NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:133.9k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

“Ma, aku keluar dulu ya, cari udara sebentar,” ujar Rava lirih sambil mengambil kunci motornya dari meja.

Lani menatapnya sekilas dari sofa, wajahnya tetap dingin seperti biasa. “Udara segar? Kamu itu harusnya cari kerja, bukan cari udara.”

Rava tidak menjawab. Ia tahu, percuma. Semua yang ia katakan akan dibalas dengan sindiran. Ia hanya menarik napas panjang, lalu melangkah keluar dari rumah itu—rumah yang penuh suara, tapi kosong rasanya.

Begitu mesin motor menyala, cahaya mentari pagi itu menyambut bersama angin lembut yang terasa menusuk dada. Jalanan terasa panjang, seolah mengulur waktu untuk membuatnya makin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setiap kali lampu merah, setiap kali suara kendaraan melintas, wajah itu selalu datang lagi.

Citra.

Nama itu saja sudah cukup untuk membuat dadanya bergetar. Ia mencoba melupakan—tapi gagal. Bayangan Citra di hari pernikahan yang batal itu masih terlalu jelas: wajahnya yang bingung, matanya yang menunggu di pelaminan, dan kabar yang tak pernah ia kirimkan. Lalu berganti dengan seseorang yang asing menjadi mempelai prianya.

"Oh, Ya Tuhan... Ini kejam banget..."

Ia membelok ke arah pusat kota tanpa sadar, motor terus melaju sampai berhenti di depan mal besar yang penuh lampu. Rava memarkir motornya, lalu berjalan masuk, hanya untuk menenangkan kepala yang riuh.

Di dalam, aroma kopi dari kafe bercampur dengan wangi parfum pengunjung. Ia masuk ke swalayan, mengambil keranjang, dan berjalan di antara rak-rak yang berjejer rapi. Jemarinya asal mengambil botol air, sekadar memberi alasan untuk berdiri di sana.

Namun tiba-tiba—bruk!

Sebuah troli menabrak pinggangnya pelan. Ia menoleh cepat.

“Oh, maaf—” suara lembut itu keluar, lalu terputus di udara.

Rava terpaku. Citra.

Ia berdiri di hadapannya, dengan rambut yang dikuncir rapi, wajah tenang tapi matanya gemetar. Dunia seperti berhenti bergerak. Semua suara, semua cahaya, lenyap di sekitarnya.

“Citra…” suaranya nyaris hanya napas.

Citra mematung. Botol jus di tangannya jatuh, menggelinding di lantai. Ia memungutnya cepat tanpa menatap Rava, lalu berdiri tegak.

“Maaf,” ucapnya singkat—dingin.

Kemudian ia berbalik, melangkah pergi dengan cepat.

“Citra, tunggu!” seru Rava spontan, berusaha menyentuh lengannya.

Citra menepis kasar. “Jangan sentuh saya!”

Ia berjalan makin cepat. Tapi Rava mengejar. Langkah mereka bergaung di lantai keramik swalayan yang licin, di antara tatapan heran pengunjung lain.

“Citra, tolong denger dulu!”

“Untuk apa, Rava?!” Citra berhenti tiba-tiba, menoleh dengan mata yang kini penuh air. “Untuk denger alasan kamu ninggalin aku di hari pernikahan kita?”

Rava terdiam. Napasnya berat. Kata-kata itu seperti belati yang ia tahu akan datang—dan tetap menusuk.

“Apa kurang gila hidupku waktu itu? Semua orang nyalahin aku! Keluargaku malu! Aku nunggu, Rava! Aku nunggu kamu datang, tapi yang datang cuma kabar kalau kamu… kabur!”

Citra memukul dadanya sendiri. “Dan sekarang, kamu berdiri di sini? Di depan aku? Seolah enggak ada apa-apa?”

Rava mencoba bicara, tapi tenggorokannya kering. Ia ingin berkata—bahwa di hari yang sama, Cantika datang ke rumahnya, menangis, mengaku hamil. Bahwa ia menikah siri karena terpaksa, karena malu, karena keluarga Cantika menekan. Tapi bagaimana ia bisa mengatakannya? Cantika adalah sepupu Citra. Bagaimana luka itu bisa dijelaskan tanpa menghancurkan segalanya?

“Citra, aku…” suaranya serak. “Aku punya alasan. Tapi kalau aku jelasin, kamu bakal lebih sakit lagi.”

