Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Kaila
Widia terlihat berjalan keluar dari pesawat pribadi milik Herlina, masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang sudah mejemputnya disana.
Wajahnya sangat murka sekarang. Dia sangat serius dengan keputusannya untuk membawa Kaila ke hadapanku iblis betina itu. Dia tidak ingin gagal lagi dan berakhir nyawanya yang akan melayang.
Jika boleh jujur, dia juga sangat berat melakukan hal ini. Dia tidak ingin menyakiti Kaila. Dia hidup bersama Kaila Selama tujuh tahun, dan dia mengakui bahwa wanita itu sangatlah baik. Sangat tidak pantas rasanya dia mendapat kekejaman dari keserakahan wanita iblis itu. Lagipula sejak awal wanita itu hanya menginginkan Fau, Fer dan Far. Lalu kenapa sekarang beralih ke Kaila. Sangat jahannam memang.
Andai saja Widia mampu memutar waktu untuk kembali pada tujuh tahun silam, dia tidak ingin kembali ke masa tujuh tahun yang lalu saat dia datang ke wanita itu menawarkan diri untuk membantu Niko menyelesaikan misinya. Tapi apalah daya, nasi sudah basi dan waktu tak bisa terulang kembali.
Saat ini dia tidak bisa memikirkan orang lain, yang harus dia pikirkan sekarang adalah dirinya sendiri. Nyawanya berada dalam genggaman wanita itu. Sial!
Widia menyentuh perban pada pipi kirinya, mengusapnya dengan lembut. Rasanya masih sangat perih. Bayangan mengerikan itu kembali lagi, saat Herlina menekan dengan keras mata pisau itu ke wajahnya. Astaga, Wanita itu benar-benar monster.
Wanita itu meraih ponsel di dalam tasnya, terlihat dua puluh panggilan tak terjawab tampil di layar utama. Nama Niko tertera disana. Dia pun menekan kontak itu untuk menghubunginya.
"Kau dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telfonku?" Suara Niko terdengar sangat khawatir.
"Aku akan membawanya seorang diri." Widia berucap dingin.
"Apa maksudmu? Kau jangan berbuat gila Widia—"
Teriakan Niko terputus saat Widia menekan tombol end.
"Lebih cepat lagi!" Perintahnya pada sang supir.
"Kau harus berhasil mendapatkan wanita itu. Apa kau mengerti?"
Sekali lagi Widia mengangguk dengan patuh, "tapi saya punya permintaan nyonya."
"Apa itu?"
"Tolong tahan Tuan Niko."
"Kau tenang saja. Anak sialan itu tidak akan mengacau rencanaku lagi." Herlina tersenyum sinis.
Widia meremas ponselnya sangat kuat. Saat percakapan terakhirnya dengan Herlina kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Rasa takut, rasa benci berbaur menjadi satu. Sebentar lagi dia benar-benar akan berubah menjadi wanita iblis juga. Dan air matanya pun kembali menetes. Jauh dari lubuk hatinya, dia sangat tidak ingin melakukan ini. Tapi dia tidak punya pilihan.
Dan Niko yang baru saja menerima telfon dari Widia pun murka. Dia tidak akan membiarkan wanita itu bertindak gegabah. Dia harus menghentikan pergerakannya sekarang juga.
Namun saat pria itu berlari menuju mobilnya, tiba-tiba saja salah satu pengawalnya memukul kepala bagian belakang Niko menggunakan tongkat bisbol dengan keras. Hingga membuat pria itu pingsan.
Dengan cepat mereka memasukkan tubuh Niko yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil.
"Dia sudah tidak berdaya lagi Nyonya." Pria itu berucap melalui sambungan telefon.
"Bagus. Sekarang amankan dia, agar tidak mengacaukan rencanaku." ucap Herlina dari seberang telefon.
"Baik."
Sambungan telefon pun terputus. Pria itu dengan cepat masuk ke dalam mobil dan melajukannya.
ʕ•ﻌ•ʔ
Kaila sedang mengepak semua pakaiannya ke dalam koper besar, begitu juga dengan pakaian anak-anaknya. Wanita itu berencana akan melarikan diri, jauh dari jangkauan Noah. Pria itu benar-benar sudah mengacaukan hidup damainya bersama ketiga anaknya.
