari mengangguk pelan.

Maya menghela nafas, "Bapak dan Ibu nggak punya uang nak, Jepang itu jauh. Gimana kalau kita liburannya ke kolam renang saja? Atau kita pergi ke mall di kota?"

Sari menatap ibunya, "Aku pengennya ke Jepang, nggak perlu uang."

"Terus kalau nggak bawa uang bawa apa? Daun? Daun itu nggak bisa untuk beli tiket pesawat nak." Ucap Maya dengan sabar.

Sari menggeleng, ia pun menatap ibunya untuk memeriksa bahwa ibunya itu masih waras.

"Sari nggak bilang pake daun."

"Jadi pake apa nak? Pake batang? Ranting?"

Sari menggeleng lagi, "Bukan, bukan itu." Katanya kesal.

"Jadi pake apa? Masa ke Jepang nggak pake apa-apa?"

Sari berdiri dan berjalan ke dalam kamar, ia mengambil hp aipon ibunya.

"Coba ibu telpon om Reza. Kemarin, Sari yang angkat telponnya."

Alis Maya berkerut, "maksudnya?"

Sari nggak sabar, ia memencet tombol dan menelpon langsung Reza.

Tutt

Tutt

Tersambung.

"Halo?"

"Halo om, ini Sari. Mama nggak percaya kalau ke Jepang nggak perlu uang."

Terdiam beberapa saat, lalu suara Reza kembali terdengar.

"Coba kasih hp nya sama ibu."

Maya yang masih bingung menerima hp itu.

"Hallo bang? Ini aku Maya."

"May, Sari benar May, nggak perlu uang. Tiket sudah kami beli untuk 5 orang. Kamu, Sari, Gilang, juga aku dan Delia. Kalian nggak usah khawatir, anggap aja ini liburan karena Sari dapat juara."

Maya terdiam beberapa saat, jantungnya hampir lompat ke ladang.

"Tapi bang..."

"Kita berangkat sabtu, dua hari lagi. Lagian aku juga udah ngomong sama Gilang. Dia bilang beres, dia juga udah ambil cuti."

Jantung Maya bukan cuma hampir lompat, tapi hampir melayang.

Kapan Gilang ambil cuti? Kok nggak ngomong? Benak Maya. Berarti selama ini Gilang udah tahu semuanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!