Rasanya sangat menyakitkan, menjadi saksi dari insiden tragis yang mencabut nyawa dari orang terkasih.
Menyaksikan dengan mata sendiri, bagaimana api itu melahap sosok yang begitu ia cintai. Hingga membuatnya terjebak dalam trauma selama bertahun-tahun.
Trauma itu kemudian memunculkan alter ego yang memiliki sifat berkebalikan. Kirana, gadis yang mencoba melawan traumanya, dan Chandra—bukan hanya alter ego biasa—dia adalah jiwa dari dimensi lain yang terjebak di tubuh Kirana karena insiden berdarah yang terjadi di dunia aslinya. Mereka saling berbagi raga yang sama dan saling menguatkan.
Hingga takdir membawa mereka pada kebenaran sejati—alasan di balik kondisi mereka saat ini.
Belenggu takdir itu memang telah lama mengincar keduanya. Menjadikan mereka harus menyelesaikan menghadapi takdir itu bersama untuk bisa kembali ke tempat mereka berasal. Kirana dengan dunianya, dan Chandra kembali ke dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inagrafis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wira Rakabuming
Istana Kerajaan Aetherial memancarkan aura megah dengan kekuasaan yang tak terbantahkan. Dinding-dindingnya yang menjulang tinggi dihiasi dengan permadani emas dan merah yang menggambarkan kisah-kisah kejayaan masa lalu. Di ruang pertemuan, patung-patung pahlawan berjajar, berdiri tegap sebagai saksi bisu dari setiap perundingan yang pernah terjadi di sana. Lampu kristal yang menggantung dari langit-langit tinggi memancarkan cahaya lembut, menciptakan kemegahan di setiap sudut ruangan.
Saat Arka memasuki ruang pertemuan, suasana yang sebelumnya tenang seketika berubah menjadi tegang. Udara mendadak terasa lebih berat, seolah-olah dipenuhi oleh rasa waspada yang tidak kasat mata. Setiap mata di ruangan itu tertuju pada sang pangeran negeri Aethrial, salah satunya adalah seorang lelaki yang datang dari negeri seberang untuk melakukan negosiasi.
Raja Arutala yang baru adalah sosok yang sulit diabaikan. Meskipun kekuasaan yang dia dapatkan berasal dari kudeta dan pemberontakan terhadap raja sebelumnya, namun kekuatan dan pengaruhnya tidak bisa diremehkan. Ia memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap para bangsawan.
Dengan rambut hitam legam yang menjuntai hingga bahunya dan mata ungu yang tajam, dia tampak seperti bayangan malam yang membawa ancaman terselubung. Posturnya tinggi dan kokoh, memperlihatkan kekuatan dan dominasi yang tidak bisa disembunyikan. Wajahnya yang keras dan dingin, mencerminkan watak seorang tiran yang telah melewati banyak medan pertempuran dan intrik politik. Keberadaannya menambah aura mencekam yang menyelimuti ruangan kala itu.
Wira Rakabuming, namanya. Dialah sosok di balik kehancuran dari pemerintahan raja Arutala yang sebelumnya. Dia duduk dengan tenang di seberang meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni berukir rumit. Meja pertemuan yang menjadi simbol kekuasaan dan negosiasi, kini menjadi medan pertempuran diplomatik antara dua pemimpin besar.
Ketika tatapan Arka dan Wira saling bertabrakan, suasana konflik yang tak terucap langsung menguar di udara. Mata hazel milik Arka menatap Wira dengan penuh perhitungan. Di sisi lain, Wira hanya menunjukkan ketenangan yang mematikan. Meskipun tidak diungkapkan dengan kata-kata, ketegangan antara mereka berdua begitu kuat, bagai dua singa jantan yang siap bertarung di dalam arena.
Sejak dulu, Kerajaan Arutala dan Kerajaan Aetherial membangun hubungan persahabatan yang cukup baik. Namun, dengan perubahan kepemimpinan dan dinamika politik yang terjadi, Wira sedang berusaha untuk memperbarui kerjasama di antara mereka untuk menghindari gejolak yang tidak diinginkan di masa depan. Dia tahu bahwa kerjasama ini penting untuk menjaga stabilitas dan kesejahteraan kedua kerajaan. Selain itu, sebagai seorang pemimpin yang baru saja dinobatkan, dia harus mengamankan posisinya terlebih dahulu dengan menjalin kerjasama yang baik dengan kerajaan sekitar.
"Jadi, apa yang membuatmu yakin bahwa kerjasama ini akan menguntungkan bagi Kerajaan Arutala dan Kerajaan Aetherial?" tanya Arka dengan dingin, nada suaranya terdengar tajam, tidak menunjukkan sikap persahabatan setitik pun.
"Kerajaan Arutala tidak akan mengusik Kerajaan Aetherial. Saling menghormati adalah kunci dari kerjasama ini. Jika ada masalah yang muncul, kita akan menyelesaikannya dengan cara damai. Aku yakin bahwa dua kerajaan yang bersatu bisa mencapai keseimbangan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak," kata Wira masih mempertahankan ketenangannya. Sambil berbicara, Wira mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menunjukkan keseriusannya dari setiap perkataan yang dia lontarkan.
