NovelToon NovelToon
Noktah Merah

Noktah Merah

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asri Faris

Mencintaimu seperti menggenggam bara api. Semakin dalam aku menautkan hati ini semakin nyata rasa sakit yang dirasakan, dan itu membuat aku semakin sadar, tidak ada ruang sedikitpun di hatimu untukku. Aku begitu sangat mencintainya, tapi tidak untuk dia, dia bahkan tidak pernah melihat kesungguhan aku sedikit saja.


Nabila maharani bagai menelan pil pahit dalam hidupnya, di malam pengantin yang begitu bahagia, ia disuguhkan dengan takdir atas kehancuran dirinya. Ternoda di malam pengantin, sesuatu yang ia jaga terenggut paksa oleh sahabat sekaligus adik iparnya. Bisma maulana ikhsan kamil, ada apa denganmu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30

"Razik!" panggil Bila melengking, menggema di seluruh ruangan.

"Bun, Razik ke mana ya? Nggak ada di kamar, si Bisma juga nggak ada. Mbak Lastri juga, pada kemana sih?" Bila menggerutu, ditambah rasa lelah baru saja sampai rumah lengkap sudah kekesalan perempuan itu tidak menemukan putranya di rumah.

"Coba cari di belakang, Bil, jangan marah-marah terus, kamu bawaanya ketus mulu sama suami kamu, nggak kasihan apa?" tegur Bunda Rima merasa tak suka melihat anaknya selama ini memperlakukan suaminya.

"Bunda apaan sih, bantu carilah bukan malah menilaiku ada Bisma," jawabnya kesal.

"Mbak Lastri!" Bila sampai ke belakang menuju kamar pembantunya. Rupanya kosong tak berpenghuni.

"Bun, minta tolong hubungi Bisma?" Bila mendadak cemas.

"Nih ponselnya." Bunda Rima menyodorkan benda pipih itu di hadapan anaknya.

"Bunda aja yang telphon, aku males ngomong sama dia, entar ge er lagi kalau aku hubungi duluan."

"Astaghfirullahalazim ... Bila, cuma perkara telphon saja kamu segitunya, nggak baik nak menyimpan benci terus-terusan," tegur Bunda Rima kesal.

"Udah deh Bun, cepetan, Razik ada sama dia nggak? Perasaanku nggak enak."

"Kamu ini benar-benar keras kepala." Bunda Rima geleng-geleng kepala.

"Assalamu'alaikum ...." sapa salam dari luar mengalihkan fokus kedua perempuan yang tengah dilanda cemas itu.

"Ibuk, Non Bila, sudah pada pulang? Punten, Non, izin ke belakang," ujarnya Lastri melewatinya.

"Eh, Mbak, dari mana aja, mana Razik?" serbunya tak sabar.

"Tadi sama Den Bisma, Razik nangis terus sepertinya dibawa keluar," ujar Lastri datar. Perempuan itu baru saja pulang dari warung ujung kompleks.

"Di bawa keluar ke mana, Mbak, tahu nggak?"

"Kurang tahu, Non, tadi 'kan Razik bobok, terus nangis nyariin Non Bila, Den Bisma lagi sholat di masjid, untung segera datang nenangin Razik, kalau nggak Lastri bingung nenangin Raziknya," jelas art itu.

"Nyebelin banget sih tuh orang," gerutu Bila mondar-mandir.

"Gimana Bun, tersambung nggak?" tanyannya semakin cemas.

"Tersambung, tapi nggak diangkat, kamu yang tenang dong Bila, Razik itu sama ayahnya, jadi jangan terlalu lebay deh, nggak bakalan kenapa-napa." Sejenak Bila berpikir, ada benarnya juga kata bunda.

Hingga menjelang maghrib, Bisma dan Razik tak kunjung pulang, Bila masih berusaha tenang. Perempuan itu mengalihkan dengan sholat dan membaca wirid sebentar. Detik dan menit berlalu, Bila yang gelisah menunggu putranya pulang, mengalihkan dengan membantu Lastri menyiapkan makan malam.

"Mbak Lastri, tadi Bisma ada titip pesen apa gitu waktu pergi bawa Razik," Bila tidak tahan untuk tidak mengulik kejadian tadi siang.

"Nggak ada Non, Den Bisma paling pulang ke rumahnya, kenapa nggak disusulin aja Non, dekat juga tetangga sebelah."

"Hah! Ngarang kamu, rumahnya Pandu?" tanyanya bingung.

"Iya, Den Bisma 'kan tinggal di sebelah, masa' Non Bila nggak tahu."

"Ya udah deh, temenin ya?" pintanya merasa aneh.

"La, ini masakan saya gimana ceritanya kalau saya nemenin Non Bila, Bapak sama Ibuk 'kan terbiasa makan malah sehabis isya. Nanti nggak mateng."

"Ish ... jadi saya harus bertamu sendirian gitu, nggak mau, duh ... Mbak, please ....!" Bila masih saja merasa waswas kalau suruh menemui Bisma apalagi bukan di rumahnya sendiri yang banyak orang.

Akhirnya dengan rasa malas bercampur kesal, Bila menghubungi ponsel suaminya. Ia akan berusaha mengobrol lewat sambungan telepon, untuk menyuruh suaminya membawa pulang anaknya.

Panggilan pertama tersambung, namun tidak diangkat, Bila pikir mungkin pria itu sedang sholat. Berprasangka baik saja, panggilan kedua, ketiga, hingga keenam kalinya, sama sekali tidak ada jawaban. Bila jelas menahan kesal, sepertinya Bisma sengaja menahan Razik dan tidak berniat pulang. Mendadak Bila dongkol sekali, merasa terancam Bisma akan mengambil anak itu dan dengan sengaja memisahkannya.

Bila pun terpaksa memberanikan diri berkunjung ke rumah tetangganya, yang katanya rumah Bisma itu. Hari sudah menjelang malam, jarum jam pendek menunjuk di angka setengah delapan ketika Bila menyambangi gerbang rumah tetangganya. Sengaja menggetok pagar agar terdengar dentingan keras, untuk mengalihkan penghuni rumah tak ketinggalan sapaan salam yang melengking nyaring.

Pandu yang tengah duduk santai pun segera keluar melihat ada pergerakan tamu di rumahnya.

"Maaf, cari siapa Mbak?" tanyanya bingung. Pria itu mengamati secara seksama wanita cantik berbalut hijab dan gamis itu.

"Astaghfirullah ... Pandu? Kok melamun sih," tukasnya jengah, melihat tetangganya malah memperhatikan dirinya tanpa jeda. Buku-buku Bila menghalau untuk memutuskan tatapannya.

"Nabila!" pekiknya tak percaya, saat pria itu baru mengenali sosok wanita yang berdiri tak jauh dari pagar.

"Pandu, iya ini saya, maaf malam-malam ganggu."

"Owh ... tentu saja nggak dong, kamu beda sekali, masya Allah bikin aku pangling," ujarnya tersenyum takjub. Bila hanya menanggapi dengan senyuman.

"Bisma ada nggak?" tanyanya to the point.

"Nyari yang ada di depan mata aja Bil, kenapa harus mencari yang tak terlihat," jawab pria itu dengan gurauan.

"Ayo masuk, biar enak ngobrol di dalam," ujarnya mempersilahkan, membuka gerbang lebih lebar.

"Terima kasih Pandu, tolong sampaikan sama Bisma suruh keluar, saya cukup dari sini saja."

"Bisma tidak pulang ke sini, bisanya sih iya, tapi hari ini belum ada muncul batang hidungnya, aku juga belum ketemu dia nggak masuk kantor juga."

"Bisma nggak di rumah? Kenapa nggak ngomong dari tadi, Bisma ke mana, kamu tahu nggak, dia bawa anak saya?" tanyanya mulai lebih cemas dari yang tadi.

"Kenapa nggak ditelpon saja," ujar Pandu memberi solusi.

"Udah, tapi nggak diangkat."

"Owh ... mungkin sedang sibuk, soalnya tadi baru saja telphon saya meminta laporan tugas kantor hari ini."

