Follow IG-Airlangit9
Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perseteruan berakhir penyesalan
Tiba di ruang rawat ibunya, Kirana melihat sang ibu sedang bercakap-cakap dengan Daniel. Ia langsung berlari menghampiri ibunya.
"Mama tak apa?" tanya Kirana khawatir.
Dilbara memaksakan senyuman. Tangan kanannya yang dipasang infus terulur pada wajah putrinya. Ia menghapus air mata putrinya itu.
"Mama, harus sembuh. Sebenarnya apa yang Mama pikirkan, sih? Hidup itu ya dibawa santai."
Daniel langsung memukul lengan adik perempuannya itu.
"Kamu datang sama kakak iparmu, Nak?" tanya Dilbara dan melihat ke arah belakang punggung Kirana.
Ditatap Nyonya besar, Dilara yang berdiri dekat kamar mandi langsung menunduk.
"Sini, Nak Dilara!" Tangan Dilbara melambai lemah.
Melihat sikap sang ibu pada Dilara, Daniel sedikit heran. Seolah dua perempuan itu sudah kenal lama.
"Saya, Nyonya?" Dilara menunjuk dirinya sendiri.
Dilbara mengangguk dan tersenyum.
Malu-malu, Dilara menghampiri ranjang rawat ibunya Daniel itu kemudian menarik kursi dan duduk di samping Kirana.
"Bagaimana kalian bisa berdua?" Dilbara menatap Kirana dan Dilara bergantian.
"Kami memang sudah dekat, Ma. Saya suka kakak ini."
Daniel membulatkan matanya, dan memelototi adiknya itu. Kirana balas memelototinya. "Apa? Kau! Saya memang suka pada Kakak ini, dia baik tak sepertimu." Dengan bangganya Kirana memeluk lengan atas Dilara membuat gadis berkerudung hitam itu tersenyum malu.
"Oh, syukurlah. Mama juga suka sama Nak Dilara, ini."
"Mama ngomong apa, sih?" Daniel jadi merasa kesal. Sekilas ia melirik Dilara yang tampak menundukkan kepala tapi cengengesan.
"Katanya Mama tadi pingsan kena serangan jantung, bagaimana bisa terjadi, Ma?" Pertanyaan Kirana menarik kewarasan Daniel, ia kembali mengalihkan perhatian kepada sang ibu.
"Mungkin Mama dehidrasi, pandangan Mama berkunang-kunang saat tadi siang berjalan ke kamar mandi. Tubuh Mama lemas sekali, dan di dada kiri tiba-tiba sakit."
"Sekarang masih sakit dada kiri Mama?" tanya Kirana cemas.
Dilbara mengangguk. "Mama bersyukur, masuk rumah sakit ada hikmahnya."
"Kok bersyukur, Ma? Kami khawatir setengah mati." Daniel langsung mendengus kesal.
"Karena mendengar Mama masuk rumah sakit, putra Mama ini akhirnya mau menjenguk Mama." Dilbara tersenyum tipis menatap Daniel.
Daniel menundukkan kepalanya merasa malu. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Begitulah Kakak yang durhaka ini bersikap kekanak-kanakan. Kehilangan orang yang disayangi baru tahu rasa dia."
"Sttt, diam cerewet." Daniel melotot.
Dilbara tersenyum senang, hatinya bahagia orang-orang yang dicintainya berkumpul.
"Tapi ... ayah di mana, Ma?" tanya Kirana.
"Laki-laki itu hanya datang sebentar, katanya sibuk." Daniel yang menyahut.
"Sudahlah, tak usah dibahas, ayah memang sibuk, bukan?" Dilbara berusaha menengahi suasana. Ia tak suka suasana bahagia itu rusak oleh mood tak baik putranya.
"Kalau begitu, saya pamit pulang, Nyonya." Merasa tak enak berada di antara keluarga orang lain, Dilara pun pamit pulang.
Dilbara meraih tangan gadis berkerudung itu dan tersenyum lembut kepadanya. "Terima kasih, ya, Nak. Sudah menjenguk saya."
"Sama-sama, Nyonya." Dilara kemudian berdiri.
"Jangan panggil Nyonya, panggil Mama."
Daniel dan Dilara langsung terkejut kemudian sama-sama saling memandang sebentar.
"Kenapa?" Dilbara menahan senyum menatap Dilara dan wajah putranya bergantian.
"Tidak, Mama, terlalu berlebih-lebihan." Daniel menyahut dan memberikan isyarat mata pada Dilara agar lekas pergi dari ruangan ibunya.
"Kalau begitu, saya pergi. Assalamualaikum." Dilara pun membalikkan badan dan pergi dari ruangan itu.
***
Hari-hari berlalu
Dilbara bukannya membaik, kondisinya malah semakin lemah. Bastar yang terbiasa menyibukkan diri di kantor pun tak biasanya datang dan menemani sang istri hari itu.
