Laura seorang gadis yang berkeinginan menjadi model internasional. Laura seorang gadis yang suka berpakaian sexy karena memang bentuk tubuhnya yang aduhai.
Namun pertemuannya dengan Zakia membuat dia tiba-tiba berubah haluan. Laura merubah 100% penampilannya.
Laura yang tidak pernah berpacaran harus menerima perjodohan sebagai syarat untuk menjadi seorang Model oleh Orang Tuanya. Sampailah dia dipertemukan dengan seorang CEO yang terkenal dengan keganasan nya dan gila akan kebersihan.
Akankah Laura bisa menaklukan kerasnya hati sang CEO?
Akankah Laura bisa bersatu?
Yuk ikutin kisahnya..🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Aku Pasti Merindukanmu
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏
"Bi apa Sidney sudah bersiap?" tanya Riko.
Riko bertanya pada Bi Inah seraya melihat jam ditangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang.
"Sepertinya sudah Tuan Riko. Tapi lebih baik anda memastikan sendiri, takutnya Nona Sidney ketinggalan pesawat." Jawab Bi Inah.
Tanpa menjawab Riko langsung menuju kamar atas. Tanpa mengetuk pintu Riko langsung menekan handle pintu. Mata Riko terpanah saat melihat Sidney hanya mengenakan handuk berukuran mini menutupi pangkal paha dan dadanyanya dengan tidak sempurna.
"Ka-kakak. Maaf aku lama ya?" tanya Sidney gugup.
Sidney bergegas menuju ruang ganti. Namun naas baru saja hendak melangkah, tangannya sudah ditarik Riko hingga tubuhnya membentur dada bidang pria itu. Pandangan mata mereka bertemu, nafas Riko terasa berat ditelinga Sidney.
"Ka-kakak lepasin Ney. Nanti Ney terlambat," ujar Sidney gugup.
"Aku pasti merindukanmu Sayang, bolehkah Kakak meminta bekal? agar kerinduan Kakak tidak terlampau dalam," ucap Riko.
"Be-bekal apa?" tanya Sidney.
Jantung Sidney sudah tidak karuan degupnya. Jantung itu seakan sudah lepas dari orbitnya. Tanpa menjawab Sidney, Riko langsung me****t daging lembut milik Sidney. Godaan yang begitu nyata tidak bisa Riko kendalikan, dia sangat menggilai setiap apa yang Sidney miliki. Tangan Riko tidak tinggal diam, pegunungan yang terlampau menjulang seakan mengedipkan matanya untuk didaki dan dijejaki. Sidney tidak bisa menahan suara merdunya ketika puncak kesayangannya tiba-tiba terasa hangat dan membuat gelenyar aneh disetiap aliran darahnya. Sekuat tenaga Sidney menahan agar handuk itu tidak luruh kelantai, dia menahannya dengan satu tangan tepat dipinggang. Sementara tangan yang lain meremat pundak Riko agar dirinya tidak tumbang.
"Ka-kakak hentikan!" ujar Sidney terbata.
Namun Riko seakan tuli. Tubuh Sidney semakin menggila dibuatnya. Riko malah asyik membuat jejak kepemilikan didaerah pegunungan itu dan sesekali meng****p puncaknya.
"Cu-cukup K-kak," ucap Sidney.
Riko tahu sebenarnya Sidney juga tidak mau Riko menghentikan kegiatan itu walaupun bibir gadis itu mengatakan demikian. Itu terbukti karena gadis itu sama sekali tidak menolak atau mendorong dirinya menjauh, malah seakan ingin menuntut lebih. Riko menghentikan aksinya dan menarik handuk itu keatas menutupi gunung favoritnya.
"Cepat ganti pakaianmu!" perintah Riko.
Dengan nafas yang masih terengah, Sidney segera berlari menuju ruang ganti. Riko yang dudk ditepi ranjang menggeram frustasi.
"Aku benar-benar tergila-gila padanya. Aku tidak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi," batin Riko.
Sementara diruang ganti mata Sidney terbelalak saat melihat dirinya dipantulan cermin.
"Astaga, kenapa aku seperti macan tutul begini?" ucap Sidney.
Namun sesaat kemudian wajah Sidney bersemu merah saat mengingat kegiatan yang baru saja mereka lakukan. Sidney tidak menyangka bekal yang Riko maksud adalah salah satu bagian dari milik kesayangannya. Hingga pria itu seakan tidak mau berhenti menikmatinya seperti orang tidak minum satu tahun.
"Kak riko bilang, Aku cinta pertamanya. Tapi mengapa dia melakukannya dengan sangat ahli? apa dia berbohong padaku?" batin Sidney.
Sidney larut dengan pemikirannya sembari memakai pakaiannya. Tiba-tiba saja ada api cemburu dan ada rasa tidak rela dalam dirinya. Dia jadi membayangkan yang iya-iya antara Riko dan wanita lain. Dan itu berhasil membuat moodnya tiba-tiba berubah jadi buruk.
Sidney keluar dengan wajah ditekuk. Riko yang melihat ekspresi Sidney , mengerutkan dahinya.
Riko mengira Sidney marah karena dia sudah kelewatan menjamah gadis itu. Riko mendekati Sidney dan menangkup kedua sisi wajah gadis pujaannya.
"Apa kamu marah? Maaf Kakak tidak bisa menahannya tadi," ujar Riko.
"Apa Kakak biasa melakukan itu pada setiap gadis?" tanya Sidney.
"Apa maksudmu Ney? Kakak sudah bilang kalau kamu merupakan cinta pertamaku." Jawab Riko.
"Justru itu, bukankah Kakak bisa melakukan itu tanpa cinta?" tanya Sidney.
Riko mengerutkan dahinya tanda tidak faham arah pembicaraan Sidney.
"Apa maksudmu? apa kamu fikir aku suka melakukan itu dengan seorang jalang?" tanya Riko balik.
"Ya itu maksudku." Jawab Sidney.
"Astaga Sayang, apa yang kamu fikirkan? aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu," ujar Riko.
"Jangan bohong, bagaimana dengan Selena?" tanya Sidney menaikan alis.
Riko tertegun. Dia benar-benar lupa dengan kejadian tidak terduga itu. Riko tertunduk karena merasa bersalah.
"Benarkan Kakak pernah melakukannya dengan Selena? apa Kakak juga melakukan seperti apa yang Kakak lakukan tadi? atau bahkan lebih?" tanya Sidney dengan mata yang berkaca-kaca.
Riko langsung mendongakan kepalanya menatap gadis pujaanya.
"Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan lebih. Kakak hanya menempelkan bibir kilat saja. Sumpah," ujar Riko.
Riko membentuk dua jarinya tanda sumpah.
"Sayang maaf, itu sudah berlalu dan ku akui itu adalah kesalahan terbodohku," ucap Riko.
Riko menaikan dagu Sidney keatas dan melihat gadis itu sudah meneteskan air mata.
"Maaf," ujar Riko.
Riko memeluk gadisnya dengan erat. Seakan ingin menyalurkan rasa bersalahnya.
"Apa kamu cemburu Sayang?" tanya Riko.
Mendengar itu Sidney langsung memukul dada bidang Riko.
"Enak saja. Siapa yang cemburu? Kak Riko jangan besar kepala," ucap Sidney.
Melihat Sidney mengerucutkan bibirnya, membuat Riko terkekeh.
"Apa kamu menyukai yang Kakak lakukan tadi?" goda Riko.
Mendengar pertanyaan Riko yang memalukan, membuat wajah Sidney merona. Melihat wajah gadis itu membuat Riko semakin ingin menggodanya. Riko mendekati telinga gadia itu dan berkata sensual.
"Kakak akan melakukannya lagi sekarang kalau kamu menyukainya," ujar Riko lirih.
Sidney yang Malu langsung mendorong Riko. Dan menarik kopernya.
"Ayo cepat! nanti Ney terlambat," ucap Sidney.
Sidney langsung meninggalkan Riko dan berpamitan dengan Orang Tuanya. Riko tersenyum puas saat melihat wajah Sidney yang malu-malu.
