Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat Belas
Galih pulang ke rumah dengan keadaan emosi, karena tadi di cuekin oleh anak anaknya di depan supermarket.
Brakkkk....
Pintu rumah terbuka dengan kasar dan membuat tiga orang di dalam rumah yang sedang menyiapkan keperluan Laras dan Gibran untuk berangkat Jalan jalan esok hari, jadi terganggu, dan begitu juga Ares yang berada di kamar ikut terkejut, lalu berlari ke luar kamarnya.
"Astagfirullah.... "
"Ada apa ma? " tanya Ares dengan wajah paniknya.
"Apaan sih mas, pulang pulang banting pintu." tegur bu Soraya dengan suara sedikit meninggi, karena terkejut dengan kelakuan suaminya itu.
Tapi pak Galih tidak menggubrisnya, yang ada dia menunjuk bu Soraya dengan tangan kirinya, dan dada turun naik menahan emosi.
"Bagaimana cara kamu mendidik anak anak sampai dia tidak menghargai orang tuanya ha....!" marah pak Galih dengan mata memerah.
"Maksud kamu apa?! " heran bu Soraya, perasaan anak anaknya tidak melakukan apa apa.
"Tadi saya bertemu dengan anak anak di super market, tapi mereka tidak sama sekali menyapa saya." ucap pak Galih berapi api.
Bu Soraya terkekeh mendengar keluhan suaminya itu, lalu menggeleng gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Memang mas pernah menganggap mereka anak mas." kekeh bu Soraya sinis, dia tidak takut lagi melawan suami laknat itu, bukan karena sekarang dia sudah bisa mencari uang dan bukan juga karena dia sudah bisa hidup mandiri, bukan itu alasan dia melawan suami durjana itu, tapi karena dia tidak bisa lagi menahan sakit hati di saat anak anaknya selalu mendapat perlakuan tidak adil dari bapak kandungnya itu.
"Jaga bicaramu Soraya, klau bukan menganggap mereka anak anakku, mana mungkin aku memberi mereka nafkah ha.....! " bentak pak Galih tidak tau diri.
Bu Soraya tergelak keras mendengar penuturan tidak masuk akal itu.
"Hahaha..... Percaya diri sekali anda tuan, uang mini yang kau kasih tiap bulan itu, tidak cukup membiayai hidup anak anakku selama satu minggu, jangan sok memberi nafkah, malu sama cicak di dinding noh, mereka mentertawakan otak dungu mu." kekeh bu Soraya.
"Kau..... " pak Galih mengepalkan tangannya dia pun tidak mampu menjawab ucapan istrinya itu, dia syok mendengar istri yang selama ini diam di saat dia marah atau menghinanya, namun kali ini istrinya bisa melawan dan merendahkannya.
"J-jangan lupa, rumah yang kalian tempati ini juga saya yang menyewa, tanpa uang sewa dari saya mana mungkin kalian bisa berlindung dari panas dan hujan." ucap pak Galih tidak tau malu mengungkit
"Wooiii.... Suami sekaligus bapak yang tidak punya otak! bukan kah tempat tinggal dan memberi nafkah itu memang kewajiban anda, tapi klau anda merasa keberatan menafkahi kami, nggak usah di nafkahi, klau nggak mampu menyewa rumah ini demi orang tua dan keponakan anda, nggak usah di bayar, saya masih mampu membiayai anak anak saya, urus saja keponakan anda itu, pergi lah dari rumah ini, kami tidak butuh anda yang hanya membuat rumah ini tidak tenang." usir bu Soraya. Sepertinya bu Soraya kesabaran bu Soraya sudah hilang terhadap suami durjana itu.
Duarrr.....
Pak Galih syok mendengar kata kata yang keluar dari mulut istrinya itu, matanya melotot tidak percaya, tangannya terkepal menahan amarah, rasanya sungguh pak Galih tidak lagi di hargai oleh istri dan anak anaknya.
"Oh.... Iya, asal anda tau, anak anak saya tidak butuh bapak seperti anda, jadi jangan terlalu berharap lebih dari anak anak saya, apa yang anda tanam itu lah yang anda tuai, jadi Terima saja dengan lapang dada dan jangan berharap lebih dari anak anak saya." ucap bu Soraya acuh.
"Ayo anak anak, selesaikan kerjaan kalian, setelah itu masuk kamar, tidur lebih awal, biar besok tidak kesiangan." titah bu Soraya lembut kepada anak anaknya.
Sementara Ares menatap ayahnya dengan tatapan sinis.
"Abang, kembali ke kamar, belajarlah yang rajin dan jangan sampai salah memilih pelajaran, biar nanti tidak salah jalan saat dewasa nanti, harus tau mana yang kewajiban mana yang sekedarnya, jangan terbalik." sindir bu Soraya, yang tidak memperdulikan perubahan suaminya.
"Baik ma, klau ada yang menganggu mama, lansung teriak saja, ada kami yang membela mama.' jawab Ares tanpa menatap sang ayah, lalu masuk ke dalam kamarnya.
" Ma, kami sudah rapi, kami masuk kamar ya ma." ucap Laras kepada sang mama dan di angguki oleh Gibran.
"Baik sayang, simpan uang yang di kasih teman abang, dan tante Rini baik baik ya, jangan sampai hilang, nanti kalian nggak bisa jajan di sana." ucap bu Soraya lembut, dan sekaligus menyindir sangat suami.
"Maa Syaa Allah ya nak, kalian mau pergi jalan jalan aja, banyak yang perhatian, walau bukan keluarga kandung, orang yang hanya sekedar lewat saja sangat perhatian sama kalian, nggak kaya orang yang ngaku keluarga tapi nggak tau cara memperlakukan keluarga itu seperti apa." sindir bu Soraya.
Pak Galih tidak dapat berkata kata lagi, istrinya malam ini sangat berbeda, setiap kata yang keuar dari mulutnya sangat lah tajam.
Bu Soraya merapikan ruangan yang agak berantakan itu tanpa perduli dengan suaminya yang masih berdiri di sana, seolah suaminya hanya sebuah manekin yang tak berguna di ruangan itu, bu Soraya benar benar sangat acuh kepada suaminya itu.
Setelah merasa rumahnya rapi, bu Soraya juga masuk ke dalam kamarnya, tanpa menegur sang suami.
"Waktunya istirahat, besok harus bangun lebih pagi." gumam bu Soraya menaiki kasur dan merebahkan badannya di kasur itu, tanpa perduli dengan suami durjananya yang masih terduduk di kursi tamu.
Pak Galih bingung setengah mati melihat perubahan sang istri dan anak anaknya, biasanya istrinya melihat dia marah akan menenangkan nya dan berusaha membujuk anak anaknya untuk meminta maaf kepadanya, tapi hari ini, jangan kan membujuk anak anaknya, justru sang istri malah menyerang balik dirinya dengan kata kata kasar.
Bukan ini keinginan nya, dia menahan jatah bulanan sang istri agar istrinya sadar diri, klau dia adalah kepala keluarga yang harus di hormati, tapi nyatanya, semakin dia menahan jatah bulanan sang istri, istrinya makin beringas, dan anak anaknya pun semakin acuh kepadanya, kalau dulu anak anaknya masih bertegur sapa walau takut takut kepadanya, tapi sekarang anak anak benar benar tidak menganggapnya ada, Ares sang putra sulung pun semakin berani kepadanya, hanya tunduk dan patuh kepada istrinya saja.
"Dasar sialan.... Kenapa jadi begini, kata ibu klau uang bulanannya di tahan, istri ku itu pasti akan merengek dan memohon kepadaku, tapi apa ini, dia justru lebih galak dari biasanya." gumam pak Galih mengacak acak rambutnya frustasi.
Dan sejak jatah bulanan dia tahan, istrinya pun tidak pernah menyediakan kopi atau sarapan di rumah itu, tapi anak anaknya tetap terlihat baik baik saja, dan tidak pernah lagi meminta uang kepadanya, tapi mereka terlihat baik baik saja, ada apa ini? pak Galih tak habis pikir dengan semuanya.
Bersambung....
Haiii.... Jangan lupa like komen dan vote ya... 😘😘😘
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti