Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 29
Suasana di koridor lantai atas mendadak terasa mencekam. Pak Raharjo Dirgantara, yang wajahnya sudah memerah padam karena amarah, melangkah dengan gontai namun penuh wibawa menuju pintu ruang kerja putranya.
"Ikut Papa ke ruang kerja Papa sekarang, Inara," perintah Pak Raharjo dengan suara rendah yang menggetarkan udara.
Inara hanya mengangguk patuh. Dia melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Mahesa yang masih terbuka sedikit. Di mana di baliknya dia tahu Clarissa sedang kebingungan dan Mahesa sedang dirundung kepanikan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Inara melangkah mengikuti langkah tegas mertuanya.
Begitu mereka masuk ke ruang kerja yang luas dan didominasi oleh nuansa kayu berwarna gelap itu, Pak Raharjo langsung menutup pintu dengan dentuman yang diredam, memastikan privasi mereka terjaga.
Dia memutar tubuh, menatap Inara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, kemarahan terhadap anaknya, dan kekaguman pada ketenangan menantunya. Sejujurnya dia tak pernah tahu kalau Mahesa dan Clarissa kembali berhubungan.
"Kamu sudah melihat semuanya, Inara. Sudah berapa lama?" ujar Pak Raharjo, suaranya kini terdengar berat dan lelah.
Dia berjalan menuju kursi kerjanya namun tidak duduk. Dia justru menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
"Jelaskan pada Papa. Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka? apa Mahesa kembali kepada Wanita ular itu?"
Inara berdiri tegak di tengah ruangan. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kehancuran emosional seperti yang mungkin diharapkan seorang pria tua terhadap menantunya yang baru saja dikhianati. Sebaliknya, Inara menatap Pak Raharjo dengan sorot mata yang tajam dan analitis.
"Mbak Clarissa sudah kembali sejak beberapa bulan lalu. Dan dia bekerja juga di perusahaan sebagai salah satu Tim Khusus Mas Mahesa..." Inara menjeda kalimatnya karena Pak Raharjo memotongnya.
"Apa? Bisa apa wanita itu bekerja di kantor sebagai tim khusus? Mahesa benar-benar kurang ajar!" emosi Pak Raharja.
"Lalu kenapa kamu diam saja? Melihat kelakuan suami kamu seperti itu! Dan kamu tak mengatakannya kepada Papa dan mama? Kenapa kamu malah sama-sama mengecewakan kamu Inara?"
"Maafkan Inara, Papa ..."
"Jangan katakan kalau pernikahan kalian..."
"Maaf papa, selama ini Mas Mahesa tidak pernah menganggap pernikahan ini nyata, Pah," jawab Inara lugas, tanpa basa-basi.
"Bagi dia, saya hanyalah alat dalam permainannya untuk mencapai ambisinya di Dirgantara Group. Dan Clarissa dia adalah satu-satunya orang yang Mahesa izinkan untuk memegang kendali atas emosinya. Pernikahan ini tak ada artinya, dan kami sepakat bercerai setelah Mas Mahesa mendapatkan posisinya. Apalagi Saya di sini hanya sebagai jaminan hutang-hutang mendiang Papa dan juga pengobatan Mama di ICU!" suara Inara kali ini bergetar.
Dia selalu tak kuasa jiga membicarakan keadaan ibunya. Papa Raharjo berbalik dan menatap penuh tanya juga kebingungan ke arah menantunya.
Pak Raharjo tertegun. Bahunya yang biasanya tegap dan penuh wibawa tampak merosot mendengar pengakuan Inara. Dia melangkah mendekat, matanya menatap tajam namun sarat akan rasa iba yang mendalam.
"Jaminan hutang? Pengobatan ibumu?" suara Pak Raharjo mengalun rendah, hampir seperti bisikan yang sarat akan keterkejutan.
"Inara, bicara yang jelas. Hutang apa yang kamu maksud? Tidak ada yang namanya jaminan hutang. Bahkan pengobatan ibumu menggunakan uang titipan ayahmu kepada Papa. Dia memiliki 10% saham di perusahaan Dirgantara sebelum meninggal! Tak ada yang namanya jaminan hutang!"
Inara menatap tak percaya ke arah mertua lelakinya yang mengatakan semuanya. Jadi selama ini Mahesa membohongi dirinya hanya untuk menyik-sanya salam pernikahan karena perjodohan itu?
"Tapi Pah ... Mas Mahesa bilang ..." Inara tak percaya dengan kenyataan pahit itu.
"Selama ini dia menggunakan kondisi kesehatan Ibu sebagai sandera. Dia bilang, jika saya berani bicara pada Papa atau Mama, dia akan menghentikan seluruh dukungan medis dan membiarkan Ibu diusir dari rumah sakit. Dia juga mengatakan kalau pernikahan kami adalah bentuk penebusan hutang Papaku kepada keluarga Dirgantara. Sehingga selama ini dia juga memperlakukan saya..."
Pak Raharjo mematung. Wajahnya yang memerah karena amarah tadi perlahan berubah menjadi pucat pasi, kemudian berubah menjadi gelap oleh amarah yang jauh lebih besar. Amarah seorang ayah yang dikhianati oleh anaknya sendiri yang telah ia beri kepercayaan penuh.
"Anak itu..." desis Pak Raharjo, tangannya gemetar hebat saat dia mencengkeram pinggiran meja kerjanya hingga buku jarinya memutih.
"Dia menggunakan nyawa manusia sebagai alat untuk ambisi busuknya? Dia mempermainkan kepercayaanku? Anak kurang ajar!" ucapnya penuh emosi.
"Apa yang kamu inginkan Inara?" tanya Pak Raharjo kemudian.
"Saya hanya ingin kebebasan Pah, saya sudah terlalu lelah lahir dan batin dalam pernikahan ini. Maafkan Inara yang tak bisa lagi bertahan lebih lama seperti yang Papa dan Mama inginkan," ujar Inara memejamkan matanya.
Hatinya sudah terlalu sakit dengan sikap dan juga perlakuan Mahesa selama ini. Dia sudah bersabar selama ini. Namun perlakuan Mahesa akhir-akhir ini membuatnya semakin takut. Papa Raharjo menatap wajah menantu ya yang bicara dengan serius. Dia melihat jelas bibir Inara yang juga membengkak. Dia tahu keadaan menantunya sedang tak baik-baik saja. Dia mendekat dan memeluk menantunya dengan erat. Merasa bersalah kepada Inara
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