NovelToon NovelToon
ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Romantis / Ketos / Romansa / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.

“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”

“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”

Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.

...Apakah ini akhir dari kisah cinta Dalilah dan Revi? Oh, tidak secepat itu sayangku....

...Justru inilah awal dari pertunjukan cinta mereka....

...Stay with Putri Sejagat...

...&...

...Happy Reading...

...❤️...

...***...

Sepanjang perjalanan menuju rumah. Aku dan Suryawijaya saling membuang muka.

Aku tahu di marah kepadaku dan kelakuanku. Tapi aku bisa apa? Aku baru jatuh cinta sekali saja dia sudah ruwet menanggapinya. Bagaimana jika aku jatuh cinta berkali-kali?

Paling-paling Suryawijaya langsung membawaku ke ujung bumi dan meninggalkan ku sendiri. Tanpa cinta dan patah hati.

Astaghfirullah. Adikku... kenapa bisa seperti ini. Suryawijaya pasti akan sulit jatuh hati. Dia dingin, gak bisa diajak guyon, apalagi wajahnya kaku meski menggemaskan.

Amit-amit jangan sampai kalau dia hanya akan menjadi seperti Om Nanang. Jangan sampai, dik! Mbak siap menjadi Mak comblang jika dibutuhkan.

"Ibunda pasti kepikiran nanti kalau Mbak sama mas cemberut, mrengut gitu. Ayo baikan!" ujar Pandu.

"Mas mu setiap hari mrengut, cemberut, senyum jarang, jadi gak akan ketahuan kalau kita lagi marahan!" jawabku sambil menoleh ke arah Suryawijaya. Ia tetap tak acuh padaku. Raut wajahnya tanpa ekspresi.

"Tapi Ayahanda tahu!" ujar Pandu langsung. Ia menoleh ke belakang karena Pandu memang duduk di bangku depan.

"Lama-lama ngeselin juga kemampuanmu! Suka ngeramal yang belum terjadi." sanggahku cepat.

"Namanya juga peramal. Ada yang terbukti dan tidak. Tergantung takdir illahi." ujar Pandu diplomatis.

Aku membuang nafas, dan diam. Karena mendebat semua ocehan Pandu sama saja meragukannya. Dia dan segala kemampuannya sudah membuatku merasa tidak punya apa-apa selain manis dan manja.

Tak berapa lama, mobil memasuki wilayah istana. Aku meremas kedua tanganku. Gugup. Ayahanda tahu segalanya dan aku salah. Aku salah karena memeluk Revi.

Tapi aku merasa akan lebih afdol kalau aku meluk Revi sebagai klaim jika dia pacarku, begitu sebaliknya.

Aku yakin Ayahanda mengerti maksudku, tapi aku malu untuk baikan sama Suryawijaya. Aku gak salah!

"Gimana? Masih belum mau baikan? Pandu gak mau jadi saksi sidang perdana kasus pelukan!" celetuknya tanpa rasa.

Aku menghela nafas, "Sur, kamu sayang sama Mbak? Sayang banget?" tanyaku pada Suryawijaya yang masih menyenderkan tubuhnya di sandaran jok mobil. Bahkan kami berempat masih berada di dalam mobil meski mesinnya sudah dimatikan sopir.

Suryawijaya melirikku, lirikannya tajam sekali seperti beling yang siap melukai.

"Aku hanya menjalankan tugas sebagai adik! Kalau Mbak memang tidak mau mendengarkan, gak masalah. Tapi, Mbak tanggung sendiri risikonya!" jawab Suryawijaya dengan nada datar.

"Selain menjalankan tugas, apa kamu sayang sama Mbak?" tanyaku lagi memaksa.

"Mbak pikir sendiri!" jawabnya lalu keluar dari mobil.

"Mas itu jagain Mbak karena kalau Ayahanda meninggal. Mas Surya yang menggantikan perannya. Mbak gak peka! Mas itu sayang banget sama Mbak, tapi caranya emang gak pake basa-basi!" urai Pandu setelahnya aku hanya bisa pasrah.

Aku keluar dari mobil lalu mengejar langkah Suryawijaya. Dia menoleh saat mendengar suara langkah sepatuku.

"Tungguin, Sur." kataku sambil mengejarnya, "Sur, Mbak sayang sama kamu. Tapi Mbak gak bisa putusin mas Revi!"

Suryawijaya berhenti. Aku langsung memeluknya dari belakang.

"Sur... Jangan lupa kita akan tumbuh dewasa. Kita akan jatuh cinta, dan mungkin ini sudah waktunya Mbak untuk merasakan itu!" kataku berusaha mencari celah untuk menaklukkan hatinya.

"Terlalu cepat!" ujarnya tanpa melepas pelukanku.

"Kamu benar ini memang terlalu cepat! Dan Mbak sadar kok, Mbak buru-buru menyimpulkan bahwa ini cinta. Tapi seandainya Mbak gak cinta sama mas Revi, Mbak mulai nyaman dengan dia. Dan kamu harus tahu, Sur! Dari nyaman menjadi sayang."

"Sudah bicaranya? Kalau gitu lepas!" ujar Suryawijaya tanpa protes panjang.

"Mbak gak bakal lepasin sebelum kamu bilang sayang sama Mbak!"

Hening...

Kami berdua hanya berdiri di tengah dinginnya malam dan rimbunnya pepohonan. Kalau adegan ini sama mas Revi pasti romantis, sayangnya ini sama si balok kayu yang diam membisu.

