NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Mobil yang ditumpangi Freya, Nova, dan Gopal berhenti di depan rumah Zainal Buana yang berdiri megah di tengah hamparan kebun teh Cisaat.

Kabut tipis menggantung rendah, membuat suasana terasa dingin dan sunyi meski hari belum benar-benar gelap.

Lastri, sang nyonya rumah menyambut dari ambang pintu. Melempar senyum manis pada ketiga tamunya itu.

"Freya, Nova, Mas Gopal ... mari silakan masuk. Sepertinya hujan akan segera turun."

Setelah menyalami Lastri, ketiga orang itu pun masuk ke dalam rumah.

"Sepi sekali, Bu? Mas Lingga dan Pita ke mana?" tanya Freya berbasa-basi sambil duduk di sofa ruang tamu.

"Lingga belum pulang dari Jakarta, dia sedang menangani kasus. Pita kuliah. Dia tinggal di apartemen di dekat kampusnya, dan pulangnya cuma seminggu sekali," jelas Lastri sambil menuangkan teh panas. "Ayo, silakan diminum teh-nya."

Ketiga orang itu mengangguk kompak.

"Oh ya, Freya ... tadi Bapak nelepon, katanya untuk malam ini ... kalian bertiga menginap dulu di sini. Besok pagi, barulah saya akan mengantar kalian ke rumah sunyi."

Freya merasakan udara di sekitarnya tiba-tiba menyempit. Suara-suara bising di sekitarnya tiba-tiba terhenti. Dunia seolah berhenti bernapas, hanya untuk mengulang perkataan yang baru saja diucapkan Lastri ... 'rumah sunyi'. Dua kata itu berhasil membawa Freya kembali ke masa lalu kelamnya. Namun dengan sigap, Freya segera mengenyahkan ingatan masa lalu itu.

"Baik, Bu. Kami setuju."

Lastri tersenyum senang. "Kalau begitu ... mari saya antar kalian bertiga ke kamar tamu," katanya sambil bangkit.

Freya, Nova, serta Gopal mengikuti langkah si pemilik rumah.

"Ini kamar Freya dan Nova dan yang di sebelah sana kamar Mas Gopal," kata Lastri.

"Iya, Bu. Terima kasih," balas ketiganya serentak.

"Sama-sama. Semoga nyaman ya dan silakan beristirahat. Kalau kalian butuh sesuatu ... panggil saja pembantu," pesan Lastri sebelum berlalu.

"Iya, Bu."

Nova dan Freya masuk ke dalam kamar. Begitu pun Gopal.

______

Lampu apartemen itu menyala redup, hanya satu lampu meja di sudut ruang tamu yang dibiarkan hidup. Tirainya setengah tertutup, membiarkan cahaya senja terakhir menyelinap masuk seperti garis tipis yang ragu-ragu.

Pitaloka berdiri di tengah ruangan, sepatu masih melekat di kakinya, dia baru saja kembali dari membeli makanan.

Ia tak langsung melangkah masuk ke kamar. Tubuhnya terasa berat, padahal baru saja beberapa jam yang lalu, tubuhnya terasa ringan dan ia lupa kejadian malang tadi malam. Tapi kini, bayangan itu muncul lagi menghantam ingatannya.

Berat.

Pengap.

Sunyi yang tidak menenangkan. Sunyi yang menekan.

Ia menaruh wadah makanan di meja, lalu duduk perlahan. Tangannya gemetar ketika ia mengusap wajahnya. Matanya panas, tapi air mata tak jatuh. "Oh Tuhan ... kenapa dadaku sesak lagi?" Bayangan-bayangan malam tadi terus berdatangan, meski tidak utuh, tapi itu sangat menyakitkan. "Aku harus meminum obat itu lagi," desisnya bangkit dan berlari ke kamar.

Ia mengambil plastik klip tadi, buru-buru mengeluarkan dua obat tadi sekaligus. "Kalau aku minum dua sekaligus, pasti ketenangannya akan semakin lama," katanya sambil memasukkan dua pil itu ke dalam mulutnya, disusul segelas air minum.

Ia memejamkan mata sejenak, bersandar ke sandaran ranjang. Napasnya berat, bahunya naik turun.

Detik demi detik berlalu.

Lalu perlahan, ketegangan di tengkuknya mulai mengendur. Kepalanya terasa ringan, seolah kabut tipis menyelimuti pikirannya. Ingatan menyakitkan itu perlahan meredup, menghilang seolah terbawa angin.

Pitaloka menghela napas panjang. "Akhirnya ..." bisiknya. Namun ketenangan itu datang bersama sesuatu yang lain.

Matanya kembali terasa berat seperti tadi pagi, saat ia meminum pil itu untuk pertama kali, tapi kali ini efeknya agak sedikit lebih berat.

Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Ada sensasi hangat menjalar, tapi juga rasa asing ... seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Ia menoleh ke arah jendela, ke langit yang kini mulai gelap. "Ini yang aku inginkan. Aku mau tidur tenang, sebentar saja." Napasnya melambat, tapi pikirannya justru mulai melayang tak beraturan.

Potongan ingatan muncul bergantian ... wajah orang tuanya, kekasih hatinya, kakaknya dan juga Galuh.

Kepalanya miring ke samping. Matanya terpejam, namun bukan tidur yang damai. Lebih seperti tenggelam ... perlahan, tanpa perlawanan.

Di apartemen yang sunyi itu, Pitaloka terlelap dalam ketenangan semu, tak tahu bahwa ketergantungan sering kali datang bukan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan lembut yang menipu.

______

Langit mulai menggelap di atas rumah Zainal Buana. Di dapur, Lastri baru saja selesai menyiapkan teh hangat. Ia melirik ke arah kamar tamu ... tempat Freya kini beristirahat setelah perjalanan panjang.

Wajah gadis itu tampak lelah, tapi tenang. Ada sesuatu dalam diri Freya yang membuat Lastri merasa tertarik dan ingin dekat dengan gadis itu. Dekat dalam artian ingin menjadikan Freya sebagai menantunya. Bukan hanya karena Freya kaya raya, pintar dan cantik ... ada hal lain yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Lastri mengambil ponselnya. Ia menimbang sebentar, lalu menekan nama Lingga. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya dijawab.

"Halo, Bun," suara Lingga terdengar cerah dari seberang sana.

"Lingga, kamu sudah pulang ke apartemen belum? Bagaimana sidangnya, lancar?" ucap Lastri lembut.

"Udah, Bun. Aku baru selesai mandi. Lancar dong, Lingga gitu loh. Tumben Bunda nelepon jam segini, ada apa?"

Lastri tersenyum kecil. "Freya sudah sampai. Sekarang dia nginep di sini."

Di seberang sana, Lingga terdiam sepersekian detik. "Serius, Bun. Dia menerima tawaran Ayah buat tinggal di rumah sunyi, ya?" tanyanya antusias.

"Iya. Tadinya dia dan dua asistennya mau langsung ke rumah sunyi, tapi Ayahmu menyuruh Bunda melarang mereka. Jadi ke sananya besok pagi saja." Nada suara Lastri terdengar biasa saja, tapi bagi Lingga, kalimat itu seperti percikan api yang menyulut semangatnya.

"Yess! Akhirnya aku bisa dekat dengan dia." suara Lingga terdengar lebih hidup. "Sekarang dia lagi ngapain, Bun?"

Lastri terkekeh. "Dia lagi di kamar tamu. Kayaknya sih lagi istirahat."

Lingga menahan senyum lebarnya. Dadanya terasa menghangat. "Aku mau pulang sekarang, Bun. Aku ingin bertemu dengan Freya," gumamnya penuh semangat.

"Eh ... beneran?" Lastri memekik tak percaya. "Memangnya besok kamu nggak ada kerjaan?" lanjutnya bertanya.

"Beneran. Nggak ada, Bun. Besok aku free."

"Ya sudah atuh. Kamu mau bawa mobil atau naik kereta cepat?"

"Kereta aja deh. Lagi males nyetir. Tapi nanti suruh Mang Ading jemput di stasiun ya, Bun?"

"Iya. Hati-hati ya, Nak."

"Oke Bunda."

Setelah panggilan itu berakhir, Lingga menatap jendela apartemennya. Lampu kota terlihat gemerlap, hatinya berbunga-bunga. "Ini adalah kesempatan emas untukku. Aku bisa mulai mendekati Freya. Aku sudah tidak sabar ingin segera menghabiskan malam panas bersamanya." Lingga menyeringai. "Freya ... tunggu aku, cantik."

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!