Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 30
"Bi. Maaf ponsel ku hilang jadi aku tidak bisa menghubungimu." Ucap Neysia sambil bergelayut manja di lengan Bian.
Vanya yang ada di hadapan mereka serasa ingin muntah melihat tingkah wanita yang sudah seperti ulat bulu, menggeliat di dahan daun.
"Bi, habis ini temani aku beli ponsel yah." Kata Neysia, namun Bian masih diam. Tatapan mata Bian tertuju pada Vanya yang sedang asyik makan tanpa memperdulikan Neysia dan dirinya.
"Apa makanan itu begitu enak sampai dia tidak cemburu?" Batin Bian.
Ya, saat Bian menarik lengan Neysia mengajak untuk makan. Vanya pun memutuskan untuk ikut walau Bian menolak dirinya tapi bukan Vanya jika harus menyerah begitu saja.
"Bi. Kau dengar atau tidak sih? Kenapa kau hanya diam?" Tanya Neysia dengan kesal, sambil mengikuti arah mata Bian. "Dih, kamu yah, makan kok rakus amat." Cibir Neysia pada Vanya.
Bian menoleh ke arah Neysia. "Oke, sekarang kita pergi." Bian berdiri dan melangkah di susul oleh Neysia dan juga Vanya.
Namun dengan cepat Vanya melangkah dan berhenti tepat di depan Bian.
"Karena aku sudah kenyang dan kau pun sudah makan, maka dari itu aku pamit pulang." Pamit Vanya pada Bian, lalu Vanya mendekati Neysia dan berbisik di telinga Neysia. "Untuk hari ini, aku maafkan. Nikmati harimu, karena aku pastikan Bian akan selamanya menjadi milikku."
"Kau!" Geram Neysia.
Dengan sangat lancangnya dan tanpa malu, Vanya mengecup pipi kanan Bian. "Suamiku aku pamit yah, pulang jangan larut karena kita akan makan malam bersama."
Setelah mencium dan berkata demikian, Vanya pun pergi sambil melambaikan tangannya, membuat Neysia begitu kesal. Berbeda dengan Bian, ia hanya diam sampai tidak meperdulikan Neysia di sampingnya yang mengomel tanpa henti.
••••••
"Berapa bayaranmu semalam?" Tanya Bian sambip menatap tajam kepada Vanya, yang saat ini sedang asyik mengobrol dengan ponselnya.
"Maksudmu?" Tanya Vanya, dan dengan gerakan cepat Bian merebut ponsel Vanya dan melemparnya ke dinding hingga membuat ponsel Vanya hancur tak terbetuk lagi.
"Bian!" Sentak Vanya sambil mengambil ponselnya yang sudah hancur.
"Kenapa? Apa kau kehilangan pelanggan karena ponselmu rusak? Kasihan sekali." Cibir Bian.
Vanya tidak menjawab, ia hanya mengusap air matanya. Karena tadi, dia sedang asyik bertelpon dengan dunianya dan dengan tanpa perasaannya Bian merampas ponselnya dan membuang hingga rusak.
"Menangis?" Batin Bian.
Lalu Bian segerah mengambil dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang, dan di lemparkannya tepat di wajah Vanya. "Ambil uang itu, anggap saja itu bayaran dari pelangganmu yang hilang malam ini." Ucap Bian lalu pergi meninggalkan Vanya yang masih setia meratapi ponselnya yang rusak.
Di dalam kamar, Bian berjalan mondar mandi bak sebuah setrika. Bian terus saja berpikir sepenting apa klien Vanya sampai Vanya menangis saat ponselnya rusak.
"Duniaku?" Gumam Bian. Ya, kini Bian menyadari jika Vanya mungkin saja memiliki pria simpanan di luar sana. "Breng*sek!" Ucap Bian, lalu keluar dari kamar dan menghampiri Vanya.
"Dimana dia?" Gumamnya, lalu Bian mencari keberadaan Vanya namun tidak menemukannya. Bian lalu menghubungi Zam untuk mencari tahu di mana Vanya saat ini.
Tepat pukul 2 dini hari. Bian kini menatap tajam pada kursi yang kini di tempati oleh Vanya. Wajah Bian terlihat merah padam karena melihat Vanya yang duduk dan di hadapannya ada pria yang tertawa bersamanya.
Dengan langkah kaki tegap, Bian menghampiri Vanya.
"Lepaskan." Kata Vanya saat tangannya di tarik paksa oleh seorang pria. Dan saat Vanya melihat dengan jelas ternyata pria itu adalah Bian. "Lepaskan tanganku." Ucap Vanya. Namun, Bian tidak menghiraukan Vanya yang terus memberontkan mintak untuk di lepaskan.
"Hey, lepaskan Vanya." Ucap pria itu.
"Bereskan dia Zam." Titah Bian dengan wajah dinginnya. Zam pun langsung membereskan pria tersebut, hingga tidak ada lagi yang menghalagi Bian menarik lengan Vanya.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...