Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.28
Terlihat para santri yang sedang berjejer hingga depan gerbang. Mereka sengaja berdiri disana karena ingin melihat kepergian Ustadzah Hilya. Tak lama yang di tunggu-tunggu pun lewat. Ustadzah Hilya berjalan berdampingan bersama dengan Aldo. Kebetulan Aldo yang membawa koper besar milik istrinya itu.
Ustadzah Hilya dan Aldo terus saja berjalan. Mereka mencoba tak menghiraukan sindiran dari para santri.
“Gaya nya Ustadzah, hobinya mende*sah,” sindir salah satu santri putra lalu yang lain menertawakan.
“Hus jangan bicara begitu,” sahut yang lainnya.
Ustadzah Hilya semakin menundukkan pandangannya. Aldo berinisiatif menggandeng tangan Ustadzah Hilya, tetapi Ustadzah Hilya malah menepisnya. Aldo tahu jika istrinya itu belum menerimanya. Namun, ia akan terus meyakinkan, walaupun ia masih miskin ilmu, tetapi setidaknya bisa menjadi sosok suami yang bertanggung jawab.
“Hilya, jangan lari!” Aldo berusaha mengejar Ustadzah Hilya yang sengaja berjalan cepat.
“Apa urusanmu? Kamu tahu kan kalau aku nggak suka sama kamu. Lebih baik kamu urus hidup kamu sendiri saja,” ucapnya. Beruntung mereka sudah menjauh dari area pesantren sehingga tak ada yang mendengar perkataannya.
“Kamu adalah tanggung jawabku. Aku akan menunggu sampai kamu bisa memberikan hatimu,” ucap Aldo.
Sebenarnya Aldo juga tidak terlalu cinta kepada Ustadzah Hilya. Namun, ia sudah berkomitmen setelah menikah akan selalu setia dan selalu mencintai pasangannya. Perasaan cinta yang sesungguhnya pasti akan datang perlahan. Tentu kebersamaan mereka yang akan menumbuhkan benih-benih cinta.
Dengan menaiki angkot, kini mereka telah sampai di jalan pinggir hutan. Untuk pergi ke kampung Aldo tentu mereka tak bisa menaiki angkot, karena tidak ada angkot jurusan kesana. Mereka berdiri sambil menatap sekitar berharap ada mobil pick up pengangkut sayuran yang lewat sana.
“Masih lama nggak nih? Cape banget kakiku pegal-pegal,” keluh Ustadzah Hilya.
“Tunggu sebentar lagi!”
Tak lama terlihat sebuah mobil pick up melintas. Aldo langsung menghentikan mobil itu dan meminta izin untuk naik. Sang sopir pun memperbolehkan karena memang sudah hal biasa jika ada yang ikut menumpang, terutama para warga yang tak memiliki kendaraan sendiri.
Sesampainya di rumah Aldo, tentu kedua orang tua Aldo menyambut mereka dengan baik. Khususnya kepada Ustadzah Hilya. Ustadzah Hilya pun tersenyum manis di depan mereka walaupun senyum itu tidak sepenuhnya tulus.
Ustadzah Hilya menatap sekitar, ternyata rumah Aldo terlihat nyaman dan bersih walaupun sangat sederhana.
“Nak Hilya, kami merasa senang karena Nak Hilya mau tinggal di gubuk kami. Semoga ke depannya Nak Hilya bisa jadi guru ngaji di kampung ini. Kebetulan di kampung ini belum ada guru ngaji. Terkadang anak-anak disini mengaji di desa sebelah dan jaraknya cukup jauh,” ucap Bu Maryam, ibunya Aldo.
“Insya’Allah saya mau mengajar ngaji, Bu. Buat kegiatan saya sehari-hari,” ucap Ustadzah Hilya.
“Syukurlah,” ucap mereka merasa senang sekaligus lega.
...
...
Adam dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Disana juga ada orang tua Gus Ilham.
“Dam, jadi bagaimana keputusanmu? Apa kamu akan tetap kembali ke pesantren? Menurut mamah sih lebih baik kamu pindah saja,” ujar Bu Ratih memberikan saran.
“Aku akan tetap disana, Mah. Lagian disana juga ada Kak Ilham.”
“Kamu tidak merasa terganggu dengan masalah yang sebelumnya terjadi. Mamah takut ya kalau ada penjebakan-penjebakan lainnya disana.”
“Mamah tenang saja, itu tidak akan terjadi. Lagian berat bagi Adam pergi dari sana mengingat disana lah pertemuan Adam dan Cila,” kata Adam.
“Adam, saya minta maaf ya karena sebelumnya berencana menjodohkan kamu dengan Hilya, eh ternyata dia seperti itu kelakuannya,” sahut Kyai Irsyad.
“Iya tuh kakak lain kali jangan terlalu ikut campur percintaan anak muda,” ucap Bu Ratih.
“Sudah, Mah. Jangan marah sama Om Irsyad, lagian pernikahan itu tidak sampai terjadi dan Adam sangat bersyukur,” kata Adam.
Di sela-sela obrolan mereka, terlihat asisten rumah tangga datang dan memberitahukan jika makan malam sudah siap.
“Ayo kita makan malam dulu! Tuh kata Bibi sudah siap,” ajak Pak Haris.
“Ayo! Kebetulan mamah juga sudah lapar.” Bu Ratih beranjak dari duduknya lalu pergi menuju ke ruang makan di ikuti oleh yang lainnya.
Setelah selesai makan malam Adam tak lagi bergabung dengan keluarganya. Ia memilih pergi ke kamar. Sesampainya di kamar ia mengambil ponsel milik Arsyila yang sampai saat ini masih ia simpan. Ia membuka galeri foto dan melihat satu persatu foto Arsyila sebagai pengobat rindunya.
“Cila, sampai sekarang hanya namamu yang ku sebut di dalam doaku. Semoga saja secepatnya kamu pulang dan kita bisa menikah. Bukan aku tak mau mencarimu ke Mesir, hanya saja aku membiarkanmu menempuh pendidikanmu hingga lulus nanti,” gumam Adam.
Tring tring
Adam mendengar ponsel miliknya berdering. Lalu ia mengambil ponsel itu dari atas nakas. Ternyata yang menghubunginya itu Pak Wira. Pak Wira berkata jika tadi Arsyila menghubunginya dan mengatakan jika Arsyila mendapatkan nilai terbaik di kampusnya.
Adam ikut senang mendengarnya. Ia pun merasa bangga kepada Arsyila. Tak lupa Ia menanyakan nomor Arsyila yang baru kepada Pak Wira. Setelah selesai berteleponan dengan Pak Wira, Adam langsung mengirim pesan kepada Arsyila.
♡Cila♡
Assalamu’alaikum
Send
Sekiranya seperti itu pesan yang di kirimkan oleh Adam.
Satu detik
Satu menit
Lima belas menit
Adam tampak gusar karena Arsyila belum juga membaca apalagi membalas pesannya. Ia berguling-guling di atas kasur layaknya anak gadis yang sedang menunggu pesan dari sang kekasih.
Adam menghembuskan napasnya perlahan lalu ia meninggalkan kamar. Percuma menunggu balasan pesan yang entah kapan di balasnya. Padahal rasa rindunya kepada Arsyila sudah sangat besar.
Sesampainya di ruang keluarga, Adam di tatap oleh semua anggota keluarganya. Apalagi wajahnya terlihat kusut. Seperti sudah terjadi sesuatu kepada dirinya.
“Kamu kenapa, Dam?” tanya Bu Ratih.
“Tidak apa-apa kok, Mah. Tadi Adam Cuma sedang menunggu balasan pesan dari Cila tapi belum di balas juga,” jawabnya.
“Kamu kok sudah tahu nomor ponselnya? Bukankah ponsel miliknya masih kamu pegang?” Bu Ratih kembali bertanya kepada anaknya.
“Adam di kasih tahu Om Wira, Mah. Katanya tadi Cila menghubungi. Setelah tahu kabar itu tentu Adam langsung meminta nomornya. Eh saat Adam kirim pesan malah nggak di balas-balas.”
“Haha ... yang sabar, Dam. Kamu ini seperti pertama kalinya jatuh cinta saja,” ujar Pak Haris sambil menertawakan anaknya.
“Jangan lupa selalu sebut namanya di sepertiga malammu, Dam. Takutnya disana dia ke tikung orang,” sahut Kyai Irsyad.
“Kalau itu sih tidak pernah absen. Nama Arsyila yang selalu Adam ucap setiap Adam berdoa. Lagian antara Adam dan calon mertua juga sudah dekat, jadi kemungkinan besar Adam lah yang berjodoh dengannya,” ucap Adam penuh percaya diri.
Pak Wira menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap anaknya. “Kamu persis seperti papah saat muda dulu, Nak. Apa yang jadi keinginan pasti harus selalu tercapai. Papah doakan semoga kamu dan Arsyila memang berjodoh.”
“Amin,” jawab mereka serempak.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.