"Hah, masa sih, emang ada berapa nomor yang dia punya?"

"Kurang tahu, mungkin punya nomor khusus kali setiap berhubungan denganmu, berasa kaya selingkuhan saja," ucapnya tanpa tedeng aling-aling. Mendadak Bila terngiang-ngiang kata-kata Bisma kemarin.

"Oke, terima kasih Pandu informasinya, aku pulang dulu."

"Eh, nggak mau masuk, atau aku antar ke rumah Tante Mita, gimana? Siapa tahu ada di rumah ibunya, soalnya tadi telphon jiga nggak nanya posisi di mana, cuma ngobrol pekerjaan udah gitu kelar."

Bila nampak menimbang-nimbang gelisah, antara ingin mengiyakan tapi bingung.

"Tunggu sebentar, Pandu, aku ambil handphone dulu," pamitnya mengiyakan. Pandu tentu senang, dengan senang hati menemani Bila menuju kediaman tantenya.

Lima belas menit kurang, Bila sudah sampai kembali di depan gerbang Pandu. Perempuan itu tidak sendiri, menggandeng Lastri untuk menemani.

"Kamu kenapa ikut?" tanya Pandu menyorot art itu.

"Aku yang minta, kamu keberatan?" jawab Bila datar.

"Nggak juga sih, ayo naik." Mereka menuju kediaman orang tuanya Bisma. Entah mengapa Bila selalu deg degan jika berkunjung ke rumah itu. Kepingan masa lalu mendadak bermunculan begitu saja. Membuat pikirannya tak tenang dan semakin resah.

Sesampainya di rumah Bu Mita, keluarga besar itu nyatanya tengah makan malam bersama. Seorang art rumah tangga mempersilahkan untuk masuk. Nampak wanita cantik seumuran bundanya menyembul dari ruang tengah, menyapa Bila yang tengah duduk resah.

"Assalamu'alaikum .... Ma," sapa Bila langsung berdiri menyambut Bu Mita yang mendekat dengan senyum terkembang.

"Waalaikumsalam ... apa kabar sayang." Mereka saling berpelukan.

"Ngobrolnya nanti saja, kebetulan sedang makan malam, ayo sayang sekalian gabung saja," ujar Mama Mita mempersilahkan.

"Mau dong Tante." Pandu semangat empat lima.

Bila yang canggung, cukup sungkan menolak, alih-alih langsung bisa membawa Razik pulang, dirinya malam terjebak jamuan makan malam. Terlihat, sederet bangku sudah terisi berjejer di sana.

Bisma yang nampak tenang duduk menikmati hidangan di sana, papa, dan ....

Deg

Mata Bila tak sengaja bertabrakan dengan Gema yang juga tengah duduk bersama menikmati makan malam.

.

Tbc

1
Cee Suli
part ini bikin nangis🥺🥺
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Wahyunni Winarto
akhirnyaa cinta tdk akan salah memilih untuk pulang🥲🥲
Wahyunni Winarto
nyesekkk sekali😭😭😭
Bundanya Syahdan
ya ampun razik, kamu datang disaat yg tidak tepat nak 😭
Bundanya Syahdan
mana ketemu mantan lagi 😭
Hani Hani89
novelnya judul nya apa yg sama Azmi
Bundanya Syahdan
wah akhirnya bila balik juga, dan langsung ketemu bisma nhhak tuh 😭
Bundanya Syahdan
ayo bisma pepet teroooss 🤭🤣
Luar biasa
Faris Fahmi
percuma menyendiri di pesantren bila
kalo masih memendam kebencian
aturan berkumpul aja sama emak2 tukang gosip, baru maklum kalo masih benci sama bisma
Linda Febri
Luar biasa
Mumun Munawwaroh
itu suamimu bila
gia nasgia
candunya Bisma
Gita mujiati
Luar biasa
Gita mujiati
Lumayan
Idhar Dar
Bagus masih mau lanjutannya
Jumi Nar
Luar biasa
Borahe 🍉🧡
jodohnya Gua Azmi nih. hahaha
Borahe 🍉🧡
haha "kok mau?? "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!