Arsen coline harus menelan pil pahit dalam hidupnya, Marlen Lee istri yang baru saja ia nikahi harus ternodai karena ulah seseorang yang memperkosa istrinya dimalam pertama.
Cinta Arsen yang begitu besar pada Marlen Lee. Harus berkhir dengan kekecewaan.
"Jangan pernah kau sentuh diriku! bagi ku kau hanyalah kotoran debu yang berserakan, rasanya kau tak pantas untuk ku sentuh! Hardiik Arsen.
Seorang Jendral muda bernama Alan Smith, datang sebagai perisai dan pelindung bagi Marlen. Ia sanggup menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Akan kah Arsen akan menerima kembali Marlena sebagai istrinya? atau sebuah perceraian yang terjadi?"
Mampu kah Alan mengembalikan kepercayaan Marlen padanya...?
@Ada unsur Dewasa 21 + tolong bijaklah dalam membaca.
Yuk ikuti terus kisahnya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Hati Marlena
"Kau mandilah. Ada pakaian wanita didalam lemari, berbagai macam kosmetik di meja rias. pakailah gaun merah. Aku akan menunggumu untuk makan malam."
Selesai berbicara Alan berjalan kearah pintu. saat ingin membuka handle, ia memutar tubuhnya "ku beri waktu satu jam, Jordan akan menjemput mu." Alan keluar dari kamar dan menutup pintu.
Marlen masih terpaku ditempatnya berdiri, seraya menatap kepergian Alan.
Membuka seluruh pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi. Dua puluh menit selesai mandi, ia berjalan kearah lemari menggeser sleding, Lena terkejut melihat begitu banyak gaun mewah yang menggantung dengan tersusun rapih. ia tersenyum mengingat dulu pernah memiliki pakaian tiga lemari penuh saat menjadi seorang model. Tapi sekarang pakaian itu entah kemana. Hanya sebagian yang masih ia miliki. Setelah namanya tenggelam dari dunia modeling ia tidak pernah memiliki atau bisa membeli pakaian lagi. Marlen memilih satu pakaian yang menggantung dari sekian banyaknya pakaian.
Satu persatu ia mencoba, tapi terasa tidak ada yang cocok ditubuhnya yang sedikit mengecil. Selama pernikahannya dengan Arsen, hidupnya telah hancur, hingga berat badan Marlen menurun, tapi tidak mengurangi kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Ya tak terasa Lima bulan sudah ikatan pernikahannya bersama Arsen. Pria yang dulu sangat ia cintai berubah kebencian yang teramat dalam.
"Gaun hitam ini bagus ditubuh ku. Tapi bukankah Alan menyuruh ku pakai gaun warna merah?"
Aaagghhh! kenapa mesti gaun merah? sejak pernikahan ku hancur, aku membenci gaun berwarna merah. warna merah mengingatkan saat Arsen melamar ku."
Marlen menatap jam yang menggantung, tinggal 25 menit lagi waktu ia untuk berhias. Lena berjalan ke meja rias, dan mendudukkan tubuhnya di kursi. berbagai makeup sudah tersusun disana. Ia mulai merias wajahnya. Memoles Foundation ke wajah putih dan mulus tanpa noda. Bedak padat, lipstik, Blush on, maskara, eyeliner penegas mata agar terlihat besar. Lena tidak perlu memakai pensil Alis, karena Alisnya sudah tebal bagai bulan sabit. ia masih menatap dirinya didepan kaca, dengan sudut bibir melengkung. Marlen terlihat cantik dan sempurna, seakan sudah kembali menemukan jati dirinya.
Tok, tok,. tok,,,
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Ceklek!
"Selamat malam Nona, saya disuruh Tuhan Alan untuk menjemput Nona.
Aku sudah siap, sebentar aku ambil tas ku dulu."
"Sebentar!
Lena menghentikan langkahnya.
"Bukankah Tuan Alan, meminta Nona untuk memakai dress warna merah?"
"Apa menurut mu aku tidak pantas memakai gaun hitam ini?
Jordan mengedarkan pandangannya dari atas sampai bawah. "Ma'af, Nona. saya hanya menjalankan perintah tuan."
"Baiklah, kau bisa tunggu 10 menit lagi, untuk aku berganti Gaun."
"Oke, saya akan menunggu di depan pintu."
Setelah menutup pintu, Ia membuka lemari dan mencari gaun warna merah. Dress panjang dengan belahan samping, model leher V pada area depan, menambah pesona dan daya tarik Marlen. Penampilkan yang elegan dengan lekuk bodinya tinggi sempai. Terlihat kaki jenjangnya bila ia berjalan. high heels dan tas tangan warna hitam sangat pas dipadu padan.
Pintu terbuka, ia melangkah keluar dan berjalan bersama Jordan menuju lantai dasar.
TING!
Pintu lift terbuka lebar, Marlen dan Jordan berjalan beriringan menuju sebuah ruangan.
"Jordan tunggu!
Mereka berdua menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya ada acara apa? kenapa tuan mu mengharuskan aku memakai gaun merah." Lena mengeryit menunggu jawaban dari Jordan.
"Kita ikuti saja keinginan Tuan Alan, ia melakukan ini pasti yang terbaik."
Sebuah pintu terbuka, mereka masuk kedalam sebuah ruangan. karpet merah terbentang luas di depan Marlen. Jordan berdiri tepat di sebuah meja bundar, menarik satu kursi dan mempersilakan Marlen untuk duduk. Suasana di dalam ruangan itu terlihat romantis, dengan banyak meja bundar beralas warna putih, pot bunga mawar segar diatas meja. Mereka duduk berpasangan.