"Kau bicara dengan percaya diri, Yang Mulia. Apakah kau tahu bahwa jika Kerajaan Arutala mengganggu ketertiban di Kerajaan Aetherial, itu akan berakibat pada perang? Namun, perang bukanlah pilihan yang bijak bagi seorang negarawan sejati. Saya tidak ingin menyengsarakan rakyat Aetherial dengan konflik bersenjata. Kita bisa mencapai tujuan tanpa perlu melibatkan peperangan." Nada suaranya tetap tegas, namun ada sedikit kelonggaran, seolah-olah dia mengakui logika di balik argumen Wira.
Selama negosiasi berlangsung, para penasihat dan pejabat tinggi yang hadir tampak ketar-ketir. Mereka mencatat setiap keputusan penting yang dibuat dengan cermat, jari-jari mereka gemetar saat pena menyentuh kertas. Setiap gumaman dan gerakan kecil dari kedua pemimpin tersebut diamati dengan hati-hati, karena mereka tahu betapa berbahayanya situasi ini, seakan mereka sedang berada dalam medan peperangan, yang mana keduanya bisa saling membunuh satu sama lain.
Bisa dibayangkan betapa menyeramkannya suasana di dalam ruangan itu. Mata-mata penasihat yang gelisah terus bergerak antara Arka dan Wira secara bergantian, menilai setiap perubahan ekspresi dan nada suara dari kedua pemimpin itu. Meskipun keduanya berbicara dengan tenang dan terkesan penuh tata krama, namun fakta bahwa keduanya bisa menjadi musuh tak bisa terelekan. Bagaimana tidak, yang satu adalah kekasih dari Chandra—Putri Kerajaan Arutala—dan satunya lagi adalah seseorang yang menyebabkan keruntuhan dari kekuasaan raja Arutala terdahulu. Terlebih ada kabar yang beredar, bahwa Putri Chandra menghilang, dan jejaknya tidak diketahui sampai sekarang.
Mereka bisa bernapas dengan lega setelah negosiasi berhasil mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan dan diakhiri dengan saling berjabat tangan antara kedua pihak kerajaan. Adapun perjanjian yang diperbarui meliputi perdagangan, aliansi militer, dan lain sebagainya.
***
Chandra menggenggam tangan Arka yang gemetar oleh amarah. Wajah pria itu memancarkan emosi yang campur aduk, sebuah pergulatan antara kemarahan yang menyala-nyala dan penyesalan yang mendalam. Di balik tatapan tajamnya, tersirat kesedihan yang tak terucapkan, mengisyaratkan betapa berat beban yang harus dipikulnya demi kepentingan negara. Karena negara dan rakyat yang berada di dalam naungannya, dia harus menahan diri untuk tidak menghabisi Wira. Situasi ini begitu menyesakkan, Arka merasa telah gagal melindungi orang yang dia cintai.
Chandra berusaha meredakan kemarahan Arka. Dia menyentuh lengan kekasihnya itu dan berkata, "Arka, aku tahu kau hanya melakukan yang terbaik meski kau tak ingin melakukannya. Takdir memang tidak selalu berpihak pada kita, dan kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri. Aku pun tak ingin melihatmu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini."
Arka menatap Chandra dengan ekspresi tak berdaya. "Aku merasa gagal, Chandra. Aku berjanji untuk melindungimu, tapi aku tidak bisa mencegah hal ini terjadi."
Chandra tersenyum lembut, mencoba memberikan kekuatan pada Arka. "Kita tidak selalu bisa mengendalikan takdir. Yang penting, kita berdua sudah kembali bersama."
Arka mengangguk, mencoba menerima kata-kata Chandra. "Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi, Chandra. Kau begitu berarti bagiku."
Chandra semakin mempererat genggaman tangannya. Dia ingin menunjukkan pada pria yang sedang khawatir itu, bahwa meski takdir mungkin telah membawa cobaan, kekuatan cinta mereka tetap kokoh. Chandra berjanji untuk tetap bersama Arka, membantu satu sama lain melewati masa-masa sulit.
Tiba-tiba, Chandra tersentak saat merasakan sesuatu menusuk hatinya. Rasa nyeri akibat kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kirana di Nikala Jiwaraga saat ini?
"Chandra, apa yang terjadi?" tanya Arka, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Chandra mencoba bernapas dengan perlahan untuk mengembalikan denyut jantung dan deru napasnya supaya Kembali normal. "Aku baik-baik saja. Aku ...." Suara Chandra tiba-tiba terpotong saat menyadari wajah Arka yang begitu mengkhawatirkannya terlihat begitu dekat. Wajah Arka mengingatkannya pada sosok Bagas. Chandra menyadari satu hal. Baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang lain, takdirnya tidak dapat terpisah dengan pria di hadapannya ini, entah sebagai Arka maupun Bagas.
Setelah perasaannya menjadi lebih tenang dan bisa menghirup udara dengan normal kembali, Chandra Kembali menggenggam tangan Arka. Dia tersenyum sambil berkata, "Terima kasih, Arka. Kamu telah banyak membantuku. Bahkan di kehidupanku yang lain.”
