NovelToon NovelToon
Gadis Kelinci Milik Bryan Sang Alpha

Gadis Kelinci Milik Bryan Sang Alpha

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yogitha Ratnajyoti

Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.

“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”

Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.

Satu sosok berdiri di hadapannya.

Bryan.

Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.

Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.

“Te-terima kasih...”

Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.

“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.

“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”

Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melepas Kerinduan

  Mobil taxi yang membawa Harsh akhirnya berhenti di depan rumah yang selama lima tahun hanya bisa ia lihat melalui kenangan.

 Kediaman keluarga besar Prasetya. Namun suasananya terasa jauh berbeda, cat dinding mulai memudar, halaman tampak sepi, tidak terdengar lagi tawa dua adiknya yang dulu sering tertawa bersama di sana.

 Harsh turun perlahan, tangannya menyentuh pagar besi yang sudah mulai berkarat. Yang semula bercat warna hijau kini sudah mulai memudar dan berkarat.

"Aku pulang..." ucapnya pelan.

  Ia melangkah masuk ke dalam rumah, ruang tamu masih dipenuhi perabot lama, beberapa foto keluarga masih tergantung di dinding, meski sebagian sudah berdebu.

"Alvania?"

"Viona?"

 Tidak ada jawaban sama sekali, rumah itu kosong. Harsh menghembuskan nafas kasar, tepat saat itu, suara mobil berhenti di depan rumah Harsh pun menoleh.

 Sebuah mobil alphard berwarna hitam memasuki halaman. Roy turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Alvania. Begitu melihat sosok pria yang berdiri di depan rumah, langkah Alvania terhenti.

"Mas Harsh..."

  Harsh menatap adik perempuannya itu. Lima tahun telah mengubah banyak hal Alvania yang dulu masih tampak remaja kini berdiri sebagai wanita dewasa. Namun di mata Harsh ia tetap adik kecilnya.

Tanpa berkata apa-apa, Alvania berlari dan memeluk Harsh erat.

"Mas..." Tangisnya pecah. Harsh pun membalas pelukan itu.

"Maaf..."

"Aku pulang terlambat..."

 Roy memilih berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memberi ruang bagi dua bersaudara itu.

 Beberapa menit kemudian mereka bertiga duduk di ruang tamu. Suasana menjadi hening Harsh memperhatikan wajah Alvania.

"Katakan semuanya..."

  Alvania menunduk, ia tahu kakaknya berhak mengetahui apa yang terjadi selama lima tahun terakhir.

Dengan suara pelan, ia mulai bercerita. Tentang sikap ayah mereka yang semakin keras, tentang tekanan yang ia alami, tentang bagaimana ia yang akhirnya terseret ke dunia malam dan berada di lingkungan yang berbahaya.

"Aku sempat berpikir hidupku sudah selesai, Mas..."

 Harsh mengepalkan kedua tangannya di atas lutut dan rahangnya pun mulai mengeras. Namun ia tetap membiarkan Alvania melanjutkan.

"Yang paling aku takutkan...." Suara Alvania bergetar.

"Viona hampir mengalami hal yang sama..."

 Harsh langsung mengangkat wajahnya.

"Maksudmu?"

 Alvania menghela napas panjang.

"Papa hampir menyeret Viona ke lubang yang sama..."

"Untung saja...banyak orang yang membantunya..."

"Viona berhasil keluar sebelum semuanya terlambat..."

  Ruangan kembali sunyi Harsh menundukkan kepala, tangannya mengepal semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih, darahnya terasa mendidih.

  Selama lima tahun ia rela mengorbankan dirinya agar kedua adiknya hidup tenang. Namun kenyataannya, mereka tetap harus menghadapi penderitaan.

"Papah!" Suara Harsh terdengar rendah.

  Namun justru itulah yang membuat Roy merasakan kemarahan yang sedang ditahan pria itu. Harsh menutup matanya beberapa detik.

"Aku terlambat..."

Alvania segera menggeleng.

"Enggak, Mas..."

"Kamu sudah pulang..."

"Itu sudah cukup..."

Harsh menatap adiknya.

"Enggak..."

"Aku akan memastikan,"

"Gak ada lagi yang bisa menyakiti kalian."

...****************...

 Di waktu yang sama, di Briliant Wijaya Group, Viona masih sibuk menyusun beberapa dokumen di meja kerjanya. Sesekali ia tersenyum sendiri ketika mengingat pesan dari Harsh.

  Beberapa rekan kerja memperhatikan perubahan suasana hatinya, tetapi tidak ada yang bertanya lebih jauh. Viona sama sekali tidak mengetahui bahwa kakaknya saat ini sudah berada di rumah mereka.

Sementara itu di sebuah gudang tua di pinggiran kota, suasana terasa mencekam, beberapa pria berlutut dengan wajah pucat. Di hadapan mereka berdiri Bryan tatapannya dingin, di sampingnya, Arlian berdiri dengan sebuah map berisi laporan keuangan.

"Tuan..." Arlian membuka berkas itu.

"Semua bukti sudah lengkap..."

"Mereka terbukti menggelapkan dana organisasi dan menjual informasi kepada pihak lain..."

Bryan mengambil lembar terakhir. Ia membacanya tanpa mengubah ekspresi.

"Kalian tahu aturan organisasi kan?!"

Tidak ada yang berani menjawab, salah seorang pria mencoba memohon.

"Tuan...beri kami satu kesempatan lagi..."

Bryan menutup map itu perlahan.

"Kesempatan sudah kalian miliki..."

"Tapi kalian yang memilih mengkhianatinya..."

Suaranya tetap tenang namun justru ketenangan itu membuat suasana semakin menegangkan. Bryan memberi isyarat singkat kepada anak buahnya.

"Pastikan mereka tidak lagi menjadi ancaman bagi organisasi..."

