Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.
Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.
Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.
Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.
Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Selamat Tinggal Putih Abu-abu
Bianca ditemani Della dan Mia berdiri di depan ruang BK menyender pada tembok pembatas lantai 2.
Hatinya ingin cepat pulang karena bukan hanya seragamnya kotor dari ujung kemeja sampai roknya tapi bau campuran air pel dan air got membuatnya sedikit mual.
Tadi sempat pamitan Bu Yuli untuk ijin pulang, tapi walikelasnya minta Bianca ditemani kedua sahabatnya ke ruang BK dulu. Di sana sudah ada Nindi, Chika dan Lia serta Arya dan Devano yang diminta ikutan duduk sebagai saksi.
“Tadi kami nggak sengaja Bu, mau menghilangkan bau di wc malah nyiram Bianca yang baru keluar dari toilet.” Nindi dengan wajah tidak bersalah berusaha membela diri.
Selain kelima murid, dan tentu saja Bu Emi sebagai guru BK, hadir juga Bu Yuli dan Pak Arman.
Pak Arman menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Nindi dan mendengar perkataannya. Ini kali kedua Pak Arman berada di lokasi langsung melihat kejadian Nindi dan Bianca.
“Lalu air got itu yang ada dalam botol plastik ?” Tanya Bu Emi sambil menatap Nindi, Chika dan Lia bergantian.
“Sudah ada di situ Bu,” sahut Lia cepat namun asal-asalan.
Kali ini Bu Emi menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang.
“Kalian sudah sampai pada kelulusan, tidak mungkin lagi sekolah memberikan hukuman atas perbuatan kalian.”
Ketiga gadis itu menunduk, namun sikap Nindi yang sangat terlihat dibuat-buat kalem membuat Arya mencebik dan merasa geram. Sementara Devano hanya duduk di salah satu kursi tanpa melihat ke arah ketiga gadis itu.
“Paling tidak minta maaflah pada Bianca.” Pinta Bu Emi.
“Minta maaf ?” Nindi langsung mengangkat kepalanya dan sedikit melotot menatap Bu Emi.
“Bu, sudah saya katakan tadi…”
“Iya kamu nggak sengaja,” Potong Pak Arman. “Tapi air got yang tersiram pada badan Bianca tidak mungkin jalan sendiri.”
“Tapi Pak, kami…”
“Bersikaplah dewasa sedikit.” Bu Emi memotong kembali pembelaan Nindi.
“Sebentar lagi kalian melepas seragam. Kuliah sudah pakai baju bebas artinya kalian diberi kebebasan untuk menunjukkan identitas diri sendiri.” Nasehat Bu Emi.
“Tinggalkan masa putih abu-abu kalian dengan baik, sama seperti saat masuk kemari, keluar pun tinggalkan kesan yang baik.”
“Susah banget sih ucapin kata maaf,” ketus Arya.
Pembiacaraan menjadi berbelit karena Nindi dan teman-temannya terus menolak meminta maaf pada Bianca dan ngotot bahwa kejadian tadi adalah ketidaksengajaan. Saat sedsng seru berdebat, pintu ruangan BK diketuk.
“Maaf Bu,” Bianca muncul setelah pintu dibukakan oleh Bu Yuli.
“Maaf saya ijin pulang dulu, badan saya mulai gatal-gatal.”
Bu Yuli menoleh ke arah Bu Emi dan Pak Arman dan mendapati keduanya mengangguk.
“Kamu pulang sama siapa Bianca ?” Tanya Bu Emi.
“Sama saya saja Bu,” Arya yang menyahut langsung berdiri.
“Sekalian nanti saya yang menjelaskan ke mamanya supaya nggak khawatir melihat anaknya pulang-pulang kayak begini.” Arya menoleh menatap Bianca sambil tersenyum tipis.
“Eh nggak usah,” tolak Bianca cepat. “Saya diantar Della saja pakai motor atau naik ojol.”
“Nggak boleh nolak.” Arya mendekat dan menggenggam tangan Bianca.
“Kami pamit dulu ya Bu, Pak.” Arya membungkuk sedikit untuk pamit pada ketiga gurunya.
“Eh Arya,” Bianca masih bingung dan ingin menolak Arya tapi tangan cowok itu sudah menariknya.
“Permisi Bu, Pak. Saya pamit dulu.” Bianca mengangguk cepat sebelum badannya terbawa karena ditarik oleh Arya.
Dan 20 menit kemudian Arya menghentikan motornya di depan pintu rumah Bianca.