Citra menatapnya lama. Lalu menamparnya—keras.

Rava terdiam. Pipi kirinya berdenyut, tapi ia tak mengelak.

“Kamu pikir aku belum cukup sakit, Rava?!” suaranya pecah. “Kamu salah. Aku udah mati berkali-kali karena kamu.”

Orang-orang mulai memperhatikan, tapi Citra tak peduli. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Saya enggak mau tahu apa alasan kamu. Enggak mau dengar. Mulai sekarang, jangan pernah muncul di depan saya lagi. Kamu—udah enggak ada dalam hidup saya!”

Ia berbalik, berlari menuju pintu keluar. Rava mencoba mengejar, tapi langkahnya berhenti. Ia tak punya hak lagi.

Citra lenyap di antara kerumunan, meninggalkan Rava berdiri sendirian di lorong itu. Nafasnya berat, matanya kosong. Dunia seperti runtuh sekali lagi—kali ini tanpa bisa diperbaiki.

****

Citra masuk ke toilet wanita dan menutup pintu bilik dengan gemetar. Ia bersandar di dinding, air matanya tak berhenti jatuh. Bayangan wajah Rava tadi terus menghantam ingatannya. Tatapan itu… tatapan yang dulu membuatnya jatuh cinta, kini hanya membuatnya ingin menjerit.

Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan tisu, menghapus air mata yang tak mau berhenti. “Kenapa harus sekarang…” gumamnya pelan. “Bukan ini yang aku mau... Aku ingin membalasnya... Tapi, kenapa aku tak bisa…”

Beberapa menit ia hanya diam, mencoba menenangkan napas. Lalu ponselnya bergetar. Nama “Pak Rama ❤️” muncul di layar.

“Sayang, kamu di mana?” suara Rama lembut tapi khawatir. “Aku udah cari dari tadi, di lorong makanan juga enggak ada.”

Citra buru-buru menelan tangisnya. “Aku di toilet, Pak. Tadi… eeh, kebelet banget.”

Rama tertawa kecil dari seberang. “Ya ampun, jadi kamu ketularan beser? Astaga, dikira hilang. Kirain ikut promo gratis terus dibawa kabur kasirnya.”

Citra ikut tertawa, walau suaranya bergetar. “Enggak, Pak. Hehe… bentar lagi keluar.”

“Ya udah, saya tunggu di kasir. Tapi cepet ya, nanti saya makan diskon sendirian nih,” goda Rama.

“Siap, Pak.”

Telepon ditutup. Citra menatap wajahnya di cermin—pucat, mata sembab. Ia menepuk pipinya pelan, memaksa tersenyum. “Kamu sudah bahagia, Cit. Jangan biarkan masa lalu ganggu lagi.”

Ia keluar dari toilet, melangkah menuju kasir. Di sana, Rama sedang tertawa bersama kasir muda, wajahnya hangat seperti biasa. Saat melihat Citra, ia tersenyum lebar.

“Lama banget. Mukanya kenapa, sayang? Kayak habis maraton.”

“Enggak, Pak,” jawab Citra cepat, berusaha terdengar ringan. “Tadi sakit banget perut di toilet.”

Rama mengangguk, walau matanya sempat menangkap semburat merah di pelipis istrinya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dalam hati, hanya ada rasa ingin menjaga lebih kuat lagi wanita itu.

*****

Di sisi lain, Rava berdiri di lantai dua, menatap ke bawah dari dekat eskalator. Matanya menelusuri kerumunan orang. Dan di antara mereka, ia melihat Citra—berjalan di samping seorang lelaki tinggi, berjaket hitam.

Dari sudutnya, wajah lelaki itu tak terlihat. Tapi tangan mereka bersentuhan sebentar sebelum naik ke eskalator bersama.

Rava membeku.

Dadanya terasa sesak, seperti ditusuk dari dalam. Ia menunduk, berusaha menahan napas yang tiba-tiba berat. Dunia yang tadi berputar lambat kini terasa hening.

“Sudah terlambat,” gumamnya, suaranya parau. “Kali ini beneran terlambat.”

Ia berjalan keluar dari mal dengan langkah gontai, meninggalkan cahaya dan keramaian di belakang. Di luar, hujan mulai turun pelan—dan Rava membiarkannya membasahi wajahnya yang tak lagi bisa membedakan antara air hujan dan air mata.

1
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!