Sebuah fenomenal bernama Cloud Eat tiba-tiba saja muncul dan melenyapkan sihir dari dunia, hal itu juga membuat Dewi Listard yang mengelola dunia tersebut ikut melemah, karena itu ia pun memutuskan untuk turun tangan mengatasinya dengan bantuan seorang laki-laki bernama Sten.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Pertarungan Di Ibukota Bagian ketiga
Tak lama tubuh Silva mulai membesar tiga kali lipat dari tubuh biasanya, sayap mulai terbentuk di punggungnya bersamaan dengan itu, anggota tubuhnya sepenuhnya berubah menjadi iblis.
Aku meminta Esna menjauh sementara aku menerjang kedepan, baru satu meter tubuhku malah terhempas kesamping hanya dengan ayunan tangannya.
"Hahah, matilah."
Silva mengambil pilar didekatnya lalu melemparkannya padaku, aku tidak mungkin sempat menghancurkan jadi kuputuskan menghindarinya dengan berguling.
Hantaman itu membuat sekelilingku dipenuhi debu yang menyesakkan.
"Fire Bolt," lingkaran sihir muncul dari tangannya berusaha mengenaiku yang berlari menghindarinya.
"Sihir kah?"
"Jika kau bisa menyentuh gerbang neraka ini, kau akan bisa menggunakan sihir meskipun kekuatannya hanya sedikit.
Jadi begitu, itu juga alasan kenapa Esna bisa menggunakan sihir penyembuh.
Aku melemparkan diriku kedepan dimana Silva berada, mengayunkan pedangku.
Lalu.
Clang.
Pedangku patah dengan hanya tangannya saja, Silva balik membalas yang mana mampu melukai bahuku cukup dalam.
"Sama seperti apa yang kalian lakukan, aku akan membunuh umat manusia tanpa tersisa."
Kebencian sudah menelan dirinya sepenuhnya.
"Bisakah kau memaafkan kesalahan manusia? Aku tidak bisa memungkiri kamilah yang bersalah, kami bukanlah makhluk sempurna namun kami akan berusaha untuk merubah kekurangan kami sedikit demi sedikit."
"Berisik... memangnya kalian bisa mengembalikan nyawa teman-temanku serta keluargaku setelah meminta maaf."
Aku di pukul oleh kenyataan itu, meskipun kami berubah, sesuatu yang terjadi tidak bisa kembali lagi.
Aku kembali berkata.
"Lalu apa yang sekarang kau lakukan berbeda?"
Silva terdiam membisu sementara aku melanjutkan.
"Apa yang ingin kau lakukan pun tidak akan merubah apapun, semua ini hanya akan membuat lubang di hatimu semakin membesar... mari akhiri ini disini saja, dan lupakan apa yang telah terjadi di masa lalu untuk membuat masa depan yang baru, aku sadar itu memang sulit namun.... itu lebih baik dibanding apa yang kau lakukan sekarang."
"Berisik."
Silva melesat kearahku, aku yang berada di max level masih belum bisa menjadi tandingannya, semua luka kuterima begitu saja bahkan sesekali aku memuntahkan darah dari mulutku.
"Sten? Sudah cukup.. larilah dari sini!"
"Aku bukan orang yang bisa meninggalkan seseorang yang butuh bantuan di depan mataku."
"Sten?"
"Mati kau!"
Sebelum cakar tajam itu menembusku, Rista muncul menahannya dengan Light Saber miliknya.
"Butuh bantuan?"
"Kau lama sekali."
Tak hanya Rista semua orang mulai bermunculan selagi mengirim serangan terbaiknya pada Silva.
Yuyun menembakan seluruh senjatanya hingga selonsong peluru memenuhi lantai sekelilingnya, Frienta maupun Leonardo ikut ambil bagian di garis depan bersama Serphia.
"Ugh."
Tangan mencengkeram Serphia, kemudian Serphia di lemparkan kearahku, untunglah aku masih bisa menangkapnya dengan baik.
"Kau tak apa?"
"Aku baik-baik saja... monster itu sangat kuat."
Esna mendekat kearahku.
"Sten akan kusembuhkan lukamu."
"Tolong yah."
"Kalau begitu kami akan alihkan perhatiannya sampai lukamu sembuh," mengatakan itu dengan keren, Serphia melangkah maju mengikuti serangan yang lainnya.
Yuyun melemparkan beberapa granat dan itu menghasilkan ledakan dibawah kaki Silva yang mana membuatnya kehilangan keseimbangan.
Kalau saja Leonora bisa ikut bersama kami itu bisa menjadi bantuan yang baik untuk situasi seperti ini, hanya saja Leonora harus menghadiri undangan keluarganya jadi kami tidak bisa berbuat banyak walaupun itu untuk membantu putri sendiri, tidak ada pengecualian baginya.
Aku menghilangkan pikiran aneh itu segera mungkin, lalu melangkah maju.... untuk saat ini prioritas kami adalah mengalahkan Silva.