"Kamu ini sebenarnya memikirkan, apa, sih?" Lama-lama Bastar merasa jengkel melihat istrinya yang tampak selalu melamun. Seolah seluruh beban dunia dipikulkan padanya. "Kamu masih memikirkan ahli waris utama? Masa depan anak-anak? Bukan berarti Daniel dan Kirana tak dapat apa-apa, istriku."
Dilbara tak menyahut, pandangan kosongnya tertuju ke luar jendela.
"Jika Daniel meminta saya untuk menempatkannya di salah satu cabang perusahaan, itu bukanlah hal yang sulit. Tetapi anak itu malah memulai bisnisnya sendiri. Animasi.Corp. Perusahaan apaan? Film animasi, komik animasi, kaya anak kecil saja."
Mendengar pekerjaan Daniel direndahkan, Dilbara tersinggung. "Kamu meremehkan putramu, ha?"
"Iya, usaha dia tak jelas."
"Kamu benar-benar ayah yang kejam. Bahkan kamu tak tau bagaimana Daniel tumbuh. Semenjak SMA dia menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan kartun animasi. Bersama kawan kuliahnya dia meluncurkan aplikasi menulis dan hidup mandiri dari penghasilan tersebut."
"Ya, dia selalu bertingkah seolah tak diberikan uang nafkah oleh saya sebagai ayahnya."
"Sudah cukup, jika ke mari hanya untuk menjelekkan Daniel, kamu pergi saja. Malah menambah beban pikiran saya." Dilbara memegang dadanya, matanya berkaca-kaca.
Bastar berdecak kesal. "Setiap saya berbicara selalu salah di matamu."
"Makanya jangan asal bicara, Mas."
"Terus saya harus diam, bisu? Hanya sekadar mengeluarkan pendapat tentang Daniel saja, kamu marah tak karu-karuan."
"Sejak Daniel kecil kamu selalu memarahinya, memukulnya dan menghukumnya, wajar saja dia seperti itu. Menjauhimu. Kepada Said saja kamu lembut dan baik."
Bastar menghela napas panjang. "Sudah ... saya ke mari bukan untuk berdebat. Lekaslah kamu sembuh."
"Bagaimana saya akan sembuh jika sikapmu begitu?" Dilbara berkata nyaris tak terdengar.
Bastar mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan sikapku?"
"Kamu pun tak menyadarinya, sudahlah, saya sudah lelah berdebat dengamu."
Lelaki tua itu geleng-geleng kepala, mengapa perempuan itu sulit di mengerti, olehnya?
Saat itu, Daniel dan Kirana masuk dan duduk di sofa depan televisi.
"Daniel, jika kamu ingin menggantikan kepemimpinan ayah, tak seharusnya kamu bersikap kekanak-kanakan seperti itu?"
Wajah Daniel langsung masam, sedangkan Kirana dan ibunya membuka mulut. Baru saja anak lelakinya tiba, Bastar malah menyambutnya dengan perkataan menyinggung.
"Seharusnya kamu mempersiapkan diri sebagai pemimpin dengan mempelajari buku-buku kepemimpinan perusahaan. Bukannya berkutat dengan tumpukan komik, film cartoon, penulis. Kamu bukan anak kecil."
"Mas, apa yang kamu bicarakan?" Dilbara hampir menangis.
"Apakah saya pernah meminta mau menjadi penggantimu di perusahaan?" Dani berkata datar membuat suasana mendadak tegang.
"Sikap dan perilakumu jelas menunjukkan begitu!" Bastar menaikkan nada bicaranya.
"Pikiranmu terlalu sempit, Tuan Bastar."
"Kurang ajar." Rahang Bastar mengeras.
"Ayah sama Kakak, tidakkah kalian melihat kondisi jika ingin bertengkar?" Kirana berkata hampir menangis. "Perilaku kalian berdua membuat Mama kepikiran."
"Diam Kirana! Lelaki tua itu sedari dulu tak pernah menghargai Mama. Hanya istri pertamanya yang ada di hatinya. Dia menikahi Mama hanya untuk menjadi pengasuh Said yang masih bayi."
"Said, berhenti, Nak!" Dilbara tak kuasa lagi membendung air matanya.
"Mama, kamu, dan saya hanya sebagai pengisi waktu luangnya jika dibutuhkan."
Pandangan anak lelaki dan ayahnya itu sama-sama membara.
Dilbara menangis tersedu-sedu sambil memegang dada. Beberapa detik kemudian ia terkulai pingsan. Mendadak ketegangan antara ayah dan anak lelakinya itu mencair berganti rasa khawatir dan panik.
"Mama!" Kirana berteriak-teriak dan berlari keluar ruangan, sedangkan Daniel menekan tombol darurat yang tergantung di atas kepala ibunya berulangkali.
****
Hay pembaca baik hati, jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya, agar author semakin semangat update-nya 😍