NovelToon NovelToon
Bloodthirsty Handsome

Bloodthirsty Handsome

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cintapertama / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rizky Rachma

"Kalau hati sudah memilih, otakku ini bisa apa?!"

Devian Almero, sosok pria tampan yang sama sekali tak mengerti perihal cinta sebelum bertemu dengan Diandra.
Ya, Diandra. Gadis manis itu mampu menggetarkan hati Devian saat awal perjumpaan.

Hingga akhirnya Devian nekad mengejar Diandra dan langsung mengklaim gadis itu sebagai milik. Berjalannya waktu, hujan rasa kasih sayang yang diberikan Devian, akhirnya mampu menaklukan hatinya.
Namun, sebuah fakta mencengangkan muncul di saat keduanya memadu kasih. Diandra baru mengetahui bahwa pasangannya itu ialah 1 diantara 7 anggota psikopat dari Keluarga Breadsley.

Sanggupkah Diandra menjalani hidup bersama Devian, sang psikopat tampan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan coba bermain api, jika tak ingin terbakar dan terluka

Gadis dengan rambut yang dikucir asal itu mendengus kesal. Sedari tadi ia berusaha fokus dengan buku di hadapannya. Namun tak seperti biasanya, malam ini sedikitpun materi dari dalam buku itu enggan meresap di otakknya.

Bayang wajah dari guru sekaligus psikopat tampan itu sudah berhasil meracuni pikiranya. Moment romantis bersama Devian selalu melintas dan hal itu membuat seorang Diandra sudah nampak seperti orang gila, tertawa dan tersenyum dengan sendirinya.

"Tedy, gue kangen nih sama si tampan," keluh Diandra bermonolog dengan boneka tedy kesayanganya, mencurahkan isi hati.

"Dia sekarang lagi apa ya, tedy?" Diandra memeluk erat boneka tedy itu. Seperti inikah rasanya orang jatuh cinta? Sebentar-sebentar tersiksa oleh rasa yang dinamakan rindu.

Diandra memandangi layar ponselnya. Berharap pria pujaanya itu lekas membalas pesannya. Namun sayang, wajah Diandra justru berubah lesu saat melihat pesan itu sedari tadi belum juga dibaca oleh Devian.

Diandra beralih mencoba untuk menghubungi. Sayang hasilnya tetap nihil. Gadis itu pun semakin merasa kecewa.

"Apa aku aja yang dateng ke rumah Devian?" Ide itu terlintas di pikiran Diandra. Sampai akhirnya tanpa berpikir ulang lagi, gadis itu bersiap-siap berganti pakaian dan langsung menghubungi taksi online menuju kediaman Breadsley.

*

Seorang pria tampak menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, memakai celana jeans hitam sedikit sobek dibagian lutut, kaos hitam dibungkus jaket yang berwarna senada serba hitam.

Sebelum pergi keluar rumah, langkahnya terhenti di ruang tengah, menyempatkan diri membakar rokok terlebih dahulu.

Semua anggota Breadsley sudah menunggunya di luar. Malam ini menjadi malam di mana para Breadsley yang haus darah itu akan berpesta jika saja si dracula berhasil menggiring hewan buruan dalam perangkap. Sekaligus malam penentu, pemenang dari taruhan yang mereka adakan tadi pagi.

"Lama banget sih lo, Devian!" bentak Chester. Psikopat satu itu sangat benci jika dirinya harus menunggu.

"Iya, sorry. Yuk, cabut!" seru Devian, masih asyik menghisap rokok diselipan jarinya.

"Lix, gue sama lo aja!" kata Devian berdiri di sebelah jendela kemudi.

"Kok, gitu? Ngapain beli mobil mahal-mahal kalau nggak lo pakek!" sergah Felix, berusaha mencegah agar Devian tak ikut satu mobil dengannya. Dia juga ingin jajan, berkencan dengan wanita di sana, memanfaatkan waktu mumpung singgah ke rumah bordil.

"Udah, lah. Gue ogah kursi mobil gue diduduki cewek selain Diandra," ungkap Devian.

"Ya udah, cabut!" Lagi-lagi Felix harus mengalah demi tujuan pesta besar mereka malam ini.

Lima mobil sport berbaris, melaju membelah jalan. Saat itu juga mobil dari rombongan Breadsley berpapasan dengan taxi yang ditumpangi Diandra. Tak ada yang saling menyadari hal itu, baik Diandra maupun Breadsley.

Taxi online itu mulai memasuki gerbang putih dan berhenti di depan sebuah rumah megah yang tak asing lagi bagi Diandra.

Gadis yang mengenakan jaket hoodie tersebut segera turun dan mulai mengayunkan kakinya penuh semangat menuju pintu utama rumah itu.

Antusias, Diandra menekan bell rumah itu berulang kali. Baru kali ini Diandra datang berkunjung seorang diri. Biasanya ia datang bersama salah satu anggota Breadsley yang kebetulan sedang bersamanya.

Hening. Sedikitpun tak didapati oleh Diandra dari pemilik rumah membukakan pintu. Lampu bagian dalam rumah yang biasanya terang juga tampak padam kali ini.