"Ya sudah Mbak sayangnya sama mas Revi sama dik Pandu. Dik Surya enggak!" ujarku sambil melepaskan pelukan.

Suryawijaya masih diam, tidak bergerak. Saat aku melihat wajahnya. Aku tahu, dia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Family values! Itu yang sering kamu tanamkan dalam dirimu. Mbak tau ini caramu menyayangi Mbak. Jadi, Mbak minta maaf sudah bikin kamu kesal malam ini. Maafin Mbak." ujarku sambil menatap matanya. Mata coklat dengan pandangan sayu itu mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Ada hal lain yang harus Mbak selesaikan dengan Ayahanda dan Ibunda! Good night, Lil sister!" kata Suryawijaya, menepuk bahuku lalu pergi.

"Lil sister! Yang benar saja. Aku lebih tua! Meski tinggi badanku lebih pendek darimu, Sur!" Ku hentakan kaki sebelum mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah. Ayahanda dan Ibunda sudah menunggu di ruang keluarga.

"Having fun Mbak?" tanya Ibunda sambil menyusun laporan keuangan.

"Lumayan, Bun. Baskara sudah diizinkan untuk membawa motor. Lilah kapan?" tanyaku.

Ibunda menoleh ke arah Ayahanda. Tanpa bicara, Ibunda sudah tahu jawabannya. Seolah wajah Ayahanda itu seperti papan tulis. Banyak kalimat yang sudah terpajang rapi dan Ibunda tinggal mengambil jawaban yang tepat.

"Hanya Ayahanda yang mengizinkan."

"Slalu Ayahanda! Apa Ibunda tidak bisa ikut andil dalam memutuskan kebijakan anak-anak?"

Ibunda menggeleng pelan, "Ndu, masuk ke kamar. Mas Surya juga."

"Mbak sukanya cari masalah. Tau yang tadi belum kelar, ini nambah lagi!" sindir Pandu Mahendra. Ia mengecup kening Ibunda, lalu berbisik, "Ndu sayang banget sama Bunda. Bunda jangan marah-marah nanti cepat tua."

Ibunda mengangguk dan tersenyum, "Bunda sayang kalian bertiga! Bersih-bersih badan lalu istirahat."

Si bengal anak yang manis? Itulah Pandu. Ibunda adalah pusat dunianya. Dan, aku tidak tahu kenapa Pandu bisa segitu cintanya sama Bunda. Ada rahasia, yang aku tidak tahu dan gak ada yang mau menceritakannya.

Setelah adik-adikku pergi, kini tinggallah aku dan Ayahanda. Ibunda sudah berlalu untuk memastikan bahwa dua putranya benar-benar masuk ke kamar.

"Masalah apa tadi yang dibicarakan oleh Pandu, Mbak?" tanya Ayahanda.

"Tadi... Lilah peluk Baskara dan mas Revi." jawabku jujur karena Ayahanda hanya menginginkan kejujuran bukan ocehan pembelaan diri.

"Mbak sudah tahu hukumannya?" Ayahanda menatapku penuh arti.

"Sudah... Dan Mbak Lilah akan menjalaninya. Ayahanda tenang saja." jawabku enteng.

"Jangan meremehkan hukuman yang Ayahanda berikan, Mbak! Meskipun itu mudah, tapi Mbak harus memberi contoh baik kepada adik-adik dan semua orang. Bukan hanya semata-mata Mbak menyanggupi hukuman yang Ayahanda berikan, lalu Mbak akan mengulangi lagi. Mbak perempuan, punya harga diri!" urai Ayahanda tegas.

"Dalilah mengerti Ayahanda!"

Paginya, setelah semalam ada ribut-ribut kecil soal pelukan dan berakhir damai dengan Ayahanda. Aku kembali menghadapi situasi yang menegangkan. Video pesta ulangtahun Baskara beredar. Disana terdengar aku yang meminta ciuman. Dan menjadi viral.

...Kasih like buat Dalilah ya. Biar semangat menghadapi hukuman. ...

...Terimakasih, salam Rahayu 🙏...

1
Ena Ariani
kerennn
Cicak Speed
Halah jam jati2
Cicak Speed
Jani Jani malah nangis Ki pie to
Cicak Speed
q ngakak Mas Jati isane ngomng lutut q lemass
Cicak Speed
ikut bubu aku
Cicak Speed
setress rev mesakne
Cicak Speed
pinter koe Lil
Cicak Speed
ngapa Ndu mau pingsan
Cicak Speed
ga nyangka baskara duhh
Rasty Inarra
sepanjang baca ko mong guyu aku Lil
Rasty Inarra
om nanng curang baca duluan
Cicak Speed
ngekeek malah rekkk Lilah kamu kesambet apa sehh
Cicak Speed
pantunh pancuran Om
Sri Wahyuni
mas revi 🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Wahyuni
gara" ada arunika, sy jd pengen baca ulang mbak lilah, smbil nunggu upadate 💕💕💕💕
Camera Gaming
novel kk author bagus alur ceritanya aku suka tapi banyak b.inggrisnya apala lh sy yg gagap b inggris🤣🤣🤣
Camera Gaming
novel om nanang judulnya apa sih
ig : skavivi_selfish: Cinta Di Ujung Senja, tapi versi chat story
total 1 replies
Nining Setyaningsih
Luar biasa
Bundanya Syahdan
baru kali ini membaca novel yang lain dr yang lain, terinakasih thoorr 🤩
Ida Erwanti
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!