"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak berdaya
CAPTER 30
TAK BERDAYA
Hanis bertambah kalut pikirannya, ia terpaksa minta tenggak waktu pada Boy untuk bisa memenuhi permintaan laki-laki itu untuk yang kedua kalinya. Ika terus mendesak Hanis untuk terbuka pada Andik, siapa tahu laki-laki itu bisa membantu keluar dari masalah. Namun nasehat itu ditolak begitu saja oleh Hanis, ia tidak siap akan reaksi apa yang ditunjukkan laki-laki itu. Ia juga khawatir Andik akan membencinya.
Dengan amat terpaksa Hanis merangkai kebohongan dan menelepon ibunya, meminta sejumlah uang dengan alasan untuk persiapan ujian praktek serta alat praktek yang nanti akan digunakan. Ibu Muawana tidak langsung mempercayai sehingga Hanis harus berjuang keras meyakinkan ibunya tersebut. Bahkan sangking seriusnya, ia malah menangis saat ibunya masih keberatan dan berdebat.
“Ya sudah Umi kalo nggak mau ngasih," ucap Hanis dan memutuskan sambungan sepihak.
Wanita itu melempar ponsel ke kasur dan menjatuhkan tubuhnya kemudian, terus air matanya tak henti mengalir dalam diam. Hingga tak terasa keheningan membuatnya tertidur.
Sampai subuh menyingsing barulah Hanis terbangun, bukan melangkah turun dan segera ke kamar mandi, ia malah meraba-raba keberadaan ponsel. Hanis mengirim chat pada Ika, mengajaknya ketemuan. Hari itu baik dirinya ataupun Ika sama-sama memiliki dua mata kuliah saja.
Tidak menunggu jawaban, Hanis merangkak turun dari tempat tidur, ia baru saja membuka pintu kamar kala Andik berjalan menuju kamarnya sehabis dari kamar mandi. Laki-laki itu menghentikan langkah kakinya, memandang Hanis yang bahkan tidak melihat ke arahnya saat itu. Ya, Hanis menundukkan wajah kala keluar dari balik pintu.
"Hanis," panggil Andik rendah.
Hanis tersentak, bukannya mengangkat wajah ia malah semakin tertunduk. Andik tidak meneruskan, sadar jika Hanis mungkin merasa canggung karena baru saja bangun tidur. Betul juga, wanita itu tanpa bersuara melangkah melewati Andik yang masih setia berdiri di tempatnya.
Andik baru berjalan lagi setelah pintu kamar mandi tertutup rapat. Berjalan ia menuju rak baju dan mengambil sarung yang digantung di hanger. Kemudian, ia keluar lagi dan menyusul Ilyas yang sudah dulu terbangun.
Hanis datang kemudian disaat dua orang itu telah selesai sholat. Ia tidak berlama-lama di sana, begitu selesai turun segera dan masuk lagi ke kamar. Tanpa melepas mukenah ia merangkak naik ke tempat tidur.
Berikutnya Andik dan Ilyas kembali ke kamar, ia bahkan tidak menyadari keberadaan Hanis di tempat sholat tadi. Sambil menunggu pagi agak terang mereka leya-leya di atas kasur. Agar tidak kesiangan sengaja kelambu jendela dibuka supaya sinar matahari nampak.
Andik baru saja merebahkan diri saat bunyi ponsel berdering. Melihat nama kontak yang ternyata ibunya Hanis ia pun mengangkat panggilan masuk itu segera dan turun lagi dari kasur, keluar ia dari kamar menuju teras depan. Duduklah ia di sana dengan nyaman dan mulai berbicara dengan ibu Muawana lewat sambungan telepon.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," balas Andik dengan suara tenang.
"Le, maaf umi neleponnya pagi-pagi," kata ibu Muawana mengawali pembicaraan.
Nampak dahi Andik ringsut, tanda tanya besar jelas tergambar di wajah. Tidak ingin mengulur waktu yang hanya menambah penasaran saja Andik lekas menimpali.
"Tumben buk De telepon sepagi ini?! Apa ada sesuatu...." kata Andik yang sengaja tidak diteruskan.