Menit kemudian saat Diandra mulai melangkahkan kaki untuk pergi, terdengar suara decit pintu terbuka. Gadis itu buru-buru menoleh dengan ekspresi wajah senang. Namun, moodnya kembali turun saat melihat wajah Zea yang muncul dari balik pintu.

Diandra berdecih. "Anabelle ...." ucapnya datar diikuti bola mata memutar jengah.

"Pacar lo nggak ada di rumah!" ketus Zea langsung mengerti bahwa rivalnya itu pasti datang mencari Devian. Siapa lagi yang dicari kalau bukan pacarnya?

Diandra tak semudah itu percaya. Jauh-jauh dia datang untuk menemui Devian. Lebih baik ia memastikan sendiri kebenaranya daripada harus mempercayai ucapan si Anabelle menyebalkan itu.

Secara paksa Diandra masuk begitu saja. Menerobos dan melewati Zea yang tadi berdiri di ambang pintu.

Diandra memilih naik ke kamar Devian melalui tangga. Bergegas ia menaiki anak tangga satu per satu. Sesampainya di depan pintu kamar Devian, Diandra sejenak membuang nafas lelah lalu menurunkan daun pintu dan segera masuk ke dalam.

Saklar di dinding ia tekan melihat kondisi kamar yang gelap. Diandra menelan kecewa saat ucapan Zea kali ini rupanya bukan omong kosong belaka. Devian benar tak berada di dalam kamarnya.

Diandra memutuskan duduk sejenak, beristirahat di atas ranjang. Terlalu semangat dirinya menaiki banyak anak tangga hingga membuat tenaganya cukup terkuras.

Masih tercium oleh Diandra wangi maskulin dari tubuh Devian memenuhi ruangan. Tangan Diandra bergerak, mengusap lembut seprei berwarna merah yang ia duduki sembari membayangkan saat tubuh Devian berbaring di sini.

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara memanggil namanya. Bersamaan dengan itu, imajinasi dalam pikiranya pun ikut buyar begitu saja.

Diandra tahu dengan pemilik suara tersebut. Dia memilih mengindahkan panggilan itu dan justru membaringkan tubuhnya.

"Gue tahu Devian di mana!" ucap Zea sengaja meninggikan suaranya.

Diandra kontan terbangun, yang tadinya ogah-ogahan menatap Zea, kini sepasang kornea matanya beralih tajam menyorot gadis tersebut.

"Maksud, lo?"

"Udah, jangan banyak tanya. Ikut gue kalau lo pingin tahu dia di mana!" Zea lalu melenggang pergi meninggalkan Diandra. Sampai di ambang pintu, Zea berucap, "itupun kalau lo percaya sama gue, sih!" imbuhnya tersenyum sinis.

"Tunggu! Tunjukin Devian di mana," pinta Diandra terpaksa. Kalau bukan masalah Devian, malas baginya mengikuti perkataan Anabelle.

"Gue tunggu di mobil."

*

Deruman suara mobil Felix mengundang perhatian dari para wanita pekerja komersial di dalam rumah bordil. Beberapa dari mereka tampak antusias keluar, menyambut para cogan yang nampak berdompet tebal. Terlihat dari kendaraan dan gaya berpakaian mereka saja sudah kentara, tampak berkelas.

"Welcome to the sea of ​​beautiful girls, Brother," ucap Felix pada anggota Breadsley yang lain.

"Lakuin misi lo sebaik mungkin, dracula." Aland merangkul bahu Devian dan direspon seringai jahat oleh pria tampan tersebut.

Ke tujuh cowok itu tanpa canggung masuk ke dalam. Berbaur di tengah-tengah lautan wanita sexy. Semua mata menyorot mereka dengan tatapan lapar dan minat. Melihat ketampanan dan tubuh proposional dari tujuh pria itu, siapa sih yang nggak bakal tergiur.

Kedatangan mereka memancing perhatian dari korban sasaran. Seorang wanita yang disebut 'Mami' itu berjalan anggun dengan pakaiannya yang minim menuruni anak tangga.

"Dev, dia muncul," bisik Aland biang dari pemberi informasi.

Devian mengangguk sekali pertanda ia paham. Masih berusaha tenang, Devian memutuskan berpencar dari rombonganya, memilih duduk di sofa pojok ruangan yang tampak minim penerangan.

"Kayaknya si dracula bakal berhasil," ucap Danzel lirih, melihat mami itu datang ke arah Devian berada.

Beberapa gadis tercantik di rumah bordil itu berusaha mendekati Devian. Namun, pria itu terang-terangan menolak karena memang ia berada di sini untuk sebuah misi dan taruhan dari teman-temannya.

Mengandalkan kharismanya yang mematikan, terpaksa Devian menebar umpan, mengedipkan satu mata kanannya diikuti jari telunjuk miliknya yang bergerak maju, mengisyaratkan agar wanita itu mendekat padanya. Benar saja, baru dikode seperti itu, wanita tersebut melempar senyum menggoda pada Devian.