"Kamu jangan nakal disana ya Sayang. Aku sangat khawatir kamu didekati oleh pria lain," ujar Riko.
Riko sengaja mengendarai mobilnya dengan santai, agar dia bisa berlama-lama dengan gadis pujaannya.
"Yang justru khawatir Ney. Kakak bisa melakukan hal itu tanpa cinta, takutnya Kakak terjebak dengan wanita penggoda. Kalau sampai aku melihat atau mendengar hal itu, jangan harap aku mau memaafkan Kakak," ucap Sidney.
"Aku bersumpah Sayang, aku tidak akan mengecewakanmu lagi." Jawab Riko.
"Untuk saat ini Ney hanya bisa kasih Kakak kepercayaan 80%. Kalau sampai Kakak menghianatiku, maka kupastikan hubungan kita berakhir saat itu juga," ujar Sidney.
Riko terdiam mendengar ultimatum yang Sidney katakan. Perkataan itu seperti film horor yang menghantui dirinya.
" Sejujurnya dalam hati Kakak tidak ada niat sama sekali untuk menghianatimu. Tapi Kakak jadi takut, kalau suatu saat kita berada disituasi yang sulit. Hingga Kakak tidak berdaya dan tidak bisa menjelaskan apapun. Dan kamu terpaku didalam kesalahfahaman yang berkepanjangan. Sayang..."
Riko menjeda kalimatnya seraya menggenggam erat jemari gadisnya. Riko berani melakukan itu karena memang sudah tiba diparkiran bandara.
"Aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu melebihi nyawaku. Kalau suatu saat kita berada disituasi yang sulit, aku hanya ingin kamu mencoba mendengar penjelasanku dan baru kemudian membuat keputusan. Jika aku yang terluka tidak mengapa, tapi aku sangat takut melukai perasaanmu," ucap Riko.
Mendengar itu membuat tubuh Sidney bergetar. Sidney langsung pindah tempat duduk dan duduk dipangkuan Riko. Tanpa aba-aba, Sidney langsung menyerang Riko dengan buas didaging lembut pria itu. Riko yang semula terkejut, kemudian membalas dengan sama agresif. Mereka seakan berebut daging dan lidah karena takut tidak kebagian. Tangan Riko lagi-lagi tidak mau diam, dengan lihai dia membuka bulatan plastik yang berada didepan kemeja Sidney. Hingga pegunungan unik itu kembali terpampang. Riko segera membenamkan wajahnya disana, dia sangat takut kehabisan waktu karena mengingat Sidney akan segera pergi meninggalkannya. Setelah hampir 10 menit berada dipuncak, kepala Riko didorong perlahan oleh Sidney.
"Sudah Kak. Ney takut terlambat," ujar Ney.
Pandangan mata keduanya sayu, seakan dahaga itu belum juga sirna.
"Aku benar-benar menggilaimu Sayang, tolong jaga semua aset berhargamu. Aku tidak mau sampai ada laki-laki lain menyentuhnya apalagi menikmatinya. Kalau sampai itu terjadi, aku akan mematahkan tangan dan menghancurkan orang itu," ujar Riko.
Sidney menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan Riko seraya merapikan pakaiannya yang sudah berantakan. Sidney turun dari pangkuan Riko dan segera membuka pintu.
"Sumpah Kakak benar-benar tidak rela kamu pergi saat ini. Rasanya begitu berat Ney," ujar Riko.
Riko mengikuti Sidney dan mengambil alih koper yang berada ditangan Sidney. Setelah sampai dipintu masuk bandara, Sidney berhambur kepelukan Riko sebagai salam perpisahan mereka.
"Ney pasti merindukanmu Kak," ujar Sidney.
"Kakak juga." Jawab Riko sembari mengelus puncak kepala Sidney.
Sidney melepaskan pelukan mereka dan melambaikan tangan kearah Riko. Riko melihat punggung Sidney yang menjauh hingga gadis itu hikang dari pandangan matanya. Ada rasa sesak yang Riko rasakan. Tekadnya sudah bulat, dia harus berjuang mendapatkan restu dari keluarga gadis pujaannya itu.
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