Terdengar ibu Muawana menghela nafas, mengisyaratkan sesuatu yang tak baik sedang ia hadapi. Firasat hati Andik seketika tertuju pada Hanis, pastilah ia yang menjadikan alasan hingga sepagi itu ibu Muawana menghubungi dirinya.
"Maaf Bu De, apa ada kaitannya sama Hanis?!" tanyanya lagi ragu-ragu.
Terjadi kebisuan sesaat sebelum ibu Muawana membuka mulut, mengutarakan apa yang menjadi ganjalan pikirannya dari kemarin. Tidak terlalu kaget Andik mendengarnya namun ia tidak menyangka kebiasaan buruk Hanis berboros kambuh lagi. Padahal ia mengira seiring dengan melunaknya hati wanita itu, penyakitnya juga berangsur lenyap.
"Kata Hanis, uang itu untuk apa bu De?!" tanya Andik berusaha menjaga nada suara setenang mungkin meski dada sudah terasa memanas.
"Dia bilang buat praktek sama pembelian alat dan perlengkapan praktek ... Tapi masak jumlahnya segitu?! Apa memang kalo sekolah kayak Hanis banyak ngeluarin uang?!" tanya ibu Muawana yang bimbang antara memberikan atau tidak.
"Sebenarnya memang lebih tinggi biayanya jika dibandingkan sama saya bu De tapi saya nggak ngerti ... Setahu saya juga peralatan yang diperlukan juga tidak murah dan tidak mudah didapat, dalam artian tidak bebas diperjualbelikan!" kata Andik berpendapat. Ia tidak ingin menambah keraguan serta menyita pikiran ibu Muawana dengan pendapat yang menjatuhkan Hanis.
Sedikit mendapat pencerahan dari Andik ibu Muawana akhirnya melunak, ia berniat akan mentransfer sejumlah uang seperti yang diminta Hanis. Namun ia memutuskan untuk mentransfer pada rekening Andik bukan pada putrinya. Lewat Andik pula ia meminta mengawasi dan tidak langsung menyerahkan jika selagi tidak jelas.
"Iya, bu De ... Saya mengerti! Uangnya akan saya kasih kalo saya sudah pastikan memang dibutuhkan!" kata Andik berjanji.
Tak begitu lama obrolan itu disudahi, Andik bangun dari duduk lesehannya di teras depan. Kembali, ia memasuki rumah. Sebelum masuk kamar, langkahnya sempat terhenti, ditolehnya pintu kamar Hanis yang tertutup rapat.
"Telepon dari siapa, Dik? Kok pakek pindah segala?!" ujar Ilyas penasaran.
"Yang jelas dari cewek!" sahut Andik dan melempar ponsel ke kasur. Membuat propaganda hati dan pikiran Ilyas.
Minatnya untuk leya-leya menunggu pagi agak terang kandas sudah, Andik melangkah keluar lagi meninggalkan Ilyas yang masih bersantai di atas tempat tidur.
Sewaktu Andik tak terlihat dari pandangan Ilyas yang penasaran tergoda untuk memeriksa ponsel Andik. Dengan amat hati-hati ia mengambil ponsel itu sambil terus menoleh ke pintu kamar, khawatir Andik tiba-tiba muncul.
Sayang sungguh disayang setelah memupuk keberanian ternyata hasil yang didapat tak ada, hanya kekecewaan belaka. Pintarnya Andik menerapkan sandi keamanan pada ponsel sehingga urung Ilyas mendapat rahasia yang tersimpan di dalamnya.
“Sial!” umpatnya kesal.
Dilemparnya ponsel itu ke samping kemudian turun dari tempat tidur, menyusul Andik yang memulai tugas paginya lebih awal. Langsung Ilyas keluar dari ruang tamu, membiarkan pintu terbuka lebar agar udara pagi datang menyapa; membawa kesegaran dan semangat baru bagi penghuni di dalamnya.
"Masih agak gelap gini, masak mau nyapu?! Itu bunga sama tanaman kalau disiram entar menggigil kedinginan!" gumamnya berdiri di tengah teras, mengamati seluk beluk halaman rumah Hasan.
