Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titah Pak Edi..
"Mba Mara, gimana kabarnya.?"
"Baik, duduk Zi dan ini.? " kata Asmara sambil menunjuk perempuan yang sedang tersyenum kepadanya..
"Oh iya, kenalin mba, ini tante Ranti, mamahnya kak Angkasa.." Asmara tercengang. dan dengan canggung dia menjabat uluran tangan orang tua dari pria yag telah menyebabkan hidupnya hancur. begitu juga Ririn, dia menjadi begitu sangat canggung, karena yang bertamu di rumahnya ternyata nyonya besar pemilik tempat dia bekerja. mereka pun bersama duduk diruang tamu tersebut.
Mata Ranti langsung menangkap dua sosok bocah yang nampak asyik bermain di depan televisi dengan mainan barunya yang mereka beli kemarin. Tak kuasa mata Ranti mulai berkaca kaca melihat wajah bocah yang sangat mirip dengan anaknya. Seakan mengerti keadan Asmara pun memnggil kedua anaknya.
"Biru, Langit kesini sebentar, ini ada tante Zia loh masa kalian nggak ngasih salam.." dan mereka berdua mendekat.
"Tante Zia kok baru kesini.?" tanya salah satunya sambil menjabat tangan Zia.
'Iya, tante sibuk jadi baru sempet main. gimana.? kangen ya main sma tante.?"
"Iya tante" jawab anak yan lain
"Ya besok besok main yah, nanti kalian kenalin sama suami tante.? mau.?" dan mereka berdua mengangguk.
"Ini siapa tante.?" tunjuk Biru pada perempuan di sebelah Zia.
"Inii..." ucap Zia bingung menjawabnya.
"Eyang..."Asmara yang bersuara.
"Oh iya, ini eyang putri, salim dong.." tangan Ranti bergetar menjabat tangan kedua bocah itu. airmatanya perlahan menetes.
"Kok eyang putri nangis.?" tanya Langit ketika dia melihat perempuan yang sedang menjabat tangannya mengeluarkan airmata.
"Ehh hmm Eyang lagi seneng jadi nangis.."
"Oh, aneh ya Ru, masa seneng kok nangis. kita aja nangis kalau dimarahin mamah, nenek dan tante Rirrin yah.?" dan semuanya tersenyum.
"Rin ambilin minum.." perintah Asmara.
"Oh iya, bentar ya Zi aku ke belakang dulu.." dan Zia hanya mengangguk.
"Kalian nggak main.?" tanya Zia begitu anak anak duduk tak jauh dari tempatnya berada.
"Kagi nunggu om Qngkasa.."
"om Angkasa.?"
"iya, katanya mau ngajakin beli PS..."
"Wahh senangnya, emang kalian bisa maen ps.?"
"Hampir tiap hari Zi, mereka main di rumah sebelah.." jawab Asmara untuk mengurangi kecanggungan.
"Oh, emang mamah nggak marah kalian main PS.?"
"Marah tante hehhe.."
"Tapi kok kalian berani minta sama om Angkasa.?"
"Tadi kan kata tante Ririn suruh pinjam saja sama om Angkasa, jadi kita telfon om Angkasa, tapi om Angkasa tidak punya, eh malah si om ngajakin beli, ya sudah kita mau, ya Ru ya.."
"Iya tante, apa lagi om Angkasa bilang katanya uangnya ngak bakalan habis kalau kita yang minta.." lagi lagi semuanya hanya tersenyum mendengar cerita si kembar.
"Kalau kalian mau, kalian juga boleh minta sama eyang.." ucap Ranti tiba tiba membuat semuanya terkejut.
"Beneran eyang..?" dan Ranti mengangguk
"Gimana mah.?"
"Loh kok tanya mamah.."
"Takutnya mamah marah, apa boleh mah.?" dan Asmara dengan perlahan mengangguk.
"Wahh nanti kalau lebaran kita banyak duit ya Langit, yang dimintain banyak" dan semuanya tertawa.
"Kamu merawat anak anak dengan baik nak." ucap Ranti dan membuat suasana kembali menjadi canggung.
"Karena mereka juga sumber bahagiaku tante.."
"Maafkan tante ya nak.." ucap Ranti yang mulai kembali meneteskan airmanatanya.
"Tante nggak salah, ngapain tante minta maaf.."
Hidup kamu susah gara gara anak tante, padahal kamu nggak salah apa apa.."
"Maksud tante.?" tanya Asmara yang merasa heran dengan ucapn Ranti.