"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku akan selalu membantumu. Aku sudah berjanji akan melindungimu, tetapi aku justru gagal melakukannya." Wajah Arka tiba-tiba berubah muram.
"Sudah. Tak perlu diingat lagi. Saat ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu yang berharga denganmu," ujar Chandra disambut dengan senyuman yang terbit di wajah Arka.
Keduanya saling menatap dengan penuh cinta dan pengertian. Di tengah segala kerumitan dan ujian yang datang silih berganti, mereka menemukan kekuatan untuk satu sama lain. Chandra menyadari bahwa meski masa lalu penuh dengan luka dan kesalahan, masa depan masih bisa dibangun dengan cinta dan kepercayaan. Dan di momen itu, mereka berdua tahu bahwa apapun yang terjadi, mereka akan selalu ada satu sama lain, menghadapi takdir bersama-sama.
***
"Dalam tidurmu yang damai ini, aku merenung tentang segala kesalahan yang telah kulakukan," ucap seorang pria di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh beberapa lentera. Suaranya terdengar begitu lembut dan lirih, seolah sedang berbicara pada kaca yang bisa retak kapan saja. "Aku menyadari bahwa keputusanku telah membawamu ke dalam neraka yang sangat menakutkan, dan aku sudah merenggut kebahagiaanmu. Tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus melindungimu, Chandra."
Keheningan ruangan diisi hanya oleh suara napas tenang Chandra dan desiran angin luar yang menembus jendela yang terbuka. Lelaki itu menurunkan tudung yang menutupi wajahnya, menunjukkan sosok pria bermata sendu yang menatap penuh penyesalan. Lelaki itu adalah Wira, Raja Arutala yang baru saja naik tahta setelah melakukan kudeta.
"Aku tahu kau akan membenciku, dan kau punya segala alasan untuk melakukannya. Aku tidak bisa membela diri."
Wira duduk di tepi kasur, matanya tak lepas dari wajah Chandra yang damai dalam tidurnya. Dengan hati-hati, dia menyentuh rambut gadis yang ia cintai itu, tidak ingin melakukan lebih dari ini karena takut hanya akan menyakitinya lebih jauh. Bahkan, hanya dengan menyentuh rambut saja, dia merasakan sakit yang teramat dalam. Mengingatkan pada betapa berbedanya dunia yang mereka jalani selama ini. Bahkan setelah dia berhasil mendapatkan tahta dan kekuasaan, Chandra hanya akan mencap dan memandangnya sebagai seorang penghianat yang telah menghabisi keluarganya.
Sorot matanya menggambarkan kekosongan yang dipenuhi dengan kerinduan pada tawa dan senyum dari gadis yang begitu membuatnya hampir kehilangan akal. Gadis itu begitu sempurna dalam segala hal, mampu membangkitkan gelora cinta yang membara di dalam hati Wira yang sebelumnya begitu gelap dan gersang.
Wira menghela napas dalam, karena sesak yang menghujam dadanya. "Aku berjanji, Chandra, suatu hari nanti, setelah aku berhasil mencapai tujuanku, aku akan membebaskanmu. Dan, jika kau masih membenci dan takut padaku, aku akan menerima segala hukuman yang kau tentukan. Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku."
Wira menunduk, lalu menempelkan keningnya di atas tangan Chandra yang tergeletak lemah di kasur. Hangatnya masih terasa, seakan-akan Chandra hanya sedang tertidur biasa. Namun air mata Wira jatuh tanpa bisa ia bendung, mengalir tanpa suara. Ia tidak ingin tangisnya membangunkan Chandra—meski ia tahu, itu mustahil.
Chandra saat ini terikat dalam sihir tidur yang begitu dalam. Segel kuno yang mengurungnya membuat kesadarannya tidak pernah benar-benar menetap di tubuh. Ia terus terombang-ambing, melayang dari satu dunia ke dunia lain, seperti jiwa yang tersesat tanpa rumah. Setiap kali ia hampir menemukan jalan pulang, segel itu kembali menyeretnya menjauh.
Bahkan ketika Chandra berhasil menjejakkan diri di dunia asalnya—tempat ia lahir dan dibesarkan—dimensi gelap dari segel itu kembali merenggutnya dengan kejam. Dalam dimensi itu, kaki dan tangannya dibelenggu rantai tak kasatmata, memaksa kesadaran itu untuk tidak menyentuh raganya.
Beruntung, Kirana datang bagai cahaya di tengah kegelapan yang begitu pekay. Dengan kekuatan suci miliknya, ia berhasil menembus dimensi tersebut, memutus rantai yang melilit Chandra, dan membebaskannya dari cengkeraman yang membelenggunya. Namun segel utama masih melekat.
Satu hal terakhir yang perlu mereka lakukan, yaitu menemukan raga Chandra yang sejari. Kemudian melakukan ritual suci untik mentransfer kesadaran Chandra yang ada di dalam tubuh Kirana saat ini ke tubuhnya yang asli.
Namun, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda di mana keberadaan tubuh asli Sandra disembunyikan.
Bersambung
Rabu, 15 Oktober 2025