"Baik, Tuan..."

 Beberapa anak buah segera membawa para pengkhianat itu keluar dari ruangan untuk di eksekusi. Bryan tidak melihat ke belakang baginya, pengkhianatan memiliki konsekuensi.

Di sisi lain kota Harsh berdiri di teras rumah setelah mendengar seluruh cerita Alvania. Ia memandang langit Jakarta yang mulai berwarna jingga.

  Di dalam dirinya, dua identitas kembali bertabrakan. Harsh Aditya Prasetya kakak yang ingin melindungi keluarganya dan Harsh Aditya Chang Lee pria yang telah belajar menghadapi kerasnya dunia hitam. Kini keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu melindungi Alvania dan Viona. Apa pun yang harus ia hadapi setelah ini.

...****************...

Sore mulai berganti malam, di ruang tamu kediaman Prasetya, Harsh masih duduk berhadapan dengan Alvania dan Roy. Setelah beberapa saat terdiam, Harsh akhirnya membuka suara.

"Alvania..."

"Hm, Mas?"

"Club malam tempat kamu bekerja...namanya apa?"

 Alvania menarik napas pelan sebelum menjawab.

"Star Night Club..."

 Sorot mata Harsh langsung berubah tajam.

"Itu tempatnya?"

 Alvania mengangguk perlahan.

"Iya..."

 Harsh mengepalkan tangannya, tetapi berusaha tetap tenang.

"Lalu..."

 Tatapannya beralih kepada Roy.

"Pria yang bersamamu...dia siapa?"

 Alvania tersenyum tipis.

"Namanya Roy..."

"Dia sahabat baikku. Dia banyak membantuku untuk keluar dari club itu dengan alasan membooking ku selama berhari-hari..."

 Roy berdiri lalu mengulurkan tangannya dengan sopan seolah-olah antara Harsh dan Roy tidak saling mengenal satu sama lain.

"Perkenalkan, Mas Harsh. Saya Roy Arya Pratama..."

 Harsh menerima uluran tangan itu.

"Harsh Aditya Chang.....oh...maaf maksud saya Harsh Aditya Prasetya..."

 Tatapan mereka saling bertemu selama beberapa detik. Di balik senyum tipis itu, keduanya sama-sama mengenali satu sama lain dan saling memberi kode masing-masing.

 Dua tahun lalu mereka pernah berada di sebuah pertemuan tertutup di Singapura yang mempertemukan berbagai tokoh mafia berpengaruh dari berbagai negara.

Namun tidak satu pun dari mereka menyinggung hal itu. Roy memahami bahwa Harsh belum ingin membuka identitasnya di hadapan Alvania maupun Viona karena bagi kedua adiknya Harsh hanyalah kakak yang akhirnya pulang.

...****************...

Malam harinya mereka bertiga menuju apartemen Viona. Begitu pintu terbuka, Viona langsung mematung.

"Mas Harsh..."

Harsh tersenyum hangat.

"Boleh Mas masuk?"

Tanpa menjawab, Viona langsung memeluk kakaknya erat.

"Aku kangen..."

"Aku juga, Vionaku sayang..."

  Malam ini diisi dengan makan malam sederhana, tawa, dan cerita yang selama lima tahun tertunda. Setelah sekian lama, ketiga bersaudara itu kembali duduk di meja yang sama.

Beberapa saat kemudian Harsh menatap Roy.

"Roy..."

"Ada yang ingin kubicarakan..."

Roy mengangguk.

"Silahkan..."

"Temani aku ke Star Night Club..."

  Alvania langsung menoleh.

"Mas...?"

"Aku gak akan bertindak gegabah..."

"Aku hanya ingin melihat sendiri tempat itu..."

 Roy memahami maksud Harsh.

"Ok..."

 Tak lama kemudian, sebuah mobil Alphard hitam berhenti di depan Star Night Club. Lampu neon berwarna-warni menerangi bagian depan gedung.

 Harsh dan Roy turun lebih dulu. Harsh mengenakan pakaian sederhana agar tidak menarik perhatian.

  Dari kejauhan, Viona tetap berada di dalam kendaraan, memilih menunggu di tempat yang lebih aman sementara Alvania ikut bersama Roy dan Harsh kemudian menyelinap masuk ke kamarnya di club malam itu. Beberapa petugas keamanan club mengenali Roy yang memang sudah sering datang ke sana.

"Selamat malam, Mas Roy..."

 Roy hanya mengangguk singkat.

"Saya membawa teman malam ini, boleh pesan sebotol wine dan para ladies lainnya untuk teman saya ini. Dan satu lagi panggil Alvania untuk saya..."

"Silakan..."

  Harsh memperhatikan setiap sudut bangunan itu dengan saksama. Dalam hati, ia berjanji bahwa jika memang ada pihak yang pernah menyakiti adik-adiknya melalui tempat itu, ia akan mencari kebenarannya dan memastikan semua diproses dengan cara yang tepat.

...****************...

 Di waktu yang sama, di sebuah lokasi rahasia. Bryan berdiri di hadapan beberapa anggota yang baru saja mengamankan seorang pengkhianat organisasi. Arlian menyerahkan sebuah berkas.

"Semua bukti sudah lengkap, Tuan..."

Bryan membacanya dengan tenang.

"Pastikan dia diserahkan sesuai prosedur internal organisasi..."

"Jangan ada anggota lain yang ikut dirugikan..."

"Baik, Tuan..."

Bryan memandang keluar jendela. Ia belum mengetahui bahwa pada malam yang sama Harsh telah mengambil tindakan dan takdir mereka berdua semakin dekat untuk kembali bertemu.

BERSAMBUNG.

1
Zainuri Zaira
tu ank yg dri cina knp tak smapai 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!