Arya mematikan mesin, turun dari motor dan melepas helmnya.
“Mau ngapain ?” Bianca mengerutkan dahinya.
“Mau ketemu sama nyokap elo lah.” Jawab Arya sambil menaruh helmnya di salah satu spion.
“Nggak usah !” Bianca menahan tubuh Arya dengan tangannya.
“Gue bisa bilang kalo ini cuma seru-seruan acara kelulusan.”
“Tapi Bi…”Bianca menggeleng. Dia membalikkan tubuh Arya dan mendorong pelan ke arah motor.
“Pulang sana ! Cuci kaki, cuci tangan terus bobo siang, ya.” Bianca terkekeh saat melihat ekspresi Arya yang menatapnya aneh.
“Bukan efek karbol kan Bi ? Apa tadi keminum ?” Arya membungkukan badan hingga wajahnya sejajar dengan wajah Bianca.
Bianca cemberut lalu memukul bahu Arya pelan.
“Keminum dikit. Kalo kebanyakan udah ke IGD bukan ke rumah.” Bianca mencibir ke arah Arya.
“Sembarangan !” Arya tertawa lalu menyentil jidat Bianca.
“Arya !” Bianca mengerucutkan bibirnya.
“Bau !” Arya mencium jari-jarinya yang tadi dipakai untuk meyentil Bianca.
“Mandi sana, nanti kurapan repot.” Arya tertawa saat melihat wajah Bianca semakin cemberut.
Arya memutar tubuh Bianca ke arah pagar dan didorongnya pelan sampai ke pintu masuk.
“Kalo perlu mandi kembang ya, biar baunya hilang.”
Arya cekikikan saat Bianca mulai membuka gerendel pintu gerbang.
“Nyebelin !” Bianca menggerutu menoleh menatap Arya sambil mencebik.
“Daaahhh !” Arya segera berbalik dan menaiki motornya. Dia melambaikan tangan lalu memakai helmnya sambil tertawa melihat ekspresi Bianca.
Ada getaran yang tidak mampu ditolaknya. Arya menguatkan hatinya untuk menghentikan ketertarikannya pada Bianca.
“Tinggal sebulan lagi aku ada di dekatmu, Bi. Menjauh darimu untuk melepaskan rasa cinta ini akan lebih baik daripada sering-sering melihatmu langsung.” Ucap Arya dalam hati.
Dua hari berlalu sejak insiden toilet yang dilakukan oleh Nindi dan kawan-kawannya. Bebas dari hukuman hanya nasehat panjang lebar dari para guru, karena kenyataannya bahwa hari ini anak-anak kelas 12 akan melakukan seremonial kelulusan bersama orang tua. Itu artinya hukuman apalagi skorsing sudah tidak ada gunanya.
Bianca berhenti sejenak di halaman sekolah sambil menggandeng lengan mama Lisa. Ada perasaan sedih yang berusaha ditahannya apalagi saat melihat beberapa temannya datang didampingi kedua orang tua mereka. Hatinya merasa sedih karena sampai saat ini papa Indra belum ada perkembangan apa-apa.
“Bibi, Bian !” Suara cempreng Mia memanggilnya dengan lambaian tangan saat Bianca dan mama Lisa berdiri di depan pintu aula sekolah.
Mia yang didampingi mamanya saja menepuk-nepuk kursi di sebelahnya memberi kode ke Bianca.
“Tante Dewi, apa kabar ?” Sapa Bianca pada mamanya Mia yang duduk di sebelah sahabatnya itu.
“Baik Bianca,” mama Dewi tersenyum. “Kamu makin cantik aja.”
“Terima kasih, Tante.” Bianca mempersilakan mama Lisa duduk duluan di sebelah Mia.
Kedua mama-mama yang memang sudah saling kenal karena anak-anaknya langsung saling menyapa disertai cipika cipiki.
Selang 5 menit ternyata Della juga datang dan sama seperti Mia dan Bianca, Della hanya didampingi oleh mama Dina yang langsung menyapa mama Lisa dan mama Dewi.
Formasi duduk pun akhirnya berubah, karena para mama duduk berderetan, di sisi mama Dewi, ketiga sahabat itu duduk berdampingan juga dengan posisi Bianca di tengah.
Acara dimulai dengan berbagai kata sambutan, termasuk dari ketua yayasan SMA Dharma Bangsa yang ternyata adalah Tante Angela, mamanya Devano.
“Bi, camer Bi. Camer tuh.” Mia menyenggol bahu Bianca sambil berbisik dan tertawa pelan.
“Apaan sih lo ?” Bianca mencibir.
Della ikut tertawa pelan dan menyenggol bahu Bianca juga.
“Elo ngomong apaan sama Devano sampai tuh cowok kelihatan kesal,” bisik Della.
“Kesal darimana ? Orang kagak ada ekspresi begitu,” dengus Bianca.
“Yang ngeliat kan kita Bi, memang iya mukanya Devano kelihatan sedikit kesal pas buang muka.” Timpal Mia juga dengan suara berbisik.
“RAHASIA !” Bianca mendelik sambil menatap ke Mia dan Della bergantian.
“Diihh gitu sama sahabat,” Mia mencebik.
“Udah sih, tuh dilihatin Bu Yuli.” Bianca menunjuk Bu Yuli dengan dagunya.
Dan percakapan itu akhirnya terhenti saat Pak Budi selaku Kepala Sekolah memberikan pengumuman kembali di depan para orangtua bahwa semua siswa kelas 12 SMA Dharma Bangsa dinyatakan lulus 100 %.
Semua yang hadir langsung bertepuk tangan bahkan beberapa siswa ada yang berteriak menanggapi dan bersahutan heboh.
Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada 10 besar terbaik dari kelas IPA dan IPS. Dan sudah bisa ditebak kalau Devano dan Arya akan menjadi bagian dari kelas IPA dan menduduki peringkat 1 untuk Devano dan 3 untuk Arya. Sementara Bianca kebagian juga mendapat penghargaan sebagai siswi berprestasi di bidang non-akademis. Alhasil Bianca harus berfoto bareng dengan para siswa berprestasi lainnya.
Entah bagaimana dan siapa yang berinisiatif mengatur, posisi Bianca berdiri tepat di sebelah Devano. Tante Angela selaku ketua yayasan tadi sempat menyalaminya juga di atas panggung dan ikut berfoto.
Duh susah banget ya menghapus jejak Devano di sekolah, Bianca membatin dalam hatinya.
Selesai seluruh rangkaian acara, Bianca cepat-cepat mengajak mama Lisa meninggalkan aula. Dia ingin menghindari pertemuan dengan Tante Angela.
Dilihatnya sosok wanita yang sangat perhatian padanya masih sibuk dekat panggung berbincang-bincang dengan Pak Budi dan beberapa guru.
Ada Tante Deasy, mamanya Arya, ikut ngobrol di situ.
“Ma, mau langsung ke rumah sakit ?” Bianca menggandeng lengan mamanya sampai ke dekat gerbang.
“Nggak pulang dulu ganti baju yang nyaman ?”
“Hmmm boleh juga sih ma. Sebentar Bianca pesan taksi online dulu.” Bianca mengeluarkan handphoe dari tas selempang kecilnya.
Mia dan Della entah kemana. Mereka tadi sibuk berfoto-foto dengan beberapa teman sekelas dan para guru. Bianca sengaja tidak ikutan karena ingin menghindari mamanya Devano.
“Bianca !” Mia sudah menemplok saja di bahunya.
“Sakit Mia .” Bianca mendengus kesal dan mengusap bahunya.
“Kok cepet pulang sih. Foto-foto dulu dong, teman-teman masih kumpul di aula.”
“Gue mau ke rumah sakit.”
Mia merebut handphone Bianca dan membatalkan pesanan taksi online di aplikasi handphone Bianca.
“Mia !” Pekik Bianca dengan wajah kesal.
“Tante boleh kan pinjam Bianca sebentar ? Foto-foto terakhir pakai seragam abu-abu, Tante.” Mia memasang tampang memelas di hadapan mama Lisa.
Mama Lisa tertawa melihat ekspresi Mia dan menganggukkan kepalanya.
“Tante malah bingung kenapa Bianca maunya cepat-cepar pulang. Sudah Tante suruh tadi ikutan foto-foto.”
“Terima kasih, Tante cantik.” Mia langsung mencium pipi mama Lisa.
Bianca langsung cemberut apalagi tangannya ditarik oleh Mia. Rencananya gagal mau cepat-cepat pulang.
Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Mama Dewi san Mama Dina.
“Titip Tante Lisa, ma.” Tutur Mia pada mamanya sambil menunjuk ke arah mama Lisa yang berjalan agak jauh di belakang mereka.
Mama Dewi hanya menggangguk dan memberi kode oke dengan tangannya.