NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 9

Rasa penasaran membuat Jack menghentikan rekaman. Kemudian memutarnya kembali dari beberapa menit sebelumnya. Ia memperhatikan layar dengan lebih saksama. Dan benar saja.

Rekaman kejadian itu memang ada. Namun ada satu hal yang membuatnya sedikit heran.

Sebelum insiden terjadi, gadis tersebut sebenarnya duduk di salah satu meja yang berada cukup jauh dari area toilet. Sangat jauh.

Jack memajukan dan memundurkan rekaman beberapa kali. Tak lama kemudian ia melihat gadis itu berpindah tempat duduk. Ke area yang jauh lebih dekat dengan koridor menuju toilet.

Keningnya semakin berkerut.

“Aneh, seolah tahu kalau Riven akan ke toilet.” Kata Jack.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sebelum berpindah tempat duduk, gadis itu juga tidak terlihat membawa paper bag besar yang kemudian diberikan kepada Riven.

“Padahal menurut cerita Riven, pakaian tersebut merupakan sampel endorsement, bukankah seharusnya sudah di bawa sejak awal, jika dia ingin bertemu dengan modelnya?” Jack kembali memperhatikan layar.

Cukup lama gadis itu duduk diam sendirian, dan tak ada siapapun yang menemaninya di mejanya, hanya dia seorang. Beberapa menit berlalu. Lalu seseorang muncul dalam rekaman.

Seorang pria datang namun bukan model yang akan bekerjaama sama, melainkan pria itu membawa paper bag berukuran besar dan menyerahkannya kepada gadis tersebut. Melihat itu, Jack mengangguk pelan.

“Ah… jadi begitu.” Setidaknya satu pertanyaan telah terjawab. Paper bag itu memang benar ada. Tapi bukan itu juga alasannya, tetap saja. Masih ada satu hal yang mengganjal pikiranku.” Kata Jack.

“Mengapa dia berpindah tempat duduk seolah tahu Riven akan ke toilet.”

Tatapannya kembali tertuju pada layar monitor. Rekaman terus berjalan. Gadis itu tampak duduk sendiri sambil sesekali melirik ke arah area VIP tempat Riven dan teman-temannya berkumpul.

Jack memicingkan mata.

”Mungkin hanya kebetulan. Atau mungkin tidak.” Namun setelah beberapa detik berpikir, ia akhirnya menggeleng pelan.

“Aku terlalu lelah. Seharian mengurus grand opening cabang baru memang cukup menguras tenaga dan pikirannya.” Jack memijat bahunya sendiri.

“Bisa jadi aku hanya terlalu banyak berpikir. Lagipula tidak ada bukti apa pun yang menunjukkan bahwa gadis itu memiliki niat buruk.” Kata Jack lagi.

Pada akhirnya, Jack mematikan rekaman CCTV. Lalu menutup laptop di hadapannya. Ruangan seketika menjadi lebih sunyi. Ia mengusap wajahnya yang mulai terasa berat akibat kantuk. Besok masih ada banyak pekerjaan yang menunggu.

Dan untuk malam ini, ia tidak ingin memusingkan hal-hal yang belum tentu berarti apa-apa. Dengan pemikiran itu, Jack merapikan berkas-berkas di atas meja. Mematikan lampu kantor. Kemudian berjalan keluar untuk pulang dan beristirahat.

Tanpa menyadari bahwa rekaman yang baru saja dilihatnya mungkin akan kembali teringat di kemudian hari. Ketika semuanya sudah terlambat untuk disebut sebagai kebetulan.

———

Mobil hitam yang di kendarai Riven, melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang.

Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya keemasan yang membentang di sepanjang aspal, sementara gedung-gedung tinggi berdiri tenang di bawah langit malam.

Kendaraan yang melintas sudah tidak sebanyak beberapa jam sebelumnya. Sebagian besar transportasi umum bahkan telah berhenti beroperasi. Di jam seperti ini, mencari kendaraan bukanlah perkara mudah.

Karena itulah, untuk pertama kalinya malam itu, Riven merasa keputusannya mengantar Angie pulang bukanlah keputusan yang buruk.

Bagaimanapun juga, gadis itu telah bersusah payah mengembalikan ponsel dan dompetnya. Ditambah lagi, kondisi kakinya jelas tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.

Sebagai seorang pria, Riven merasa tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian. Awalnya sesederhana itu. Mengantar. Lalu selesai. Namun terkadang logika dan hati memiliki arah yang berbeda.

Dan sebelum Riven menyadarinya, ia sudah memutar kemudi ke arah yang sama sekali tidak ada dalam rencana awalnya.

Beberapa menit kemudian, mobil itu berbelok memasuki area parkir sebuah apotek yang masih buka dua puluh empat jam.

Angie yang sedari tadi duduk diam langsung menoleh dengan bingung. Mobil berhenti. Mesin dimatikan. Lalu tanpa banyak bicara, Riven membuka pintu dan keluar.

Angie hanya bisa memperhatikannya. Penuh tanda tanya. Tanpa berkata apapun. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Atau apa yang ingin dilakukannya. Angie berpikir pria itu sedang sakit atau ingin membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.

Beberapa menit berlalu.

Kemudian Riven kembali keluar dari apotek sambil membawa sebuah kantong putih berisi beberapa obat dan perlengkapan medis.

Angie semakin bingung. Pria itu berjalan lurus menuju sisi penumpang. Lalu membuka pintu tempat Angie duduk.

Dengan tatapan terkejut Angie mendongak. Menatapnya penuh pertanyaan.

