Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sehari Bersama Felix
Aku bangun pagi penuh semangat menyambut akhir pekan. Setelah kejadian antara aku dan Felix semalam kami belum mengobrol apapun. Auris hari ini pergi bersama Ray dan aku ditinggal sendirian di rumah. Sebenarnya masih ada Felix.
Aku membuka pintu dan keluar dari kamar. Ku lihat Felix sedang berdiri menghadap jendela. Baru keluar dari goa saja langsung mendapat yang segar-segar. Hihihi
Felix memakai kaos hitam berlengan pendek. Dia terlihat sangat tampan dan gagah. Sekali lagi, aku teringat kejadian semalam dan membuat wajahku memerah. Lebih baik aku pergi keluar. Berada di dalam rumah sekitar 2 minggu membuatku sangat jenuh.
"Felix," ku beranikan diri memanggil Felix. Aku tidak boleh canggung.
Felix menoleh seketika dan tersenyum.
"Hm?"
"Keluar yuk. Aku bosan di rumah terus," ajakku.
"Kemana?"
"Emmm.... Kemana aja. Oh iya, beli ponsel. Aku kan tidak punya ponsel."
"Hmm.. Ayo."
"Aku berdandan dulu, sebentar."
"Iya."
Aku masuk kembali ke dalam kamar, mengganti baju dan merias wajah. Aku senang karena obrolan di antara kami serasa tidak canggung. Aku akan menikmati satu hari ini bersama Felix. 😁
***
Kami memutuskan pergi ke salah satu mall yang terkenal. Jalanan sangat ramai, banyak sekali mobil yang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing. Sepanjang perjalanan ku lihat taman penuh dengan orang yang berpiknik. Bersantai bersama keluarga mereka. Anak-anak berlarian ke sana kemari bermain dengan teman atau saudaranya. Tak luput mereka juga mengajak hewan peliharaan.
Sekitar 1 jam berada di jalanan kami sampai di salah satu gedung mall besar. Di dalam mall juga tidak kalah ramai dengan taman-taman yang ku lihat tadi. Banyak yang datang bersama keluarga sekedar shopping atau bermain game. Banyak juga yang datang bersama pasangan atau teman.
"Kita ke mana?" tanya Felix.
"Emm.. Ke sana. Kita nonton film. Setelah itu kita cari ponsel, makan, bermain game, beli baju, sepatu," aku menghitung jariku.
"Banyak sekali yang mau kamu lakukan," sindir Felix.
"Tentu. Kita harus melewati hari ini penuh dengan keceriaan. Ayo kita buat banyak kenangan," ucapku penuh semangat. Felix tersenyum. Dia hanya bisa menurut tanpa perlawanan.
Aku mengajak Felix ke loket karcis untuk menonton Film. Kami sedikit bingung dalam memilih genre film apa yang harus kita tonton. Aku suka film action tapi Felix suka horor. Pada akhirnya kami memilih film komedi.
Jadwal pemutaran film masih cukup lama, sekitar dua jam lagi. Aku memutuskan untuk makan dulu karena aku merasa lapar. Aku belum makan apapun setelah bangun tidur.
"Kita makan dulu saja. Aku lapar," ucapku.
"Boleh. Kita makan apa?" tanya Felix.
"Kita makan di sana saja. Sepertinya menu yang ditawarkan cukup unik," aku merujuk ke salah satu kedai makanan.
"Ayo."
Aku berjalan sedikit cepat mengikuti langkah Felix yang lebar. Aku terlalu fokus pada langkah kaki sehingga tidak tau ketika Felix mendadak berhenti.
-Brukk-
"Aww," pekik ku. Hidungku menatap punggung Felix, cukup sakit.
"Kenapa berhenti?" protesku padanya.
Felix mundur satu langkah, dia menjajari diriku. Aku melangkah dengan santai dan Felix mengikuti langkahku. Dia melangkah seirama denganku. Dalam hati aku merasa senang. Padahal tidak ada yang spesial tapi aku merasa senang hanya dengan perlakuannya itu.
Aku duduk di salah satu kursi, berhadapan dengan Felix.
"Kamu mau makan apa?" Felix menyodorkan daftar menu padaku. Pelayan sudah berdiri di sampingku siap menerima orderan kami.
"Em.. Aku pilih potine, butter tart, split pea soup, "aku menunjuk beberapa gambar makanan pada daftar menu.
"Minumnya... Aku mau ini," tunjukku pada salah satu gambar minuman.
