Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Promise
Kicauan burung membantuku terbangun, terlihat matahari masih tenggelam bersamaan dengan bulan, cahaya dari selah selah pohon membantuku bersemangat untuk berlatih di pagi hari, sudah lama aku tak mencoba kekuatanku ketika aku sudah memiliki kutukan ini.
Mengambil pedangku dan menyimpan kapak di atas meja untuk ku bersihkan setelah selesai latihan, aku berjalan keluar kamar menuruni tangga.
"Apa kau akan pergi keluar tuan?," ucap nona penjaga penginapan.
"Ya, aku akan berlatih sebentar di hutan."
"Baik, hati hati tuan."
Aku hanya menganggukkan kepala sembaru membuka pintu penginapan, hawa sejuk pagi hari sangat terasa di kota ini, melihat sekitar sudah cukup ramai, para warga pergi ke pasar terdekat dan membeli barang di pagi hari.
Berjalan menyusuri jalan kota sangatlah berbeda dari malam hari, setelah beberapa lama aku tiba di gerbang, aku langung berbelok ke arah hutan di kiri. Hutan ini cukup lebat, mungkin ini cocok untuk berlatih di tengah.
Berjalan melewati semak dan pohon, aku akhirnya menemukan tempat yang cocok, lapang luas dengan batu dan pohon besar di tengahnya, cocok untuk mengetes kekuatanku.
"Hei Desmon, apa kau baik-baik saja?."
"Huh? kenapa Fury? apa aku terlihat aneh?."
"Ya, akhir akhir ini kau terlihat cukup aneh, seperti gelisah."
"Kukira kau tau."
"Aku bukan tuhan yang biaa membaca hati oranglain."
"Aku hanya khawatir pada Fiora."
"Kan sudah ku bilang, ia aman berasama Jea-."
"Ya, memang, tapi apakah akan terus seperti itu?."
Fury pun terdiam, sepertinya ia tau apa yang ku maksud, Fiora akan dalam bahaya karna ia memiliki ikatan yang erat denganku, mungkin seseorang akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
"Ingat Desmon, kau bisa menjadi penyelamat, namun tak bisa menjadi penghalang."
aku terdiam, mendengar perkataan Fury yang cukup membuatku tersadar, memang benar, aku bisa menjadi penyelamat manusia, namun aku tak bisa menjadi penghalang kematian.
Aku mencoba menenangkan diriku, mengambil posisi yang biasa ku lakukan ketika bertarung, lalu mulai mengayunkan pedangku ke arah pohon besar di depan, entah apa sebenarnya yang terjadi namun pohon itu ku potong seperti kertas memotong gunting dalam sekali ayunan, benar benar tidak terasa seperti angin.
Pohon itu mulai jatuh, getaran keras di bawah dan suara yang cukup keras membuat salah seorang penjaga gerbang berlari ke arahku.
"ADA APA TUAN?."
"Tidak, ini hanya pohon yang jatuh."
Penjaga itupun keheranan, ia melihat dan berjalan ke arahku.
"Apa tuan baik-baik saja?."
"Ya, aku baik-baik saja."
"Ini di potong oleh tuan?."
"Ya, kenapa?."
"Tidak, aku hanya tidak percaya ada manusia yang bisa memotong pohon setebal 6 meter dengan mudah."
Aku hanya terdiam, akupun tak tau bisa melakukan ini.
"Jika ada apa-apa, panggil saja aku tuan."
"Baiklah, terimakasih."
Penjaga itupun berjalan kembali ke arah kota, aku hanya melihat pedang yang ku pegang.
"Kenapa pedang ini bisa membelah pohon yang tebal?."
"karna kekuatan barumu." ucap Fury.
"Maksudmu?."
"Kemarin kau mengalahkan phoenomonbull kan? kau barusaja mendapatkan kekuatanya."
"Tapi bagaimana?."
Fury tak menjawab, aku hanya tau kekuatan phoenomonbull itu adalah memperbesar barang yang ia pegang, aku mencoba mengeluarkan kekuatan itu dan ternyata pedangku memanjang, cukup aneh.
Aku mencoba memegang batu dan mengeluarkan kekuatan itu, tidak berubah, batu itu tetap kecil.
"Kenapa batunya tidak berubah?."
"Kau hanya bisa melakukan itu ke pedang dan kapakmu saja, 2 senjata itu istimewa."
Terdiam, aku barusaja ingat bahwa senjata itu bisa memanipulasi kekuatan menjadi sama sepertiku.
Aku membawa pedangku kembali dan berjalan ke arah kota, penjaga yang tadi tersenyum ke arahku, aku membalas dengan senyuman kecil.
Aku melihat ada beberapa anak yang sedang bermain bola. Salah satu anak itu menghampiriku.
"Tuan tuan, ayo kita main."
Ia menendang bola ke arahku, aku menangkap bola itu dan mulai memainkannya, membuat pertunjukan kecil dengan bola seperti yang ku mainkan dulu, aku menendang ke atas terus menerus namun tak terlalu keras.
Para anak yang sedang sibuk bermain mulai mengelilingiku, tanpa sadar para warga sekitar ikut melihat pertunjukan kecil ini. Setelah beberapa lama aku menurunkan bola lalu memberinya ke anak yang tadi. tepuk tangan dari para penonton mulai terdengar.
"Aku tak tau bahwa bola bisa di mainkan seperti itu." ucap seorang warga yang melihatku.
"Pertunjukan mu sangat unik tuan."
Seorang wanita cantik menghampiriku dari balik keramayan, "Terimakasih tuan, sudah bermain dengan anaku."
"Sama-sama nona."
Mereka berdua berjalan meninggalkanku setelah memberi salam, aku melanjutkan untuk kembali ke rumah niel.
"Niel, apa kau sudah bangun."
"Aku di belakangmu Desmon."
"Huh, seperti biasa kau selalu menyembunyikan hawa keberadaanmu."
Niel tertawa kecil, ia membuka pintu lalu masuk ke dalan sembari membawa beberapa tumbuhan. Regin sepertinya belum bangun.
"Apa kau akan pergi sekarang Desmon?."
"Ya Niel, aku akan pergi sekarang."
Aku duduk di kursi sebelah pintu masuk, Niel seperti biasa membuat teh segar.
"Desmon, apa kau bertemu Fiora?."
Aku terdiam, kenapa ia bisa tau?.
"Kenapa Niel?."
"Tidak, Aku hanya ingin tau."
"Kenapa kau bisa tau?."
"Aku tau karna Fiora adalah saudaraku, ia dulu pernah bercerita tentang dirimu."
Aku terkejut setelah mendengar itu.
"Tapi ia tak pernah bilang bahwa ia punya saudara."
"Memang, karna aku yang tau, bukan dia."
Aku sekarang mengerti kenapa Fiora memiliki kekuatan magis di dalamnya. Tapi kenapa ia baru bilang sekarang?
"Lalu, apa kau tau tentang Fiora yang di paksa menikah dengan lelaki yang kejam?," Tanyaku sembari menahan amarah.
"Ya, aku tau," ia menjawab dengan santainya.
Aku berjalan menghampiri Niel, dengan rasa amarah yang cukup meluap, aku memegang kerah bajunya dan aku berusaha untuk tidak memukulnya.
"Kenapa kau tak menghentikan itu?."
Niel melihat ke arahku dengan tenang.
"Aku tak bisa."
"Kenapa?."
"Aku tak memiliki kekuatan untuk menghentikan itu."
Ia meminum teh di tangannya. Lalu bilang
"Aku tak bisa menebusnya, saat itu aku sedang jatuh miskin."
Aku hanya terdiam, mendengar perkataan Niel yang memang benar ia tak bisa membawa Fiora jika tak menebus dengan uang.
"Tapi saat aku akan membeli dirinya dan membebaskannya, ia sudah tidak di sana, ia sudah aman bersamamu."
Aku melepaskan genggamanku, berjalan ke belakang dan duduk kembali.
"Maaf, aku terpancing emosi Niel."
"Tidak apa-apa, justru aku senang bahwa kau sangat khawatir padanya, ia saudaraku satu-satunya."
Ia memberikan teh yang di meja padaku, aku meminumnya, rasa hangat dan menenangkan mulai kembali ke tubuhku.
"Aku sekarang bisa dengan mudah menebusnya, tapi aku tak yakin apakah aku bisa melindunginya." Ucapku sembari melihat ke bawah.
"Hei, tenanglah, jika ada apa-apa aku akan membantumu." Ucap Niel.
Aku terdiam sejenak, "Niel, apa kau bisa bejanji untuk mengurus Fiora ketika aku mati?."
"Kenapa kau berkata seperti itu Desmon?."
"Kau tau, perjalanan yang akan ku laui tidaklah mudah, mungkin aku akan kehilangan nyawa di sana."
Niel terdiam sejenak. "Baik, aku berjanji."
Aku memberikan 15 koin platina ke Niel, ia terkejut ketika melihatnya.
"Apa ini Desmon? bagaimana kau bisa mendapatkannya?."
"Aku tak bisa mengatakan itu, tapi ini untuk biaya hidup Fiora, tolong berikan kepadanya 12 koin platina ini."
"Tapi, 5 koin platina saja sudah bisa membeli sebuah kota Desmon, bagaimana kau bisa mendapatkannya?."
"Sudah ku bilang itu tak penting. Tapi tolong berikan ini kepada Fiora, sisanya untukmu."
"Terimakasih Desmon, aku pasti akan memberikannya."
"aku percaya padamu."