"Semua yang terjadi sama kamu, gara gara fitnahan kakaknya Angkasa nak.."
"Apa.? fitnahnya kakak Angkasa.?" Asmara semakin tercengang di buatnya.
"Iya, karena kakaknya Angkasa ingin menghancurkan hidup Angkasa.." Asmara semakin tercengang dan penasaran.
"Qpa hubungannya sama saya tante.? kenapa malah hidup saya yang dihancurkan.?"
"Karena kakaknya Angkasa tahu, satu satunya yang bisa menghancurkan hidup Angkasa adalah dengan menyakitiki kamu.."
"Tunggu, tunggu tante, aku nggak ngerti ini, maksdunya gimana..?"
dan dengan terisak Ranti menceritakan semuanya. Semakin hancurlah perassaan Asmara. Tumpah airmatanya mendengar kenyataan kalau dirinya adalah korban fitnah dari orang yang sudah meninggal.
"Kenapa tante.? hiks hiks hiks, kenapa hidupku yang dihancurkan.? aku nggak kenal kalian.? kenapa malah aku yang di korbankan.?"
Maaf nak, tante juga awalnya nggak percaya dengan apa yang Angkasa ucapkan, tapi hidup dia juga begitu hancur nak. dia juga tersiksa saat menyakiti kamu. "
"Aku bahkan kehilangan keluargaku aku diusir karena fitnahan anak tante," bela Asmara dengan airmata yang sudah mulai membanjir. Ririn dan Zia juga tak kuasa menahan airmatanya. Sementara kedua anaknya yang berada dalam dekapan Zia dan Ririn hanya menatap mamah mereka dengan wajah bingung.
"Aku bahkan di perkosa berkali kali, di siksa fisik dan batin, dibuang seperti sampah, dan tante bilang dia mencintaik aku.? Dimana rasa cinta itu saat dia melakukan semuanya.? dimana tante.? Dan aku nggak berani sama sekali mencari kabar kelaurgaku karena aancaman anak tante. Hanya sekedar pengin tahu kabar saja, aku takut tante. Apa lagi jika mereka tahu aku punya anak tanpa suami, akan sehancur apa hidup aku tante.?"
"Sabar mba." ucap Ririn berusaha memberi kekuatan disela sela isak tangisnya.
"Sabar sebesar apa lagi yang harus aku tahan Rin.?"
Di saat semua hanyut dalam airmat, tiba tiba Bu Lastri dan suaminya datang.
"Loh loh loh ini ada apa.? kok semuanya.?"
merekapun menyeka airmatanya kecuali Asmara. Bu Lastri langsung mendekat ke arah Asmara berada, dan pak Edi duduk mengambil kursi yang kosong di sebelah anaknya.
" Maaf, ibu ini siapa yah.?"
"Saya Ranti ibunya Angkasa.."
"Owalah, terus ini bisa begini, ada apa.? apa yang terjadi bu..?"
"Saya kesini mau minta maaf atas segala kesalahan anak saya bu, saya akui anak saya terlalu fatal membuat kesalahan, tapi jujur, saya sendiri nggak tega melihat keadaan anak saya yang seperti mayat hidup, bertahun tahun dalam pennyesalan dan pencarian.."
"Terus..?" dan Ranti kembali menceritakan kisah yang sama dari awal. Bu Lastri dan pak Edi nampak sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Jadi Asmara nggak pernah membunuh.?" Tanya pak Edi.
"Tidak pak."
"Ya allah nok nok." Ucap bu Lastri sambil mengusap usap punggung Asmara.
"Kenapa anak ibu nggak menyelidikinya dari awal.?"
"Itulah kesalahan anak saya pak, saya juga nggak tau anak saya melakukan perbuatan itu, kita tau setelah kita menemukan ponsel kakaknya Angkasa. baru disitu terugkap semuanya."
"Apa anak ibu benar benar menyesal..?"
"Bahkan seandainya Asmara memaafkannya pun, anak saya akan terus merasa bersalah dan menyesalinya pak, saya tahu betul anak saya bagaimana.."
dan pak Edi hanya manggut mangut kemudian terdiam nampak sedang berpikkir. Hingga dia kembali bersuara.
"Kalau anak ibu memang benar benar menyesalinya, dan ingin menebus kesalahanya, suruh dia datang dan melamar Asmara. kita nikahkan mereka.."
Dan semua mata menatap tak percaya dengan keputusan yang di ucapkan pak Edi dengan yakin.
@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...