"Nona, tunggu lah sebentar disini, Tuan sebentar lagi akan tiba."
Marlen mengangguk, Jordan melangkah pergi meninggalkan Marlen sendiri. Lama menunggu sendiri, seorang pelayan datang memberikan anggur merah diatas meja.
"Maaf, saya tidak minum ini, berikan saya air putih dingin."
"Baiklah! pelayan itu melangkah pergi.
"Ahh! berdecak kesal "Alan, kenapa kau lama sekali, bodohnya aku berada disini?
Mata Marlen menyoroti seorang gadis melewati sebuah pintu, sangat cantik dan elegan, berjalan dengan sedikit angkuh. Matanya hampir saja tak berkedip. Tentu saja Lena mengenal wanita itu, ia sepupunya. Anak dari kakak ibunya. Tiba-tiba netral mata mereka saling bertemu. wanita itu sedikit kaget bertemu Marlen di satu ruangan yang sama. Marlen menjatuhkan wajahnya ke bawah, mengambil air putih yang baru pelayan berikan.
"Hallo.. Lena?!" tiba-tiba wanita cantik itu sudah berdiri didepannya.
Marlen sedikit terkejut dan mengangkat kepalanya "Haiii...Sandra, ternyata kau berada disini?! ucapnya datar, tersenyum samar.
"Bagaimana kabar Bibi? sudah lama kami tidak pernah bertemu dengan Bibi."
Seketika senyum Marlen berubah dingin bersama sorot mata tajam "Tidak perlu berpura pura lagi Sandra! untuk apa kau menanyai ibuku? bukankah kelurga kalian ingin ibuku mati! dengan cara tidak mengakui keberadaan nya."
Sandra tergeletak, tersenyum sinis "Kesalahan ibumu sangat fatal, Lena! dia yang pergi dari rumah dan memutuskan hubungan dengan keluarga Jiang!"
"Itu tidak benar! seru Marlen, beranjak dari duduknya dan berdiri sejajar dengan Sandra.
"Haiii sayang, kau disini rupanya. Aku mencarimu." terdengar suara seorang Pria yang familiar dibelakang punggung Marlen.
"Kau sudah datang, aku baru saja sampai." Jawab Sandra tersenyum sumringah, berjalan kearah pria itu.
Marlen memutar tubuhnya dan ia tercengang. hampir saja jantungnya melompat.
"Arsen! pekik Marlen tak percaya, menatap keduanya bergantian.
Arsen merangkul pinggang Sandra dan mencium pipinya didepan Marlen.
"Kalian?! Marlen menjedah ucapannya untuk mengatur irama jantungnya "Sejak kapan kalian saling mengenal?! tanyanya hampir tak percaya.
"Itu bukan urusanmu, Lena! kami sudah bersama sebelum kau berstatus tunangan Arsen.
"Jadi kau menusuk ku dari belakang Sandra! dan pria ini! menunjuk wajah Arsen "Pria penipu yang tidak pernah punya hati! dia hancurkan perasaan dan hidupku! teriak Marlen, dengan nafas tersengal.
"Dasar wanita kotor! kau dan ibumu sama saja! kalau bukan karena kebaikan ku, ibumu sudah tak tertolong lagi dengan keadaannya yang semakin parah!
"Mulutmu sangat jahat Arsen! ternyata kau sudah sekongkol bersama Sandra, ingin menyingkirkan ibuku demi sebuah harta warisan kakek ku! hardik Marlen tak terima. Saat tangan Marlen ingin menarik jas Arsen, dengan cepat Sandra mendorong kuat tubuh Marlen, saat ia hampir jatuh kelantai, sebuah tangan kekar menarik dalam pelukannya.
"Tuan Smith! serunya, menatap teduh dua bola mata itu. sorot mata Alan tiba-tiba tajam kearah mereka berdua. Ada getaran amarah dari raut wajahnya yang dingin.
"Jangan pernah kalian ganggu ataupun menyakitinya. kalian akan berhadapan dengan ku! bentak Arsen dengan tangan mengepal.
"Tuan Smith?! sejak kapan anda mengenal Lena? seharusnya anda tahu kalau Lena masih terikat status pernikahan dengan Tuan Colins, bukan begitu Arsen? mengalihkan pandangan pada Arsen di sampingnya, seraya tersenyum licik.
"Kau memang wanita murahan! lihat penampilan mu yang sok seperti Foto model, karirmu telah hancur Marlen!
"Arsen! kau yang menghancurkan karir ku! lebih baik secepatnya kau urus perceraian kita! aku muak dengan semua kebohongan dan penghinaan mu! kau menuduh ku murahan. Tapi berkaca lah pada dirimu sendiri, kau jauh lebih rendah dariku!
"Apa kau bilang! Saat tangan Arsen terangkat dan ingin melayangkan tamparan ke wajah Marlen. Dengan cepat Alan menepisnya.
"Jangan pernah berani kau ingin melayangkan tanganmu. Aku sendiri yang akan mematahkan tangan mu!" sebuah tamparan atas ucapan Alan sebagai pembelaan untuk Marlen.
"Ayo, lebih baik kita pergi dari sini." Alan meraih tangan Marlen.
Sebelum pergi, Marlen menatap benci pada Arsen dan Sandra. ia mengangguk dan melangkah pergi bersama Alan.
🌸
🌸
🌸
@Bersambung........💃💃💃
tapi mmg itu skenario nya Thor 🤭🤭