NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Kehangatan

Aku sempat memandang rendah diriku dengan ambigunya menghilangkan semua nestapa yang bergemuruh di dada, pangkah kakiku seakan tidak nyata. Bahkan saat menerima kabar dari seseorang yang begitu kurindukan. Getaran di dada menggoyahkan pikirku, mengingatkan akan kesakitan dan rasa bahagia yang hilang lenyap dalam sekejap.

Mataku tak bisa tertutup dengan tenang kembali, cahaya gelap kerap menghantui ku bertubih-tubih membalut luka yang telah lama usang.

Tawaku tak lagi selepas dahulu, setiap gerakan pada sudut bibir sekarang tertata dengan rapi. Bahkan ekspresi saja dengan jelas harus diperhitungkan pada siapa dan apa yang sejalan dengan sikap, begitulah hidupku saat ini. Menikmati pekerjaan, hobby dan hal yang paling aku gemari yaitu menjahit satu demi satu merapikannya menjadi sebuah bentuk.

Beginilah caraku mengekspresikan perasaanku padamu, seolah kembali menjahit satu demi satu lukaku yang masih basah. Dan entah sampai kapan akan mengering dan sembuh. Dapatkah aku terbang menjelajah setelah ini setelah luka ini benar benar tak meninggalkan bekas kembali. Entahlah, setiap luka lama yang tak kunjung sembuh terkadang menimbulkan bekas yang tak bisa dihilangkan. Hanya bisa ditutupi agar tanpa cantik dan tak terlihat.

Emily terbangun dengan mata yang cukup sembab, sudah lama sekali ia memendam perasaan dan air mata yang tak kunjung mengering akhirnya basah di pipinya. Menetes begitu saja lalu ia mengusapnya.

“Tenanglah, dan lupakan. Kita hidup di saat ini, lagi pula kejadiannya sudah cukup lama.” Emily terngiang kepergian anak lelaki itu dengan kereta kuda apa adanya, kereta kuda dengan kayu biasa tatapan mereka bertemu saat itu. Namun hanya keheningan dari perpisahan tanpa adanya kata maupun peluk hangat akan sebuah kepergian.

“Aku sendirian dan kehilangan sosok yang selalu menjagaku saat ini.” Ucap Emily kecil kala itu berlari dari balik pohon menuju ke kamarnya.

Rona yang pada saat itu lebih kecil dari Emily belum memahami arti kepergian dan menatap Emily yang kian memurung hari demi hari.

Kembali ke saat ini, Emily memastikan Rona ke ruang kerjanya dan menatap wajah serius Rona. Perasaan bersalah pada adiknya itu menghantuinya semalaman.

Emily mengetuk pintu dan membawakan cemilan dan teh ke ruangan kerja Rona. Meletakkan dengan perlahan san merapikan beberapa pekerjaan Rona membantu menumpuk dan menandai beberapa berkas yang sudah Rona tandai.

“Setidaknya kau tidak melewatkan cemilan pagi ini karena melewatkan sarapan pagi tadi.” Emily langsung menuangkan teh yang masih hangat tersebut ke dalam cangkir teh peninggalan Ibu mereka.

Rona menghentikan segala kegiatannya melepaskan kacamatanya dan menggenggam tangan Emily.

“Kakak tenanglah, aku pasti akan memakan semuanya, jangan khawatir aku tau kau mungkin terkejut dengan kabar yang aku bawa. Tapi tenanglah aku akan bersamamu menghadapi segalanya.” Sifat tenang Rona menghangatkan hati Emily yang rapuh.

Emily memeluk Rona yang masih duduk di kursi tersebut. Pelukan keluarga memang sangat hangat, beberapa hal ingin Emily utarakan namun ia tak mau mengganggu pekerjaan Rona yang mengambil alih pekerjaan kepala keluarga di rumah itu.

“Baiklah, aku akan kembali ke ruang jahitku. Kau kerjakan saja pekerjaanmu. Aku pergi dulu.” Emily hendak melepaskan pelukannya namun Rona memeluknya lebih erat.

“Sebentar saja. Setelah 3 detik akan aku lepas.” Rona memejamkan mata dalam dekapan Emily.

Setelah Emily pergi Rona berencana pergi ke kota yang ia datangi kemarin, mencari informasi apa yang sedang Nathan kerjakan di daerah ini.

Wajah Rona kembali serius dan banyak yang ingin ia lakukan bahkan sudah lama ia tidak tertidur di bukit ilalang untuk menenangkan dirinya.

“Sebaiknya aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan ini agar bermain dengan kuda ku, dan melihat kuda Mustang itu. Baiklah ayo semangat Rona!” Menyemangati diri sendiri dan kembali mengenakan kacamata jadul milik ayahnya.

Goresan demi goresan ia curahkan di berbagai kertas yang telah ia baca satu demi satu. Banyak sekali yang terkendala lewat pengadaan botol susu yang ingin Rona kirim. Namun segala sesuatu bukan masalah besar untuknya.

Rona meregangkan tangan dan badannya ke kanan dan kekiri. Berdiri dan sedikit menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Rona berjalan ke arah jendela dan menatap ke arah pintu gerbang rumahnya lalu tersipu begitu saja.

“Ah malam ini dia tidak akan datang, sebaiknya aku melihat Emily dan membantu mengangkat atau merapikan beberapa kain yang telah datang kemarin.” Rona berjalan diikuti pelayannya.

“Nona apalah nona ingin mandi air mawar atau bunga melati?” Sambil menatap gadis itu yang tidak menghiraukannya.

“Nona, apakah nona mengabaikanku?” Ucap kembali pelayan perempuan itu.

“Ah maaf mungkin aku terlalu lelah, apapun kau siapkan saja sebelum malam. Karena setelah ini aku mau pergi ke tempat biasa. Tolong siapkan cemilan ya.” Rona memasuki ruang kerja Emily.

“Baik nona.” Segera ke dapur melaksanakan tugas dari tuannya.

Rona menatap Emily dan pelayannya yang membantu Emily dengan sigap menjahit sedikit dengan sedikit dari helaian satu menyatu dengan helaian kain yang lain.

“Apakah aku mengganggu kalian?” Tanya Rona menatap wajah serius kakaknya yang memancarkan kesenangan tersendiri menikmati proses jahit menjahitnya.

“Kau sudah datang?” Tanya Emily menatap Rona lalu kembali pada pekerjaannya.

“Tadinya Aku ingin membantumu tapi sepertinya semua kain yang datang sudah dirapikan. Jadi aku akan pergi dulu?” Rona langsung pamit pada Emily tanpa banyak kata.

Tatapan Emily memang terlihat sangat bahagia ketika ia melakukan pekerjaan yang ia senangi, terlebih gadis itu memang jarang sekali keluar kediaman. Bahkan matahari saja jarang menjangkau kulit putihnya tersebut.

Rona melangkah menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya, menuju kandang kuda yang sudah lama menantinya. Sebelum itu ia menyapa paman Bily di peternakan miliknya.

“Paman…” panggilnya.

“Halo nona.” Ucap paman Bily sambil mengambil jerami dengan sekop memberi makan pada sapi.

“Kelihatannya pekerjaan kali ini tidak terlalu sulit ya.” Ungkap Rona menatap lelaki tua itu.

“Tidak nona, pekan depan akan datang 3 orang baru membantu proses pengemasan susu kita. Jadi akan lebih baik jika pekerjaan disini segera terselesaikan.” Paman Bily menjelaskan dengan senyuman lebar seperti biasa. Tangan lelaki itu memegang pinggangnya dan satunya memegang sekop dengan memakai topi koboinya Seperti biasanya.

“Baiklah kalau begitu, saya akan pergi dulu ke tempat biasa paman.” Rona berjalan keluar mengambil kudanya kendal naik.

“Nona nona tunggu…” Teriak dari jauh pelayannya tersebut.

“Ah hampir saja aku lupa.” Rona mengambil keranjang tersebut dan mengikat di belakangnya.

“Nona ingat ya jangan pulang terlalu malam.” Pinta pelayannya tersebut.

“Entahlah…” Rona hanya menatap Rose dengan senyuman jahilnya dan meninggalkan mereka berdua.

“Pakk pakk pakk” langkah kaki kuda itu melesat menjauh.

“Lihat lah paman, nona kita ini memang tidak bisa mendengar nasehat.” Omel Rose mengeluh pada Paman Bil. Lelaki itu hanya tertawa lebar seperti biasanya.

Sesampainya Rona di tempat biasa ia tertidur mengikatkan kuda itu di dekat batang pohon yang tak jauh dari tempat favoritnya.

Rona hanya melebarkan kain dan merebahkan tubuhnya diatas sana, menatap ke arah langit yang masih terik. Kicauan burung masih terdengar begitu riuh sore itu, menatap kekacauan hatinya yang membuat dirinya tenang untuk sementara waktu.

Musim akan segera berganti memasuki musim dingin, matahari masih menyilau namun udara sudah mulai terasa begitu dingin. Rona tersadar dan tak lupa bagun dari tidurnya sambil melepaskan syal yang ia kenakan sebagai selimut dan kembali tertidur.

Banyak burung dan tupai seolah mendekat pada dirinya seakan-akan menjadi teman tidurnya disana. Capung dan kupu kupu berterbangan diatas tubuh Rona. Matahari itu mulai naik ke atas menyilaukan cahaya emasnya sampai kepada wajah polos gadis tersebut.

Seseorang mengangkat tangannya tepat pada pantulan cahaya yang mengenai wajah gadis tersebut. Cahaya itu tak lagi menembus dan terhalang tangan seseorang tersebut.

“Gadis ini bisa tidur dimana saja ya?” Ucap lelaki tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!