Bukankah setiap makhluk hidup yang bernama anak kecil itu selalu lucu dan menggemaskan? Sikapnya, cara bicaranya, tubuh mungilnya, semua nya menggemaskan.
Tapi bagaimana jika anak kecil itu adalah putra seorang Bos Mafia yang paling di takuti dunia? Beranikah kau menyentuhnya?
Hera, gadis manis yang terpaksa menjadi ibu sambungnya. Harus mengurus segala hal yang berhubungan dengan anak kecil tersebut.
Bisakah Hera bertahan menjadi ibu sambung dan hidup di tengah dunia mafia? Bagaimana dia menjalani hidupnya bersama anak sambung dan suami mafia nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kemilau Senj@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. BERKUDA
Hari ini Tuan Tama tidak pergi ke kantor. Semua pekerjaan dilakukannya di rumah. Entahlah, rasanya dia sangat malas untuk pergi. Padahal sebelumnya dia adalah seorang penggila kerja. Bahkan dia sering lupa waktu kalau sedang bekerja. Tak apa, dia juga manusia biasa. Anggaplah saat ini dia sedang lelah dan butuh istirahat.
Tuan Tama memandangi Deon dari balkon kamarnya. Putranya tengah berkuda saat ini. Entah sejak kapan Deon menggilai hobi barunya itu. Tapi apapun itu selagi baik bagi Deon, Tuan Tama pasti akan mengabulkan keinginan putranya tersebut.
Dari luar arena tempat Deon berkuda, Hera tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Air mata menggenangi mata nya. Dia sedih membayangkan jika nanti dia benar-benar harus berpisah dengan Deon.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Tuan Tama tiba-tiba sudah berdiri tegap di samping Hera. Entah kapan laki-laki itu sampai di sana. Tentu saja hal itu membuat Hera sangat terkejut. Hampir saja jantung nya lepas, saking kagetnya.
"Ti-tidak ada Tuan, saya hanya melihat Tuan muda yang sedang berkuda." Jawab Hera terbata-bata. Ketika rasa kaget bercampur takut, rasanya sangat tidak nyaman. Dan Hera merasakannya.
"Menurut mu dia anak yang seperti apa?"
"Tuan muda.... dia anak yang sangat manis, penuh kasih sayang, tegas dan bertanggung jawab. Dia sangat luar biasa untuk anak usia lima tahun."
Meskipun awalnya Hera ragu untuk menjawab pertanyaan Tuan Tama, tapi akhirnya dia tetap mengutarakan penilaian nya. Hera ingin Tuan Tama menyadari betapa istimewanya Deon.
Dia sangat ingin hubungan Deon dan ayahnya bisa lebih baik lagi. Apalagi jika nanti dia sudah tidak bersama anak kecil itu lagi. Setidaknya Hera bisa sedikit tenang karena Deon masih punya seorang ayah yang akan selalu ada untuk nya. Begitu harapan Hera untuk Tuan muda yang sangat di sayangi nya tersebut.
"Kau menyukainya?"
"Tuan muda Deon sudah terlanjur mencuri hati saya dengan semua perhatian nya." Sambil tersenyum, mata Hera berbinar membayangkan bagaimana Deon menyayangi nya selama ini.
"Bagaimana dengan ku?"
"Ha?" Hera menatap wajah tampan laki-laki di sampingnya yang kini juga tengah menatapnya. Hera mengakui bahwa ayah Deon ini memang sangat tampan, tapi tentu saja Deon lebih segala-galanya dari Tuan Tama.
Hera tidak mengerti maksud pertanyaan Tuan Tama padanya. Tapi dia juga tidak berani untuk bertanya.
"Aku orang yang seperti apa?" Tanya Tuan Tama meluruskan pertanyaan sebelumnya.
Hera bingung harus menjawab apa. Dia sungguh tidak tau bagaimana watak pria di sampingnya ini. Yang dia ingat hanyalah betapa kejamnya laki-laki itu saat menghukum nya. Tapi dia tidak mungkin mengatakan hal itu langsung pada Tuan Tama.
Beruntung Deon segera datang menghampirinya. Jadi dia tidak harus mengarang bebas untuk menilai Tuan Tama.
"Hera, ayo kita berkuda bersama!" Ajak Deon antusias. Dia bahkan menarik-narik tangan Hera untuk segera masuk ke arena.
"Tapi Tuan muda, saya tidak bisa."
"Tidak apa-apa. Aku akan mengajarimu."
"Tidak perlu Tuan muda, saya tidak berani."
Hera belum pernah menunggangi kuda sebelumnya. Tentu saja dia merasa takut jika harus naik kuda bersama Deon. Bagaimana jika nanti mereka terjatuh? Kalau hanya dia yang terluka tidak masalah, kalau Deon bagaimana? Apalagi Tuan Tama ada disana melihatnya. Dia bisa dihabisi Tuan Tama jika sampai melukai Deon.
Hera masih berusaha untuk menolak ajakan Deon, dia sungguh tidak bisa melakukannya. Wajahnya bahkan memucat karena khawatir.
"Biar aku saja." Ucap Tuan Tama menawarkan diri. Hera merasa lega karena dia tidak harus naik kuda. Tapi kemudian...
"Dia akan berkuda dengan ku, ayo!" Tuan Tama menarik tangan Hera, dan membawanya masuk ke arena.
"Siapkan kudaku!" Perintah Tuan Tama pada penjaga kuda di sana kemudian.
Entah Hera sadar atau tidak, dia hanya diam saja saat Tuan Tama menarik nya. Mereka berjalan menuju arena berkuda sambil terus bergandengan tangan. Dia malah sibuk menatap pria tampan yang menggandeng tangannya. Dan itu tak luput dari pandangan mata Deon.
Tuan Tama menghampiri kuda yang akan di tungganginya bersama Hera. Kuda berwarna coklat itu terlihat sangat gagah, sama seperti pemiliknya.
Tuan Tama naik terlebih dahulu, kemudian dia mengulurkan tangannya pada Hera, untuk membantu wanita cantik itu naik.
"Pegang tanganku!" perintah Tuan Tama.
Dengan ragu-ragu Hera meraih tangan kekar Tuan Tama. Dia terkejut saat Tuan Tama menarik tangannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah posisinya saat ini. Tuan Tama terlihat seperti sedang memeluknya di atas kuda.
Tiba-tiba jantung Hera berdetak sangat kencang. Apa dia terkena serangan jantung dadakan? Hera tidak bisa menetralkan detak jantungnya saat ini. Entah apa yang membuat jantungnya berdetak secepat ini? Apa karena dia yang takut naik kuda? Atau karena posisinya yang sangat dekat dengan Tuan Tama?
"Kau tidak ikut?" Tanya Tuan Tama membuyarkan lamunan Deon yang terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia pun memutuskan untuk bersiap dengan kudanya sendiri, yang ukurannya lebih kecil dari kuda milik Tuan Tama.
Mereka pun akhirnya berkuda bersama. Ayah, anak dan ibu sambung itu terlihat sangat harmonis. Mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga.
Awalnya semua berjalan normal. Kuda yang di tunggangi Tuan Tama berjalan pelan atas perintah Tuannya. Diikuti Deon dengan kudanya di belakang mereka.
Tiba-tiba Tuan Tama memacu kudanya untuk melompati sebuah rintangan yang ada di hadapannya. Hera yang tidak siap dengan itu semua hampir saja terjatuh, jika tangan kekar Tuan Tama tidak menahannya.
Kini mereka benar-benar tengah berpelukan. Karena ketakutan Hera tak sadar memeluk erat Tuan Tama. Sedangkan tangan Tuan Tama setia merangkul pinggang wanita cantik di depannya.
"Kau sangat pintar mencuri kesempatan."
rasain gk dpt Nasi Goreng
Nasgor Hera is the best