Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Yang Dibuat Dita
Dua minggu setelah Galang mendekam di balik jeruji besi, Dita mencapai titik terendah dalam hidupnya. Sisa uang di dompetnya hanya cukup untuk membayar taksi dan beberapa kali makan di warung pinggiran. Apartemen mewah sudah disita, teman-teman sosialitanya memblokir nomornya, dan ia kini tinggal di sebuah kamar kos sempit yang pengap ingin kembali ke rumah orang tuanya ia sudah tidak memiliki muka lagi.
Namun, di tengah keputusasaannya, sebuah ide licik muncul. Matanya tertuju pada Galih, putranya yang baru berusia lima tahun, yang sedang duduk murung di sudut kamar sambil memegang mainan robot yang sudah patah.
"Galih, kamu kangen mama Arini?" tanya Dita dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Anak kecil itu mendongak, matanya berbinar sesaat. "Kangen, ma. Mama Arini baik, selalu kasih Galih cokelat, es krim dan buku gambar. Kapan kita pulang ke rumah mama Arini lagi?"
Dita tersenyum getir. Ia tahu Arini dulu sangat menyayangi Galih. Sebelum rahasia pernikahan itu terbongkar, Arini sangat menyayangi Galih karena dia belum memiliki anak sendiri. Dita yakin, hati Arini yang lembut tidak akan sanggup menolak seorang anak kecil yang memohon.
"Hari ini kita akan menemui mama Arini. Tapi Galih harus bantu Mama, ya? Galih harus bilang kalau Galih mau tinggal sama mama Arini. Galih harus menangis kalau perlu, minta Tante jangan buang kita. Oke?"
Galih, yang belum mengerti kerumitan dunia orang dewasa, hanya mengangguk patuh. Baginya, Arini adalah sosok hangat yang jauh lebih tenang daripada ibunya yang sering marah-marah sejak ayahnya dipenjara.
Keesokan harinya, Dita membawa Galih ke kantor pusat Samudera Group. Ia sengaja tidak mendandani Galih dengan baju mahal. Ia memilihkan kaos yang sedikit kusam agar terlihat memprihatinkan. Dita sendiri hanya memakai riasan tipis, mencoba membangun citra sebagai ibu yang rapuh.
Ia menunggu di lobi selama berjam-jam hingga akhirnya sosok yang ditunggu muncul. Arini keluar dari lift eksekutif, bersama Kevin yang baru saja membicarakan kerja sama dan dua pengawal. Ia tampak bersinar, mengenakan setelan kerja berwarna putih gading yang memancarkan otoritas.
"Arini! Tunggu!" teriak Dita sambil menarik tangan Galih, menerobos barisan keamanan lobi.
Langkah Arini terhenti. Ia menoleh, matanya yang tajam di balik kacamata hitam menatap sosok Dita dengan dingin. Kevin segera pasang badan, namun Arini mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Kevin membiarkan mereka mendekat.
"Mau apa lagi, Dita? Belum cukup hukuman yang diterima Galang?" tanya Arini datar.
Dita langsung bersimpuh di lantai marmer yang dingin, mengabaikan tatapan sinis dari para karyawan dan pengunjung kantor. "Rin, aku mohon... aku tidak minta apa-apa untuk diriku. Tapi lihatlah Galih. Dia tidak punya salah apa-apa. Galang dipenjara, aku tidak punya pekerjaan. Galih merindukanmu, Rin. Dia selalu memanggil namamu."
Dita menyikut lengan Galih. Sesuai instruksi, Galih maju dengan wajah ketakutan. "Mama Arini... Galih takut di rumah yang sekarang kecil dan bau. Galih mau ikut mama. Mama masih sayang Galih, kan?"
Suara kecil Galih bergema di lobi yang luas itu. Beberapa orang yang lewat mulai berbisik, merasa iba melihat anak sekecil itu memohon. Dita merasa di atas angin, ia yakin Arini tidak akan berani menolak di depan umum karena akan merusak citranya sebagai pengusaha wanita yang humanis.
Arini melepas kacamata hitamnya. Ia berlutut sejenak agar sejajar dengan tinggi Galih. Untuk sesaat, suasana menjadi sunyi. Dita sudah bersiap-siap mengeluarkan air mata kemenangan.
Namun, Arini tidak memeluk Galih. Ia hanya menatap anak itu dengan tatapan kosong, seolah melihat sebuah benda asing.
