Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.Sebuah Penghinaan
...____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Semua pekerjaan sudah selesai, jam pulang pun juga sudah tiba. Kali ini Arini bergegas untuk pulang secepatnya sebelum dia ketahuan Arya dan mendapatkan pekerjaan tambahan seperti biasanya.
Arini berjalan mengendap-endap saat sampai di depan ruangan Arya, langkahnya sangat pelan bahkan tak terdengar suara langkah kakinya, "aku harus pelan, kalau tidak aku pasti akan kembali tertahan lagi di sini. Mana katanya tak ada uang lembur lagi? bukan itu saja, tapi aku tak mau jalan kaki lagi," ucapnya dengan berbisik.
Suara pelan Arini tak akan mungkin di dengar oleh Arya bukan? kecuali kalau Arya mempunyai indra ke-enam dan bisa membaca pikiran orang lain.
𝘌𝘬𝘩𝘮...
Suara deheman yang di sengaja itu terdengar sangat jelas dari telinga Arini, sepertinya Arini juga mengenal suara itu. Arini menoleh seketika dia meringis saat melihat siapa yang ada di sana dengan menyandarkan punggungnya di dinding dan dengan begitu santainya dia juga bersedekap dada, dan ya jangan lupakan kakinya yang tumpang tindih.
"Hehehe, Pak tuan toh. Kirain tadi ada badai yang sedang lewat," ucapnya dengan deretan giginya yang putih dia perlihatkan.
Arya mengambil posisi berdiri tegak, memindahkan kedua tangannya ke dalam saku celana berjalan pelan ke arah Arini. Astaga..., cool banget deh.
"Mau kemana, pulang?" tanya Arya datar.
Mata Arini terlihat berputar-putar memandangi ke segala arah, Arini tak ingin melihat Arya yang semakin dekat bukan takut karena wajah garang yang selalu di perlihatkan itu, melainkan Arini takut sampai jatuh hati pada pria tampan itu. Melihat wajah tampan itu hati para jomblo pasti akan meronta-ronta begitu juga dengan Arini kan?
"Hem.., iya." jawab Arini dengan sangat jelas.
Arya berhenti tepat di hadapan Arini namun anak ini, sama sekali tak mau memandanginya. Bahkan Arini lebih memilih memandangi tembok daripada dirinya, "𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯? 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩? " batin Arya bingung.
Arya mengangkat satu tangannya menjentikkan di depan wajah Arini dan mengejutkannya, "apa sih, Pak Tuan! " selalu saja protes yang anak ini katakan. Entah kapan dia bisa berkata manis seperti perempuan yang lain yang mengincarnya.
"Apakah temboknya lebih tampan daripada saya!?" tanya Arya dengan nada mulai tinggi, menghadapi satu anak ini selalu saja ingin darah tinggi, tapi anehnya senang saja mengerjai nya.
"Iya, temboknya lebih tampan, temboknya juga lebih putih," jawab Arini yang membuat Arya menganga.
"Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini, apa kamu mau aku menyentuhmu seperti yang lain? aku dengar kamu di usir dari rumah karena kamu berbuat mesum, berarti segel mu sudah di bobol kah?" tanya Arya.
Mata Arini seketika terbelalak tajam ke arah Arya, mata yang tadi tak berani menatapnya namun sekarang terlihat menakutkan dan penuh kemarahan di dalamnya. Dari mana Arya tau? mungkin itu yang ada di pikiran Arini sekarang.
Luka yang ingin Arini lupakan kini di gores lagi, penghinaan juga fitnah yang ingin Arini buang jauh-jauh dari kepalanya kini kembali datang dengan fitnah yang sama.
Takdir apa ini, kenapa Arini tak bisa jauh-jauh dari orang-orang yang seperti ini, kenapa dia tak bisa hidup tenang, bebas, dan bahagia seperti yang lainnya.
Derai yang Arini tahan, derai yang Arini tak ingin keluarkan lagi kini dengan sendirinya keluar tanpa seizinnya.
"Jangan kau pasang wajah yang lain untuk menutupi wajahmu yang sebenarnya," ucap Arya begitu sinis.
"Katakan saja jika kamu memang memiliki niat untuk mendapatkan ku seperti yang lain. Meskipun kamu orang yang bodoh tapi kamu lebih pintar dari semua wanita yang lain, kamu melangkah satu lebih depan dari mereka aku salut dengan mu," ucap Arya yang sama sekali tak melihat mata Arini yang terlihat begitu sakit akan penghinaan dan fitnah ini.
"Oh.., begini saja. Karena kamu lebih pintar dari mereka semua maka aku akan berbaik hati dan akan memberikan apa yang kamu mau. Kamu bebas menyentuhku, bahkan aku persilahkan untukmu mengendalikan permainan kita, bagaimana, cukup menarik bukan tawaranku?"
"Aku yakin kamu setuju, kamu pasti sangat senang dan sekarang hatimu pasti sedang berseru penuh kemenangan bukan? selamat Arini Khumaira kamu berhasil membuatku tunduk kepadamu,"
Begitu besar sakit yang Arini rasakan saat ini. Arya salah mengira Arini sama seperti yang lain, Arya salah karena menganggap kedatangan Arini hanya sebuah settingan untuk bisa mendapatkan sentuhan dari Arya, Arya salah mengenali Arini karena dia memang tak pernah mau mengenal Arini sebenarnya.
Cibiran, hinaan dari orang lain masih bisa Arini tahan karena mereka hanya menghina Arini karena kekurangannya, tapi Arya? Arini rak bisa menerima penghinaan ini karena Arya meragukan moralnya sebagai wanita yang suci.
"Aku sudah siapkan semuanya, dan kita bisa memulainya sekarang. Bagaimana, kita bisa mulai?" tanya Arya.
Sudah cukup untuk Arini mendengar semua celotehan dari Arya yang tak memakai hati. Arini menghapus air matanya dengan kasar, dia tak boleh menangis lagi, biarkan semua lukanya kembali terbuka lebar, biarkan dunia meragukan kesuciannya yang jelas semua yang di tuduhkan adalah salah, Allah lebih mengetahuinya, bukan orang lain maupun Arya.
Arya terkekeh melihat itu, dia terlihat begitu senang, dia begitu puas dengan semua yang berhasil dia katakan pada Arini.
"Ayo kita mulai, aku sudah menunggumu, aku ingin lihat seberapa liarnya kamu. Apakah kamu berbeda atau sama dengan seperti yang lain,"
Arya benar-benar keterlaluan, dia menghina Arini habis-habisan hingga Arini tak bisa berkata apapun lagi. Benar Arini pergi dari rumah karena di usir tapi tidak benar kalau dia di usir karena berbuat mesum, semua yang di katakan Arya adalah salah.
Kini Arini mengangkat wajahnya dengan keberanian, menatap mata Arya dengan tatapan yang begitu tajam meskipun air mata masih terus mengalir.
"Saya tidak butuh dengan apa yang Anda katakan, boleh Anda menghina kekurangan saya, tapi anda tidak berhak untuk menilai dan merendahkan moral dan harga diri saya," ucap Arini penuh penekanan.
Sudah cukup Arini mengatakan itu, dia tak mau mengatakan ataupun mendengar apapun lagi, dia ingin pergi dari sana, dia tak mau berlama-lama ada di hadapan orang yang tak bisa mengenalnya dengan baik.
Arini hendak melangkah pergi namun belum juga terjadi Arya telah menarik pergelangan tangan Arini untuk menahan kepergiannya.
"Saya belum mengizinkan kamu pergi! " ucapan Arya meninggi.
"Lepas! jangan pernah sentuh saya, Anda tidak pantas!! " jawab Arini tak kalah berani.
"Kenapa, apa kamu pikir aku tak akan membayar mu. Kamu mau minta berapa, satu milyar dua milyar, akan aku berikan padamu! sekarang naiklah ke ranjangku dan puaskan aku! "
𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬...
"Makan saja sendiri uang, Pak Tuan! Saya tidak butuh uang haram hasil menjual harga diri saya! " Arini mengibaskan satu tangannya hingga berhasil terlepas dari tangan Arya.
Batin Arini semakin sakit, dia tak membutuhkan uang seberapapun banyaknya hasil dari merendahkan harga dirinya.
Arini cepat berlari meninggalkan Arya, tangis Arini kembali pecah harga dirinya telah di injak-injak. Hatinya sangat sakit.
"Heyyy..., berhenti!! " teriak Arya dengan keras.
Baru kali ini Arya di tampar oleh seorang wanita. Marah itulah yang Arya rasakan, dia kesal dengan penghinaan dari Arini, penolakan ini membuat amarahnya tumbuh.
"Aku pastikan kau sendiri yang akan datang memohon padaku, Arini." gumam Arya dengan tangan yang mengepal erat.
Ternyata Arya sama sekali tidak merasa bersalah karena perkataannya, dia masih dalam keangkuhannya.
//////
Bersambung..
________
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung