menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Keajaiban Meniru Jurus.
Keriuhan di pasar Desa Kaliwungu belum benar-benar reda setelah Ki Suroto terkapar di lapak pisang. Kebingungan Erlang yang sedang menolong sang kakek penjual gerabah mendadak ter interupsi oleh suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa dari arah pintu barat pasar.
"Ada apa ini?! Siapa yang berani membuat kekacauan di wilayahku?!" teriak sebuah suara bariton yang berwibawa namun sarat amarah.
Kerumunan warga langsung menyibak, memberi jalan kepada dua orang pria yang baru datang. Pria di depan bertubuh tinggi tegap, mengenakan jubah hitam dengan kain pengikat kepala berbahan sutra merah. Di dadanya tersemat lambang cakar elang dari kuningan. Dia adalah Ki Jatmiko, kepala centeng tertinggi di Desa Kaliwungu sekaligus guru silat dari Ki Suroto. Di belakangnya, seorang anak buah membawa gada besi berduri.
"Kang Jatmiko... Uhuk! Tolong saya, Kang... Bocah mlarat itu... dia memakai ilmu sihir," rintih Ki Suroto dari balik reruntuhan lapak pisang, menunjuk lemah ke arah Erlang.
Ki Jatmiko menatap muridnya yang babak belur, lalu mengalihkan pandangan tajamnya kepada Erlang. "Kau? Bocah ingusan seperti ini yang merobohkan Suroto? Jangan bercanda!"
Erlang buru-buru menjatuhkan kedua tangannya di samping tubuh, mencoba tersenyum ramah agar suasana tidak semakin panas. "Nyuwun sewu, Paman. Saya Erlang. Saya tidak pakai sihir apa-apa. Tadi itu cuma kesalahpahaman. Paman Suroto menyerang kakek ini, jadi saya cuma mencoba memisahkan mereka."
"Memisahkan sampai muridku tidak bisa bangun, begitu?!" bentak Ki Jatmiko naik pitam. "Suroto mungkin lemah, tapi menghajarnya berarti kau telah menginjak-injak harga diri Perguruan Cakar Elang Kaliwungu! Ambil senjatamu, Bocah!"
"Saya tidak punya senjata, Paman. Cuma punya pisau kecil buat memotong singkong di buntalan ini," jawab Erlang jujur sambil menepuk kantong kainnya.
"Sombong sekali kau! Menghadapiku dengan tangan kosong? Bersiaplah mendamba kematian!" seru Ki Jatmiko.
Ki Jatmiko langsung mengambil kuda-kuda melebar. Kedua tangannya ditekuk di depan dada, membentuk posisi mencengkeram seperti kuku-kuku elang yang siap menerkam mangsa. Ini adalah Jurus Elang Menyambar Badai, ilmu kebanggaan perguruannya yang terkenal cepat dan mematikan.
Wusss!
Ki Jatmiko melesat ke depan. Gerakannya jauh lebih cepat dan bertenaga daripada Ki Suroto. Tangan kanannya bergerak melakukan tusukan beruntun ke arah urat leher Erlang, disusul tangan kirinya yang mengincar ulu hati.
Bagi warga pasar, gerakan Ki Jatmiko hanya terlihat seperti bayangan hitam yang berkelebat. Namun, di dalam pandangan Erlang yang telah disempurnakan oleh energi kitab tanpa nama, gerakan itu melambat drastis. Anehnya, saat Erlang menatap lekat-lekat lekukan lengan, distribusi berat badan, dan arah aliran angin dari serangan Ki Jatmiko, sebuah keajaiban terjadi di dalam benaknya.
“Ah... sikutnya terlalu terbuka. Jarak antara serangan pertama dan kedua ada jeda setengah hitungan napas. Aliran tenaganya berpusat di pundak, bukan di pinggang. Kalau polanya diubah sedikit seperti ini...” batin Erlang.
Kitab tanpa nama di balik bajunya seolah memancarkan gelombang pemahaman instan. Erlang tidak hanya melihat jurus itu, tetapi langsung menangkap inti dan hakikat sejati dari gerakan Jurus Elang Menyambar Badai tersebut, bahkan menemukan semua kelemahan dan cara menyempurnakannya.
Erlang melangkah mundur satu tapak dengan luwes, menghindari tusukan pertama Ki Jatmiko hanya seujung rambut.