"Kamu kira itu bunga sama tanaman kayak kita, kedinginan jiwa dan raga?!." Tiba-tiba saja Andik menimpali di belakangnya. Sontak Ilyas berpaling ke belakang, mengerutkan dahi serta kedua alis. Jelas ia merasa tidak suka dengan celotehan Andik yang tadi.
"Dasar telinga gajah, mulut beo! Udah sana kerjakan apa yang mau Kamu kerjakan!" sentak Ilyas mengusir Andik.
"Sensitif bener Kamu Yas, pantes nggak ada gandengan orang nggak nyantai itu bawaannya!" balas Andik tidak ingin kalah.
"Nggak usah ceramahin orang! Situ juga nggak jelas!" sahut Ilyas.
"Tuh Kamu dipanggil sama bunga, minta diurus!" sambung Andik kemudian enyah dari sana, meninggalkan Ilyas yang mengomel tidak jelas.
Sebelum memulai ritual kebersihan di pagi hari Andik lebih dulu mengetuk pintu kamar Hanis. Membangunkan wanita itu khawatir masih tertidur sehingga kesiangan membuat sarapan.
"Nis, udah pagi!" panggil Andik agak lantang.
Setelah beberapa kali memanggil akhirnya pintu dibuka juga, mata Hanis terlihat bengkak dan Andik mengira karena habis tidur.
“Sudah sholat?” tanyanya. Hanis mengangguk sekali saja.
"Kalo gitu buruan ke dapur biar nggak kesiangan!" kata Andik dan meninggalkan Hanis yang masih berdiri di tengah pintu.
Berjalan ia ke kamar mandi, mencuci muka sebelum terjun ke dapur tak menunggu Naura turun. Namun baru saja ia membuka kulkas, memeriksa bahan makanan yang tersedia datanglah Naura.
"Masak menu apa ya kita pagi ini?!" tanyanya mengagetkan.
Hanis sontak menoleh, tangan kirinya tetap memegang pintu kulkas dan membiarkan kulkas itu terbuka.
"Kok malah mematung gitu?! Masak apa enaknya pagi ini?!" kata Naura lagi.
"Entahlah Kak ... Aku nggak berselera makan...." ungkap Hanis lemah.
"Nggak berselera?! Apa Kamu kurang enak badan?!" tanya Naura khawatir.
"Nggak Kak," jawab Hanis singkat.
"Lantas?!" sambung Naura sambil berjalan ke arahnya.
Hanis melempar senyum singkat, agak datar pula. Kemudian berucaplah ia dengan suara rendah dan sama datarnya dengan raut wajahnya kala itu.
"Lagi banyak tugas Kak," ucapnya.
"Oh begitu rupanya, emang sih tugas itu bisa bikin stres!" seru Naura menimpali.
Akhirnya mereka memutuskan memasak menu yang mereka anggap sangatlah simpel agar tak berlama-lama di dapur. Toh, juga kaum laki-laki di rumah itu bukanlah orang yang rewel dengan makanan. Apa saja yang tersaji tidak pernah ada komentar, juga tidak pernah tak nampak lahap makannya.
Satu-satu mulai meninggalkan rumah, berangkat kerja. Diawali Andik yang lebih dulu berangkat seperti biasanya, disusul Ilyas barulah Naura. Hanis berangkat paling terakhir, ia menunggu kedatangan Ika di luar pagar rumah.
"Maaf, Nis! Lama nggak nunggunya?!" seru Ika begitu menghentikan motor tepat di depan Hanis.
“Nyantai!” sahut Hanis.
Setelah memasang helm lekas ia naik ke boncengan. Rencananya pagi itu Ika akan mengantar Hanis menggadaikan perhiasannya lagi. Tapi bukan di tempat yang tempo hari.
"Nis, nggak mungkin kamu gadai di tempat yang sama!" seru Ika berpendapat.
"Iya, aku juga mikirnya gitu!" sahut Hanis.
"Ke pegadaian swasta aja ya Nis, lebih cepat juga prosedurnya!" lanjut Ika menjelaskan.
