Audri, seorang gadis manis yang jatuh cinta dengan Eric yang merupakan anak seorang konglomerat terkenal.
Apakah Audri akan mampu untuk mendapatkan hati Eric? Atau ia akan mendapat kebencian?
Apakah Audri mampu bertahan dengan status sosial yang dimiliki Eric? Atau ia akan terhalang restu dari kedua orang tua Eric?
Atau mungkin ia harus melupakan cinta pertamanya? Dan memilih orang lain?
Ikuti terus kisahnya jika ingin mengetahui lebih lanjut. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumala Pundarika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Kesal Eric
Setelah Verdi menyelesaikan pembayarannya, kami semua memutuskan untuk berangkat kembali menuju kampus untuk mengikuti kuliah selanjutnya. Selama diperjalanan mereka semua sepakat untuk liburan ke Puncak. Kita akan berangkat menuju ke Puncak dari pagi hari saat hari pertama liburan kuliah.
Setelah sampai di kampus, mereka langsung menuju ke ruang kelas dan menunggu dosen hingga datang. Tak berselang lama dosen pun datang dan kami belajar mata kuliah kedua ini selama 3 jam. Seperti biasa rasanya bosan dan ngantuk ketika sudah selesai makan siang. Untungnya hanya butuh waktu 3 jam hingga jam pelajaran mata kuliah kedua selesai.
Kami memutuskan untuk kumpul di kantin untuk membahas keberangkatan menuju ke Puncak dikarenakan minggu ini adalah minggu terakhir kuliah. Mungkin kami memutuskan untuk berangkat ke Puncak hari Sabtu pagi dengan berkumpul di kosannya Retha.
Via Chat Whatsapp …
“Guys kita sudah selesai kelas nih. Kalian semuanya udah pada selesai belum?” tanya Agnes kepada kakak serta sahabat kakaknya itu.
“Bentaran lagi bubar dek,” jawab Kak Eric.
“Ok deh kak. Adek tunggu di kantin tempat biasa aja ya,” balas Agnes kembali.
“Iya dek,” ucap Eric.
Audri serta kawan-kawan yang lainnya akhirnya memutuskan untuk menunggu di tempat biasa yaitu di kantin. Kami mencari tempat yang agak panjang dan muat untuk bersembilan.
“Guys kita di sini aja gimana? Soalnya di sini muat untuk banyak orang,” tanya Audri.
“Boleh Dri,” jawab Agnes.
“Kalau gak muat juga kita bisa ambil bangku yang lain kok,” ucap Helsa.
“Bener banget Hel,’ ujar Retha.
“By the way gue mau beli minuman di koperasi. Kalian ada yang mau ikut gak?” tanya Audri.
“Gue mau deh Dri. Soalnya mau beli roti juga,” jawab Retha.
“Kalian ada yang mau nitip makanan atau minuman gak?” tanya Retha.
“Kaga deh Ret,” jawab Indira.
“Gue udah ada minuman kok dan belum habis juga,” ucap Agnes.
“Gue mau roti cokelat aja kalau ada,” ucap Helsa.
“Ok lah nanti kita beliin titipan loe ya Hel,” ucap Audri.
“Makasih ya Dri,” ucap Helsa.
“Sama-sama Hel,” ujar Audri.
Tak lama Audri dan Retha pergi ke koperasi untuk membeli air minum dan pesanan roti yang sudah di pesan oleh Helsa. Setelah mendapatkan apa yang dicari segera mereka langsung membayar dan keluar dari koperasi itu.
Berbarengan dengan keluarnya Audri dan Retha dari koperasi, mereka bertemu dengan Eric serta sahabat-sahabatnya Eric. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju kantin.
Setelah mereka bersembilan berkumpul, mereka langsung membahas tentang rencana liburan ke Puncak.
“Guys kita jalan ke Puncak hari Sabtu aja gimana?” tanya Agnes.
“Gue sih bebas-bebas aja Nes,” jawab Helsa.
“Gue juga sama sih,” ucap Retha.
“Indira loe gimana dengan pemotreannya?” tanya Audri.
“Gue udah coba ngomong ke manager kok dan katanya bisa untuk direschedule,” jawab Indira.
“Berarti loe bisa ya ikut Dir?” tanya Helsa.
“Bisa kok,” jawab Indira.
“Nah jadi gimana pertanyaan gue kalau kita berangkat hari Sabtu pagi?” tanya Agnes sambil mengulang pertanyaan yang tadi.
“Sabtu pagi mau jam berapa berangkatnya Nes?” tanya Audri.
“Kalau jam 06.00 gimana. Kalian pada bisa gak jam segitu?” tanya Agnes.
“Lalu kita nanti kumpulnya di kosannya Retha aja,” lanjut Agnes.
“Boleh juga sih Nes kita berangkat jam 06.00 supaya di jalanan kaga macet,” ucap Kak Verdi.
“Nah gue setuju dengan ucapannya Verdi,” ujar Kak Alvin.
“Ya sudah, kalau gitu kita buat kesepakatan untuk berangkat hari Sabtu jam 06.00 sudah tiba di kosannya Retha ya,” ucap Agnes.
“Ok lah kalau gitu Nes,” ujar Kak Delvin.
“By the way, kita kan lumayan lama tuh liburan di Puncak mau ada tempat yang di kunjungin kaga?” tanya Helsa.
“Gue rasa banyak kok daerah Puncak dan Bogor yang mempunyai tempat-tempat bagus banget,” celetuk Indira.
“Kita lihat waktunya dulu aja gimana Dir pas udah sampai di Puncak,” ucap Agnes.
“Lagipula juga kita liburan sekalian mau ada belajar bareng juga dengan Audri,” ujar Helsa.
“Gimana kalau nanti kita bawa buku catatan masing-masing aja?” tanya Audri.
“Jadi kalau ada yang belum jelas baru deh tanya ke gue,” lanjut Audri kembali.
“Boleh Dri,” ucap Indira.
“Atau kalau kalian kaga mau repot bawa buku catatan tinggal di catat aja materi mana yang belum ngerti sama kalian,” ucap Audri.
“Gampang lah Dri. Toh kita juga pasti bawa buku catatan kok,” ucap Agnes.
“By the way, gimana kalau nanti pas malam Natalan kita makan di restoran hotel saja?” tanya Kak Eric.
“Kalau gue sih setuju Ric,” jawab Kak Delvin.
“Tapi Audri gimana kak kalau kita makan di hotel?” tanya Agnes kepada kakaknya.
“Audri mah gampang dek. Nanti tinggal gue bayarin aja kok,” ucap Kak Delvin.
“Apaan sih Del kok bayarin makanannya Audri?” tanya Kak Eric kepada Kak Delvin dengan wajah yang sedikit kesal.
“Yaa kan biasa loe terus Ric yang bayarin punya Audri. Sekali-kali lah biar gue yang bayarin donk,” jawab Kak Delvin.
“Ooohhh iya Dri, besok Sabtu nanti aku ya yang jemput ke rumah kamu. Kan rumah kita jalannya searah,” ucap Kak Delvin kepada Audri.
“Boleh aja kok Kak Delvin,” ucap Audri.
“Karena kita berangkatnya pagi banget nanti gue masakin kalian sarapan gimana?” tanya Audri.
“Boleh banget Dri,” jawab Retha dan Agnes berbarengan.
“Ric kok loe diem aja sih,” ujar Kak Verdi.
“Aahhh gak apa-apa kok Ver,” ucap Kak Eric.
Entah kenapa di dalam hatinya Eric sedang kesal sekali karena sudah keduluan sama Delvin yang akan menjemput Audri. Eric juga merasa sangat marah ketika mendengar ucapan Delvin yang akan membayarkan makan malam Audri di hotel nanti. Rasanya ada rasa sakit di hati Eric saat ini. Tapi Eric tidak tau rasa semacam apa yang dirasakannya sekarang ini. Yang pasti Eric sangat ingin teriak sekencang-kencangnya mendengarkan ucapan dari orang yang sudah dianggap sebagai sahabat. Bahakn Eric sudah menanggap sahabat-sahabatnya sebagai keluarga sendiri.
“Aaahhhh,” ucap Kak Eric sambil mengacak-acak rambutnya.
“Kak kenapa sih kok teriak gitu?” tanya Agnes.
“Gak apa-apa kok dek,” jawab Kak Eric.
“Ric, are you okay?” tanya Kak Verdi.
“Yes, I’m okay,” jawab Kak Eric.
“Terus loe tadi kenapa teriak Ric?” tanya Kak Alvin.
“Aaahhh gak apa-apa kok Vin,” jawab Kak Eric berbohong kepada sahabat-sahabatnya.
“Beneran loe Ric gak apa-apa,” ucap Kak Delvin.
