[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagu Favorit
Sebelum pagi, Mayang dan Bima bersiap. Mayang membantunya membawa tripod. Bima membawa ransel dan gitar di tangannya. Ia lihat Susi menyesap kopinya di dekat api yang sekarang tinggal arangnya dan bara yang masih sedikit menyala.
"Lo, udah bangun?" Bima duduk di sampingnya. Dari kejauhan, Mayang tampak membenahi tali sepatu dan sibuk menutup tendanya kembali.
"Udah. Tadi kencing terus haus. Terus bikin minum. Dingin banget. Lo mau?" Ia menawarinya secangkir baru. Bima menerima.
"Lo nggak percaya ya sama gue?" Bima langsung menembaknya dengan pertanyaan.
"Apa?"
Bima menaikkan alisnya. Tak mau menjawab. Ia tak mengejar jawaban.
"Gue lama di Jakarta. Lo tau kan. Anak seumur lo, ya pasti lo tau apa yang gue maksud."
"Mayang juga di Jakarta. Sejak kecil malah."
"Dia beda. Gue 18 Bim. Dia seumur keponakan gue yang masih SMP."
"Terus?"
"Gue punya pacar. Dulu sih."
Susi menyesap kopinya, lalu ditaruhnya ke bangku di sampingnya. Ia gosok-gosokkan tangannya untuk mengusir dingin.
"Gue cuma sayang sama temen-temen gue. Mayang apalagi. Gue anggap kayak adik gue."
"Gue nggak rusak, Sus. Lo pasti nggak percaya. Gue bandelnya beda. Ya berantemin orang kayak Bagas tadi malem. Tapi lo lihat? Sekarang gue berubah. Gue nggak ngelawan kan?"
Susi tertawa. "Kenapa lo bandel?"
"Gue nggak punya bokap," Bima menjawab singkat.
"Gue juga," Susi menjawab, pandangannya menatap jauh ke depan.
"Bokap gue masih hidup sih," Bima menimpali lagi. Kata-katanya ringan begitu saja keluar dari mulutnya.
"Bokap gue juga. Tapi ya udah gue anggap nggak ada."
"Sama."
Mereka tertawa lagi. Merasa lucu dengan kisahnya masing-masing. Padahal mereka tahu. Banyak kepedihan yang harus dilalui susah payah untuk sampai ke titik ini. Mentertawakan keadaan sebagai hal yang biasa saja.
"Hei," Mayang berseru menghampiri mereka. Ikut duduk di samping Bima.
"Emang pada mau kemana?"
"Mau ke bawah ngerekam video," Mayang mengangkat tripodnya, menunjukkannya pada Susi.
"Ooh...Jangan lama-lama ya di bawah. Nanti kita sarapan bareng terus bahas acara selanjutnya. Oke?"
"Susi nggak mau ikut?" Mayang menawarkan.
"Nggak usah. Mau santai-santai aja lagi. Lagian siapa yang bakal ngatur anak-anak?Nanti berantem lagi kayak semalem," ia menanggapinya dengan tertawa.
***
"Mas Bima pernah nangis nggak pas denger lagu?" Mayang tampak tak kesulitan menuruni jalan. Bima tetap membimbingnya. Mereka menuruni jalan. Di kanan dan kiri mereka kebun teh terbentang.
"Pernah."
"Lagu apa? Terus kenapa?"
"Lagu Bima sendiri. Ya kalau ditanya kenapa ya sedih aja."
"Mas Bima bisa bikin lagu?"
Bima mengangguk. "Lagu nggak serius. Pas sedih aja momennya."
"Emang Mas Bima pernah sedih?"
"Ya pernah dong."
"Kenapa sedih?"
Bima tak menjawab. Ini tentang Papanya. Ini tentang Om Adam yang menyakiti Mamanya. Ini bukan hanya sedih, juga ada amarah di sana.
"Ya ada lah. Sekarang Mas Bima sedih kalau Mayang sedih," ia tertawa. Mayang ikut tertawa.
"Kenapa?"
"Mmm...Ya sedih aja. Nggak bisa dijelasin."
Mereka sampai di lahan yang agak datar. Daun-daun teh nampak segar diselimuti embun.
"Mas Bima bisa main Unintended'nya Muse nggak?"
Bima mengangguk. "Mayang bisa?"
"Bisa."
"Oke. Mayang coba sendiri. Mas Bima yang merekam. Mayang bisa kok, jangan gugup. Oke?"
UNINTENDED
You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I'll always love
You could be the one who listens
To my deepest inquisitions
You could be the one I'll always love
Ini salah satu lagu favorit Mayang. Bima merekamnya. Pikirannya kosong, terbang berhamburan. Lagu ini membuatnya membuka mata, bahwa di depan akan banyak kesulitan. Kalau Bima bilang suka sama Mayang, apa kata Mama. Juga Papanya Mayang. Gimana dengan Mayang sendiri. Tapi hatinya telah jatuh, ia tak bisa bangun lagi. Ia ingin tinggal di tempat ternyamannya. Ada Mayang di sana. Dan hatinya, berisi namanya sepenuhnya.
Usainya lagu membawa pikirannya yang beterbangan kembali memenuhi kepala. Seperti ribuan pertanyaan yang tak bisa ia jawab, menggumpal menjadi satu, menghantamnya. Tapi semuanya hilang begitu melihat senyuman gadis itu. Gadisnya. Mayangnya.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