Aku seorang wanita yang harus memikul beban kehidupan yang amat sangat pahit, hanya demi gengsi dan ambisi untuk menguasi anak laki-lakinya untuk harta dan tahta karena ingin dipandang oleh semua orang.
Awalnya kusangat bahagia karena dipersunting seorang calon imam yang mumpuni dalam segala hal, namun dengan berjalannya waktu semuanya terbuka dengan sengaja yang mengakibatkan buta mata buta hati, jangankan untuk mengerti pedulipun sudah tiada arti lagi.
Hidupku dihiasi dengan rasa penuh pana dan derita, hatinyapun sudah tak sanggup menerima karena duka yang mendalam. Padahal kuhanya pengakuan saja bukan ingin dimanja dan dipuja, pengakuan itu sudah luar biasa. Harta ku punya keluarga ku punya tapi pengakuan sebagai menantu buatnya kini tinggal kenangan semata.
Walau kelihatanya bahagia padahal kami sangat menderita karena perlakuan yang berbeda dan perhatian yang penuh dengan kebencian semata. Hilanglah semua harapan kini tinggal kenangan batu nisan jadi saksi kebencian seorang mert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PASKUD Official Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Kami berlalu dan tidur untuk merebahkan badan supaya bisa menyimpan energy untuk mendampingi ibuku besok menemui cucunya.
Pagi menjelang. Aku bangun dan bersiap packing serapih mungkin dan setelah selesai ku berkunjung kesemua keluargaku untuk pamit pulang, sebelum aku pamit sam ayah ku. Untuk menghilangkan kecurigaan terhadapku dari pandangan negative keluarga.
Sekitar jam 8 siang, umi memanggil. “Nak sini, umi lagi diruang makan.”
“Iya mi sebentar.”
Aku ditanya langsung sama kake dengan nada marah.
“Kamu kenapa ga ngomong yang sebenarnya sama bapamu ini, sudah ga nganggap bapamu lagi.” Saut papahnya ayah.
“Ti…ti..dak pah, maaf kemarin kan udah disampaikan niatku sama istri untuk membawa ppah dan umi kesana untk daftar umroh. Tapi papah kan tak mau mendengar apa yang ade sampein, kebetulan umi mau mendengarkan curhatan ade jadi umi mau aku bawa dulu kesana pah. Maaf dengan muka pucat dan nunduk tak berani melihat wajah papahnya.”
Terjadilah ceramah yang panjang yang membuatku tak bisa berkutik dan tak mau menjawab sepatah katapun karena kode dari umi , aku hanya diam dan mendengarkan saja, sampai akhirnya dia mengijinkan dengan setengah hati penuh emosi.
“Aku ijinin kamu bawa ibumu, tolong jaga tolong jauhkan dari sifat jahat tolong kamu awasi anak anakmu jangan sampai mendekati ibumu. Paham papah bilang.”
“I..i..ya pah, baik.”
Umi ku hanya bilang, “sabar nak nanti juga Allah buka hatinya.”
Aku lega mendengar perkataan umi seperti itu yang membuatku semangat lagi.
“Mih dah siap berangkat.” Aku bertanya sama umi.
“Udah nak umi dah siap.”
“Tas umi mana?.” Sautku
“Dikamar nak, ambil gih.” Umi menjawab.
“Baik mih aku ambil,” ayah sambil berlalu kekamar uminya.
Tiba saatnya aku dan umi pamit sama papah, dan kami berangkat, papahku ga memperhitakan batang hidungnya. Jangankan mengantar melihatpun ga mau, karena dengan alas an ini itu, padahal aku alhamdulillah gak pernah merepotkan mereka.
“Umi sabar ya nak, yu kita naik mobilmu, dan berangkat pulang menuju rumahmu.”
“Baik mi.”
Sambil menelan kesedihan dan ku tak terasa meneteskan air mata menuju kemobilku.
Umiku mengusap kepala, sambil berkata sabar nak Allah ga tidur. Allah akan buka hati batunya papahmu dengan kekuasannya sabar aja ya nak.
”Kita berangkat bapak ibu?.” Ungkap mang ujang(supir pribadi ayah)
“Iya mamang, silahkan maafkan kami yang mang.”
“Iya pak engga apa apah saya paham.”
“Makasih ya mang.”
Kamipun berlalu dan melanjutkan perjalanan pulang dengan hati berat karena papah ga mau ikut dan ga mau melihat kami berangkat, aku tak apa hatiku isnyaallah kuat dan mungkin nanti saat berangkat umrah mereka mau melihat dan memeluku dengan erat. Terutama untuk istriku dan anak anaku. Aku ga tega kalau mereka selama ini dan sampai detik ini masih aja ga diakui sebagai menantunya. Aku sudah sabar dan aku lakukan dengan berbagai cara, baik, kasar, lembut dan tipu muslihatpun sudah. Namun etah apa yang membuat hatinya tertutup dan membeku.
Sulit untuk mengungkapkan mengakui dengan sebuah kata nak kamu baik, nak kamu sehat, bagiamana dengan cucu cucuku apakah mereka sehat, kapan mau mampir kerumah kakemu nak, sini nak duduk samping kake. Mungkin berat seperti besi berkarat yang sudah usang membuat khilap susah untuk kembali dan menerima apa yang sudah terjadi dan menjadi takdir illahi.
Ku tak paham dengan pemikirannya ku tak mengerti dengan prilakunya, anak dan istriku ga pernah membuat dan berkata kasar bahkan beratatapanpun ga pernah, tapi mengapa mereka sebegitu bencinya pada kami. Sebegitu hinanya kami dimatanya. Apakah gerangan.
Aku sebenarnya ga peduli dengan harta yang sudah diambil paksa, aku ga pernah bahas, bhakan istriku melarangnya biarkan itu menjadi amal buat nanti imbuhnyanamun yang anehnya ko bisa ya seperti itu. Dan itu nyata.
semangat terus berkarya 👍👍
itu apa ya 🤔🤔
Sahur
sahuuuurrr
Terpaksa menikahi kepsek kejam hadir memberi like...
di tunggu ke hadirannya di karya ku ya...