WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..
Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.
Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.
Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.
Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Sampai?
Setelah kepergian Iren, aku termenung sejenak di atas ranjang dari kayu. Menatap ke arah jendela, yang menampakkan suasana halaman depan rumah nenekku. Ada pohon mangga besar di dekat jendelaku, dan di sisi yang paling menempel di jendela adalah pohon srikaya. Pohon ini berada di sana seolah di peruntukkan meneduhkan kamarku.
Entah kenapa aku merasa kepalaku sedikit berdenyut selepas Iren menyebut sesuatu tentang benteng bekas Belanda. Apa semistis itu? Atau aku hanya terlalu lelah memakai kendaraan sejauh itu? Aku kan sudah lama tidak naik motor karena belum punya SIM. Ibu dan ayah tak mengizinkanku memakainya ke sekolah, takut di razia. Karena setiap pagi, ada beberapa polisi baru yang menjaga di simpang-simpang jalan.
"Gam, saya mau nonton laptop." Pinta Kun hingga membuyarkan suasana. Aku menoleh sedikit ke arahnya, menatapnya dari antara pundakku.
"Mana punya nenek laptop!" Sahutku sambil menghadapkan tubuhku ke arahnya.
"Kamu tidak ganti baju? Bongkar-bongkar tas dulu kek." ucapnya hingga membuatku beranjak. Benar juga, aku harus ganti baju. Panas juga pakai hoodie setebal ini. Lagian rumah nenek kan pakai AC alam, jadi tak sesejuk di kamarku.
Aku pun membuka tirai yang menutupi lemari tua yang kayunya sedikit menjadi bubuk di bagian sekat dalam. Ku rogoh tas ku, dan ku buka resletingnya. Menampakkan beberapa bajuku yang terlipat rapi.
Ku keluarkan satu persatu bajuku, dan ku susun di dalam lemari. Ku timpa foto bayiku dengan tumpukkan baju. Tanpa sengaja, ada sesuatu yang jatuh dari dalam tasku, yang terlewat dari jangkauan tanganku. Kun segera menghampiri dan memungut benda tersebut ketika aku belum sempat melihatnya. Aku mengernyit, penasaran dengan benda yang kini ada di tangannya.
"Apa tuh?" Tanyaku sambil menyipitkan mataku.
"Sikat gigi saya, yang semalam kamu buang!" Sahutnya sedikit ketus. Aku hanya menggeleng, masih sempat-sempatnya ia menyusupi barangnya ke tasku. Tanpa sepengetahuanku pula. Dasar!
Aku mengalihkan pandanganku darinya, dan kembali mengeluarkan barangku. Tiba-tiba sesuatu yang lain kembali jatuh, membuatku mengernyit sambil menatap benda yang tergeletak tersebut.
"Mouse?" Gumamku sambil mengerutkan dahi. Aku langsung menatap ke arah Kun, dan ia hanya terdiam membalas tatapanku. Ku pungut mouse yang terjatuh tersebut, dan ku letakkan di antara bingkai fotoku.
"Mencurigakan!" Keluhku sambil merogoh tasku lebih dalam. Dan ada benda lain yang ku temukan selain baju, celana, dan handuk.
"Charger laptop??"
"Cooling pad?"
"Laptop?" Gumamku bergiliran ketika menemukan barang yang tak ku masukan itu.
"Terimakasih!" Balas Kun sambil menyambut barang-barang tersebut.
"Pantesan yaa, tas gue rada berat! Ternyata elu yang masukin barang lain ke dalamnya??" Keluhku dengan nada suara yang tertekan. Jengkel sekali aku pada hantu yang satu ini. Kapan coba dia masukin semuanya?
"Ini tidak berat, saya niatnya tadi mau masukin komputer." ujarnya polos hingga membuatku tambah jengkel.
"Cu!! Ke dapur yuk.." Tiba-tiba nenek memanggilku dari kejauhan.
"Nenek beli kue!" Pekik nenek lagi dari arah dapur, dan seketika meredakan kekesalanku. Aku segera beranjak sambil menoleh ke arah Kun dan menunjuknya.
"Gak usah ikut! Tunggu di situ!!" Seruku dengan suara mengintimidasi. Ia hanya terdiam menatapku yang sudah membalikkan tubuh.
Aku menyibak tabir dan berjalan gontai menyusuri ruang santai dengan satu TV tabung berserta kasur kapuk yang di geletakkan di atas lantai tepat di depan tv, serta satu buah kursi plastik tak jauh dari kasur tersebut.
Aku sedikit merunduk ketika melewati pintu dapur. Pintu ini terlalu pendek, atau aku yang terlalu tinggi?
"Makan jang.." Tawar kakek padaku sambil duduk di atas kursi. Jang itu adalah Bujang, panggilan khas untuk lelaki muda di daerahku.