“Iya gue gak apa-apa kok guys,” ujar Kak Eric.
“Ya sudah kita lanjutkan saja pembahasannya,” lanjut Kak Eric.
Akhirnya mereka semua melanjutkan pembahsan rencana liburan Natal dan Tahun Baru ke Puncak.
“Nanti pas malam tahun baru kita jadi buat barbequean gak?” tanya Audri.
“Jadi kok Dri,” jawab Agnes.
“Bahannya kita beli di mana?” tanya Audri kembali.
“Nanti gue minta tolong belikan sama penjaga villa di tempat gue ya Dri,” jawab Agnes.
“Ok deh Nes,” ucap Audri.
“Ya udah kalau gitu gimana kalau kita pulang?” tanya Helsa.
“Ooohhh iya ini sudah mulai sore hampir mau magrib ya,” ucap Kak Delvin.
“Dri kamu pulang sama siapa?” tanya Kak Delvin kepada Audri.
“A…aku pulang sendiri kak,” jawab Audri.
“Bolehkan aku mengantar kamu pulang Dri?” tanya Kak Delvin kembali.
“Aku gak keberatan kok kak,” jawab Audri.
“Ya udah gue sama Audri balik duluan ya guys kalau gitu,” ucap Kak Delvin.
“Hati-hati Kak Delvin bawa sahabat gue ya,” ucap Agnes.
“Iya siap Nes,” ujar Kak Delvin.
“Ya udah Ric gue balik duluan ya. See you tomorrow ya Ric,” lanjut Kak Delvin.
“Hhhmmmm iya,” ucap Kak Eric dengan jawaban yang singkat, jelas dan padat.
“Lah loe kenapa sih Ric dari tadi kok aneh banget?” tanya Kak Alvin.
“Gue kaga kenapa-napa kok. Lagi bosen aja guenya,” jawab Kak Eric.
“Kok mukanya Kak Eric kaya orang gak suka gitu sih,” ucap Indira.
“Gak suka gimana Dir?” tanya Kak Eric.
“I…iya gak suka kalau Kak Delvin dekat sama Audri,” jawab Indira.
“Biasa aja kok gue Dir,” ucap Kak Eric dengan sedikit rasa kesal.
“Iiiihhh tuh kan Kak Eric kesal,” ujar Retha.
“Sebenernya kakak tuh suka kan sama Audri?” tanya Helsa.
“Kaga suka kok gue sama Audri,” jawab Helsa.
“Yakin kak. Soalnya kakak tuh gak suka kalau Audri dekat dengan Kak Delvin,” ucap Agnes.
“Udah lah dek gak usah di bahas lagi. Pulang aja yok!” ucap Kak Eric sambil mengajak Agnes untuk pulang ke rumah.
“Guys gue sama Kak Eric pulang duluan ya,” ucap Agnes berpamitan kepada sahabat-sahabatnya.
“Ok lah Nes, Kak Eric. Kalian hati-hati ya di jalan,” ucap Retha.
“Ric gue ikut pulang bareng loe ya,” ucap Kak Verdi.
“Lah mobil loe gimana Ver?” tanya Kak Eric.
“Gampang lah Ric. Gue juga mau bawa mobil ke bengkel kok,” jawab Kak Verdi.
Akhirnya Verdi ikut pulang bersama dengan Agnes dan Eric. Sahabat-sahabat yang lainnya juga pulang tak lama setelah Verdi, Agnes dan Eric pulang.
“Hari ini gue aja Ric yang nyetir ya,” ujar Verdi.
“Ya udah Ver. Nih kunci mobil gue,” ucap Eric.
“Kenapa sih loe Ric dari tadi kok kaya orang kesel gitu?” tanya Verdi.
“Gue gak kenapa-napa Ver. Udah lah buka mobil gue gih,” jawab Eric.
Akhirnya Verdi pun membuka mobil milik Eric dan merekapun mulai meninggalkan parkiran kampus untuk pulang ke rumah masing-masing.
Bersambung 🌺🌺🌺🌺🌺
Happy reading untuk semua para pembaca yang sudah bersedia untuk mampir. Terima kasih sudah bersedia membaca cerita receh ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang pas untuk dibaca dikarenakan author masih belajar untuk merangkai kata-kata yang bagus.
Jangan lupa di favorite, like, koment, gift dan votenya ya 💕💕💕💕💕
Terima kasih atas dukungannya 💕💕💕💕💕