Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Sah!
"Sah!"
Suara lantang penghulu menggema di dalam ruangan sederhana itu, disusul ucapan hamdalah dari para tamu yang hadir.
"Alhamdulillah!"
Kania yang sejak tadi menundukkan kepala tak lagi mampu membendung air matanya. Bulir-bulir bening itu jatuh membasahi pipi, sementara kedua tangannya gemetar di atas pangkuan.
Ia kini resmi menjadi istri Firman.
Sah di mata agama.
Sah di mata hukum.
Dan, menurutnya, sah pula sebagai awal kehidupan baru yang selama ini hanya berani ia impikan.
Firman menoleh ke arahnya. Senyum pria itu begitu hangat hingga membuat dada Kania menghangat.
"Kamu nangis?" bisik Firman pelan.
Kania terkekeh di sela isaknya.
"Aku menangis karena bahagia, Mas."
Firman menggenggam tangan wanita itu tanpa peduli puluhan pasang mata sedang memperhatikan.
"Aku janji, mulai hari ini dan seterusnya aku akan selalu menjagamu."
Kalimat sederhana itu membuat tangis Kania pecah.
Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan rasa minder karena disabilitas pada kaki kirinya akibat kecelakaan yang dialaminya saat masih kuliah. Sejak saat itu langkahnya tak pernah lagi sempurna. Ia selalu berjalan sedikit pincang.
Tak sedikit orang yang memandangnya dengan iba. Bahkan lebih banyak lagi yang mencibir.
Karena itu, ketika Firman datang melamarnya tanpa pernah mempermasalahkan kondisi fisiknya, Kania merasa Allah benar-benar menghadiahkan seorang malaikat dalam hidupnya.
Usai prosesi akad, Firman menyematkan cincin ke jari manis Kania.
"Bismillah. Semoga ini menjadi awal ibadah kita."
"Aamiin," jawab Kania lirih.
Mereka saling menatap beberapa detik. Tatapan yang dipenuhi harapan dan tatapan dua orang yang percaya cinta mampu mengalahkan segalanya.
"Selamat ya, Kak!"
Seorang gadis berusia delapan belas tahun langsung memeluk Kania begitu acara selesai.
Nisa, adik semata wayangnya, menangis sesenggukan.
"Akhirnya Kakak nikah juga."
Kania tertawa kecil sambil mengusap kepala adiknya.
"Kok malah nangis?"
"Soalnya aku senang." Nisa beralih menatap Firman. "Kak Firman, jangan pernah bikin kak Kania sedih ya."
Firman mengangguk mantap. "Kakak janji."
Ucapan itu membuat Nisa tersenyum lega. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya ikut memeluk Kania.
Ibunya.
Perempuan yang selama ini berjuang seorang diri membesarkan dua anaknya sejak sang suami meninggal.
"Kamu cantik sekali hari ini, Nak."
Kania kembali menangis. "Terima kasih, Bu."
Sang ibu mengusap air mata putrinya.
"Ibu selalu khawatir. Takut tidak ada laki-laki yang mau menerima kamu dengan segala keadaanmu."
Kania menggigit bibir. "Bu...."
"Tapi Allah itu maha baik. Allah kirim Firman."
Firman langsung menyalami ibu mertuanya. "Ibu tenang saja. Aku akan menjaga Kania seumur hidup."
Perempuan itu menepuk tangan menantunya penuh haru.
"Ibu titip anak ibu."
"Insyaallah."
Suasana kembali dipenuhi haru. Beberapa tamu ikut menyeka mata. Namun kebahagiaan itu ternyata tak dirasakan semua orang.
Di sudut ruangan, dua orang tetangga tengah berbisik pelan.
"Coba lihat."
"Yang mana?"
"Itu, pengantinnya."
"Oh...."
Wanita berbaju ungu itu menyipitkan mata.
"Kasihan juga ya."
"Kasihan apanya?"
"Laki-lakinya tampan begitu. Kok mau nikah sama perempuan pincang."
"Heh, jangan keras-keras."
"Aku cuma heran saja. Apa nggak ada perempuan normal?"
"Tapi katanya Firman pengusaha sukses."
"Itu dia. Makanya aneh. Si cacat malah dapat suami mapan."
"Kania pasti beruntung banget."
"Atau jangan-jangan ada maunya."
Mereka tertawa kecil. Walau berusaha lirih, beberapa kalimat itu tetap sampai ke telinga Kania.
Senyum Kania perlahan memudar. Ia menunduk. Jemarinya mencengkeram ujung kebaya hingga memutih.
Firman yang menyadari perubahan ekspresi istrinya langsung mendekat.
"Ada apa?"
"Nggak apa-apa, Mas."
"Kamu bohong."
Kania memaksa tersenyum. "Bener."
Firman mengikuti arah pandangan istrinya. Ia melihat dua wanita itu masih berbisik sambil sesekali melirik Kania.
Rahang Firman mengeras. Tanpa banyak bicara ia menggenggam tangan istrinya.
"Lihat aku."
Kania mengangkat wajah.
"Kamu dengar mereka?"
Kania mengangguk pelan.
Firman pun tersenyum lembut.
"Biarkan orang bicara."
"Tapi, Mas..."
"Aku menikahi kamu karena aku mencintaimu. Bukan karena kekuranganmu, Kania. Mulai hari ini, kamu nggak perlu mendengarkan omongan siapa pun."
Firman mengusap pipinya.
"Selama aku hidup, nggak akan kubiarkan siapa pun merendahkan istriku."
Kalimat itu membuat hati Kania menghangat. Ia mengangguk perlahan.
"Iya, Mas."
Di sisi lain ruangan, seorang wanita berusia sekitar lima puluh lima tahun memperhatikan keduanya dengan wajah sulit diartikan.
Dialah Tuti, ibu Firman.
Ia memang tersenyum ketika para tamu mengucapkan selamat.
Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal.
Andai saja kaki Rania itu normal?
Tuti mengembuskan napas pelan.
Firman itu tampan, sukses, mapan. Banyak gadis cantik yang mengejarnya. Kenapa justru memilih perempuan yang memiliki keterbatasan?
Tuti buru-buru menggeleng. Ia tidak boleh berpikiran buruk. Bagaimanapun, akad sudah terlaksana dan Kania kini resmi menjadi menantunya. Semoga Firman memang tidak salah memilih.
Tuti memaksakan senyum ketika pasangan pengantin menghampirinya.
"Mama." Firman mencium tangan ibunya.
Tuti mengusap bahu putranya. "Selamat ya."
"Terima kasih, Ma."
Kania ikut menyalami mertuanya dengan penuh hormat. "Mohon doa restunya, Ma."
Tuti mengangguk. Meski bibirnya tersenyum, mata Tuti masih menyimpan keraguan yang tak seorang pun tahu.
"Selamat ya, Jeng Tuti. Akhirnya punya menantu juga."
Beberapa tamu berkebaya merah muda menghampiri Tuti sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih," jawab Tuti ramah.
Wanita itu menoleh ke arah Kania yang sedang berbincang dengan ibunya. Senyumnya masih terpasang, tetapi nada suaranya berubah menjadi berbisik.
"Tapi sayang, menantunya cacat."
Tuti seketika terdiam. Belum sempat ia menanggapi, dua teman arisan lainnya ikut mendekat.
"Iya ya. Padahal Firman itu ganteng, banyak yang antre mau jadi istrinya."
"Eh, mungkin Firman kasihan sama dia."
Mereka terkekeh pelan.
Tuti hanya memaksakan senyum, meski dadanya mulai terasa sesak.
"Sudahlah," katanya singkat.
Namun, para wanita itu seolah belum puas.
"Ya semoga saja cepat hamil."
"Aamiin."
"Soalnya kalau sampai belum juga punya anak..." wanita itu menggantung kalimatnya.
Tuti menoleh.
"Maksudnya?"
"Ya, maaf saja ya, Jeng. Orang dengan kondisi seperti itu biasanya kan kesehatannya dipertanyakan. Jangan-jangan nanti susah punya keturunan."
"Iya. Kalau sudah kakinya cacat, terus tidak bisa memberi cucu pula, kasihan Firman."
Ucapan itu bagai duri yang menusuk hati Tuti. Ia mengepalkan tangan di balik tas yang digenggamnya.
"Jangan bicara sembarangan," ucapnya, berusaha terdengar tenang.
"Eh, kami cuma mendoakan yang baik kok."
"Iya, semoga tahun depan Jeng Tuti sudah momong cucu."
Ketiga wanita itu kemudian berlalu sambil tertawa kecil.
Tuti tetap berdiri mematung. Pandangannya perlahan beralih kepada Kania yang sedang tersenyum bahagia di samping Firman. Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang seharusnya tak pernah muncul mulai mengusik benaknya.
Bagaimana kalau omongan mereka benar? Bagaimana kalau Kania memang tidak bisa memberikan keturunan?
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor