Ketenangan seorang gadis depresi bernama Gayatri mulai terusik setelah kedatangan seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya.
Tampan, gagah, keren dan cerdas, membuat sosok Shaka mendadak populer di sekolah.
Shaka mendekati banyak siswi di sekolahnya untuk mencari tahu informasi penting. Tanpa teman-temannya tahu, Shaka adalah seorang agent yang sedang melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus pembullyan oleh genk motor yang telah merenggut nyawa adiknya.
Berbeda dari siswi lainnya, Gayatri begitu menghindari sosok Shaka hingga menguji kesabaran sang agent.
Bisakah mereka menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi berseri
Malam ini Gayatri tertidur dengan lelap. Tidak ada mimpi buruk yang menghantuinya. Hanya bayangan Rasya yang muncul di mimpinya. Remaja tampan berkacamata bulat itu tersenyum di pintu kelasnya dan menunggu Gayatri menghampirinya.
Gayatri yang masih di sibukkan dengan mengerjakan tugas pun segera menutup bukunya. “Sya, lo gak nunggu gue?” tanya Gayatri. Ia sangat senang karena akhirnya ia bisa berbicara dengan Rasya.
Sayangnya Rasya tidak menjawab. Remaja itu hanya tersenyum kecil lantas berlalu pergi meninggalkan Gayatri dan pergi bersama cahaya yang menyilaukan mata Gayatri.
"Lo mau ke mana Rasya? Kenapa ninggalin gue?" Gayatri terpaksa menutup matanya dan menghalanginya dengan lengannya. Perlahan ccahaya menyilaukan itu menghilang dan Gayatri segera membuka matanya.
Yang terlihat saat ini adalah cahaya menyilaukan dari lampu kamarnya yang tergantung di atas langit-langit. Karena langsung tertidur, Gayatri sampai lupa mematikan lampu utama yang biasa ia ganti dengan lampu tidur.
“Rasya,” gumam gadis itu saat sadar semua yang ia lihat itu hanya mimpi. Ia memiringkan tubuhnya, menatap foto Rasya dari kejauhan. Di samping foto itu ada wekker yang sudah menunjukkan hampir jam setengah enam pagi.
Samar-sama ia mendengar suara sang ibu yang sedang berbicara dengan sang ayah. Entah obrolan biasa atau sebuah perdebatan yang jelas terdengar rusuh. Timbre suara Mira memang tidak jauh berbeda antara ia berbicara normal dengan dengan mengumpat. Itu mengapa Gayatri sudah menganggapnya hal biasa.
“Mereka juga pesennya ngedadak, mana banyak lagi. Gue udah bilang, paling bisa di ambil jam setengah delapan. Gak bisa lebih pagi dari itu.” Kalimat itu yang di dengar Gayatri dari luar sana.
Gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menunaikan kewajibannya pagi ini. Tidak terlalu lama karena sepertinya ia harus segera keluar untuk membantu sang ibu.
Saat pintu kamarnya terbuka, wangi kuah soto langsung tercium. Ada dua panci besar soto yang berada di atas meja makan. Plastik berisi bihun dan sayuran sudah berderet rapi di depan Barkah. Laki-laki berkaus singlet itu mendapat tugas untuk mengisi plastik dengan pelengkap soto.
“Udah bangun lo? bantuin sini,” ajak Barkah seraya menepuk tempat kosong disampingnya.
Gayatri segera menghampiri dan duduk di samping Barkah. Kalau di hitung ada sekitar empat puluh plastik soto yang harus di isi. “Buat ke mana?” tanya Gayatri.
“Buat bu RT, katanya anaknya ada,” Mira yang tadi langsung menyahuti mendadak terdiam saat sadar kalau yang bertanya adalah Gayatri.
Tangannya mendadak lemas dan menaruh spatula supnya dalam panci. Mata bulatnya menatap Gayatri dengan tidak percaya. Begitu pun dengan Barkah yang langsung menaruh plstik di tangannya dan menatap Gayatri dengan penasaran.
“Coba lo ngomong lagi,” pinta Barkah di antara rasa kaget dan senangnya. Jakunnya terlihat naik turun, menelan salivanya kasar-kasar.
Gayatri hanya menatap kedua orang tuanya bergantian selama beberapa saat, lantas ia beranjak dan pergi ke dapur untuk mengambil corong yang biasa ia gunakan untuk memasukkan kuah soto. Gdais itu berdiri mematung di depan rak piring, memikirkan kalimat apa yang akan ia ucapkan pada orang tuanya. Kenapa terasa kaku?
