NovelToon NovelToon
Obsession (Cinta Dalam Darah)

Obsession (Cinta Dalam Darah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Romansa / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia / Fantasi Wanita
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Seorang mafia kejam yang menguasai Italia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki sisi gelap serupa dengannya. Mereka saling terobsesi dalam permainan mematikan yang penuh gairah, kekerasan, dan pengkhianatan. Namun, di antara hubungan berbahaya mereka, muncul pertanyaan: siapa yang benar-benar mengendalikan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Moskow dalam Kekacauan

Nikolai Petrov menatap Valeria dengan mata penuh minat. "Aku suka wanita yang ambisius," katanya, menyesap vodkanya.

Valeria tersenyum kecil, jari-jarinya memainkan gelas martini. "Dan aku suka pria yang bisa diajak bekerja sama. Tapi aku tidak bekerja dengan orang lemah."

Nikolai mengernyit, merasa tertantang. "Buktikan bahwa aku bukan orang lemah."

Valeria mencondongkan tubuhnya. "Serang Volkov malam ini. Hancurkan salah satu gudangnya. Jika kau bisa melakukannya, kita bisa bicara lebih jauh."

Tanpa sadar, Nikolai sudah masuk dalam jebakan.

 

Tengah malam, ledakan besar mengguncang salah satu gudang utama Sergei Volkov. Valeria berdiri di atap gedung seberang, menyaksikan kobaran api membakar wilayah musuh.

Dante berdiri di sampingnya, tersenyum tipis. "Sekarang Volkov akan membalas. Dan Moskow akan semakin kacau."

Valeria menyeringai. "Seperti yang kita inginkan."

Perang di Moskow telah dimulai.

Moskow dalam Kekacauan

Seperti yang sudah diprediksi, Sergei Volkov tidak tinggal diam. Dalam waktu kurang dari 24 jam, salah satu klub malam milik Nikolai Petrov dihancurkan oleh pria-pria bertopeng.

Berita tentang perang antar mafia mulai menyebar, dan Moskow berubah menjadi medan pertempuran yang berbahaya.

Dante duduk di sebuah bar eksklusif, menyesap anggurnya sambil membaca laporan dari anak buahnya. Valeria duduk di sampingnya, menyilangkan kaki dengan anggun.

"Volkov mulai menyerang lebih agresif," kata Dante. "Sepertinya Nikolai akan meminta bantuan kita lebih cepat dari yang kita kira."

Valeria tersenyum tipis. "Bagus. Kita biarkan mereka saling menghabisi dulu sebelum kita menghabisi mereka semua."

Dante menoleh padanya, matanya penuh ketertarikan. "Kau semakin tidak sabar, huh?"

Valeria menyeringai. "Aku bosan bermain aman. Aku ingin melihat darah."

Dante tertawa pelan, lalu menyelipkan seuntai rambut Valeria ke belakang telinganya. "Tenang, amore. Darah akan segera mengalir."

 

Beberapa hari kemudian, Nikolai Petrov akhirnya datang kepada mereka, wajahnya dipenuhi kemarahan dan frustrasi.

"Volkov sudah kelewatan! Aku butuh bantuan kalian untuk menghancurkannya."

Dante bersandar santai di kursinya. "Dan apa yang akan kami dapatkan sebagai imbalan?"

Nikolai mengepalkan tangan. "Bagian terbesar dari bisnis Volkov. Senjata, narkoba, semua yang kalian mau."

Valeria menatap Dante, matanya berkilat penuh kegembiraan. Ini lebih mudah dari yang mereka duga.

Dante mengangguk pelan. "Baik. Kita akan menghabisi Volkov."

Valeria menyeringai. "Dan setelah itu, giliranmu, Nikolai."

Permainan mereka semakin mendekati akhir.

Perang yang Tak Terhindarkan

Malam itu, seluruh kota Moskow berada dalam kekacauan. Volkov, yang merasa dikhianati oleh Petrov, melancarkan serangan balasan. Namun, dia tidak tahu bahwa Dante dan Valeria sudah berada di belakang layar, menggerakkan setiap pion dengan presisi.

Dante berdiri di ruang kontrol, melihat monitor yang menampilkan pergerakan pasukan Volkov. Valeria berdiri di sampingnya, menatapnya dengan tatapan tajam.

"Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi," Valeria berbisik.

"Volkov tidak akan melihat kami datang," jawab Dante dengan senyuman penuh keyakinan.

Malam itu, para pasukan Petrov dan Volkov bertempur habis-habisan, tapi mereka tidak tahu bahwa Valeria dan Dante sudah merencanakan langkah selanjutnya. Dengan satu serangan mendalam ke pusat kekuatan Volkov, mereka memusnahkan segala yang dimilikinya—satu demi satu.

 

Beberapa hari kemudian, seluruh bisnis Volkov sudah runtuh. Volkov sendiri ditemukan tewas di dalam ruang kerjanya, sebuah peluru di kepalanya. Semua orang tahu siapa yang bertanggung jawab—Dante dan Valeria, dua kekuatan yang tidak bisa dihentikan.

Valeria duduk di kursi, menatap Dante dengan tatapan penuh rasa puas. "Ini lebih cepat dari yang aku kira."

Dante menatapnya, senyum kecil di wajahnya. "Kau senang?"

"Aku selalu senang saat permainan berakhir dengan kemenangan," jawab Valeria, matanya berkilat.

Namun, di balik semua kemenangan ini, mereka tahu ada lebih banyak musuh yang akan datang. Tapi, untuk saat ini, mereka adalah pasangan yang tak terkalahkan—dan mereka tidak akan berhenti.

Akhir Permainan

Setelah kejatuhan Volkov, Moskow berubah menjadi medan tanpa penguasa. Dante dan Valeria berdiri di puncak kekuatan, tapi mereka tahu ini belum selesai. Nikolai Petrov, yang masih hidup, mulai bergerak dalam bayang-bayang, merencanakan pengkhianatannya sendiri.

"Petrov akan mencoba menyerang kita," kata Dante, duduk di sofa sambil menyesap whiskey.

Valeria tersenyum tipis, matanya penuh kegilaan. "Biar dia mencoba. Aku ingin melihat ekspresi ketakutannya sebelum dia mati."

 

Malam itu, Petrov akhirnya bergerak. Dia mengirim sekelompok pembunuh bayaran ke tempat persembunyian Dante dan Valeria. Tapi dia melakukan satu kesalahan fatal—menganggap mereka bisa dikalahkan.

Saat para pembunuh bayaran menerobos masuk, Valeria sudah menunggu di sudut ruangan dengan belati di tangannya. Dalam hitungan detik, darah mengalir di lantai.

Dante muncul dari bayang-bayang, menembakkan peluru ke kepala pria terakhir yang tersisa. "Itu saja?" tanyanya dengan nada mengejek.

Valeria tertawa. "Aku berharap lebih."

Petrov, yang menonton dari kejauhan, mencoba melarikan diri. Tapi Valeria dan Dante sudah menunggunya di mobilnya.

"Mau pergi ke mana, Nikolai?" tanya Valeria, menekan pisau ke lehernya.

Petrov mencoba berbicara, tapi Dante menembaknya sebelum dia bisa berkata apa-apa. "Aku bosan mendengar suaranya," gumamnya.

 

Dengan semua musuh mereka mati, Dante dan Valeria akhirnya bisa pergi. Mereka menghilang dari dunia kriminal, meninggalkan jejak mereka hanya sebagai legenda.

Di sebuah vila mewah di tepi laut, Valeria menyesap anggur merahnya, menatap matahari terbenam.

"Apa kau merindukan kekacauan?" tanya Dante, duduk di sampingnya.

Valeria tersenyum, matanya penuh misteri. "Mungkin. Tapi untuk saat ini, aku menikmati kemenangan kita."

Dante menariknya mendekat, mencium bibirnya dengan lembut. Mereka telah memenangkan permainan. Dan kali ini, tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka.

Untuk sementara.

1
Nayla Syberia
Bagus kok,gpp Author teruskan👌🏻
Shin Raecha: ditunggu update selanjutnya /Kiss/
total 1 replies
nurzzz
ceritanya bagus banget semoga bisa rame yah banyak peminatnya
Shin Raecha: Aw, terimakasih 🥰🥰.
total 1 replies
nurzzz
wow keren
nurzzz
wah keren
Naira
seruuu kok ceritanya
Shin Raecha: Baca sampai end yaa 😄🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!