"Jangan cuma menghindar, Bocah licik!" teriak Ki Jatmiko sambil memutar tubuhnya, melepaskan cengkeraman maut ke arah dada Erlang.
"Maaf, Paman. Kalau begitu, saya izin meminjam gerakan Paman ya," ujar Erlang santai di tengah jalannya pertarungan.
Erlang menekuk kedua belah telapak tangannya, membentuk posisi cengkeraman yang persis sama dengan kuda-kuda Ki Jatmiko. Namun, posisi sikut Erlang lebih rapat, bahunya lebih rileks, dan tumpuan kakinya jauh lebih kokoh karena didorong oleh aliran tenaga dalam murni tak terbatas yang mengalir tenang dari pusarnya.
"Apa?! Kau meniru jurusku?!" Ki Jatmiko terbelalak kaget melihat posisi tangan Erlang.
Sebelum Ki Jatmiko sempat menarik serangannya karena syok, Erlang sudah lebih dulu bergerak maju. Menggunakan Jurus Elang Menyambar Badai milik Ki Jatmiko yang telah ia sempurnakan secara instan, Erlang memotong jalur serangan lawan. Gerakan tangan Erlang begitu indah, cepat, dan presisi, mengalir tanpa hambatan seperti elang sejati yang meluncur dari langit tertinggi.
Plak! Plak!
Tangan Erlang menepis pergelangan tangan Ki Jatmiko dengan sangat mudah, mematahkan pertahanannya. Detik berikutnya, telapak tangan kanan Erlang yang membentuk cakar elang berhenti tepat satu senti di depan tenggorokan Ki Jatmiko, sementara cakar kirinya menempel dengan lembut di ulu hati pria tegap itu.
Angin berdesing keras dari sisa gerakan Erlang, menerbangkan debu-debu di sekitar kaki mereka. Ki Jatmiko membeku di tempat. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya. Ia bisa merasakan hawa hangat yang sangat pekat dan mengerikan memancar dari ujung-ujung jari Erlang. Jika pemuda itu memajukan tangannya satu senti saja, tenggorokan dan ulu hatinya dipastikan akan hancur lebur.
"B-bagaimana... bagaimana bisa kau menguasai jurus rahasia perguruanku? Bahkan gerakannmu... jauh lebih sempurna dan tanpa celah dibanding milik guruku sendiri..." bisik Ki Jatmiko dengan suara bergetar penuh ketakutan dan ketakjuban yang luar biasa.
Erlang perlahan menurunkan kedua tangannya, lalu mundur dua langkah dan membungkuk hormat dengan wajah polos tanpa dosa. "Saya tidak tahu, Paman. Tadi saya cuma melihat gerakan Paman sangat bagus, jadi secara otomatis tubuh saya mengikuti. Saya minta maaf kalau lancang meniru."
Ki Jatmiko menelan ludah dengan susah payah. Ia menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini bukanlah manusia biasa, melainkan seorang jenius persilatan tingkat tinggi yang tiada bandingnya. Mengalahkan lawan menggunakan jurus milik lawan sendiri yang baru dilihat sekali, dan membuatnya menjadi versi yang sempurna, adalah kemampuan yang hanya dimiliki oleh legenda hidup.
"K-kau... kau bukan pengembara biasa," kata Ki Jatmiko sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang, rasa sombongnya runtuh sepenuhnya. "Aku mengaku kalah. Mulai hari ini, Perguruan Cakar Elang tidak akan mengganggu pasar ini lagi."
Erlang tersenyum lega mendengar ucapan itu. "Matur nuwun, Paman. Terima kasih sudah berbaik hati tidak memperpanjang masalah ini. Paman Suroto juga tolong diobati ya, kasihan dia sepertinya masih mulas di lapak pisang."
Ki Jatmiko hanya bisa mengangguk pasrah, lalu bergegas memapah muridnya untuk pergi dari pasar dibantu oleh anak buahnya yang membawa gada besi. Para penyamun dan centeng pasar itu pergi dengan langkah tergesa-gesa tanpa berani menoleh lagi ke arah Erlang.
Suasana pasar Desa Kaliwungu kembali hening, namun kali ini tatapan mata seluruh warga kepada Erlang bukan lagi sekadar rasa kagum, melainkan rasa hormat dan takjub yang teramat sangat kepada sang pendekar muda yang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya baru saja melakukan sebuah keajaiban besar dalam dunia persilatan.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/