"Aku ikut apa kata kamu Ik," balas Hanis.
Ika terdiam, tidak lagi membuka mulut. Dirinya agak bimbang, juga tak berani untuk bertanya lebih. Setidaknya butuh waktu lama baginya mengumpulkan keberanian.
"Nis, kenapa Kamu nggak lapor polisi aja?! Ini yang kedua dia memeras Kamu ... Pasti ada lanjutannya!" kata Ika yang sebenarnya tidak setuju dengan tindakan Hanis.
Baginya itu bukan menyelesaikan masalah tapi awal dari masalah berkepanjangan yang tak akan usai-usai jika tak dipotong dari akar. Reaksi Hanis masih sama, ia tidak menimpali hanya diam membisu.
Namun di rongga terdalam pikirannya apa yang dikatakan Ika berpengaruh, Hanis memikirkan perkataan Ika tadi akan tetapi ada banyak ketakutan yang masih membelenggu dirinya untuk bertindak, melawan Boy bukan menuruti permainan yang diciptakan. Tak terasa motor berhenti tepat di sebuah kios yang tak kecil juga tidaklah besar. Ada sebuah papan yang bertuliskan pengadaian 'proses cepat'.
"Ayo turun, ini tempatnya!" seru Ika menanggalkan helm.
Hanis lekaslah turun, melepas helm yang dikenakan dan ditaruh di jok motor. Tangan Ika meraih pergelangan tangan Hanis, menyeret masuk wanita itu. Di dalam sana nampak empat orang duduk di kursi tunggu dan semuanya perempuan. Ya, mungkin karena peran perempuan dalam keluarga sangatlah vital, bahkan orang pertama yang mengetahui kondisi keuangan tentulah seorang perempuan. Ia juga yang pertama pikirannya akan berkelebat mencari solusi termasuk datang ke tempat pegadaian jika perlu.
Seorang ibu muda berkerudung biru memberi ruang lebih, bergeser ke samping dan memberi isyarat agar keduanya duduk. Ika menyuruh Hanis duduk lebih dulu kemudian disusul dirinya. Tidak ada obrolan di antara mereka, wajah-wajah berat terpajang dan Hanis termasuk pada jejeran wajah berat itu.
Benar apa yang tertulis di papan spanduk, tidak seberapa lama mereka berdua duduk tibalah giliran mereka. Berhubung sudah mengerti bagaimana proses menggadaikan, Hanis segera mengeluarkan perhiasan dari dalam tas. Petugas wanita yang masih muda menerimanya dan memproses sesuai SOP tempat tersebut.
“Ambil berapa?” tanyanya.
“Maksimal!” jawab Hanis singkat.
----
Di sekolah Andik baru saja menyelesaikan kelas agama yang memang menjadi materi wajib setiap pagi sebelum pelajaran formal dimulai. Bergegaslah ia keluar dari kelas menuju ruang guru.
Sambil duduk di kursi putar ia menyiapkan bahan pembelajaran seperti buku modul dan juga tablet sekolah. Memeriksa kembali materi melalui tablet dan sesekali membuka buku, membuka bab yang akan diajarkan.
Dalam keseriusan itu tiba-tiba ponselnya berbunyi beep, menandakan sebuah chat atau mungkin pemberitahuan masuk. Andik melirik ke ponsel yang tergeletak di meja, lalu tangan kirinya bergerak ke samping dan menyambar ponsel itu.
"Bu De?!" gumamnya saat membuka riwayat notifikasi.
Pandangan Andik hanya tertuju pada satu chat tersebut, untuk yang lain ia abaikan begitu saja. Namun saat ia mengetahui isi chat, kedua alisnya rangset menyatu.
"Cepat banget Bu De ini," guman Andik. Nampak serius ia duduk di meja kerja, mengecek akun rekening melalui mobil banking.
Di tempat lain setelah mengirim sejumlah uang ibu Muawana juga tidak lupa mengirim pesan pada puterinya, Hanis. Kala itu Hanis sudah di jalan bersama Ika, mendengar suara notifikasi tangan Hanis cakatan mengeluarkan ponsel. Senyum sempat terjalin manakala mendapati chat berasal dari ibunya sendiri namun senyum itu musnah seketika manakala membaca isi chat. Sungguh ia kecewa pada sang ibu namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Hanis membiarkan chat terbaca, tak berniat membalasnya. Pikirannya semakin buntu saja terasa, memikirkan bagaimana caranya bicara sama Andik. Meminta uang yang dikirim ibunya tanpa banyak pertanyaan, apalagi perdebatan.
"Ika," ucap Hanis rendah.
"Emm...." Sahut Ika fokus berkendara.
"Kalo kakakku nanti nanya-nanya soal uang tolong dijawab buat praktek gitu ya?!" pinta Hanis memohon.
"Loh kok kakakmu bisa tahu kamu lagi butuh uang?!" balas Ika malah bertanya.
"Itu ... Ibuku malah ngirim uang ke dia...." ungkap Hanis datar.
"Oh ... Tenang aku bakal bantu Kamu!" sahut Ika melegakan pikiran Hanis.
Setibanya di kampus setelah memarkir motor, dua orang itu terpisah di lorong kedua menuju kelas mereka masing-masing. Hanis menuju ruang lab praktikum sedangkan Ika ke kelas materi.
----
Di lantai tiga butik, Angga yang baru saja keluar dari ruang kerja Naura langsung memanggil Iwan dan Edo menghadap. Duduk ia di kursi singgasana menunggu dua laki-laki itu datang.
"Kalian ini gimana sih ... suruh kabari aku dapat tidaknya malah sampai sekarang nggak ada kabar!" semprot Angga memarahi keduanya.
"Ya Allah ... Maaf Pak, beneran lupa!" seru Edo sejujurnya.
"Kalo Kamu apa alasannya?! Lupa juga?!" sambung Angga menyindir Iwan.
Iwan tidak menjawab ia malah tertunduk, Angga memperhatikannya. Dalam beberapa detik terdiam kepala Iwan terangkat perlahan, mulutnya juga berucap meski rendah terdengar.
"Ada Pak teman saya tapi...." kata Iwan tidak diteruskan.
"Tapi kenapa?!" tanya Angga mendesak.
"Saya belum hubungi dia ... Soalnya anaknya itu cinta banget sama itu jenggot!" ungkap Iwan.
"Coba Kamu hubungi dulu ... Siapa tahu dia bersedia!" timpal Angga memerintah.
Lepas dari itu mereka diminta kembali ke meja kerja masing-masing. Iwan segera melaksanakan perintah Angga, agar tidak mengganggu yang lain ia mengirim chat pada temannya tersebut. Sayang, chat yang dikirim tidak langsung terbaca apalagi dibalas.
Di siang itu juga Hanis sudah berada di rumah, ia tengah menggarap tugas kampus kala telepon berdering. Nampak muka Hanis tidak suka kala melihat nomor kontak yang tidak tertera menghubungi.
"Apalagi sih ini cowok maunya?!" guman Hanis tapi mengangkatnya.
"Iya apa?!" kata Hanis ketus.
Dengan santainya Boy menjawab perkataan ketus Hanis, "Sekedar ngingetin, jangan lupa besok pagi jam sepuluh aku tunggu Kamu!" kata Boy slengean.
"Nggak usah diingatkan aku juga ingat!" sahut Hanis dan memutuskan sambungan.
Dilemparnya ponsel itu ke kasur sementara dirinya tengah duduk menatap layar laptop di meja belajar. Baru beberapa menit kembali fokus pada garapan ponsel berdering lagi. Hanis tidak berniat mengangkat, ia abaikan begitu saja. Terus ponsel itu berdering, seakan tak mau senyap sebelum dijawab.
Hanis yang kesal bangkit dari kursi, melangkah cepat dan menyambar ponsel. Langsung panggilan itu ia terima tanpa mengecek nomor kontak si pemanggil.
"Apa sih gangguin aku terus?!" sentak Hanis kesal.
"Hanis," sahut si penelepon yang tak lain itu adalah Andik.
Hanis tersentak kaget, dadanya yang panas akibat menahan kemarahan berangsur mendingin; gugup juga ada. Suaranya yang tadi kasar melengking berubah rendah setengah datar.
"Kakak...." seru Hanis melunak suaranya.
"Kenapa Kamu marah-marah tadi? Apa ada yang gangguin Kamu?!." Andik merasa tidak tenang pikirannya.
"Ah bukan apa-apa cuma kesal sama orang aja," sahut Hanis enggan membicarakan hal lain.
"Iya, siapa orang itu?!" desak Angga bertanya lagi.
"Oh ... Kakak kenapa nelfon aku?!." Hanis malah balik bertanya, mengganti tema pembicaraan.
Tentu Andik tidak puas tapi ia tidak ingin terlibat perdebatan apalagi ketara jika Hanis enggan membahasnya. Andik mengalah, ia menjawab pertanyaan yang tadi. Lega hati Hanis lantaran Andik tidak meneruskan.
"Itu ... Kamu masih di kampus?!" tanya Andik. Ia berniat mengajak Hanis keluar sekaligus mencari tahu mengenai uang yang diminta. Ia juga berniat menyerahkan uang itu nanti.
"Nggak, aku di rumah ... Aku cuma ada dua materi saja tadi pagi!" jawab Hanis sebenarnya.
Senyum Andik terjalin, puas hatinya mendapati rencana yang ia susun di otak menemukan kemudahan. Cepat-cepat ia bersuara lagi, menyuruh Hanis berdandan karena sebentar lagi ia akan menjemput wanita itu.
"Buruan Kamu dandan yang cantik ... Ayo kita keluar!" ajak Andik terdengar bersemangat.
Sebaliknya Hanis tidak bersemangat akan tetapi tidak tega ia menolak ajakan itu, apalagi mendengar suara senang Andik. Dengan terpaksa ia menerima ajakan Andik.
"Iya Kak," jawabnya singkat dan menutup panggilan.
Tugas yang masih belum terselesaikan ia tinggalkan, mematikan laptop tersebut dan keluar dari kamar. Tidak berlama-lama ia berada di kamar mandi membersihkan diri khawatir Andik keburu nongol dan bosan menunggu dirinya yang bersiap-siap.
Sebelum berdandan Hanis sholat dulu, mengingat waktu sholat sudah lewat dari separuh. Selepas sholat ia pun menyelinap masuk ke kamar dan berdandan segera.
Benar juga dugaannya, tak berselang lama Andik tiba. Sama dengan Hanis ia langsung bersiap diri juga, mandi kemudian berdandan ala kadarnya saja. Setelah memastikan penampilan rapi Andik keluar segera, ia tidak mengetuk kamar Hanis melainkan menunggu di ruang keluarga. Duduk santai sambil memainkan ponsel.
Hanis belum menyadari kedatangan Andik, ia mengira laki-laki itu masih dalam perjalanan pulang. Sesudah bersiap-siap ia keluar dari kamar, niat hati menunggu laki-laki itu di teras depan. Namun saat pintu terbuka, kaget ia melihat penampakan Andik di kursi ruang keluarga.
"Kakak! Kapan pulangnya?!" seru Hanis berdiri di tengah pintu.
Andik mendongak, mengalihkan pandangan ke Hanis yang terbujur kaku di tengah pintu kamar. Senyum manis diberikan Andik sebelum mulutnya angkat bicara; terkesima ia dengan penampilan cantik Hanis. Ingin ia memuji tapi urung, tidak ingin membuat Hanis merasa di atas awan.
"Sudah dari tadi ... Ayo buruan aku lapar!" ucap Andik dan berdiri dari kursi.
Disambarnya tas selempang warna coklat dan juga kunci motor yang tergeletak di meja. Langkah cepat kaki Andik mendatangi Hanis yang berdiam diri di depan pintu kamar membuat jantung Hanis kembut-kembut antara bahagia dan juga tegang.
Teringat dengan chat dari Boy otaknya segera memerintah Hanis untuk mengamankan ponsel. Khawatir laki-laki itu nantinya akan mengecek ponsel meski Andik bukan tipikal orang yang seperti itu.
"Mau keluar kemana kita, Kak?!" tanya Hanis saat Andik berdiri di hadapannya dan mendaratkan tangan kanannya ke pundak Hanis.
"Kemana aja asal bisa menghabiskan waktu berdua," jawab Andik yang memang belum memiliki tempat yang dituju.
"Oh...." seru Hanis, ikut melangkah.
Andik membawa Hanis ke sebuah mall, di sana mereka nongkrong di sebuah kafe tarian sambil menyantap makan siang. Sepanjang bersama dengan Andik wanita itu berusaha bersikap santai, mengimbangi Andik yang juga santai bawaannya, perhatian juga.
"Oh iya Nis, Bu De mengirim uang ke aku ... Katanya Kamu minta ditransfer!" kata Andik mulai menampakkan maksudnya mengajak keluar.
Seketika itu dada Hanis berdesir, tegang dan gugup bercampur jadi satu. Raut wajahnya yang tadi kalem kini berangsur layu mengikuti kekalutan hati dan pikiran. Ia tidak langsung merespon melainkan menyeruput jus semangka yang tadi ia pesan.
Perubahan sikap Hanis yang kentara meski sudah berjuang ditutupi tak ayal menyita perhatian Andik. Kendati di luar ia tetap berusaha tenang dan santai, otaknya tidak berhenti berpikir; menerka-nerka.
"Praktek apa, Nis?!" tanyanya tidak niat tapi cukup membuat Hanis kebingungan.
"Percuma Kakak nggak bakal ngerti kalo aku jelasin," cap Hanis akhirnya memberi jawaban.
"Paling tidak kan ngerti gitu, kalo ibu mu nanya kan aku bisa ngasih jawaban," sahut Andik menanggapi.
"Itu askep kelahiran bumil resti," kata Hanis sengaja memberi istilah yang tidak dimengerti dengan tujuan mematahkan keingintahuan Andik.
Sayang, predeksi itu keliru. Andik memang tidak mengerti namun ia justru antusias untuk mengetahui istilah medis tersebut.
"Askep kelahiran bumil resti? Apa itu maksudnya?!" lanjut Andik meminta penjelasan.
Hanis menghela nafas, lagi-lagi ia menyeruput jus semangka sebelum memberi penjelasan pada Andik yang dengan sabarnya menunggu penjelasan keluar dari mulut Hanis.
"Askep itu maksudnya asuhan keperawatan ... Kalo bumil itu maksudnya ibu hamil sementara resti maksudnya resiko tinggi," kata Hanis menerangkan.
"Oh ... Resiko tinggi itu contohnya gimana?!" lanjut Andik semakin melebar.
"Kakak!" protes Hanis enggan menjelaskan.
"Loh kenapa? Nggak boleh tahu juga aku?! Hitung-hitung sambil nunggu makanan datang!" sahut Andik masih tenang bawaannya.
"Resiko tinggi itu kayak ngalami pendarahan, kejang waktu proses kelahiran, ketuban pecah, badan bengkak, darah tinggi dan lainnya!" kata Hanis menerangkan meski tidak setulus hati.
"Oh ... Apa Kamu sudah praktek bantu kelahiran?!" tanya Andik masih berlanjut.
"Ya iyalah, sekolahku kan soal itu!" jawab Hanis tidak senang mendapat pertanyaan terus.
Untungnya makanan yang dipesan datang, serasa tertolong saja Hanis. Ia tidak lagi bersuara namun menarik piring mendekat dan mulai menggerakkan sendok serta garpu; menikmati makan siangnya.
Suasana hening itu setidaknya berlangsung cukup lama hingga makanan di piring keduanya kosong. Setelah mengisi perut dan duduk sebentar menurunkan makanan hingga ke tempat yang benar Andik meraih tangan Hanis di atas meja.
"Ayo!" ajaknya membimbing Hanis berdiri.
Dengan patuh Hanis mengikuti, tapi dalam kepalanya ia memutar otak bagaimana meminta uang itu pada Andik sekarang.
"Hanis, Kamu nggak pengen beli sesuatu? Baju mungkin? Kerudung atau bedak gitu?!" seru Andik menawarkan.