"Ok. Kami pesan makanan tadi satu-satu dan minumannya dua. Ditambah smoked meat sandwich," Felix menunjuk satu gambar makanan. Dia hanya pesan satu makan sementara aku pesan tiga, membuatku terlihat sangat rakus. -_-
***
Setelah makan, Aku dan Felix berhenti di salah satu toko elektronik. Kami memilih ponsel keluaran terbaru. Aku memilih 2 ponsel yang sama, untuk diriku dan untuk Felix. Awalnya Felix menolak, dia berkata bahwa ponselnya masih bagus. Memang sih ponselnya belum ada cacat apapun tapi aku ingin memiliki benda yang sama dengannya. Dan benda paling tidak kentara adalah ponsel, karena banyak sekali orang yang memiliki ponsel dengan tipe yang sama.
Setelah membeli ponsel, ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku ternyata waktu pemutaran film sudah dekat. Felix membeli satu cup besar popcorn dan dua gelas soda.
Kami duduk di kursi yang berada di baris tengah. Kami memilih genre komedi berharap kami dapat tertawa lepas selama menonton. Aku cukup menantikan kesempatan ini, waktu di mana aku dapat menonton film berdua sama Felix.
Tapi aku merasa kecewa. Selama pemutaran film banyak sekali joke yang tidak ku mengerti. Banyak penonton yang tertawa saat pemain mengeluarkan candaan tapi aku diam saja tanpa tau artinya. Apa ini? Joke orang Kanada berbeda dengan orang New York, apalah daya ku yang merupakan orang Asia.
Aku hanya dapat menjejalkan popcorn selama menonton tanpa ada rasa kepuasan. Mungkin lebih baik aku memilih film action atau horor, setidaknya salah satu diantara kami ada yang dapat puas menikmati. Selama menonton film aku tak jarang meliring ke arah Felix, ternyata dia lebih parah. Raut mukanya benar-benar datar. Membuatku semakin tidak bersemangat. Meski begitu aku dan Felix tetap menonton sampai akhir berharap ada kepuasan di akhir pemutaran film. Tapi itupun tidak kami dapatkan.
Aku keluar dengan wajah yang tertekuk masam.
"Hei," Felix menoel pipiku.
"Wajahmu kenapa? Jelek," Felix mencubit pipiku.
"Aawwwkh," aku menepuk tangan Felix.
Aku mengusap pipi bekas cubitan Felix, "sakit."
"Gak usah ditekuk mukanya. Kamu mau apa lagi?" Felix menempelkan kedua tangannya di pipiku.
"Kita pulang aja," jawabku datar.
"Pulang? Yakin?"
"Iya. Hari sudah sore."
"Hm. Ray dan Auris pasti sudah pulang," terawang Felix.
"Sok tau. Ayo ah kita pulang."
Aku berjalan dengan langkah kesal. Padahal aku sudah keluar dari ruangan menonton film tapi perasaan kesal ku tidak kunjung reda. Felix merangkul pundakku. Aku mendongakkan wajah menatap Felix, Felix membalas ku dengan senyuman. Kami berjalan menuju parkiran dan pulang ke apartemen.
***
Aku dan Felix turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung apartemen. Hari sudah gelap, kami pulang tanpa makan malam. Kami akan makan bersama Ray dan Auris di apartemen, tentunya jika mereka sudah pulang.
"Bagaimana? Sudah puas main?" Felix mengajakku ngobrol di dalam lift.
"Heem," aku mengangguk. Meski cukup kecewa saat nonton film tapi aku lebih merasa senang karena seharian bersama Felix.
"Kamu mau makan apa? Biar aku yang masak," ucap Felix.
"Terserah. Kamu masak aja masakan andalanmu. Aku tidak akan berkomentar jika rasanya mengecewakan," ucapku bergurau.
"Kamu mengejekku?"
"Entahlah," aku berpura-pura seperti orang bodoh.
Kami sudah sampai di depan pintu apartemen Felix. Rencana besok aku dan Auris sudah bisa kembali ke apartemen kami sendiri karena kondisi tubuhku sudah benar-benar baik.
Felix menekan password pintu apartemennya dan -ceklek- terbuka. Bukan sulap bukan sihir, pintu itu terbuka.
Aku melangkah masuk bersama Felix. Di sofa depan televisi sudah ada Ray dan Auris. Mereka sudah pulang dan sedang duduk di sana. Tapi tidak hanya Ray dan Auris, ku lihat ada satu orang lagi yang duduk di sana, dari belakang dapat dilihat dengan jelas bahwa dia seorang perempuan. Rambutnya terlihat rapi, halus, hasil perawatan rutin.
Aku berjalan mendekati Auris. Tapi Felix malah terdiam, dia tak bergerak sama sekali. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke arah Felix. Perempuan itu memeluk Felix, "Baby," ucap perempuan itu.
Aku tercengang melihat hal itu.
Aku memberanikan diri bertanya, "kamu siapa?"
Perempuan itu menoleh ke arahku tanpa melepas pelukannya, "aku tunangannya Felix," ucapnya dengan senyum bangga.
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"