Dia tidak menuduh pria itulah yang menculik anaknya. Namun, karena pria itulah anaknya terculik. Terbukti saat Kaila bertemu dengan pria itu di Bandara hari itu, hidupnya tidak pernah lagi tenang. Hanya masalah yang datang bertubi-tubi.
Pria itu bukan pria biasa. Dia memiliki banyak musuh yang berusaha untuk melenyapkannya. Yah, meskipun otak Kaila terbilang tidak begitu cerdas dalam hal pelajaran, namun dia sangat mampu memahami situasi dan kondisi.
Jika bukan Noah yang melakukan penculikan anaknya sudah pasti yang melakukannya adalah musuhnya yang entah siapa musuhnya itu.
Terlebih sampai detik ini pihak berwajib belum memberinya kabar tentang bagaimana anaknya sekarang dan itu semakin membuat Kaila sangat yakin bahwa orang yang menculik Farika bukanlah orang biasa. Atau mungkin polisi itu belum melakukan tugasnya menjalankan kasus yang sudah Kaila laporkan. Entahlah, yang pasti dia harus menyingkir dulu dari tempat ini.
Kaila sudah memesan tiga tiket untuk dirinya dan kedua anaknya sejak semalam. Dan penerbangannya pukul dua siang nanti. Dia akan membawa anak-anaknya seorang diri, karena siapa lagi yang bisa dia harapkan. Apakah pak Johan dan istrinya? Tidak mungkin, mereka sudah terlalu banyak membantunya. Ataukah Pakde dan Budenya? Itu tidak mungkin juga, mereka sudah terlalu tua untuk membantunya. Lagi pula mereka sudah kembali ke kampung halamannya.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Dengan gerakan yang terburu-buru dia harus menyelesaikan seluruh pekerjaannya karena setelah ini dia akan menjemput Fau dan Fer di sekolahnya.
Namun baru saja dia selesai mengepak setengah pakaian anak-anaknya, tiba-tiba saja dia mendengar suara teriakan seorang wanita.
"Bu Lila!!!"
"Itu suara Widia." Kaila bergumam bingung Pasalnya sejak kemarin wanita itu tiba-tiba menghilang, namun dia tetap melangkahkan kakinya keluar dari kamar si kembar.
"Widia!" Seru Kaila di depan pintu kamar si kembar saat melihat Widia berjalan hendak menuju dapur.
"Bu Lila!" Widia langsung menghampiri Kaila dengan wajah yang berbinar.
"Ada apa kau mencariku?" Tanyanya dengan raut wajah yang masih bingung.
"Saya ingin membawa ibu ke suatu tempat."
Widia meraih tangan Kaila dengan senyum yang tidak dapat dia artikan. Kaila merasa ada yang aneh dengan senyuman itu.
"Ikut saya bu." Widia mulai menarik pergelangan tangan Kaila.
"Tunggu Widia!" Kaila menahan tubuhnya, "kau ingin membawaku kemana?"
Widia tersenyum lagi, "Ibu akan mengetahuinya nanti."
Kaila bergidik ngeri saat melihat senyuman itu, serta nada bicara Widia tidak seperti biasanya. Terdengar sangat licik. Atau itu hanya perasaannya saja?
"Maaf Widia." Kaila menarik tangannya dari cengkeraman tangan Widia. "Saya tidak punya banyak waktu untuk itu."
Yah, dia memang tidak punya banyak waktu untuk meladeni maksud Widia. Dia harus menyelesaikan urusannya sendiri. Waktunya tidak banyak.
Kaila baru saja hendak berbalik, namun tiba-tiba saja tubuhnya tertarik ke belakang dengan sapu tangan yang menyumpal mulut dan hidungnya.
Dia mencoba memberontak namun tak lama kemudian pandangannya mau rabun. Dia dapat merasakan tubuhnya terseret dan dilemparkan ke dalam sebuah mobil. Dan untuk kedua kalinya Kaila merasakan kesadarannya hilang di dalam sebuah mobil orang yang lagi-lagi menculiknya.
Mata Kaila bergerak saat kesadarannya kembali. Telinganya menangkap bunyi seperti pesawat terbang. Perlahan dia membuka matanya yang menatap sepasang kaki yang berjalan. Tubuhnya seolah bergerak dan ternyata dia sedang berada di atas pundak seorang pria. Dia dapat merasakan kaki dan tangannya terikat serta mulutnya dilakban.
"Kau sudah sadar?"
Kaila mengangkat wajahnya, menatap wanita yang berjalan di depannya. Itu adalah Widia yang tengah tersenyum licik. Apa yang diinginkan wanita itu? Kenapa dia melakukan hal ini padanya?
Kaila mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling dan tempat itu adalah sebuah lapangan pesawat lepas landas. Dia berusaha menolehkan kepalanya ke depan. Terlihat sebuah pesawat berada tak jauh dari pandangannya. Dan sekarang pria yang membawanya tengah berjalan mendekati pesawat tersebut.
Wanita itu kembali menoleh pada Widia. Berusaha berteriak pada wanita itu namun suaranya tertahan oleh lakban yang menutup mulutnya. Alhasil hanya tatapan membunuh yang dia layangkan pada Widia.
"Tak perlu menatapku seperti itu." Widia tersenyum miring, "kau akan tahu, setelah kita sampai disana."
Setelah mendengar penuturan wanita itu, Kaila berusaha melompat dari atas pundak pria itu. Dia harus bisa melepaskan dirinya dari manusia-manusia yang entah kenapa tiba-tiba saja menculiknya. Terlebih yang melakukannya adalah Widia. Wanita yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Bangsat!
Dia masih berusaha berontak, namun tetap saja gagal karena pria itu menahan tubuh Kaila dengan kuat.
"Jangan memberontak. Itu hanya akan membuang-buang energimu saja." ketus Widia.
Kaila pun mulai menangis. Dia benar-benar tidak bisa menyelamatkan dirinya sekarang. Entah kemana mereka akan membawanya, namun yang pasti itu bukanlah tempat yang baik.
Saat ini Kaila dapat merasakan bahwa pria yang membawanya sedang berjalan menaiki tangga pesawat. Kaila memejamkan matanya kuat, air mata menetes ke lantai pesawat. Dia sangat berharap seseorang kembali menyelamatkannya. Noah misalnya.
Kaila membenci pria itu, namun entah kenapa dia mengharapkan pria itu datang untuk menolongnya. Dan
Dorrr!
Belum selesai Kaila memohon dalam hatinya, matanya terbelalak saat mendengar suara tembakan bersamaan dengan tubuhnya menggelinding ke bawah bersama pria yang memanggulnya.
Kepalanya sangat sakit bersamaan dengan tulang-tulangnya yang remuk akibat berginding di anak tangga yang sangat keras.
Dorrr!
Dorrr!
Dorrr!
Kaila yang terbaring lemah di bawah tanah pun menoleh pada sosok pria yang sejak tadi melepaskan tembakan. Pandangannya yang buram sangat sulit mengenali pria itu. Tapi kenapa wajahnya terlihat tidak asing.
Dorrr!
"Akhh!"
Kaila melihat Widia tersungkur di tanah saat mendapat tembakan juga dari pria yang semakin mendekat ke arahnya. Dan sebelum matanya benar-benar terpejam dia sudah dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. Dia Noah.
ʕ•ﻌ•ʔ
Noah sedang duduk dengan tenang di dalam ruangan pribadinya sambil menyilangkan kakinya di kursi kebesarannya dengan pandangan dan pikirannya fokus pada layar komputer.
Pria itu sedang menonton sebuah rekaman yang menampilkan Kaila sedang mengeluarkan seluruh pakaiannya dari dalam lemari lalu menyusunnya ke sebuah koper besar.
Yah. Beberapa hari yang lalu pria berengsek memerintahkan pengawalnya untuk memasang cctv di setiap sudut yang ada di dalam rumah itu. Entah bagaimana cara pengawalnya melakukan hal itu namun yang pasti keberadaan benda itu sama sekali tidak disadari oleh pemilik rumah. Beruntungnya Kaila tidak pernah bertelanjang di kamar itu. Dan itu merugikan si pria mesum Tuan Noah. Sangat brengsek memang.
