Wei Chan, gadis desa malang yang diselamatkan di hari bersalju serta diangkat menjadi pelayan pribadi dari Permaisuri Xin Yi Lan, istri dari Kaisar Jiang Fei.
Suatu saat, dirinya melihat hal kotor yang dilakukan oleh Kaisar Jiang Fei dan pelayan kepercayaan permaisuri, Yu Jia di belakang majikannya.
Merasa pengkhianatan itu adalah harga yang tidak pantas untuk sang majikan yang sangat setia pada Kaisar membuatnya hendak membongkar semua itu.
Naas, nasib berkata lain. Dirinya harus berakhir dihukum mati atas tuduhan membunuh majikannya sendiri yang terkena racun.
Di hari eksekusinya, dia akhirnya tau bahwa yang merencanakan pembunuhan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Yu Jia.
Sebelum mati dia bersumpah, "Aku akan terlahir kembali dan Dewa akan menurunkan takdir paling kejam untuk kalian!"
Inilah perjalanan Wei Chan yang kembali ke masa lalu demi menyelamatkan sang majikan dan menuntut balas atas kejahatan Yu Jia padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Awal
Di hari itu, beberapa kegaduhan terjadi dan dengan dihukumnya Wei Chan atas banyaknya spekulasi, membuat sang permaisuri langsung marah pada sang suami.
Dia merasa bahwa keputusan sepihak itu sangatlah tidak adil.
Kemarahan itu dimulai setelah sang kaisar memerintahkan panglima kepercayaannya membawa Wei Chan keluar. Tentu saja kedua seniornya juga merasa keputusan itu sangat tidak masuk akal.
Nyonya Xin Yi Lan langsung bertanya dengan nada tinggi pada sang suami.
“Kenapa Xiao Chan harus dihukum?!”
“Karena dia bisa saja adalah pelakunya.” jawab sang kaisar dengan wajah serius tanpa ekspresi.
“Tapi itu sangat tidak masuk akal! Aku tau siapa Xiao Chan dan dia selalu bersama denganku!”
Sang suami melihat istrinya dan bertanya, “Di matamu, apakah keputusan seorang kaisar sepertiku salah?”
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Nyonya Xin yang justru balik bertanya pada sang suami.
“Menurutmu, apakah seorang Kaisar tidak pernah salah?”
Sang kaisar menjawab, “Aku tidak memintamu memberikanku jawaban yang berupa pertanyaan kembali, A Lan…”
“Dan aku merasa untuk pertama kalinya aku sangat kecewa pada Kaisar Jiang. Tampaknya, gelar Kaisar itu terlalu tinggi untukmu, suamiku.”
“...!!” Kaisar Jiang terkejut mendengar kalimat itu.
Bersamaan dengan itu, Nyonya Xin pergi dari ruangan diikuti oleh kedua pelayannya yang lain. Yu Jia yang dianggap sebagai pelayan setia Nyonya Xin tampaknya mulai sedikit menunjukkan dirinya.
Dia mencoba menghentikan Nyonya Xin sebelum keluar dari ruangan.
“Nyonya Xin, sebaiknya jangan keluar.”
“Jia’er, aku sedang tidak ingin bersama dengan sekumpulan orang-orang munafik yang hanya bisa menuduh pelayanku tanpa bukti.”
Yu Jia berusaha terlihat baik di hadapan semua menteri dan Kaisar. Dia memperlihatkan perannya seolah mencoba meredakan pertengkaran dalam diam yang terjadi antara kaisar Jiang Fei dengan sang istri.
“Tapi, Kaisar Jiang pasti memiliki maksud lain. Selain itu, Xiao Chan mungkin memang memiliki tujuan yang tidak diketahui.”
“Bukankah Nyonya Xin ingat apa yang dia lakukan padaku beberapa waktu lalu? Dia berusaha mempermalukanku, tapi Kaisar menolongku. Aku rasa Kaisar Jiang melakukan yang terbaik, Nyonya Xin. Keputusan Kaisar untuk menahannya sampai penyelidikan ini berakhir sudah tepat.” ucapnya dengan mata sendu seolah meyakinkan sekali.
Tapi pada akhirnya, Nyonya Xin melihat Yu Jia dan bertanya padanya.
“Aku tidak mau membicarakan hal ini. Jika kamu memang masih ingin berada di sini, sebaiknya tetaplah di sini. Tapi…”
Nyonya Xin melihat Yu Jia dengan ekspresi aneh, “Jangan bicara denganku, Jia’er. Berada di sini menandakan bahwa kamu memiliki pemikiran yang sama dengan Kaisar Jiang Fei.”
“Apa…maksudnya itu, Nyonya Xin? Aku setia padamu.” Yu Jia berusaha meyakinkan.
Tidak mau memperpanjang lagi, Nyonya Xin kembali berjalan meninggalkan Yu Jia.
Semua menteri terdiam dan berbisik. Ada yang menyukai keputusan milik Kaisar Jiang dan ada yang menyayangkan hal tersebut. Pertengkaran suami istri bukanlah hal yang selalu terjadi.
“Apa yang dipikirkan permaisuri sekarang? Kenapa beliau malah membela pelayan seperti Nona Wei?”
Setidaknya kalimat itulah yang keluar dari mulut beberapa menteri. Sikap Kaisar Jiang sungguh menguntungkan Yu Jia dan tanpa diketahui siapapun, gadis itu tersenyum mendengar keputusan dari ‘selingkuhannya’ tersebut. Kaisar Jiang juga tampaknya tidak begitu peduli dengan emosi sang istri dan memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kasus pembunuhan yang sebenarnya hanya mengada-ada.
**
Sang permaisuri mencoba ke kamar tempat Wei Chan berada, namun di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Bai Luohan.
“Yang Mulia…” Bai Luohan memberinya salam.
Permaisuri langsung memperlihatkan ekspresi cemas, “Panglima Bai, bagaimana dengan Xiao Chan-ku?”
“Ruangan tempatnya berada telah diawasi dengan ketat oleh para prajuritku dan semua orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk”
“Termasuk aku?” tanya sang permaisuri.
Bai Luohan hanya diam tanpa menjawab. Dia mengerti bahwa ada sebuah kekecewaan hanya dari sorot mata sang permaisuri yang tampak kesal dan marah. Namun, pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa dilakukan oleh Nyonya Xin.
“Panglima, aku bersumpah atas nama Dewa bahwa Xiao Chan-ku tidak bersalah…”
“Aku mengerti. Ini hanya sebuah langkah pencegahan untuk membuatnya tidak semakin dicurigai. Selain itu, ada kemungkinan hal ini menyangkut kalangan atas. Aku hanya khawatir ada seorang pengkhianat yang mencoba menjadikan pelayan baru Anda sebagai kambing hitam.”
“Apa?!” ketiga wanita itu terkejut.
Tapi, Bai Luohan langsung mengalihkan semua ucapan itu. “Itu hanya kemungkinan. Seperti yang telah kusampaikan bahwa semua akan segera diketahui jika penyelidikanku selesai. Mohon Yang Mulia bersabar.”
Bai Luohan berhasil menenangkan sang permaisuri dan kedua pelayannya. Dia mengantarkan ketiganya kembali ke ruangan.
**
Sementara itu…
Di ruangannya, Wei Chan terdiam. Kalimat Bai Luohan membuat Wei Chan berpikir. Ada sesuatu yang bergerak dan takdirnya saat ini masih menyimpan tanda tanya. Apakah ucapan Bai Luohan bisa dipercaya? Setidaknya, itulah yang ada di pikiran gadis itu.
“Panglima Bai...siapa dia?”
Di hari itu, di saat matahari masih tinggi, hal yang bisa dilakukan oleh Wei Chan hanyalah menunggu malam datang. Banyak hal yang tidak diketahuinya saat itu. Namun, fokusnya sekarang adalah menyusun rencana sambil bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya Bai Luohan.
Pagi berganti siang, siang berganti malam. Matahari telah menyembunyikan sosoknya dan bulan mulai menemani.
Wei Chan seharian hanya menunggu sampai akhirnya dia mengetahui bahwa akan ada sesuatu yang mendekati ruangan.
Terdengar suara percakapan beberapa orang dan yang terakhir didengarnya adalah langkah kaki yang menjauhi pintu ruangannya. Kemudian…
-Tok…Tok…
Suara ketukan pintu berasal dari luar.
“Aku tau kamu masih belum tidur. Jika pintunya tidak dibuka, aku akan masuk.” itulah yang dikatakan oleh suara pemuda yang datang dari luar. Tentu saja Wei Chan tau siapa sosok tersebut.
Saat pintunya dibuka, Wei Chan sudah berdiri dan bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
******
baguslah , kalo bisa jgn hanya sekali tamparnya 😔
tapi panglima juga ada di luar sana.. ayokkk seret si jiahaahahahaha🤣