Seorang pemuda yang selalu mengalami mimpi buruk berperang di alam kuno, terpilih menjadi seorang penguasa semesta. Terpilihnya sang pemuda itu bukan hanya berkaitan dengan mimpinya saja, ia juga harus menjalankan karma dari gurunya semasa menjadi sang legenda pedang.
Pemuda itu bernama Ucup Rekber, seorang pemuda biasa yang akan menjalankan misi merekonstruksi alam cultivator dari kehancuran yang disebabkan oleh pertarungan kedua makhluk agung yaitu Penguasa Iblis versus Dewa Matahari yang terjadi di masa lampau.
Berbekal pedang aneh dan berbagi tubuh dengan jiwa seorang pangeran, Ucup Rekber harus menyelesaikan misi untuk bisa kembali ke dunia asalnya.
Novel ini berkaitan dengan novel berjudul “Takdir Pedang Sang Iblis”.
Yuk, menjadi saksi petualangan si Ucup Rekber di dunia cultivator dengan menjadikan karya ini sebagai bacaan favorit kalian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelinap
“Semuanya, aku akan menyelinap memasuki markas sekte. Untuk sementara waktu, kalian semua akan tinggal di alam jiwa. Tunggulah sampai tugasku selesai!” kata Ucup langsung menarik mereka memasuki alam jiwa.
Di alam jiwa, Putri Ling Xi dan keluarga Bing Shi menatap takjub pada keindahan alam jiwa. Suasananya sangat nyaman layaknya sebuah kota fantasi.
Melihat keberadaan mereka, membuat Berlian yang sedang belajar langsung berlari menyambutnya. Dengan wajahnya yang putih kemerahan berseri gembira ia berkata, “Halo.”
Senyum terukir dari wajah Putri Ling Xi yang langsung berjongkok merangkul kedua bahu Berlian lalu berucap, “Anak pintar.”
“Selamat datang di alam ini, semuanya,” sapa Xue Xie seraya memangku Berlian.
Pangeran Xiao Li Dan tersenyum melihat keberadaan mereka yang meramaikan alam jiwa, walau tidak ada satu pun yang bisa melihat keberadaannya.
Kembali ke Ucup yang terus melangkah di Hutan Serigala. Ia tampak berhati-hati melangkah di atas akar pohon yang begitu besar menjalar menutupi tanah. Suasananya tampak begitu hening dan sangat gelap tanpa adanya cahaya yang menembus masuk ke dalamnya.
Setelah cukup jauh Ucup melangkah menyusuri hutan, ia baru menghentikan langkahnya tepat di ujung hutan yang terpisah oleh jurang yang sangat terjal di bawahnya.
“Hutan ini mengapa ada jurang pemisah di tengahnya?” gumam Ucup sambil mengedarkan pandangannya.
Ucup mulai memperhitungkan jaraknya, lalu melangkah mundur bersiap untuk melompatinya. Namun, sebelum Ucup melompatinya, terdengar suara mendesis dari ular sepanjang 50 tombak merayap di kedua sisinya. Ucup memicingkan mata melirik keduanya bergantian.
“Anaconda,” gumamnya, “semoga saja aku tidak ditelan seperti dalam film yang dibintangi oleh Julia Perez, eh, maksudku Jennifer Lopez.”
Apa yang dipikirkan Ucup berbeda dengan kenyataannya. Kedua ular tersebut terus merayap melintasi jurang seperti tidak ada ruang di bawahnya. Ucup begitu heran melihat kedua ular yang terlihat seperti menapaki dinding kaca tak kasat mata. Kedua ular itu membentuk jembatan seperti dua batang pohon kelapa.
Paham dirinya dibantu oleh kedua ular, Ucup berjalan menapaki tubuh kedua ular itu sampai ke tepian hutan yang terpisah oleh jurang.
“Terima kasih, Anaconda,” kata Ucup sambil menangkupkan kedua tangan.
Ucup melanjutkan langkah menelusuri hutan. Suasananya sangat berbeda dengan hutan sebelumnya. Hutan yang kini ditelusurinya terasa lebih mencekam dengan pekatnya energi iblis dan dipenuhi oleh banyaknya pepohonan berdaun hitam yang menjuntai lebih tinggi dari pepohonan di area hutan sebelumnya.
“Di alam ini hutannya sangat mengerikan. Hutan sebelumnya lebih mirip dengan cagar alam ataupun taman nasional, kali ini terlihat seperti hutan neraka,” batin Ucup memperhatikan hutan di sekitarnya.
Tak jauh darinya, terdengar suara lolongan serigala yang melengking ke udara. Ucup mulai memperlambat langkahnya lalu mengaktifkan mata semesta untuk memindainya.
“Hem, sampai juga di markas mereka,” gumam Ucup lalu memperluas area pemindaiannya.
“Di mana mereka menempatkan keluarga kekaisaran?” imbuhnya bertanya-tanya.
“Lord Ucup, sepertinya ada ruang bawah tanah di sekitar markas mereka,” kata Pangeran Xiao Li Dan memperkirakan.
“Betul juga katamu, Brother Xiao. Pantas saja hanya sedikit penjaga yang bertugas,” timpal Ucup.
Setelah berbicara, Ucup langsung memanjat pohon di sampingnya lalu melompat dari satu pohon ke pohon lainnya sampai berada di pohon terluar dari markas Sekte Serigala yang berbentuk rumah kayu bundar.
Menyadari keberadaan orang asing di sekitar markas, puluhan serigala yang memiliki naluri kuat berdatangan dari berbagai penjuru dan langsung membentuk barikade di sekeliling markas sekte.
“Serigala ini merepotkanku saja,” kata Ucup yang tengah sibuk memindai ke dalam rumah kayu.
“Lord Ucup, apakah sudah kautemukan ruang bawah tanah di dalam markas?” tanya Pangeran Xiao Li Dan.
“Sudah, namun ruangannya terlindungi oleh array pelindung. Akan terlalu merepotkan kalau aku menghancurkannya,” balas Ucup masih memikirkan cara untuk memasukinya.
"Kalau begitu tidak perlu menghancurkannya. Tunggulah sampai ada orang yang membukanya!"
"Iya, tapi tidak bisa juga aku selonong memasukinya."
“Dalam hukum ruang dan waktu, ada pengetahuan tentang memanipulasi udara. Cobalah gunakan itu untuk menyamarkan dirimu menjadi udara!” ujar Pangeran Xiao Li Dan.
“Baik, akan aku coba.” Ucup mengingat kembali pelajarannya.
Tak lama kemudian, bibirnya melebar mengetahui trik untuk menyembunyikan diri dalam ruang udara. Ia lalu mencobanya dan berhasil menyatu dengan udara.
Tak ingin membuang waktu, ia pun menuruni pohon dan berjalan santai memasuki pintu rumah kayu. Namun keberadaan serigala yang berjajar menutupi pintu rumah kayu, membuat Ucup harus memikirkan cara untuk mengatasinya. Terbesitlah sebuah ide di dalam benaknya.
“Sus, apakah ada alat untuk memotong di cincin spasialmu?” tanya Ucup.
Suara yang menggema di alam jiwa membuat semua penghuninya menengadahkan kepala. Xue Xie yang sedang mengajari Berlian langsung berdiri lalu mencari alat yang diminta oleh Ucup.
“Tuan Muda mau memotong apa? Aku punya pisau, pedang, dan gunting,” kata Xue Xie.
“Gunting …, boleh juga. Lemparkan ke atas!” balas Ucup.
Setelah mendapatkannya, Ucup mulai menggunakan gunting untuk memangkas habis bulu serigala di depannya. Dengan begitu telaten dan cepat, ia membabat habis bulu tebal dari seekor serigala yang berdiri menjaga pintu masuk.
“Kau terlihat siap menjadi serigala guling. Ha-ha!” kekeh Ucup merasa puas dengan hasil karyanya.
Seketika, serigala tanpa bulu mulai menggigil kedinginan lalu menyadari keanehan pada tubuhnya. Dua serigala yang berada di sisi kiri dan kanannya melirik tajam ke arah serigala yang terlihat mirip seekor kambing itu. Tanpa aba-aba keduanya langsung menyerang dengan sangat brutal. Hal itu memancing serigala lainnya untuk ikut menyerang.
Pertarungan sengit dari kawanan serigala pun tak terelakkan lagi. Beberapa penjaga yang melihatnya langsung berlarian menghampiri pertarungan. Sementara itu, Ucup berjalan santai memasuki pintu rumah kayu.
"Wow, ruangan di dalam lebih luas dari tampilan di luar!" seru Ucup terpana melihatnya.
Beberapa langkah Ucup berjalan, terdengar suara perbincangan dari dua orang di belakangnya. Ucup menoleh memperhatikannya.
"Banyak tetua sekte yang pergi menjalankan misi membuat kita harus lebih waspada," kata pria berjanggut tipis.
"Apa yang harus dikhawatirkan?" tanya pria berwajah penuh benjolan.
"Banyak dari kita yang mati oleh pemuda itu di hutan terluar. Aku yakin dia sedang menuju ke sini."
"Sekalipun dia berhasil memasuki markas, dia tidak akan menemukan apa pun di sini. Lebih baik kita bersenang-senang menikmati tubuh sang ratu, ha-ha."
"Ide bagus, tapi aku lebih tertarik pada tubuh Putri Zhao Ning. Kuyakin tubuhnya masih ranum dan wangi."
"Jangan gegabah, sang putri sudah diminta oleh ketua sekte."
"Hah, serius! Sudah bau tanah masih juga suka daun muda."
"Apakah sekte ini dipimpin oleh Kakek Sugiono?" pikir Ucup mengomentari perbincangan keduanya.
Pria berwajah penuh benjolan mengeluarkan sebuah artefak yang memancarkan cahaya menyingkap lapisan array pelindung. Array pelindung tampak menipis dan membuka sebuah lubang portal memasuki ruang lainnya. Keduanya lalu berjalan memasuki lubang portal diikuti oleh Ucup di belakangnya.
Setelah berjalan menyusuri lorong rahasia, Ucup mengikuti kedua pria memasuki sebuah ruang yang cukup luas. Ucup terbelalak menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh anggota sekte terhadap keluarga Kekaisaran Zhao. Tampak seorang pria sedang berlutut memohon ampun di depan pria berbadan besar. Pria yang berlutut itu tak lain adalah Kaisar Zhao Dang.
“Zhao Dang!” terdengar suara berat dari pria besar sambil menudingkan telunjuknya kepada sang kaisar yang berlutut dengan tubuh menggigil dan wajah pucat.
“Katakan kepadaku, di mana kalian bersembunyi selama ini?” tanya sang pria besar dengan suara yang tertahan.
“Kalian semua akan dikorbankan kepada bangsa iblis, jadi tidak perlu lagi menyembunyikan apa pun dariku. Lihatlah keluargamu yang akan jadi santapan para iblis!” Si pria besar menunjuk ke arah keluarga Kekaisaran Zhao yang terpedaya oleh bilah tajam pedang anggota sekte.
Kaisar Zhao Dang semakin gugup. Dalam hatinya ia tidak mungkin mengatakan lokasi persembunyiannya. Menurutnya, dikatakan ataupun tidak akan berujung pada kematian. Ia terus saja terdiam tanpa mau menjawab.
“Ha-ha! Jadi kau tidak ingin mengatakannya … baiklah, itu tidak masalah. Kau memiliki istri dan anak yang cantik,” imbuh sang pria besar mulai merencanakan sesuatu yang buruk dan kotor terlihat dari sorot matanya yang licik dan lidah memelet keluar.
“Ja … jangan, Tuan, aku mohon.” Suara sang kaisar tidak jelas terdengar karena ketakutan pada suatu hal buruk terjadi kepada anak dan istrinya.
Ia terus saja menggelengkan kepala memohon kepada si pria besar untuk tidak melakukan hal buruk kepada anak dan istrinya. Di sudut ruang, Ucup mendengus kesal melihat perlakuan orang-orang sekte yang mulai mengancam ke arah kedua wanita.
“Bicara apa kau, Zhao Dang? Katakan dengan jelas atau aku akan memenggal kepalamu!” ancam si pria besar.
Sring!
Pria besar menarik pedang dari sarungnya dan mengangkatnya tinggi bersiap untuk memenggal kepala Kaisar yang berlutut di hadapannya. Semua keluarga Kaisar yang melihatnya menjadi pucat dan mendekap mulut menutupi kepanikan.
“Sedikit saja kulit Kaisar tergores oleh pedang, maka kalian akan aku siksa hingga memohon kematian!” kecam Ucup terbawa emosi menyaksikannya.
Aku jadi geli 🤣
Salam somplak dan see you.🙏
Tertanda,
UCUP REKBER 😁