Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes Kehamilan dan "Misi Khusus" Sang Mantan Murid
Kebahagiaan di Anyer rupanya membawa angin baru yang jauh lebih ramai—dan sedikit kacau—di kediaman Kian dan Maya sekembalinya mereka ke Jakarta.
Jika dulu Kian dikenal sebagai pengusaha dingin yang serba teratur dan protektif saat menghadapi musuh, kini protektifnya berubah menjadi tingkat yang sangat ekstrem, posesif, sekaligus menggelitik.
Pagi baru saja menyingsing, namun rumah dua lantai itu sudah diwarnai kehebohan kecil.
Maya yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya menghela napas pasrah begitu melihat sosok suaminya. Kian berdiri di samping tempat tidur, masih mengenakan celana piyama dan kemeja santai yang kancing atasnya terbuka, tetapi tangannya memegang sebuah nampan berisi dua gelas, satu piring buah potong, dan selembar kertas yang penuh tulisan tangan.
"Mas Kian... ini masih jam enam pagi," bisik Maya seraya menatap nampan itu heran.
"Justru itu, Bu Guru," ujar Kian dengan raut wajah sangat serius raut wajah yang biasanya ia gunakan saat memimpin rapat direksi puluhan miliar. "Mulai hari ini, jadwal nutrisi dan aktivitasmu resmi disesuaikan. Ini jus alpukat tanpa gula, ini susu hamil khusus trimester pertama, dan ini daftar hal yang dilarang kamu lakukan selama sembilan bulan ke depan."
Maya mendekat, menyipitkan mata membaca lembaran kertas yang disodorkan Kian:
ATURAN EMAS KEHAMILAN MAYA :
1, Dilarang berjalan terlalu cepat (kecepatan maksimal: jalan santai).
Dilarang mengangkat barang lebih berat dari 500 gram (termasuk tas laptop).
Dilarang mengajar di yayasan lebih dari dua jam sehari (Kian akan mengawasi langsung dari mobil).
Jika ingin sesuatu jam dua pagi, Kian WAJIB dibangunkan (tidak boleh mengambil sendiri ke dapur).
Maya tak tahan lagi untuk tidak menyemburkan tawa. Ia menatap suaminya yang berdiri tegap menanti penilaian, persis seperti murid yang sedang menyerahkan tugas rumah pada gurunya.
"Mas... kamu ini bikin aturan kehamilan atau regulasi perusahaan, sih?" goda Maya, menyilangkan tangan di dada seraya menatap Kian dengan binar mata yang jahil. "Aturan nomor dua... barang tidak boleh lebih dari 500 gram? Berarti Mas Kian tidak boleh aku peluk, dong? Kan berat Mas lebih dari 70 kilogram?"
Kian terkekeh pelan, menyeringai tampan seraya meletakkan nampan di atas meja rias. Tanpa memedulikan lirikan gembira istrinya, Kian melangkah maju, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Maya dan merapatkannya tanpa batas.
"Kalau dipeluk istri sendiri, hukum fisika dan aturan itu tidak berlaku," bisik Kian di telinga Maya, menyalurkan kehangatan yang membuat pipi Maya mendadak merona merah. "Lagipula, muridmu ini kan cuma mau dapat nilai sepuluh sempurna lagi dalam ujian jadi ayah dua anak."
"Nilaimu sudah tak terhingga, Mas. Tapi kalau posesif begini... bisa-bisa turun jadi delapan," bisik Maya manja sambil membelai tengkuk Kian.
"Tidak bisa. Saya menolak penurunan nilai, Bu Guru," Kian menunduk, mendaratkan ciuman manis dan lama di bibir Maya, sampai napas Maya sedikit memburu.
Kehebohan tidak berhenti di kamar. Siang harinya, Hani dan Dika datang berkunjung untuk menjenguk Maya sekaligus merayakan kabar bahagia tersebut.
Di ruang keluarga, Arka sedang asyik bermain mobil-mobilan bersama Dika di atas karpet. Sementara itu, Hani dan Maya duduk di sofa sambil menikmati teh chamomile.
Namun, pemandangan paling aneh ada pada Kian. Pria yang biasanya memegang dokumen saham itu kini duduk di sudut ruangan, memangku laptop, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Maya setiap kali istrinya itu mengubah posisi duduk.
"May..." bisik Hani sambil menyenggol lengan Maya, menahan tawa. "Suamimu kenapa, sih? Dari tadi matanya kayak kamera CCTV berjalan. Aku mau nyuruh kamu ambil camilan di dapur aja takut ditembak sama Kian."
Maya tertawa geli. "Biasa, Han. Sindrom anak kedua. Dulu waktu hamil Arka kan kita banyak kena teror, jadi dia tidak sempat posesif seperti ini. Sekarang... pelampiasan."
Dika yang mendengar percakapan itu ikut menimpali sambil terkekeh. "Wah, Kian. Kalau kamu begini terus, mending kamu sekalian sewakan bodyguard khusus buat nemenin Maya ke kamar mandi."
Kian mendongak dari laptopnya, menatap Dika datar namun penuh peringatan. "Idea bagus, Dik. Terima kasih masukannya. Nanti aku hubungi tim pengawal."
"Eh! Aku cuma bercanda, Kian! Jangan gila!" seru Dika panik membuat seisi ruangan tertawa berderai. Bahkan Arka ikut bertepuk tangan melihat ayahnya digoda.
Malam harinya, suasana kembali tenang. Arka sudah tertidur lelap di kamarnya setelah didongengkan oleh Kian.
Maya sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil mengoleskan stretch mark cream di perutnya yang masih rata. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Kian masuk membawa segelas air hangat.
Pria itu melepaskan jam tangannya, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Maya yang sedang duduk. Kian mengambil botol krim dari tangan Maya.
"Biar Mas yang usap," ujar Kian lembut.
Jemari Kian yang besar dan hangat mengoleskan krim itu perlahan di perut Maya, mengusapnya dengan gerakan melingkar yang begitu halus. Maya memandangi suaminya—pria yang dulu begitu dingin, kaku, dan penuh luka, kini berlutut di depannya dengan ketulusan dan cinta yang meluap-luap.
"Terima kasih ya, Sayang..." bisik Kian pelan, menatap perut Maya lalu mendongak menatap mata istrinya. "Untuk kesempatan kedua, untuk keluarga ini, dan untuk calon adik Arka."
Maya tersenyum manis, menyusuri rambut tebal Kian dengan jemarinya. "Terima kasih juga sudah jadi pelindung paling tangguh buat kami, Mas."
Kian mendekatkan wajahnya, mengecup lembut perut rata Maya, lalu perlahan naik menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang hangat, intim, dan sarat akan gairah cinta yang tak pernah padam.
Maya melingkarkan tangannya di leher Kian, menyambut ciuman suaminya dengan kepasrahan manis. Malam yang dingin di luar sana terasa begitu hangat di dalam kamar mereka—sebuah pembuktian bahwa setelah badai terhebat sekalipun, cinta akan selalu menemukan jalan untuk pulang dan berkembang lebih indah dari sebelumnya.