"Mau yang mana, handsome? Stok di sini banyak yang muda masih krenyes-krenyes pokoknya," tawar wanita tersebut, tanpa canggung langsung duduk di atas pangkuan Devian.

Devian mendekatkan wajahnya ke telinga wanita di pangkuanya. "Gue maunya lo, darling," bisik Devian mengalun manja.

*

Chester memilih untuk pergi meninggalkan tempat menyeramkan tersebut. Menunggu anggota Breadsley di dalam mobil ialah keputusan yang tepat baginya. Bukannya tak suka dengan wanita, namun desainer satu itu sangat benci dengan wanita yang terkesan jorok. Chester sangat mengutamakan dan mengagungkan kebersihan. Sedangkan wanita di dalam yang menghampirinya tadi sangat menjijikan. Baru mulai berbicara saja, Chester hampir dibuat pingsan karena bau mulut wanita itu sangat tidak manusiawi. Alhasil, Chester mengeluarkan umpatan sumpah serapah pada wanita itu dan pergi keluar menyelamatkan diri.

"Gila tu cewek! Sikat gigi pakai bangkai mungkin, ya! Bau mulutnya bikin gue mau pingsan!" ketus Chester sembari menyemprotkan cairan antiseptik pada tubuhnya. Takut jika kuman dari wanita tadi menempel pada pakaiannya.

Sedangkan di tempat lain, seorang wanita sedang tercengang, menantap tak percaya. Matanya membulat kaget saat mobil yang dikemudikan oleh Zea berhenti di depan sebuah bangunan yang nampak asing.

"Masuk, sana! Cari Devian di dalam!" titah Zea tegas.

"Ntar dulu, ini tempat apa, Zea?" tanya Diandra masih bingung. Menatap ke depan kaca mobil, mendapati di luar sana banyak pasangan yang sedang bermesraan.

Diandra berdecak kesal. "Lo nggak liat?! Mereka pakai baju minim deket sama cowok-cowok di tempat remang kaya gini! Mereka itu pekerja komersial, Ndra. Dan pacar lo itu ada di dalam sana sama semua temen-temennya!"

Deg ....

Jantung Diandra terasa kontan berhenti berdetak. Mendengar ucapan Zea membuat hatinya memanas. Apakah benar Devian di dalam sana? Sungguh, jika hal itu benar terjadi, Diandra pastikan jika dirinya tak sudi lagi menjalin hubungan dengan Devian.

1
Vitamincyu
...
Novia Ayu Apriani
horang Kya bebas cui
tf-boy
good
Novianti Ratnasari
merinding baca nya thour serem
Novianti Ratnasari
gila bener si Davian langsung gaspol aj.
Novianti Ratnasari
kaya nya seru nich cerita
Novianti Ratnasari
serem bgd semua cogan nya Spikopat
Octa Febian Nii
de best ka, aalur suka banget, gk bikin bosen, sehat terus ka🥰🥰🥳🥳🥳
dineeeey: Hai , mampir yuk ke novelku yang berjudul
" WANITA SIMPANAN ( end ) & FIRST LOVE (end) , DI BALIK POLOSNYA " dijamin seru dan bikin emosi
total 1 replies
Nurul Azizah
q
Nurul Azizah
iiji9
Gina Gayatri
jangan di ganti
dineeeey: Hai , mampir yuk ke novelku yang berjudul
" WANITA SIMPANAN ( end ) & FIRST LOVE (end) , DI BALIK POLOSNYA " dijamin seru dan bikin emosi
total 1 replies
Syifa Azzahra
nyimak
Salmah S
Sadiiisss...
Samsul Rubiah
So sweet banget
Putri
yg ini aja, manis2 gimana gitu...
Dee Na
agh si diandra ini sdh tau devian suka bunuh org jg,
Sartini Dimitri Mah
ceritanya bagus
Fitria
Byk pesan moral yg terkandung di dalamnya, ceritanya jg seru, bikin greget, bikin emosi, bikin sedih, nano² deh rasanya, pokoknya membawa pembaca ikut masuk ke alur ceritanya, penulisnya 👍
"Jgn mudah percaya ucapan org lain, walaupun dg bukti yg nyata, krn org licik bisa melakukan apapun itu. Jgn sprti Devian yg mudah percaya kalo Zea adl Melody masa lalunya tnp menyelidikinya terlebih dahulu, sampai mengabaikan & menyakiti Diandra. Tegaslah dlm berprinsip, jgn ingin keduanya tp mengabaikan org yg tulus dg nya. & ternyata Diandra adl Melody masa lalunya."
"Jk kita mencintai seseorg, kita hrs bisa mnjaga kepercayaannya, mnjaga hati, pikiran & tubuh kita hny utk nya. Jgn sprti Devian yg menyentuh Kimberly hny krn obat perangsang, walaupun Diandra tdk tau saat itu, taunya saat ucapan Kimberly sblm kematian."
Moertini
terimakasih bagus ceritanya..terus berkarya
...dilanjutin yaaaa..semangat
ms huang
smangattt thor!!! intip karyaku jg y SATU DAN SELAMANYA ..tq !!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!