Darwin berlari dan tak sengaja menabrak seorang pria, Adelia pun menghampiri putranya itu.
“Maafkan putraku yang tak bisa diam.”
Joshua mengingat suara itu, Joshua pun kembali mengingat malam kejadian itu.
“Sayang ternyata kamu tak berubah sedikit pun, suaramu, aromamu bahkan aku tak bisa melupakannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pria tua & bocah menyebalkan.
Nyonya Arsya sudah tak sabar bertemu dengan cicitnya itu, pasalnya dari cerita Hafsah bahwa pria kecil itu begitu mengemaskan.
Mobil tuan Georgio dan nyonya Arsya sampai di kediaman keluarga Gusman.
Mereka pun di sambut oleh mama Laura dan Nyonya Vina, mereka pun langsung berpelukan karena sudah lama tak bertemu.
"Hallo papi, lama tak bertemu," sapa Laura memeluk tuan Georgio.
"Hallo sayang, kamu makin cantik saja," puji tuan Georgio.
Darwin berlari keluar saat melihat Joshua mengejarnya, "Ya kembali kesini bocah nakal!" teriak Joshua.
"Oma, eyang tolong aku, papa mengamuk," teriak Darwin.
"Darwin kembalikan ponsel papa, aku ingin menelpon mama mu!" teriak Joshua.
Darwin pun tak menghentikan aksinya, kini dia bersembunyi di balik tubuh Nyonya Arsya.
"Kalian berdua terus berbicara, aku juga merindukan mama, Papa pelit tak mau berbagi denganku," jawab Darwin yang berlari masuk ke dalam rumah.
"Rumah kalian begitu ramai sekarang," puji Nyonya Arsya.
"Berkat Joshua dan juga putranya, ayo masuk mereka mungkin sudah baik kan," kata nyonya Vina mempersilahkan.
Tuan Federico sudah duduk bersama Joshua dan Darwin, mereka melakukan panggilan video melalui laptop.
"Akhirnya mereka bisa tenang," kata tuan Georgio.
Darwin langsung memicingkan matanya, dia seakan menabuh genderang perang pada kakek buyutnya itu.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu, dasar bocah nakal," kata tuan Georgio.
"Oma pria tua itu terus memarahi ku, dia menyebalkan, tolong marahi dia," adu Darwin pada mama Vena.
"Joshua tolong putar laptopnya, biar aku tau siapa pria itu," kata nama Vena tertawa.
Tapi Tawanya mendadak hilang saat melihat tuan Georgio dan nyonya Arsya.
"Vena, kamu sudah sadar nak," kata Nyonya Arsya terkejut.
"Maaf saya permisi," pamit mama Vena pergi dari depan layar.
Adelia yang kembali dengan membawa air pun binggung melihat sang mama pergi dengan menangis.
"Darwin kamu membuat Oma mu menangis?" tanya Adelia saat di depan layar dan belum menyadari sesuatu.
"Oh maaf, saya tidak tau jika ada tuan dan nyonya, saya kira putra kecilku," kata Adelia tersenyum.
Nyonya Arsya dan tuan Georgio terkejut melihat sosok Adelia yang sama persis dengan mama Vena muda.
"Adelia, kamu tau dimana berkas perusahaan papi?" tanya Hafsah pada Adelia.
"Di Meja ruang kerja dan di atas buku bisnis Pi, maaf tadi aku membereskan semua nya," kata Adelia.
"Tak masalah, dan berhenti melakukan panggilan video cepat istirahat," perintah Hafsah.
"Siap Pi, sebelumnya maaf ya Tuan dan Nyonya saya harus mematikan panggilan ini, permisi," kata Adelia yang mematikan layar laptopnya.
"Lihat papa, bahkan mama saja tak mu melihat wajah pria itu, ha-ha-ha," tawa Darwin.
"Darwin tak boleh begitu dengan kakek buyut sayang," kata mama Laura.
"Kenapa, dia bahkan tak mau memelukku, aku tak mau melihatnya," kata Darwin yang langsung pergi.
"Maafkan atas sikap putraku, dia hanya merasa gampang terluka," kata Joshua pergi.
"Tunggu Joshua, bisakah Oma ikut melihatnya, aku ingin melihatnya," kata nyonya Arsya.
"Tentu Oma, mari," ajak Joshua.
Keduanya pun berada di depan kamar Darwin, Darwin sedang duduk di ranjangnya.
Dia sedang berdoa sambil menutup mata, "Tuhan, tolong lindungi semua oang yang menyayangi ku, terutama mama dan papa. Tuhan tolong buat orang tua opa Hafsah bisa merestui rencana kami, karena mama ingin Oma Vena bahagia, amiin."
Nyonya Arsya pun tau maksud dari doa Darwin kecil, dia seharusnya juga membantu pria kecil itu.
"Mau Oma butut juga bantu, aku bisa membujuk pria tua itu untukmu," kata nyonya Arsya yang masuk ke kamar Darwin.
"Benarkah, Oma butut janji," kata Darwin terlihat senang.
"Janji, tapi bolehkah wanita tua ini mendapatkan pelukan dulu," kata nyonya Arsya.
"Tentu, ciuman pun boleh," kata Darwin melompat senang.
Nyonya Arsya mendekat dan memeluk Darwin, kemudian Darwin mencium pipi wanita itu.
"Terima kasih sudah mau membantu Darwin untuk kebahagiaan Oma dan opa," kata Darwin memeluk lagi.
"Tentu sayang," kata nyonya Arsya.
Joshua mengacungkan ibu jarinya pada Darwin, Darwin pun membalasnya dengan hal yang sama.
Kedua papa dan anak itu memang merencanakan itu semua agar rencana mereka berhasil.
Darwin pun langsung dekat dengan nyonya Arsya. sedang Joshua juga memeriksa semua persiapan.
Sedang di Indonesia, Adelia sudah selesai mengemas pakaian miliknya dan juga sudah siap.
Wanita itu terlalu sempurna, dengan hanya menggunakan celana jeans, kaos putih dan juga jaket jeans yang membuatnya makin terlihat cantik.
Sedang Hafsah dan mama Vena kompak dengan baju nuansa hitam.
Mereka pun siap untuk pergi ke negara Austria itu, mereka akan sampai pada malam hari.
Saat di pesawat, Adelia memilih menggambar beberapa desain busana pengantin dan pesta.
Sedang mama Vena memilih membaca buku untuk mengisi waktu luangnya.
Begitu pun dengan Hafsah masih sibuk dengan pekerjaannya, Adelia melihat suasana di luar pesawat sejenak.
"Anda membutuhkan sesuatu nona?" tanya seorang pramugari.
"Bisakah aku mendapatkan spaghetti dan wine," tanya Adelia.
"Tentu, saya akan ambilkan," jawab pramugari itu.
"Terima kasih," kata Adelia pada pramugari itu.
"Sama-sama nona," jawab pramugari itu dengan senang.
Tak lama pesanan Adelia datang, dan Adelia pun langsung memakannya.
Sedang mama Vena memilih makan buah dari pada makan makanan berat dan penuh karbohidrat.
Berbeda dengan Adelia yang makan banyak tapi bentuk tubuhnya tak berubah.
Melihat Hafsah yang sibuk, mama Vena mengambilkan wine untuk Hafsah.
Dia tau pria itu begitu menyukai minuman beralkohol itu, "untuk semangat bekerja," kata mama Vena.
"Terima kasih, kamu tau saja kalau aku membutuhkan ini, Nico kamu mau?" tawar Hafsah.
"Tidak perlu tuan," jawab Nico asisten dari Hafsah.
Tapi mama Vena pun memberikan gelas pada Nico, dan Nico pun tak bisa menolaknya.
Hafsah yang mulai merasakan alkohol itu di tubuhnya, tanpa sengaja menarik mama Vena ke pangkuannya.
"Hei kak, apa yang kamu lakukan," kata mama Vena kesal.
"Hentikan, aku ingin memelukmu," jawab Hafsah yang mulai mabuk.
Sedang Nico tidur jika mabuk, Hafsah memeluk erat tubuh dari mama Vena.
"Kak lepaskan... ada Adelia di sini, dia bisa berpikir tidak-tidak tentang kita," bisik mama Vena.
"Aku merindukan mu, ayo menikah?" ajak Hafsah tanpa sadar.
"Hei kau tau kalau itu di tentang papa dan mami, jadi lupakan ide buruk mu itu," kata mama Vena kesal.
Mama Vena pun pergi dari kursi Hafsah dan memilih duduk di samping Adelia yang ternyata sudah tidur karena kelelahan.
Mama Vena pun membereskan barang-barang Adelia dan menyimpannya kembali.
smg sj