"Galih," ucap Arini pelan namun tegas. "Mama pernah menyayangimu karena mama pikir kamu adalah anak dari orang asing yang butuh bantuan. Tapi sekarang mama tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah bukti dari setiap kebohongan yang dibuat ayahmu dan ibumu selama bertahun-tahun di belakangku."
Arini berdiri kembali, menatap Dita yang masih bersimpuh.
"Kau menggunakan anakmu sendiri sebagai senjata untuk kembali ke hidup mewah, Dita? Rendah sekali," ejek Arini. "Kau pikir aku akan luluh? Kau pikir aku akan mengadopsi anak dari pria yang mencoba menghancurkan hidupku dan wanita yang tidur dengan suamiku?"
"Rin, tapi dia anak kecil! Dia tidak berdosa!" seru Dita histeris.
"Benar, dia tidak berdosa. Yang berdosa adalah orang tuanya yang menjadikannya bidak catur dalam permainan busuk ini," balas Arini tanpa ragu. "Jangan bicara soal kemanusiaan kepadaku setelah apa yang kalian lakukan. Jika kau benar-benar menyayanginya, carilah pekerjaan halal, cuci piring atau jadi buruh cuci, daripada mengajari anakmu merengek di lobi kantor orang."
Arini berpaling kepada pengawalnya. "Panggil keamanan. Pastikan mereka tidak pernah bisa masuk ke radius seratus meter dari gedung ini lagi. Jika mereka kembali, laporkan atas gangguan ketertiban umum."
"Arini! Kamu kejam! Semua orang melihatmu! Kamu tidak punya hati!" teriak Dita saat petugas keamanan mulai menyeretnya berdiri.
Arini berhenti sejenak, menoleh sedikit ke arah kerumunan wartawan dan karyawan yang menonton. "Kalian ingin tahu kenapa aku menolaknya? Karena menerima anak ini berarti membiarkan benih pengkhianatan tetap tumbuh di dekatku. Aku sudah membersihkan hidupku, dan aku tidak akan membiarkan kotoran itu kembali, sekecil apa pun bentuknya."
Dita dan Galih diusir keluar gedung seperti sampah. Di pinggir jalan raya yang bising, Dita jatuh terduduk, menangis sejadi-jadinya. Bukan karena kasihan pada Galih, tapi karena ia tahu pintu menuju kekayaan telah tertutup rapat untuk selamanya. Galih hanya berdiri di sampingnya, bingung dan ketakutan, menyadari bahwa "Mama Arini" yang dulu hangat kini telah berubah menjadi orang asing yang sedingin es.
Sementara itu, di lantai teratas Menara Samudera, Arini duduk di kursinya yang empuk. Ia menatap pemandangan kota dari jendela besar. Kevin masuk membawa secangkir teh hangat.
"Apa kamu baik-baik saja, Rin? Tadi itu cukup... wow," tanya Kevin hati-hati.
Arini menyesap tehnya, wajahnya tampak sangat tenang. "Aku merasa lega, Vin. Selama ini ada bagian kecil dari diriku yang merasa bersalah pada anak itu. Tapi hari ini aku sadar, melepaskan Galih adalah cara terbaik untuk melindungiku dan juga untuk mendewasakan dia. Dia harus tahu bahwa dunia tidak berputar hanya dengan rengekan."
Arini meletakkan cangkirnya dan membuka sebuah map rencana proyek baru di Kalimantan. Tidak ada lagi foto Galang, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu.
"Galang di penjara, Dita di jalanan. Para penghianat sudah di bersihkan," gumam Arini pada dirinya sendiri.
Kini, Arini hidup dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri, kesunyian yang mahal dan damai. Ia tidak lagi mencari cinta atau validasi dari pria mana pun. Baginya, Samudera Group adalah anak yang akan ia besarkan, dan kesuksesan adalah satu-satunya bahasa yang ia gunakan untuk berbicara pada dunia.
Di bawah kepemimpinannya, perusahaan itu melesat lebih tinggi dari yang pernah dibayangkan siapa pun. Arini bukan lagi sekadar nama seorang wanita, ia telah menjadi icon tentang bagaimana sebuah pengkhianatan tidak menghancurkan seseorang, melainkan menempa mereka menjadi baja yang tak tertembus. Ia hidup tenang, fokus pada karier, dan membiarkan masa lalunya membusuk di tempat yang seharusnya, di balik jeruji besi dan di pinggiran jalan yang berdebu.