"Nih cu, kuenya." Tawar nenek lagi sambil membawa secangkir kue ke luar, begitu juga dengan kakek.
"Mau kemana kek, nek?" Tanyaku heran. Baru saja aku mendaratkan pant*tku ke atas kursi. Tapi mereka sudah pergi.
"Mau makan di teras sambil liat orang lewat.. Ayo kalau mau ikut." Ajak nenek sambil terhenti dan menoleh ke arahku. Dengan cepat aku menggeleng. Aku dibiasakan ibu makan di ruang makan, kecuali saat sakit. Baru boleh makan di dalam kamar.
"Kalau mau ikut, nenek sama kakek di depan ya.." Ucapnya lagi seraya berlalu.
Kini pandanganku tertuju pada meja kayu yang terbuat dari papan dan di tutupi oleh penutup meja dari bahan plastik bercorak. Agar ia tak bergerak-gerak, taplak meja tersebut di paku dengan paku payung di setiap sudut.
Aku menatap ke sekeliling, merasakan panasnya dapur nenek karena jarak meja makan dan dapur sangat dekat.
Ia punya dua kompor, tapi masih saja memakai kayu bakar. Dan lagi, lantai dapur memasaknya tak di lapisi semen, hanya tanah yang padat dan bersih. Di pinggir pintu dekat kompor, aku melihat sebuah kendi dari tanah liat. Sepertinya itu adalah tempat mengambil wudhu. Di bawahnya ada semen berukuran kecil, pas untuk satu orang. Ada dua buah sendal yang di letakkan di perbatasan semen dan tanah. Atap dapurnya dari daun kering.
Aku menengadah ke atas melihatnya. Apa tidak bocor kalau hujan? Terus, apa tidak di makan api ketika memasak menggunakan kayu bakar? Kan dari daun kering...
"Agam!!!" Sentak Kun hingga membuatku terkesiap. Aku yang sebelumnya sedang fokus melihat ke atas, terperanjat dari kursi ketika melihatnya muncul di hadapanku dalam keadaan terbalik. Kaki di atas dan kepala di bawah. Wajahnya menyeringai, ingin rasanya ku getok pakai sendok, biar jadi kera sekalian!
"Sekali lagi lu ngagetin gue-"
"Ampuuun!!" Pekiknya sambil memperbaiki posisi tubuhnya. Ia duduk dengan manis sambil menatap ragu ke arahku. Belum selesai aku mengancam, ia sudah memotong perkataanku.
Aku mengambil kasar kue di atas meja. Kue dengan wadah cangkir aqua plastik dengan gula merah pada dasarnya, di tengahnya ada tepung berwarna hijau, dan paling atas berwarna putih. Serta hiasan potongan daun pandan kecil di atasnya.
"Iiih, apatuh?" Gumam Kun sambil menggeliat geli. Aku cuek saja sambil menyedok kue lembut bak puding tersebut ke mulutku.
"Kue lah!" singkatku ketus.
"Hantu gila aja tau itu kue, kue apa namanya?" Balasnya tak kalah ketus.
"Kue jongkong, khas bangka." Sahutku.
"Jongkong BTS?" Tanyanya polos hingga membuatku mengernyit heran.
"Itu Jungkook! Lagian tau dari mana sama BTS?"
"Tau dong, saya suka nonton video-nya di youtube." Aku terdiam, sambil mendengus kasar.
Ia kembali memperhatikan kue yang berada di sendokku. Tak perlu di kunyah, ini langsung lumer begitu sampai ke dalam mulut.
"Hiiiiii..." Gumamnya lagi, sambil menekuk bibirnya dan menatapku dengan geli.
"Kenapa sih? Enak tau!"
"Kamu gak geli??" Tanyanya hingga membuatku mengernyit.
"Makan ingus gunderuwo!" Ucapnya hingga membuatku tersedak. Ku rasa makanan yang harusnya lewat kerongkonganku, kini tersedot ke saluran hidung dari mulut.
Tentu aku terbatuk dengan wajah yang memerah padam. Pedih sekali rasanya hidung dan kerongkonganku.
"Ohok ohok!!" Pekikku sambil menutup hidung dan mulutku dengan tangan. Kun hanya menggelengkan kepalanya sambil menatapku datar.
"Ck ck ck, makanya kalau makan itu doa dulu! Jadi tidak di ganggu hantu!" Ujarnya sok mengguruiku. Aku segera menuangkan air dari ceret alumunium ke dalam gelas seukuran telapak tanganku. Meminum air yang ternyata masih terasa hangat. Ya, orang tua dulu-dulu lebih suka minum air yang di masak ketimbang minum air berlebel.