Sementara itu, Riven sendiri mulai menyadari bahwa tindakannya mungkin terlihat cukup aneh. Dan juga berlebihan. Bahkan baginya. Ia yang biasanya selalu tenang dan rasional justru tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

Keheningan canggung sempat menggantung beberapa detik.

“Aku…” Riven berdeham pelan.

“Ya?” Angie berkedip.

“Aku akan mengobati kakimu.”

Hening.

Angie menatapnya.

Riven menatap balik.

Lalu keduanya sama-sama menyadari betapa aneh kalimat itu terdengar.

“…Apa?” Tatapan Angie dipenuhi keterkejutan.

Riven langsung merasa keputusan hidupnya selama lima menit terakhir mungkin tidak terlalu cemerlang.

Namun karena sudah terlanjur berdiri di sana dengan sekantong obat di tangan, mundur terasa lebih memalukan. Akhirnya ia berjongkok di samping pintu mobil.

“Berikan kakimu.”

Kini giliran Angie yang benar-benar terdiam, dan terkejut.

Riven sendiri hampir mengutuk dirinya. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Tidak pernah. Bahkan pada adiknya. Parahnya Riven tidak pernah dekat dengan wanita manapun, hidupnya sepenuhnya di dedikasikan untuk ekspektasi dan ambisi sang ayah .

Dan sekarang ia sedang berjongkok di samping mobil pada tengah malam hanya karena melihat seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa jam lalu mengalami lecet di kaki.

“Ti-tidak perlu,” ujar Angie buru-buru. Terima kasih, tapi sungguh tidak perlu.”

“Aku juga tidak berniat melakukannya.”

Angie terdiam.

“Tapi aku sudah membeli obatnya.”

Angie menatapnya dengan ekspresi bingung.

Riven mengembuskan napas pelan.Lalu berkata jujur.

“Anggap saja ini sebagai permintaan maaf.”

“Permintaan maaf?”

“Karena sempat mencurigaimu.”

Angie mengernyit. “Mencurigai? Tentang apa?”

“Kami tidak langsung percaya saat kau mengatakan akan mengembalikan dompet dan ponselku. Kau tahu banyak orang yang mendekati kami karena mereka menginginkan sesuatu dari kami.”

Angie terdiam beberapa saat. Kemudian ia memahami maksudnya.

Riven dan teman-temannya adalah orang-orang yang hidup di lingkungan bisnis. Wajar jika mereka berhati-hati terhadap orang asing.

Namun tetap saja. Mendengar pengakuan jujur itu membuatnya sedikit terkejut.

Sebelum sempat berkata apa-apa, Riven sudah lebih dulu melepaskan salah satu sepatu hak tinggi yang dikenakan Angie. Gerakannya sangat hati-hati.

Nyaris seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh. Saat itulah luka-luka kecil yang sebelumnya tertutup sepatu terlihat jelas.

Kulit putih di bagian tumit tampak memerah. Beberapa bagian bahkan sedikit berdarah akibat gesekan.

Riven langsung mengernyit.

“Tsk.” Nada suaranya terdengar tidak puas. “Pasti sakit.”

Angie langsung berusaha menarik kakinya.

“Jangan. Itu kotor.”

Namun Riven menahannya pelan dengan tangan kekarnya.

“Luka tidak pernah membuatku jijik.”

Kalimat itu membuat Angie terdiam, namun akhirnya berkata lirih.

“Bukan itu… Kau sedang meemgang kakiku.”

Riven kemudian membuka kantong plastik yang dibawanya. Satu per satu isi di dalamnya dikeluarkan. Kapas. Antiseptik. Salep luka. Dan beberapa plester.

“Lagi pula,” ujar Riven sambil menuangkan antiseptik ke atas kapas.

“Kenapa kau berjalan sejauh itu menggunakan sepatu seperti ini?”

Angie tertawa kecil. Tawa yang terdengar sedikit canggung.

“Karena aku tidak sadar.”

“Hm?”

“Sebenarnya saat hendak membawa pakaianmu ke penatu, aku belum mengetahui kalau dompet dan ponselmu masih ada di dalam saku.”

Riven menghentikan gerakannya. Tatapannya perlahan terangkat. Menatap wajah Angie.

“Lalu?”

“Ponselmu berbunyi.” Angie tersenyum kecil.

“Itu pertama kalinya aku menyadari ada ponsel dan dompet di dalam pakaianmu.”

Riven masih menatapnya.

“Ketika temanku menghubungimu…” ujarnya perlahan. “Kau belum berangkat ke kafe?”

Angie menggigit bibir bawahnya pelan.Lalu menggeleng.Senyumnya kali ini terlihat jauh lebih canggung.

“Belum.”

Hening. Mata Riven sedikit menyipit. Perasaan tak nyaman yang aneh dan membuat Riven terganggu kembali menggerogotinya.

“Apa?”

Angie tertawa kecil.

“Aku merasa tidak enak dan aneh jika aku mengatakannya, aku belum berangkat dan tidak menyadari ponselmu ada di dalam pakaian. Mungkin itu terdengar bodoh. Tapi aku tidak tahu. Aku hanya ingin mengantarkannya karena aku juga penyebab pakaianmu kotor.”

Riven terdiam. Menelan ludahnya kasar. Menatap kedua mata Angie dengan tatapan yang penuh dengan arti yang bahkan tak ia pahami. Sosok gadis polos, dan bodoh dalam sekaligus.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Karena itu berarti. Gadis ini telah berjalan cukup jauh dengan kaki yang terluka. Hanya untuk mengembalikan dompet dan ponselnya.

Dan entah mengapa, fakta itu membuat dada Riven terasa sedikit sesak, sedangkan dirinya dan teman-temannya meragukan sosok gadis di hadapannya.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!