BUK!
Sebuah pukulan dari tangan Mira mendarat begitu saja di punggung Gayatri.
“AKH!” Gayatri mengaduh kesakitan sambil memegangi punggungnya yang terasa pedas dan panas karena pukulan sang ibu.
Mendengar Gayatri yang mengaduh, Mira segera memeluk putrinya dari belakang, menecupi punggung yang tadi ia pukul sambil menangis terisak-isak karena suara yang tadi ia dengar, benar-benar milik putrinya.
Gayatri tidak berpaling, ia tetep di tempatnya, bertumpu pada tembokan wastafel. Ia merasakan hangatnya pelukan Mira sambil mendengar isakan sang ibu yang sepertinya tidak ada habisnya. Antara senang dan kesal karena Gayatri bisa bicara tetapi tidak berbicara dengannya.
Hati Gayatri berdesir mendengar tangis orang tuanya. Ternyata sedikit saja suara yang keluar dari mulutnya, sangat dinanti oleh keduanya.
“Sejak kapan lo ngomong hah, sejak kapan?” tanya Mira sambil memukuli lengan putrinya. Suara Gayatri begitu dirindukannya. Setiap malam ia terisak hanya karena mengasihi putrinya yang sangat ia rindukan.
Andai saja Gayatri tahu kalau setiap malam, setiap Gayatri telah terlelap, Mira masuk ke kamarnya. Terduduk di tepian tempat tidur sang anak hanya untuk sekedar memandangi wajah Gayatri. Di usapnya kepala Gayatri lalu ia kecupi keningnya dengan air mata berurai. Susah payah ia menahan isakannya agar tidak mengusik tidur anaknya.
Ia menunggu benar, kapan Gayatri pulih dari fase depresinya dan suaranya bisa kembali terdengar. Ia sadar benar akan kekurangannya, karena kondisi keluarganya yang sulit, membuat ia kepayahan untuk menguatkan sang putri. Ia sama-sama terluka, ia sama-sama menderita dan hanya bisa menunggu waktu yang akan menghapus semua duka dan air matanya.
Di tempatnya, Gayatri tidak menimpali, ia pun masih terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya. Yang jelas air matanya ikut menetes dan ia usap kasar dengan punggung tangannya. Sang ibu membalik tubuhnya untuk saling berhadapan. Jantung Gayatri seperti terhenyak saat melihat wajah Mira yang berkeringat dan berurai air mata.
“Coba lo ngomong sama gue, Enyak,” pinta Mira seraya menangkup satu sisi wajah Gayatri dengan tangannya yang gemetar.
Gadis itu menggigit bibirnya kelu, ingin berbicara ,tetapi seperti sesuatu menahannya di kerongkongan.
“Buruan Aya, panggil gue! Lo mau ngomel kesel sama gue juga boleh! Yang penting lo ngomong kayak tadi, ngomong!” cerca Mira dengan tangisnya yang kembali pecah. Ia menggungcang-guncang tangan Gayatri sebelum kemudian tertunduk lesu dengan isakan tangis yang dalam. Hanya bahunya saja yang terlihat naik turun.
Gayatri berusaha menenangkan dirinya, sambil menengadah ia menghela napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Tangannya mengepal kuat hanya sekedar untuk mengucapkan, “Enyak,” ujarnya lirih dan serak.
Mira langsung terhenyak, ia menegakkan tubuhnya dan menatap Gayatri dengan lekat. Bibirnya tersenyum tetapi air matanya berderai. Di tamparnya pipi kiri Gayatri pelan lantas ia peluk anak itu dengan erat. Wanita itu menangis sejadinya di pelukan Gayatri, meraung-raung seolah tidak peduli kalau orang-orang akan mendengarnya.
Barkah yang semula membisu pun beranjak dari tempatnya. Langkahnya tertatih-tatih menghampiri Gayatri. Ia mengusap kepala sang anak lalu mengecupnya pelan.
“Lo gak pengen manggil gue, hah?” tanya laki-laki itu dengan air mata berurai.
Gayatri tersenyum kelu, “Beh,” ucapnya dengan suara yang serak.
Tidak menunggu lama, Barkah pun ikut memeluk putri dan istrinya. Mereka menangis berangkulan sampai lupa kalau pesanan soto menunggu untuk di siapkan.
"Milikku telah kembali dan tidak akan pernah ku lepas lagi,"
****