Lumayan nyaman setelah selesai minum. Aku menghela napas lega, dan kini pandanganku terarah pada Kun. Aku menjangkau garpu di dalam wadah plastik, sambil menatapnya dengan sengit.
"Pergi lu setan, Bismillahirohmanirrohim!!" Sentakku sambil melemparkannya dengan garpu.
"Aaaarghh!!" Pekiknya seraya menghilang dari hadapanku.
.
.
.
Setelah shalat ashar, aku mandi dulu sebelum Iren datang ke rumahku. Kamar mandi berada di rumah nenek paling ujung, tidak menyatu dengan bangunan utama. Wc-nya memiliki pintu, namun itu bukan untuk mandi karena ukuran kecilnya hanya pas untuk buang hajat saja. Dan kamar mandinya ada di dekat sumur.
Kondisinya terbuka, tak ada atap. Hanya tertutupi spanduk baleho di empat sisi mengelilingi sumur. Kalau siang sih biasa saja, tapi kalau malam.. Lumayan menyeramkan, di tambah belakang rumah nenek di batasi pohon-pohon besar. Bahkan rumah Iren yang ada di belakang nyaris tertutupi tumbuhan besar. Hanya ada satu lampu yang tergantung di atas galah panjang yang di tutupi payung di atasnya. Satu-satunya penerangan di kala malam.
Kalau Ciko ada di sini, dia pasti menahan sakit perut karena takut untuk ke wc sejauh ini. Kalau aku sih tak masalah. Dulu aku juga suka ke belakang untuk menimba air di kendi dalam rumah untuk berwudhu.
Aku menimba air untuk mengisi seluruh ember. Kasian juga kakek, kalau tiap hari harus menimba seperti ini. Mesin air yang di beli ibu nampaknya sudah rusak. Aku melihatnya di belakang dapur, dalam keadaan sudah di bongkar. Mungkin kakek bermaksud untuk memperbaikinya, tapi tak bisa. Nanti sebelum pulang, aku akan menarik uang lagi untuk membeli mesin air untuk kakek.
Aku mulai mengguyur tubuhku dengan air yang langsung ku timba dari sumur. Rasanya benar-benar dingin dan segar. Tapi dinding penutup dari baleho ini hanya menutupi tubuhku, tapi tidak kepalaku. Apa aku setinggi itu?
"Hihihihi... Hihihihiii.." Sayup-sayup ku dengar suara cekikikan. Aku mematung sesaat sambil menajamkan pendengaranku.
"Hihihihihi...." Kikiknya lagi hingga membuatku mengerjap. Suaranya terdengar jauh, itu artinya dekat kan?
Aku mulai mengedarkan pandanganku kesekeliling, tapi tak ku dapati apa pun. Aku menengok ke sumur dan hanya ada air jernih di dalam sana, memperlihatkan dasar dan bebatuan berserta rumput hidup dan juga lumut. Kini aku mendongak ke atas untuk memeriksanya, dan ternyata benar kan..
Kun ada di sana sambil tertawa seperti orang gila. Ngapain juga dia ketawa, memangnya ada yang lucu?
Ia bergelantung di antara dahan-dahan. Tubuh putih yang senada dengan bajunya pun membuatku sedikit bergidik, di tambah suara 'Hihihi'-nya itu benar-benar nyaring dan melengking. Napasnya panjang, hingga suara tawanya tak terputus. Berani banget nakutin orang sore-sore, biar ku timpuk pakai batu!
Aku menunduk, mencari batu yang bagus untuk di lemparkan padanya. Kini aku mengambil batu gunung besar dan mengangkatnya.
"Tapi nanti mati lagi!" Gumamku sambil meletakkan kembali batu itu. Padahal kan dia memang sudah mati, untuk apa aku takut.. Sepertinya aku hanya takut menyakitinya.
Kini aku menggantinya dengan batu sekepalan tanganku. Aku membidik jelas ke arahnya, sambil berucap..
"Audzubillahi minasyaitan nirrajim Bismillahirrahmanirrahiim!!" Pekikku sambil menyambit batu ke arahnya.
Bugh!!!
Batuku mengenai tepat di kepalanya, seketika tertawaannya pun berhenti. Kun pun oleng dan terjatuh di atas tanah. Ia berteriak histeris sambil menatapku sengit. Ia segera beranjak dan melayang ke dekatku.
"Kamu!!" Pekiknya sambil menatap sinis ke arahku. Marah agaknya.
"Denger ya Kun, hidup ini emang berat.. Kadang semesta mengangkat dan menjatuhkan kita tanpa izin penghuninya." Ia menyipitkan mata menatapku, sambil mengeraskan rahangnya.
"Bohong!! Semesta apanya!! Itu tadi kamu yang lempar saya pake batu!! Ada doanya lagi!!!" Bentak Kun sambil mengusap jidatnya hingga membuatku sakit perut menahan tawa.
"Lagian ngapain lu sore gini ketawa-ketawa di atas pohon? Kayak buwung puyuh!!" Balasku.
"Saya bertemu teman baru.. Namanya Sri, Ningsih, dan-"
"Ah, berisik!!" Keluhku yang merasa merinding mendengar Kun menyebutkan nama temannya satu persatu.
"Belum malam aja udah muncul!!" Sambungku mengeluh.
"Iyalah, selain malam, ada waktu lain yang pas untuk kami keluar." Aku mengangkat sebelah alisku mendengarnya.
"Tengah hari, dan petang hari sampai maghrib, lalu...
"Malam hari adalah waktu terbaik." Ucap Kun sambil menyeringai, menangkap kedua mataku dengan tajam dan lekat. Seketika jantungku tersendat, terlebih air dingin yang ku siram membuat tubuhku menggeletak kedinginan.
"Hihihi-"
Splash!!!
Ku sirami wajah Kun untuk menghentikan tawanya. Ya, aku tak mau merinding ketakutan karena ulahnya kan..
"Hiiiii, dingin tau!!" Aku mengernyit mendengarnya.
"Dingin dari mana? Perasaan udah gue baca bismillah, harusnya kan panas."
"Kalau saya bilang panas, nanti Ary bilang 'Kok setan kepanasan, mereka kan dari api!' Gitu.."
"Ary siapa lagi??"
"Yang kasih vote paling banyak buat saya, nanti saya mau ke rumah dia.. Bilang makasih."
"Yang ada orang takut liat lu Kun.." Balasku sambil kembali menyirami tubuku dengan air.
.
.
.
Setelah mandi, aku bersiap menunggu di depan rumah bersama kakek-nenek. Berkali-kali ku lihat jam yang terlilit di tanganku, menantikan teman masa kecilku yang tak kunjung datang.
Apa ku datangi saja rumahnya? Lagian kan ada di belakang. Tak jauh juga. Kasian kakek-nenek sudah menunggu dari tadi.
"Ada bau Iren.." Gumam Kun yang duduk di dekat nenek.
Dan benar saja, tak lama kemudian, Iren datang dengan motor matic-nya. Ia menyengir sambil mengarahkan motornya ke dekat motorku.
Aku langsung beranjak, ingin sekali memarahinya. Dia yang bilang kalau aku jangan lama dan jangan dandan, eeh malahan dia sendiri yang begitu.
"Ren!! Gimana sih lu?!! Kok lu lama-" Ia langsung menyumpal mulutku dengan permen. Terang saja aku langsung terdiam dan mengunyahnya sambil menatapnya dengan sinis.
"Yuk, nek." Ucap Iren ketika melihat nenek berjalan menuju motornya.
"Uma kunci! (Rumah di kunci!)" Ucap kakek pada nenek seraya naik ke atas motorku.
"La ude! Juet uge ente ni wah! (Sudah, cerewet!)" Balas nenekku memekik.
"Saya duduk di mana?" Keluh Kun sambil menatap kami dengan wajah polosnya.
"Wuuusshh.." Desisku, yang artinya menyuruh dia terbang. Ia hanya menyipitkan matanya dan menatapku dengan wajah sinisnya.
Selama di perjalanan, aku melihat semua muda-mudi keluar bergandengan dengan motor. Mereka memakai pakaian bagus, bahkan perempuannya sampai berdandan. Apa mereka mau kondangan ya??
Aku meneruskan laju motorku mengikuti Iren. hingga kami sampai pada ujung kota. Ada hiruk pikuk keramaian di tempat sebelum kami mendarat. Kami melewati sebuah gedung kepolisian, dan aku tak tahu gedung apa itu.. Yang jelas ada tulisan Polisi pada sebuah papan dengan baground berwarna putih.
Iren menghentikan mesin motornya, dan membiarkan nenek turun dengan aman. Aku pun melakukan hal serupa, bedanya motorku lebih tinggi dari motor Iren. Kakek nampak kesulitan harus turun naik seperti itu. Di tambah, kakinya masih sedikit bengkak karena kena syarat.
Kami semua pun turun dan berdiri di depan sebuah tangga yang tertutupi rumput. Di seberangnya, aku bisa mendengar suara deru ombak pantai.
"Yuk, masuk." Ajak Iren hingga kakek-nenek pun beranjak dan mengikutinya.
"Gam.." Sapa Kun hingga membuatku menoleh.
"Apa?"
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah lepas dari penglihatan saya." Sambungnya dengan wajah yang keras nan serius. Ia tegang? Tapi.. Kenapa ia bicara begitu?
.
.
.
.
Bersambung...