Noah bertanya-tanya kemana wanita itu akan pergi. Apakah dia mencoba melarikan diri darinya? Huh, sangat tidak masuk akal. Apa dia melarikan diri sangat mudah, setelah kekacauan ini terjadi?
"Tuan." Ben melangkah mendekat ke meja Noah dengan meletakkan sebuah ponsel yang memutar sebuah rekaman.
Noah mengalihkan fokusnya pada rekaman tersebut.
"Kau dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telfonku?" Suara Niko terdengar sangat khawatir.
"Aku akan membawanya seorang diri." Widia berucap dingin.
"Apa maksudmu? Kau jangan berbuat gila Widia—"
Rahang Noah mengeras seketika, "dimana dia sekarang?"
"Sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Nona Kaila Tuan."
"Sial!"
Noah menggebrak meja sebelum akhirnya pria itu melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.
"Tuan." Ben berusaha mengimbangi langkah Noah yang masuk ke dalam lift. "Saya bisa meminta anak buah kita untuk melakukannya."
"Saya yang akan melakukannya sendiri. Menghabisi mereka dengan tangan saya sendiri." tangan Noah terkepal kuat. Lalu berjalan keluar dari lift menuju mobil yang sudah menunggunya. Tidak lama setelah pria itu masuk, mobil pun melesat pesat.
Di dalam mobil yang melaju Noah mengalihkan pandangannya ke luar jendela pikirannya berkecamuk serta hatinya bergejolak. Entah kenapa dia sendiri yang melakukan hal ini? Ben benar, bahwa dia bisa meminta seluruh anak buahnya untuk menyelamatkan wanita itu, namun entah kenapa hatinya menolak hal itu, dia ingin menyelamatkan wanita itu dengan tangannya sendiri.
"Tuan." Seru Ben berhasil membuyarkan lamunan Noah.
"Ada apa?" Noah menoleh menatap Ben.
"Sekarang Widia berhasil membawa Kaila."
"Kemana dia akan membawanya?"
"Ke wanita itu," jawab Ben. "Apakah saya harus meminta mereka untuk menghentikannya?"
"Tidak perlu, biarkan saja mereka mengikutinya. Dan kita pun harus mengikutinya."
"Baik Tuan." Ben pun beralih dari Noah.
"Ke lapangan lepas landas milik Nyonya Herlina!" Pintanya pada sang supir lalu tanpa babibu mobil pun menuju ke sana.
Tidak butuh waktu lama, mobil pun berhenti tidak jauh dari pesawat. Dari dalam mobil Noah dapat melihat Kaila memberontak di atas pundak pria itu.
Dengan cepat Noah turun dari mobil, meraih pistol di dalam saku jasnya. Menarik pelatuk dan melepaskan peluru pada pria yang membawa Kaila menembus kepalanya. Pria berpakaian itu tampak ambruk saat langkahnya hampir masuk ke dalam pesawat. Menggelinding bagai bola di tangga pesawat bersama Kaila.
"Sial!" Noah merutuki dirinya sendiri yang sangat bodoh, membuat wanita itu juga ikut terjatuh.
Tiga orang pria pun mulai bersiaga. Menodongkan senjatanya ke arah Noah. Namun baru mereka menarik pelatuk. Ben menembak mereka semua.
Widia yang tampak panik dan takut pun mencoba melarikan diri. Namun pergerakannya terhenti karena Noah menembak betisnya hingga peluru itu bersarang sempurna di dalam betis kecil itu.
Widia terlihat meringis dan menangis kesakitan. Namun Noah tidak peduli. Pria itu terus saja melangkah menghampiri tubuh Kaila yang sudah tidak sadarkan diri.
"Urus wanita itu!" Pintanya pada Ben menunjuk Widia.
Ben mengangguk patuh.
Noah pun berjongkok, memboyong tubuh Kaila yang kaki dan tangannya masih terikat serta mulutnya yang di lakban. Langkahnya kini berjalan menuju mobil, namun tatapannya terus saja tertuju pada wajah cantik Kaila. Wanita ini selalu saja berhasil membuat hatinya berdebar.
...Happy Reading❤...
Maaf semalam lupa up, soalnya ketiduran. Maaf yah readersku.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