Hanis menggeleng, baginya semua itu sudah tidak penting lagi asal bisa mendapat uang yang diminta Boy dirinya bisa bernafas tenang sementara waktu. Terus mereka berkeliling mall sambil melihat-melihat apa yang terlintas di mata mereka.
Tak sengaja Andik menangkap sebuah toko busana wanita. Hanis yang suka mengenakan tunik serta Hem menurutnya tidak akan menolak jika dibawa ke toko itu. Tanpa bicara sepatah kata pun Andik menyeret Hanis memasuki toko.
"Kok kita masuk ke sini?!" tanya Hanis memprotes.
"Lantas kalo masuk ke sini tujuannya apa?!" Andik balik bertanya.
Hanis terdiam, ia menundukkan muka menyembunyikan kebahagian yang terusik kesedihan. Cukup terharu juga hatinya, ingin rasanya ia memeluk Andik saat itu juga. Menumpahkan air mata dan berbagi masalahnya pada laki-laki itu. Namun ketakutan akan Andik berpaling darinya menahan wanita itu untuk tetap diam.
Tangan Andik menarik Hanis lebih merapat, sembari berjalan melihat-lihat ia berucap rendah.
"Jangan diam gitu, pilih yang mana yang Kamu suka," kata Andik semakin menambah sembilu di hati Hanis.
"Kakak...." ucapnya, mendongak agar bisa melihat Andik.
"Emm...." guman Andik menatap Hanis.
Tatapan itu tak urung menambah kegundahan hati Hanis, ia yang berkecamuk dengan persoalannya sendiri akhirnya meminta Andik memilihkan baju yang bagus untuknya.
"Aku pengen tahu pilihannya Kakak," kata Hanis, tersenyum tipis.
"Beneran?!" sahut Andik. Hanis mengangguk pelan.
Karena sudah diberi kesempatan Andik pun mulai mengamati setiap busana yang digantung, juga yang terpasang di patung. Seorang karyawan toko mendatangi, membantu Andik menemukan busana yang menarik hatinya.
Hasil dari pengamatannya Andik menjatuhkan pilihan pada baju blouse bukan tunik, ia memilih blouse berbahan licin namun jatuh, juga adem dan tebal dengan model syal leher dimana syalnya merupakan kombinasi warna biru dan putih. Ada tali kecil di ujung kerah bertujuan agar syal itu tetap rapi. Sementara untuk lengannya yaitu lengan panjang, ada lipatan sederhana dan juga variasi yang senada dengan syal leher. Tidak hanya atasan yang Andik beli, laki-laki itu cukup pintar. Mungkin lantaran tiap hari memperhatikan gaya berbusana Naura sehingga ia bisa memadu padankan hasil pengamatannya tersebut.
Sebuah celana model baggy warna abu-abu ia pilih, namun sebelum menjatuhkan pilihan ia tidak sungkan bertanya ukuran celana Hanis. Dengan semangat Andik melangkah ke kasir, membayar apa yang ia beli dan menyerahkan kantong tas pada Hanis.
"Kak, pulang yuk!" kata Hanis yang tidak bersemangat lagi.
"Yakin?!" seru Andik.
"Emm..." sahut Hanis.
Dalam perjalanan pulang, Hanis yang memang sedari tadi memupuk keberanian akhirnya berucaplah ia, menyinggung uang yang dikirim oleh ibunya.
"Kak," ucap Hanis ragu.
"Em...." sahut Andik.
"Kak, uangnya ... Aku ambil besok ya...." ucap Hanis.
"Ok terserah Kamu," sahut Andik.
Senyumnya mengembang seketika itu, Hanis yang tadi menjaga jarak dan sama sekali itu menyentuh Andik kini kedua tangannya malah bergerak, melingkar ke perut Andik. Tentu gerakan tiba-tiba itu membuat pandangan Andik teralihkan, turun ke bawah melihat kedua tangan Hanis yang melingkar ketat.
"Dasar wanita, kalo keinginannya tercapai barulah ngasih perhatian," batin Andik berucap.
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura